
Dengan tenang tapi mantap Graciela berkata,
”Maksud anda, sidik jari itu adalah sidik jari saya?
Maksud anda sayalah yang telah menembak Peter, lalu meninggalkan pistol itu di sampingnya, supaya kalau Natasha datang dan melihat benda itu, dia memungutnya dan dilihat orang dia sedang memegangnya. Sehingga dia di anggap sebagai pembunuh Peter. Itu maksud anda, bukan? Tapi bila saya yang melakukannya, masa saya begitu bodoh untuk tidak menghapus sidik jari saya lebih dahulu!"
”Tapi anda tentu cukup cerdas untuk menyadari,
Miss West, bahwa seandainya anda berbuat begitu,
dan bila pada pistol itu tak ada sidik jari lain kecuali
sidik jari Nyonya Hamilton, itu akan sangat menarik perhatian! Karena kalian semua telah menembak dengan pistol itu sehari sebelumnya! Natasha Hamilton akan menghapus itu untuk menghilangkan sidik jari, sebelum dia memakainya tapi untuk apa?”
Lambat-lambat Graciela berkata, ”Jadi anda pikir
saya yang membunuh Peter?”
”Waktu Dr Hamilton sedang sekarat, dia berkata,
‘Graciela.’”
”Dan Anda pikir itu suatu dakwaan? Bukan!”
”Kalau begitu apa?”
Graciela mengulurkan kakinya, lalu menggambarkan suatu bentuk dengan jari kakinya. Dengan suara rendah ia berkata, ”Apakah anda lupa, apa yang saya ceritakan belum begitu lama tadi? Maksud saya... mengenai hubungan antara kami?”
”Oh, ya, dia kekasih gelap anda. Jadi waktu dia sekarat, dia berkata, ‘Henrietta.’ Mengesankan sekali.”
Henrietra menoleh padanya dengan mata marah.
”Haruskah anda mencemooh saya?”
”Saya tidak mencemooh. Tapi saya tak suka dibohongi, dan saya rasa anda sedang mencoba membohongi saya.”
Dengan tenang Graciela berkata , ”Saya sudah berkata sebelum nya bahwa saya tidak terlalu bisa dipercaya, tapi waktu Peter mengatakan ‘Graciela ’, dia tidak mendakwa bahwa saya yang telah membunuhnya. Tidakkah anda mengerti bahwa orang orang seperti saya, yang membuat gambar gambar, boleh dikatakan tak bisa mencabut nyawa? Saya tidak membunuh orang, Miss Hope. Saya tak bisa membunuh siapa pun. Itulah kebenaran yang sejujurnya. Anda mencurigai saya hanya karena nama saya digumamkan oleh seseorang yang sedang sekarat, orang yang boleh dikatakan tak tahu lagi apa yang diucapkannya.”
”Dr Hamilton tahu benar apa yang diucapkannya.
Suaranya adalah suara orang hidup yang sadar betul, seperti seorang dokter yang sedang menjalankan operasi besar, lalu dengan tajam dan mendesak berkata,‘Suster, tolong .’”
”Tapi...” Graciela kelihatan terkejut, dan tak tahu apa yang harus dikatakannya. Eloise Hope berbicara terus cepat cepat.
”Dan tidak hanya berdasarkan apa yang diucapkan
__ADS_1
oleh Dr Hamilton waktu dia sedang sekarat. Sesaat pun tak pernah terpikir oleh saya bahwa anda mampu melakukan pembunuhan yang
direncanakan, itu tak mungkin. Tapi anda mungkin telah melepaskan tembakan itu pada saat anda terdorong oleh rasa benci yang sangat hebat. Dan kalau memang begitu dan seandainya jika memang begitu, Miss West, anda memiliki daya khayal yang kreatif untuk menghilangkan jejak anda.”
Graciela bangkit. Ia berdiri diam beberapa lama,
dan memandangi Eloise dengan wajah pucat dan tegang. Mendadak dengan tersenyum murung ia berkata, ”Padahal saya mengira anda menyukai saya.”
Hercule Poirot mendesah. Dengan sedih ia
berkata ”Itulah malangnya. Saya menyukai anda."
