Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 64


__ADS_3

”Jadi Anda akan sembuh,” kata Graciela.


Mata kecil yang tajam itu tampak sendu seben­tar.


”Saya tak yakin lagi, sayang. Sekarang yang menangani saya adalah seorang dokter muda yang ber­kacamata dan bermulut manis. Berbeda sekali de­ngan Dokter Hamilton. Dia tak pernah tertawa! Sedangkan Dokter Hamilton. .. selalu ada saja leluconnya. Kadang kadang dia membuat


saya sakit sekali dengan pengobatannya. ‘Saya tak tahan lagi, Dokter,” kata saya padanya. ‘Pasti bisa, Mrs. White, ’ katanya, ‘Anda adalah orang yang kuat sekali. Anda pasti bisa tahan. Kita berdua akan membuat se­jarah dalam dunia kedokteran.’ Begitulah dia se­lalu menghibur saya. Saya


benar benar mau me­lakukan apa saja untuk Pak Dokter! Dia meng­harapkan banyak dari kita, tapi kita merasa tak bisa mengecewakannya.


Mengerti­kah kau maksud saya?”


”Ys. Saya mengerti,” kata Graciela.


Mata kecil yang tajam itu menatap Graciela sebentar.


”Maaf, Sayang, kau bukan istri Pak Dokter,ya?”


”Bukan,” kata Graciela, ”saya hanya salah seorang sahabat nya.”


”Saya mengerti,” kata Mrs. White.


Graciela percaya bahwa ia mengerti.


”Kalau boleh saya bertanya, mengapa kau da­tang kesini?”


”Dokter sering bercerita banyak tentang anda... dan


tentang pengobatannya yang baru. Saya jadi ingin melihat bagaimana keadaan anda sekarang.”


”Keadaan saya mundur terus... sungguh.”


Graciela berseru, ”Tapi anda tak boleh mun­dur!


Anda harus sembuh.”


Mrs. White tertawa kecil.


”Saya memang tak mau mati, jangan pikir be­gitu!”


”Kalau begitu, berjuanglah Mrs White! Dokter Christow sekalu berkata pada saya bahwa anda tak mudah menyerah.”


”Begitukah katanya?” Mrs. White berbaring diam


diam sebentar di ranjangnya, lalu katanya lambat lambat, ”Siapa pun yang menembaknya, pasti sangat jahat sekali! Tak banyak orang seperti Pak Dokter!”

__ADS_1


Kita takkan menemukan orang seperti dia lagi. Seperti Peter Hamilton. Kata kata itu tiba tiba melintas begitu saja dalam pikiran Graciela. Mrs. White memperhatikannya dengan tajam.


”Besarkan hatimu, Nak,” katanya. Lalu


ditam­bahkannya, ”Dia tentu sudah dikubur­kan dengan baik, bukan?”


”Penguburannya sangat baik sekali,” kata Graciela de­ngan sangat ramah.


”Alangkah senang kalau saya bisa meng­hadiri­nya pemakamannya!”


Mrs. White mendesah.


”Saya rasa tak lama lagi orang akan mengubur­kan


saya.”


”Tidak,” seru Graciela. ”Anda tak boleh me­lepaskan


harapan anda untuk sembuh. Tadi anda katakan bahwa anda dan Dokter Hamilton akan mengukir sejarah dalam dunia kedokteran. Nah, sekarang anda harus me­lanjutkannya sendiri. Pengobatannya tetap sama. Anda harus memiliki keberanian dan semangat juang untuk dua orang. Anda harus mengukir sejarah seorang diri , demi dia. Demi Dokter Hamilton. ”


Mrs. White memandanginya beberapa saat.


”Kedengarannya hebat juga! Saya akan berusa­ha yang terbaik, anak manis. Tak bisa berjanji banyak.”


Graciela bangkit, lalu menyalaminya.


”Silakan datang. Saya senang sekali bisa bercakap cakap tentang Pak Dokter dengan anda.”


Matanya berbinar na­kal.


”Dokter Hamilton itu adalah seorang pria yang jempolan da­lam segala hal.”


”Ya memang,” kata Graciela. ”Betul.”


”Jangan bersedih, anakku,” kata wanita tua itu.


”Apa yang sudah hilang, hilanglah. Kita tak bisa mendapatkannya kembali.”


Mrs. White dan Eloise Hope menyatakan pikiran yang sama, meskipun dengan bahasa yang berbeda, pikir Graciela.


