
”Jadi Anda akan sembuh,” kata Graciela.
Mata kecil yang tajam itu tampak sendu sebentar.
”Saya tak yakin lagi, sayang. Sekarang yang menangani saya adalah seorang dokter muda yang berkacamata dan bermulut manis. Berbeda sekali dengan Dokter Hamilton. Dia tak pernah tertawa! Sedangkan Dokter Hamilton. .. selalu ada saja leluconnya. Kadang kadang dia membuat
saya sakit sekali dengan pengobatannya. ‘Saya tak tahan lagi, Dokter,” kata saya padanya. ‘Pasti bisa, Mrs. White, ’ katanya, ‘Anda adalah orang yang kuat sekali. Anda pasti bisa tahan. Kita berdua akan membuat sejarah dalam dunia kedokteran.’ Begitulah dia selalu menghibur saya. Saya
benar benar mau melakukan apa saja untuk Pak Dokter! Dia mengharapkan banyak dari kita, tapi kita merasa tak bisa mengecewakannya.
Mengertikah kau maksud saya?”
”Ys. Saya mengerti,” kata Graciela.
Mata kecil yang tajam itu menatap Graciela sebentar.
”Maaf, Sayang, kau bukan istri Pak Dokter,ya?”
”Bukan,” kata Graciela, ”saya hanya salah seorang sahabat nya.”
”Saya mengerti,” kata Mrs. White.
Graciela percaya bahwa ia mengerti.
”Kalau boleh saya bertanya, mengapa kau datang kesini?”
”Dokter sering bercerita banyak tentang anda... dan
tentang pengobatannya yang baru. Saya jadi ingin melihat bagaimana keadaan anda sekarang.”
”Keadaan saya mundur terus... sungguh.”
Graciela berseru, ”Tapi anda tak boleh mundur!
Anda harus sembuh.”
Mrs. White tertawa kecil.
”Saya memang tak mau mati, jangan pikir begitu!”
”Kalau begitu, berjuanglah Mrs White! Dokter Christow sekalu berkata pada saya bahwa anda tak mudah menyerah.”
”Begitukah katanya?” Mrs. White berbaring diam
diam sebentar di ranjangnya, lalu katanya lambat lambat, ”Siapa pun yang menembaknya, pasti sangat jahat sekali! Tak banyak orang seperti Pak Dokter!”
__ADS_1
Kita takkan menemukan orang seperti dia lagi. Seperti Peter Hamilton. Kata kata itu tiba tiba melintas begitu saja dalam pikiran Graciela. Mrs. White memperhatikannya dengan tajam.
”Besarkan hatimu, Nak,” katanya. Lalu
ditambahkannya, ”Dia tentu sudah dikuburkan dengan baik, bukan?”
”Penguburannya sangat baik sekali,” kata Graciela dengan sangat ramah.
”Alangkah senang kalau saya bisa menghadirinya pemakamannya!”
Mrs. White mendesah.
”Saya rasa tak lama lagi orang akan menguburkan
saya.”
”Tidak,” seru Graciela. ”Anda tak boleh melepaskan
harapan anda untuk sembuh. Tadi anda katakan bahwa anda dan Dokter Hamilton akan mengukir sejarah dalam dunia kedokteran. Nah, sekarang anda harus melanjutkannya sendiri. Pengobatannya tetap sama. Anda harus memiliki keberanian dan semangat juang untuk dua orang. Anda harus mengukir sejarah seorang diri , demi dia. Demi Dokter Hamilton. ”
Mrs. White memandanginya beberapa saat.
”Kedengarannya hebat juga! Saya akan berusaha yang terbaik, anak manis. Tak bisa berjanji banyak.”
Graciela bangkit, lalu menyalaminya.
”Silakan datang. Saya senang sekali bisa bercakap cakap tentang Pak Dokter dengan anda.”
Matanya berbinar nakal.
”Dokter Hamilton itu adalah seorang pria yang jempolan dalam segala hal.”
”Ya memang,” kata Graciela. ”Betul.”
”Jangan bersedih, anakku,” kata wanita tua itu.
”Apa yang sudah hilang, hilanglah. Kita tak bisa mendapatkannya kembali.”
Mrs. White dan Eloise Hope menyatakan pikiran yang sama, meskipun dengan bahasa yang berbeda, pikir Graciela.
