
"Jadi ternyata semalam itu bukan sebuah kebetulan ."
"Tentu saja bukan. Kau hanyalah milik ku dan akan menjadi milik ku selamanya. "
Dengan marah Peter membetak Karen.
"Diam kau. Aku bukan milik siapa siapa. Aku hanyalah milik ku sendiri. Selamanya aku tidak akan pernah kembali lagi pada mu Karen. Ingat itu. Waktu dulu ketika aku mencintaimu apakah kau mau bersama ku. Kau kebih memilih karir mu dari pada diriku. "
"Waktu itu jelas karir ku dan hidup ku jauh lebih penting dari karir mu. Kau harusnya sadar itu."
Dengan penuh kemarahan Peter berkata
"Jangan aku akan mau kembali padamu."
Akhirnya Karen bangkit dengan tatapan marah seperti seekor serigala buas. Dia berkata
"Ingatlah Peter Hamilton dulu kau menolak ku. Dan sekarang kau melakukan hal yang sama lagi. Akan ku buat kau menyesal karena telah dua kali menolak ku. "
Peter pergi ke pintu dan berkata dengan nada dingin.
"Baiklah kalau kau ingin bermain kasar. Selamat tinggal Karen."
"Sampai jumpa Peter kau akan menanggung akibat dari penolakan mu pada ku."
Peter kembali ke rumah keluarga Cavendish. Dia melalui jalan setapak menuju hutan. Dia sampai ke rumah peristirahatan dan duduk di teras. Ia menyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan nya untuk meninggalkan Karen benar. Dia tidak menyesal.
__ADS_1
Bagi nya sekarang Karena hanyalah seorang wanita yang tida berperasaan , egois dan kejam. Dan untung nya juga dia sanggup melepaskan dirinya dari Karen lima belas tahun yang lalu. Sekarang dia merasa bebas. Bebas memulai hidup baru nya.
Natasha. Dia teringat pada wanita yang dia nikahi. Pasti hidup nya sulit selama ini. Karena Peter selalu membentaknya dan memarahi nya. Tapi dia tulus menyayangi Natasha. Itu di akui nya dulu pada Graciela. Natasha tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Dia selalu berusaha menuruti dan menyenangkan hati Peter.
Dalam hati Peter berjanji sepulang dari rumah keluarga Cavendish, dia akan membawa Natasha dan kedua anak nya berlibur ke luar.
Lebih baik sekarang aku pergi mencari Graciela pikirnya.
Tiba tiba pendengaran nya menjadi tajam. Samar samar dia merasa mendengar sebuah bunyi klik. Memang di hutan sepanjang dia kembali ke rumah peristirahatan ini dia mendengar beberapa kali bunyi tembakan. Kemungkinan dari William atau Ryan. Tapi bunyi klik sekarang terdengar semakin jelas. Insting nya berkata bahwa ada bahaya mendekati nya.
Dia sudah berada di teras ini duduk mumgkin ada setengah jam lebih. Dia yakin ada seseorang yang mengawasi nya . Lebih tepatnya memperhatikan nya. Dan bunyi klik itu membuat perasaan berubah tidak karuan.
Ia menoleh ke belakang. Dia terkejut sebuah pistol di todongkan tepat di hadapannya. Saking terkejut nya suara nya tidak keluar. Hanya suara tembakan yang terdengar. Dan detik berikut nya dia sudah terkapar di lantai teras bersimbah darah.
*********
Eloise Hope sedang bersiap di depan cermin. Dia memakai dress kuning cerah dengan motif bunga bunga. Dia memoles sedikit wajah nya dan memakai lipstik berwarna nude. Dia mengenakan sepatu bertumit rendah berwarna hitam. Di ambilnya tas tangan berwarna putih yang tergeletak di sofa. Dia sedang bersiap siap pergi untuk jamuan makan siang.
Dia melihat dirinya di cermin. Dia puas pada hasil dandanan nya. Sebenarnya dia sudah sangat lama ingin tinggal di daerah pedesaan. Dulu selama dia bekerja dia selalu berpindah tempat tinggal. Tidak pernah menetap di satu tempat untuk waktu yang lama. Ketika dia mengundurkan diri dari pekerjaan nya dan memilih menjadi detektif swasta dia tinggal di sebuah apartemen di London.
Dia berencana membeli sebuah rumah di daerah pedesaan untuk berlibur dari hiruk ikuk nya kota London sesekali. Dia melihat Heaven ketika melihat iklan rumah tersebut di agen perumahan.
Dia langsung jatuh hati pada rumah ini. Rumah ini tidak terlalu besar. Ukuran nya cukup untuk keluarga lima orang. Rumah berlantai dua berdinding putih gading ini memiliki tiga kamar tidur , dua kamar mandi , sebuah ruang tamu , dapur , ruang makan dan perpustakaan. Dan tentu saja yang paling di sukai nya adalah kebun nya. Rumah ini memiliki kebun yang cukup luas. Dia sangat senang berkebun.
Selain itu di rumah ini ada sepasang suami istri yang melayani dia dengan baik. Semua kebutuhan nya tercukupi di sini.
__ADS_1
Eloise melihat sekali lagi dirinya di depan cermin. Dia sudah puas. Sambil tersenyum dia keluar dari pintu pagar dia memandang rumah tetangganya. Katanya seorang model terkenal tinggal di sana. Tapi dia tidak begitu peduli. Di pilih nya jalan yang menurut nya paling cepat membawa nya ke The Blossom.
Eloise mengingat kembali saat saat bertugas bersama William Cavendish. Mereka pernah bertugas bersama di India itulah saat dia pertama kali mengenal suami istri Cavendish. Menurut Eloise , William Cavendish merupakan seorang komisaris polisi yang handal dan cakap. Dia juga ramah dan sangat humoris. Tapi istri nya agak sedikit mengejutkan ketika dia pertama kali bertemu di India.
Bagi Eloise Julia Cavendish seperti seorang peri . Dia nyata tapi juga tak nyata. Lalu pembicaraan yang kadang membuat bingung. Tapi senyum nya sangat menawan. Kurasa itulah yang membuat William jatuh cinta padanya , pikir Eloise.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Dia sampai di rumah keluarga Cavendish. Dia membunyikan bel , seketika Morris membuka pintu.
Dia menyambut Eloise . Morris berkata
"Nyonya sudah menunggu anda di rumah peristirahatan. Silahkan ikuti saya."
"Baiklah. "
Udara musim gugur mulai agak dingin. Eloise merapatkan mantel nya karena dia merasa agak dingin. Memang benar dia senang berkebun tapi dia rasa untuk musim gugur seperti ini berada di luar bukanlah hal yang cocok di lakukan. Tapi tetap dia mengikuti Morris menuju rumah perisitirahatan di taman.
Keluarga Cavendish mengundang Eloise untuk makan siang jam setengah satu. Sudah menjadi tradisi mereka acara makan siang di adakan di rumah peristirahatan di taman dekat kolam ikan. Mereka sudah menyiapkan minumam minuman ringan , soda dan lemon serta whisky , anggur ataupun jus. Sementara koki keluarga Cavendish menyiapkan makanan ringan dan camilan seperti roti lapis , sandwich atau potato salad.
Ketika sudah mendekat dia mendengar suara jeritan seseorang. Dia sangat mengenal suara jeritan seperti itu. Dalam hati dia berkata
"Padahal aku ingin berlibur tapi sepertinya tidak bisa."
Morris tiba tiba mundur kembali ke arah Eloise . Dia bergumam
"Nona maaf. "
__ADS_1