Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 39


__ADS_3

Dengan tenang tapi mantap Graciela berkata,


”Maksud anda, sidik jari itu adalah sidik jari saya?


Maksud anda sayalah yang telah menembak Peter, lalu meninggalkan pistol itu di samping­nya, supaya kalau Natasha datang dan melihat benda itu, dia memungutnya dan dilihat orang dia sedang memegangnya. Sehingga dia di anggap  sebagai pembunuh  Peter. Itu maksud anda, bukan? Tapi bila saya yang melakukannya, masa saya begitu bodoh untuk tidak menghapus sidik jari saya lebih da­hulu!"


”Tapi anda tentu cukup cerdas untuk menya­dari,


Miss West, bahwa seandainya anda ber­buat begitu,


dan bila pada pistol itu tak ada sidik jari lain kecuali


sidik jari Nyonya Hamilton, itu akan sangat menarik perhatian! Karena kalian se­mua telah menembak dengan pistol itu sehari sebelumnya! Natasha Hamilton akan meng­hapus itu untuk menghilangkan sidik jari, sebelum dia memakainya tapi untuk apa?”


Lambat-lambat Graciela berkata, ”Jadi anda pi­kir


saya yang membunuh Peter?”


”Waktu Dr Hamilton sedang sekarat, dia ber­kata,


‘Graciela.’”


”Dan Anda pikir itu suatu dakwaan? Bukan!”


”Kalau begitu apa?”


Graciela mengulurkan kakinya, lalu menggambarkan suatu bentuk dengan jari kakinya. Dengan suara rendah ia berkata, ”Apakah anda lupa, apa yang saya ceritakan belum begitu lama tadi? Mak­sud saya... mengenai hubungan antara kami?”


”Oh, ya, dia kekasih gelap anda. Jadi waktu dia sekarat, dia berkata, ‘Henrietta.’ Mengesankan se­kali.”


Henrietra menoleh padanya dengan mata marah.


”Haruskah anda mencemooh saya?”


”Saya tidak mencemooh. Tapi saya tak suka dibohongi, dan saya rasa anda sedang mencoba membohongi saya.” 


Dengan tenang Graciela berkata , ”Saya sudah berkata sebelum nya bahwa saya tidak terlalu bisa dipercaya, tapi waktu Peter mengatakan ‘Graciela ’, dia tidak mendakwa bahwa saya yang telah membunuhnya. Tidakkah anda mengerti bahwa orang orang se­perti saya, yang membuat gambar gambar, boleh dikatakan tak bisa mencabut nyawa? Saya tidak membunuh orang, Miss Hope. Saya tak bisa mem­bunuh siapa pun. Itulah kebenaran yang sejujurnya. Anda mencurigai saya hanya ka­rena nama saya digumamkan oleh seseorang yang sedang sekarat, orang yang boleh dikatakan tak tahu lagi apa yang diucapkannya.”


”Dr Hamilton tahu benar apa yang diucapkan­nya.


Suaranya adalah suara orang hidup yang sa­dar betul, seperti seorang dokter yang sedang men­jalankan operasi besar, lalu dengan tajam dan mendesak berkata,‘Suster, tolong .’”


”Tapi...” Graciela kelihatan terkejut, dan tak tahu apa yang harus dikatakannya. Eloise Hope berbicara terus cepat cepat.


”Dan tidak hanya berdasarkan apa yang diucap­kan

__ADS_1


oleh Dr Hamilton waktu dia sedang sekarat. Sesaat pun tak pernah terpikir oleh saya bahwa anda mampu melakukan pembunuhan yang


direncana­kan, itu tak mungkin. Tapi anda mungkin telah melepaskan tembakan itu pada saat anda terdo­rong oleh rasa benci yang sangat hebat. Dan kalau memang begitu dan seandainya jika  memang begitu, Miss West, anda memiliki daya khayal yang kreatif untuk menghilangkan jejak anda.”


Graciela bangkit. Ia berdiri diam beberapa la­ma,


dan memandangi Eloise dengan wajah pu­cat dan tegang. Mendadak dengan tersenyum mu­rung ia berkata, ”Padahal saya mengira anda me­nyukai saya.”


Hercule Poirot mendesah. Dengan sedih ia


ber­kata  ”Itulah malangnya. Saya menyukai anda."


