
Bismilahirohmanirohim.
Setelah mendapatkan benda pusaka dari mbaj Kujang, Mira akhirnya sudah diperbolehkan pulang oleh mbah Kujang.
Mira sudah keluar dari tempat tinggal mbah Kujang sekitar 1 jam yang lalu, disinilah Mira saat ini. Di tengah desan yang pernah Mira lewati namu desa itu tak berpenghuni.
Yang anehnya sekarang desa itu sudah ramai sekali penduduk, bahkan penduduk di desa itu sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Mira memperhatikan desa sekitar, tak ada penduduk yang tidak sibuk, semuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, tak ada yang peduli satu sama lain, mereka hanya peduli dengan kegiatan mereka sendiri.
"Apa setelah 1 tahun lamanya aku tak pernah keluar dari tempat mbah Kaujang desan ini jadi sudah berpenghuni" gumun Mira.
Tak ada yang berubah di desan itu, Mira masih mengingat jelas keadaan desa yang sebelumnya tak berpenghuni itu masih sama seperti 1 tahun yang lalu, hanya saja saat ini sudah menambah berapa rumah.
"Tapi kenapa mereka tak menyapaku, sepertinya mereka semua memang tak peduli dengan keberadaan orang asing" ujar Mira.
Mira kembali melanjutkan langkahnya untuk segera keluar dari tempat tersebut. "Sebelumnya mbah Kujang berpesan padaku agar berhati-hati saat melewati desan ini, memangnya ada apa dengan desa ini" bingung Mira pada diri sendiri.
Untungnya rasa penasaran Mira tidak begitu besar, sehingga dia tak mempedulikan orang-orang sekitar, saat ini yang Mira ingikan hanyalah cepat keluar dari desa tersebut.
Mira melangkah dengan cepat, karena dia merasa seperti ada yang sedang mengikutinya, Mira terus berwasapada saat masih berada disekitar desa tersebut.
"Aku harus cepat keluar dari sini" Mira mempercepat langkahnya, agar segera keluar dari desa itu.
Usaha Mira tak sia-sia, dia melangkah dengan begitu cepat, hingga akhirnya dalam waktu singkat Mira dapat keluar dari desa itu.
"Akhirnya selamat juga" lega Mira.
Mira segera mencari tukang ojek yang bisa membawanya keluar dari daerah barat itu. Keberuntungan sepertinya sedang memihak pada Mira, karena ada beberapa tukang ojek yang sedang nongkrong disebuah gubuk menunggu penumpang.
"Bang ojek, bisa antar ke jalan kota?" tanya Mira ramah.
"Wah, lumayan nih dapat penumpang, ayo neng sama saya aja" ujar tukang ojek yang berbadan tinggi.
3 tukang ojek yang lainnya tidak terima dengan perkataan tukang ojek yang tinggi tadi hingga ketiganya protes. "Nggak bisa gitu dong ini kah jatahnya saya mas, saya dari tadi belum dapat penumpang, selalu direbut sama masnya" ucap seorang tukang ojek yang berpawakan sedang
__ADS_1
"Saya dari tadi sudah ngalah loh sama mas, masa penumpang saya yang 1 ini juga mau mas embat, bagi-bagilah" lanjut tukang ojek itu lagi.
"Iya, iya!" jawabnya dengan sewot.
"Mbak sama mas yang satu ini aja ya"
"Iya, ayo mas saya harus cepat sampai kekjalan kota, keburu ketinggalan kereta nanti saya" ujar Mira.
"Ayo naik mbak" tukang ojek itu segera melajukan motornya, setelah memastikan Mira sudah duduk dengan aman.
Sekitar hampir satu jam akhirnya tukang ojek itu sampai di tempat yang ingin Mira tuju, Mira segera memberikan bayaran pada tukang ojek tadi. "Makasih mas"
"Sama-sama mbak" sahut tukang ojek, tapi Mira sudah berjalan lebih dulu, sebelum mendengar kata terima kasih dari tukang ojek itu, Mira hanya ingin dirinya cepat sampai ke kampung halamannya.