Ia akan kembali ke London, memasukkan mobilnya ke garasi, lalu berjalan lambat lambat ke studionya.
”Sekarang tibalah sudah saat yang kutakuti,” pikirnya.
”Saat aku tinggal seorang diri. Aku tak bisa
__ADS_1
menundanya lagi. Sekarang kesedihan itu sudah datang.”
Apa yang pernah dikatakannya pada Ryan dulu?
”Aku ingin bersedih untuk Peter.”
Ia menjatuhkan diri ke sebuah kursi yang empuk, lalu melicinkan rambutnya yang menutupi wajah cantiknya. Seorang diri , kosong , merana dan hampa. Kekosongan yang sangat mengerikan ini.
Matanya pedih oleh air mata yang mengalir perlahan ke pipinya.
Sedih, pikirnya, ia bersedih demi Peter... Oh, Peter... Peter.
Teringat olehnya bagaimana suara Peter yang tajam karena tersinggung, ”Kalau aku mati, yang pertama tama akan kaulakukan, dengan air mata mengalir di pipimu itu adalah langsung mulai membuat sebuah gambar tentang seorang wanita yang sedang berkabung, atau suatu sosok lain yang menggambarkan kesedihan dan ratapan.”
Graciela bergerak dengan gelisah. Mengapa pikiran
itu merasuki kepalanya?
Kesedihan... kesedihan... Suatu bentuk terselubung yang garis besarnya hampir hampir tak jelas kepalanya mulai terkulai.
Ia sudah bisa membayangkan garis garisnya sosok lukisan nya yang tinggi, memanjang, dengan kesedihannya tersembunyi, hanya ditampakkan oleh garis garis pada selubungnya raut wajahnya. Serta senyuman tipis. Senyuman kegetiran hati.
Kesedihan, terpantul dari kanvas putih yang jernih dan bening.
”Kalau aku mati...”
Tiba tiba suatu perasaan getir melandanya!
Pikirnya, ”Begitulah aku! Apa yang di katakan John benar. Aku tak pernah bisa mencintai seseorang. Aku hanya mencintai apa yang ku sukai. Aku tak bisa berkabung , bahkan jika berkabung untuk orang yang kucintai sekalipun, aku masih tidak bisa. Aku tidak bisa berkabung dengan sepenuh hati seperti orang lain. Orang orang yang seperti Amy-lah yang paling mendekati sosok manusia. Kami keluarga Cavendish memang keluaraga yang berhati dingin. Bahkan ketika kekasih hati ku mati pun aku masih tidak bisa bersedih untuknya. Apa ini merupakan hukuman untuk ku karena gagal menyelamatkan Natasha.
Natasha yang malang. Natasha yang sangat mencintai Peter. Memuja nya setengah mati. Memakohtai nya dengan mahkota suci. Memberinya gelar orang yang sangat mulia. Sang pemuja itulah judul lukisan ku.
Lalu sekarang sosok yang bersedih ini apakah ini aku ? Aku yang tidak menangis sepenuh hati. Aku yang hanya menangis untuk hari ini saja. Hanya hari ini saja sku akan menagisi kepergian kekasih ku Peter..... oh Peter......"
Amy dan Ryan di Logdewood.
Itu adalah kenyataan, kekuatan dan kehangatan. Itulah yang di butuhkan Ryan orang berhati hangat seperti Amy. Bukan orang berhati dingin seperti diriku. Aku senang mereka berdua bisa berbahagia. Mereka berdua akan segera menikah dan tinggal di Logdewood.
Lodgewood adalah tempat kenangan. Terlalu banyak kenangan indah di masa lalu. Tapi sayang walau bagaimana pun dia menyayangi Ryan. Dia tidak mau lagi kembali ke sana. Ke Logdewood.
”Sedangkan aku,” pikirnya, ”bukan manusia
seutuhnya. Aku bukan milikku sendiri. Aku adalah milik sesuatu di luar diriku. Aku tak bisa berkabung untuk kecintaanku yang telah tiada. Aku harus menerima kesedihanku dan membentuknya menjadi suatu sosok.”
”Pameran No. 58. Kesedihan. GRACIELA WEST......”
__ADS_1
" Peter, maafkan aku, Peter. Sungguh.....” katanya berbisik.
”Aku tak bisa berbuat lain.”