***********


Setelah Graciela meninggalkannya, Eloise Hope masih duduk terus, sampai dilihatnya di bawahnya In­spektur Larkspur  berjalan melewati kolam ikan  dengan langkah ­langkah tegap dan santai, lalu


te­rus melewati rumah peristirahatan.


Inspektur berjalan dengan tujuan tertentu. Ia pasti akan pergi ke rumah Karen Clark atau ke rumah Eloise Hope.


Eloise ingin tahu, rumah mana yang dituju­nya. Ia bangkit, lalu berjalan kembali lewat jalan yang


tadi dilaluinya. Kalau Inspektur Larkspur yang


Tapi waktu ia tiba di rumahnya, tak ada


tanda­ tand ada tamu. Sambil berpikir, Eloise melihat ke jalan, ke arah rumah Karen Clark. Ia tahu bahwa Karen Clark belum kembali ke London.


Rasa ingin tahunya mengenai Karen Clark semakin bertambah. Mantel bulu rubah berwarna pink


ber­kilauan itu , kotak lilin yang bertumpuk, kedatangannya yang mendadak dan didasarkan atas penjelasan yang sama sekali tak masuk akal pada malam Minggu yang lalu, dan akhirnya cerita Graciela West tentang Peter Hamilton dan Karen Clark.   Semua itu merupakan pola yang menarik, pikir­nya.


Ya, begitulah ia memandangnya, sebagai sua­tu pola. Suatu paduan emosi emosi yang saling bertaut­an, dan bentrokan pada kepribadian masing masing. Suatu paduan yang aneh, yang dijalin oleh benang benang yangbtak terlihat tapi menyiratkan rasa benci dan nafsu. Atau mungkin rasa cemburu yang seperti di katakan Larkspur.


Apakah Natasha Hamilton telah menembak


suami­nya sendiri?


Ataukah persoalannya tidak sesederhana itu?


Ia teringat akan percakapannya dengan Graciela,


dan menyimpulkan bahwa keadaannya memang tidak sesederhana itu.


Graciela pasti telah menarik kesimpulan bahwa ia mencurigainya telah melakukan pembunuhan itu. Padahal dalam otaknya ia tidak berpikir sejauh itu. Ia hanya men­duga bahwa Graciela tahu sesuatu. Tahu sesuatu atau menyembunyikan sesuatu , tapi yang mana?

__ADS_1


Eloise Hope menggeleng. Ia tak puas. Adegan di dekat teras rumah peristirahatan itu. Adegan yang


telah diatur. Seperti adegan di pentas drama.


Dipentaskan oleh siapa?


Dipentaskan untuk siapa?


Ia menduga keras bahwa jawaban atas pertanya­an


kedua adalah, bagi dia Eloise Hope. Begitulah dugaannya.


Lalu dipikirnya lagi bahwa itu tidak pada tempatnya tapi bukan suatu lelucon.


Lalu bagaimana jawaban atas pertanyaan


per­tama?


Ia menggeleng. Ia tak tahu. Ia sama sekali tak punya jawaban.


Ia setengah memejamkan matanya, lalu


mem­bayangkan mereka semuanya. Dilihatnya mereka dengan je­las di mata pikirannya. William Cavendish yang jujur, penuh tanggung jawab, mantan pejabat kepolisian yang tepercaya.


Julia Cavendish,  meme­sona, sukar ditebak, memiliki daya tarik yang luar biasa dan membingungkan, sering mengemukakan


pemikiran yang tak bertanggung jawab.


Graciela West yang lebih men­cintai Peter Hamilton daripada dirinya sendiri.


Ryan Cavendish yang lembut tapi negatif. 


Gadis ber­nama Amy Owen yang berambut hitam dan aktif.


Wajah Natasha Hamilton  yang kosong dan kebingungan, yang sedang meng­genggam pistol.


Shawn Cavendish yang mudah tersinggung dan masih ke­kanak kanakan.


Itulah mereka semua, yang berada dan


terpe­rangkap dalam jaring hukum. Mereka terikat untuk sementara, dalam suatu ikatan kuat, sebagai akibat suatu kematian mendadak karena tindak


pembunuhan. Masing masing punya tragedi, arti, dan kisah sendiri sendiri.


Dan di celah kumpulan watak dan emosi itu terdapat­lah kebenaran.

__ADS_1


__ADS_2