Bukan tak sabar, karena merindukan kampung halamannya, tapi tidak sabar ingin segera mengetes kehebatan ilmu yang dia dapat dari 3 guru sekaligus, Mira juga ingin mengetes sebara hebat keris yang mbah Kujang berikan pada dirinya.
"Akhirnya pulang juga, pak Ujang kita akan bertemu lagi, aku sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan anda, apakah anda merindukanku pak Ujang" Mira terseyum smirk.
"Tunggu kematian anda pak Ujang, hahahha!" saat ini Mira sudah di perjalan pulang menuju kampungnya.
***
Mbok Darmi dan mang Aceng sedang menunggu ke pulangan Mira, mereka saat ini sudah berada di stasiun untuk menjemput Mira.
Memang mbok Darmi dan mang Aceng sudah diberitahu oleh Mira Jika dia akan pulang ke kampung halamannya hari ini.
Mira sudah menyelesaikan Semua yang dia inginkan, Mira mengatakan pada mbo Darmin dan Mang Ujang Jika dia akan menetap di desa saja, setelah 4 tahun berkelana di tempat orang lain, Mira juga mengatakan Jika dia akan mengurus kebun dan sawah milik kedua orang tuanya, setelah lama tak menetap di kampung halamannya.
Tak lama kemudian orang yang ditunggu-tunggu oleh mbo Darmi dan mang Aceng akhirnya, keluar juga dari kereta.
"Bapak itu neng Mira" imbuh mbo Darmi pada mang Aceng.
"Mana bu?" tanya mang Aceng yang belum melihat keberadaan Mira.
"Itu loh pak, neng Mira berubah ya pak" ucap mbo Darmi yang melihat gaya Mira tidak seperti dulu lagi.
__ADS_1
"Wajar mbok namanya juga anak gadis meranatu ke kota pasti ada perubahanya beda, apalagi neng Mira sudah 4 tahun tidak pulang kampung" sahut mang Aceng.
"Ayo mbo kita samperin neng Mira" ajak mang Aceng setelahnya.
Mbo Darmi segera tersadar dari lamuannya, buka perubahan itu yang mbo Darmi maksud, tak tahu kenapa mbo Darmi merasa ada yang begitu berbeda pada diri Mira.
"Iya pak" sahut mbo Darmi, keduanya mengahampri Mira.
"Neng Mira, Alhamdulilah sudah sampai dengan selamat" ucap mbo Darmi.
"Mbo" sapa Mira sambil terseyum pada mbo Dari, keduanya berpelukan layaknya seorang ibu dengan anaknya.
Sudah 4 tahun mbo Darmi begitu merindukan Mira, Mbo Darmi sudah menganggap Mira seperti anak kadunganya sendiri.
"Mbo sangat merindukan neng Mira, 4 tahu baru pulang" ujar mbo Darmi, Mira dan mbo Darmi melepaskan pelukan mereka.
"Hehe, mbo bisa aja"
Mang Aceng pun ikut bersuara. "Neng Mira sehat?" tanya mang Aceng.
"Seperti yang mang Aceng lihat mang" sahut Mira ramah.
Sebenarnya ada yang mengganjal hati mbo Darmi, melihat Mira tak bersalaman dengan dirinya dan mang Aceng, padahal dulu Mira sebelum keluar kota, jika sudah lama tak bertemu dengan mbo Darmi, dia akan bersalaman saat bertemu.
"Pak Ujang aku sudah kembali berpisah" tawa Mira dalam benaknya, dia sudah tak sabar melihat pak Ujang anak merasakan apa yang diraskan oleh orang tuanya dulu.
"Kita ngobrol di mobil saja, hari sudah semakin sore tak baik" peringati mang Aceng.
"Iya pak"
"Iya mang" sahut Mirq
Mbo Darmi membantu membawakan barnang Mira, mereka berdua mengikuti langkah mang Aceng, sambil bercerita untuk melepas rindu.
Mira tak memilik siapa-siapa lagi saat ini, kecuali mbo Darmi dan mang Aceng yang selalu ada untuknya.
__ADS_1