***********
Setelah Graciela meninggalkannya, Eloise Hope masih duduk terus, sampai dilihatnya di bawahnya Inspektur Larkspur berjalan melewati kolam ikan dengan langkah langkah tegap dan santai, lalu
terus melewati rumah peristirahatan.
Inspektur berjalan dengan tujuan tertentu. Ia pasti akan pergi ke rumah Karen Clark atau ke rumah Eloise Hope.
Eloise ingin tahu, rumah mana yang ditujunya. Ia bangkit, lalu berjalan kembali lewat jalan yang
tadi dilaluinya. Kalau Inspektur Larkspur yang
Tapi waktu ia tiba di rumahnya, tak ada
tanda tand ada tamu. Sambil berpikir, Eloise melihat ke jalan, ke arah rumah Karen Clark. Ia tahu bahwa Karen Clark belum kembali ke London.
Rasa ingin tahunya mengenai Karen Clark semakin bertambah. Mantel bulu rubah berwarna pink
berkilauan itu , kotak lilin yang bertumpuk, kedatangannya yang mendadak dan didasarkan atas penjelasan yang sama sekali tak masuk akal pada malam Minggu yang lalu, dan akhirnya cerita Graciela West tentang Peter Hamilton dan Karen Clark. Semua itu merupakan pola yang menarik, pikirnya.
Ya, begitulah ia memandangnya, sebagai suatu pola. Suatu paduan emosi emosi yang saling bertautan, dan bentrokan pada kepribadian masing masing. Suatu paduan yang aneh, yang dijalin oleh benang benang yangbtak terlihat tapi menyiratkan rasa benci dan nafsu. Atau mungkin rasa cemburu yang seperti di katakan Larkspur.
Apakah Natasha Hamilton telah menembak
suaminya sendiri?
Ataukah persoalannya tidak sesederhana itu?
Ia teringat akan percakapannya dengan Graciela,
dan menyimpulkan bahwa keadaannya memang tidak sesederhana itu.
Graciela pasti telah menarik kesimpulan bahwa ia mencurigainya telah melakukan pembunuhan itu. Padahal dalam otaknya ia tidak berpikir sejauh itu. Ia hanya menduga bahwa Graciela tahu sesuatu. Tahu sesuatu atau menyembunyikan sesuatu , tapi yang mana?
__ADS_1
Eloise Hope menggeleng. Ia tak puas. Adegan di dekat teras rumah peristirahatan itu. Adegan yang
telah diatur. Seperti adegan di pentas drama.
Dipentaskan oleh siapa?
Dipentaskan untuk siapa?
Ia menduga keras bahwa jawaban atas pertanyaan
kedua adalah, bagi dia Eloise Hope. Begitulah dugaannya.
Lalu dipikirnya lagi bahwa itu tidak pada tempatnya tapi bukan suatu lelucon.
Lalu bagaimana jawaban atas pertanyaan
pertama?
Ia menggeleng. Ia tak tahu. Ia sama sekali tak punya jawaban.
Ia setengah memejamkan matanya, lalu
membayangkan mereka semuanya. Dilihatnya mereka dengan jelas di mata pikirannya. William Cavendish yang jujur, penuh tanggung jawab, mantan pejabat kepolisian yang tepercaya.
Julia Cavendish, memesona, sukar ditebak, memiliki daya tarik yang luar biasa dan membingungkan, sering mengemukakan
pemikiran yang tak bertanggung jawab.
Graciela West yang lebih mencintai Peter Hamilton daripada dirinya sendiri.
Ryan Cavendish yang lembut tapi negatif.
Gadis bernama Amy Owen yang berambut hitam dan aktif.
Wajah Natasha Hamilton yang kosong dan kebingungan, yang sedang menggenggam pistol.
Shawn Cavendish yang mudah tersinggung dan masih kekanak kanakan.
Itulah mereka semua, yang berada dan
terperangkap dalam jaring hukum. Mereka terikat untuk sementara, dalam suatu ikatan kuat, sebagai akibat suatu kematian mendadak karena tindak
pembunuhan. Masing masing punya tragedi, arti, dan kisah sendiri sendiri.
Dan di celah kumpulan watak dan emosi itu terdapatlah kebenaran.
__ADS_1