Ia akan kembali ke London, memasukkan mobilnya ke garasi, lalu berjalan lambat lambat ke studio­nya.


”Sekarang tibalah sudah saat yang kutakuti,” pikirnya.


”Saat aku tinggal seorang diri. Aku tak bisa

__ADS_1


me­nunda­nya lagi. Sekarang kesedihan itu su­dah datang.”


Apa yang pernah dikatakannya pada Ryan dulu?


”Aku ingin bersedih untuk Peter.”


Ia menjatuhkan diri ke sebuah kursi yang empuk, lalu me­licinkan rambutnya yang menutupi wajah cantiknya. Seorang diri , kosong , merana dan hampa. Kekosongan yang sangat mengerikan ini.


Matanya pedih oleh air mata yang mengalir perlahan ke pipinya.


Sedih, pikirnya, ia bersedih demi Peter... Oh, Peter... Peter.


Teringat olehnya bagaimana suara Peter yang tajam karena tersinggung, ”Kalau aku mati, yang pertama tama akan kaulakukan, dengan air mata mengalir di pipimu itu adalah langsung mulai membuat sebuah gambar tentang seorang wanita yang sedang berkabung, atau sua­tu sosok lain yang menggambarkan kesedihan dan ratapan.”


Graciela bergerak dengan gelisah. Mengapa pi­kiran


itu merasuki kepalanya?


Kesedihan... kesedihan... Suatu bentuk terselu­bung yang garis besarnya hampir hampir tak jelas kepalanya mulai terkulai.


Ia sudah bisa membayangkan garis garisnya sosok lukisan nya yang tinggi, memanjang, dengan kesedihannya tersembunyi, ha­nya ditampakkan oleh garis garis pada selubung­nya raut wajahnya. Serta senyuman tipis. Senyuman kegetiran hati.


Kesedihan, terpantul dari kanvas putih yang jernih dan bening.


”Kalau aku mati...”


Tiba tiba suatu perasaan getir melandanya!


Pikirnya, ”Begitulah aku! Apa yang di katakan John benar. Aku tak pernah bisa mencintai seseorang. Aku hanya mencintai apa yang ku sukai. Aku tak bisa berkabung , bahkan jika berkabung untuk orang yang kucintai sekalipun, aku masih tidak bisa. Aku tidak bisa berkabung dengan sepenuh hati seperti orang lain. Orang orang yang seperti Amy-lah yang paling mendekati sosok manusia. Kami keluarga Cavendish memang keluaraga yang berhati dingin. Bahkan ketika kekasih hati ku mati pun aku masih tidak bisa bersedih untuknya. Apa ini merupakan hukuman untuk ku karena gagal menyelamatkan Natasha.


Natasha yang malang. Natasha yang sangat mencintai Peter. Memuja nya setengah mati. Memakohtai nya dengan mahkota suci. Memberinya gelar orang yang sangat mulia. Sang pemuja itulah judul lukisan ku.


Lalu sekarang sosok yang bersedih ini apakah ini aku ? Aku yang tidak menangis sepenuh hati. Aku yang hanya menangis untuk hari ini saja. Hanya hari ini saja sku akan menagisi kepergian kekasih ku Peter..... oh Peter......"


Amy dan Ryan di Logdewood.


Itu adalah kenyataan, kekuatan dan kehangatan. Itulah yang di butuhkan Ryan orang berhati hangat seperti Amy. Bukan orang berhati dingin seperti diriku. Aku senang mereka berdua bisa berbahagia. Mereka berdua akan segera menikah dan tinggal di Logdewood.


Lodgewood adalah tempat kenangan. Terlalu banyak kenangan indah di masa lalu. Tapi sayang walau bagaimana pun dia menyayangi Ryan. Dia tidak mau lagi kembali ke sana. Ke Logdewood.


”Sedangkan aku,” pikirnya, ”bukan manusia


se­utuhnya. Aku bukan milikku sendiri. Aku adalah milik sesuatu di luar diriku. Aku tak bisa ber­kabung untuk kecinta­an­ku yang telah tiada. Aku harus menerima kesedihan­ku dan membentuknya menjadi suatu sosok.”


”Pameran No. 58. Kesedihan. GRACIELA WEST......”

__ADS_1


" Peter, maafkan aku, Peter. Sungguh.....” katanya berbisik.


”Aku tak bisa berbuat lain.”


__ADS_2