
Bismillahirohmanirohim.
Untungnya para jamaah yang mengikuti kajain Nurman yang berusah untuk mefitnah kyai Hasyim tidak terlalu mendengarkan ceramah Nurman, mereka menganggap ceramah Nurman itu sebagi angin lewat.
Tapi beda lagi jika ustadz Nurman itu sudah membahas masalah dukun santet, jika mendengarkan dukun santet di desa itu maka semua orang akan tertuju pada Mira.
Padahal belum tentu jika di desa itu hanya Mira yang menjadi dukun s@ntet, mungkin saja ada orang lain yang mengkambing hitamkan Mira.
Karena Mira sudah begitu terkenal di desanya sendiri dan desa tetangga mereka jika dirinya merupakan seorang dukun s@ntet, siapapun yang berhadapan dengan Mira pasti akan takut, ketika mengingat jika dirinya merupakan seorang dukun s@ntet.
Sedangkan Mira sendiri sudah beberapa bulan ini begitu penasaran dengan Kyai Hasyim.
Kebetulan sekali hari ini Kyai Hasyim masih mengisi pengajian di desan Mira, dengan seluruh keberanian yang Mira miliki dia nekad untuk datang mendengarkan ceramah yang diisi oleh kyai Hasyim sendiri.
"Aku harus pastikan sendiri kenapa aku bisa begitu gemetar saat mengingat atau melihat kyai Hasyim"
Dengan langkah pasti Mira berjalan ke masjid dimana tempat kyai Hasyim mengisi pengajiannya.
Sampai di masjid tersebut Mira sudah merasakan badannya yang begitu panas, tapi kekuat tenaga dia menahan itu semua. "Tahan Mira kamu harus bisa menahan rasa sakit dan hawa panas ini" ucapnya pada diri sendiri.
Mira tak bisa masuk ke dalam masjid karena dia tahu banyak orang yang memandangnya dengan takut padahal dia sendiri saat ini sedang menahan tubuhnya yang terasa panas.
Rasa panas dan hawa dingin juga tubuh gemetar yabg dirasakan Mira kalah oleh rasa penasarnya pada kyai Hasyim.
Orang-orang di dalam masjid yang melihat ke hadiran Mira saling berbisik satu sama lain, tapi mereka tidak sampai menganggu pengajian yang sedang berlangsung kyai Hasyim sendiri pengisi materinya.
"Lihat siapa yang datang" ujar seorang jamaah menyenggol bahu temanya agar dia mau menoleh kebelakang.
"Siapa memangnya?" tanya temanya dengan santai.
__ADS_1
"Cobalah menoleh kebelakang tanap bertanya lagi pada teman sebelahnya bapak-bapak itu melihat ke belakang yang terhubung langsung dengan emperan masjid.
"Itu Mira untuk apa dia datang kesini?" teman sebelahnya mengngkat kedua bahunya acuh.
"Siapa yang ada masalah dengan perempuan itu sampai mengantarkan dia hingga kesini?"
"Tidak tahu yang jelas aku tidak akan berurusan dengan Mira, kita semua disini tahu sendiri jika ribut dengan Mira atau adu cek cok denganya besoknya akan langsung sakit dan hari berikutnya akan meninggal" tutur orang itu panjang lebar.
Mereka masih sayang nyawa jika harus mencari keributan dengan Mira, sudah tahu apa yang akan terjadi pada mereka jika berurusan dengan Mira.
"Sudah-sudah tidak usah bergosip, kita disini mau mendengarkan ceramah yang dibawa kyai Hasyim bukan mau mengribahi orang ini masjid tahu" lerai salah seorang dari mereka.
Ternyata bukan di area bapak-bapaak saja yang hebo tapi juga di area ibu-ibu pun sama saat mereka melihat kehadiran Mira disana.
Mira tahu jika orang-orang di dalam masjid itu sedang membicarkan dirinya, tapi dia tidak peduli, jugaan yang mereka semua katakan adalah sebuah fakat yang juga Mira akui.
Lama kelamaan orang-orang itu lelah sendiri membicarakan Mira dan mereka kembali fokus pada materi yang diberikan oleh kyai Hasyim.
Mira masih menahan rasa panasa yang mendatangi dirinya, sedari tadi dia terus berusah untuk menahan semua rasa sakit yang dia rasakan, saat ini tujuannya hanya satu yaitu bisa bicara langsung pada kyai Hasyim makan akan membuat Mira mengerti semuanya.
Mira mendengarkan semua ceramah yang disampaikan oleh kyai Hasyim dengan baik, tentu saja sambil menahan panas dingin yang terus menghampiri tubuhnya.
Satu jam kemudian akhirnya pengajian yang diisi oleh kyai Hasyim selesai juga para jamaah berbondong-bondong untuk bersalaman dengan kyai Hasyim setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing.
Insya Allah membawa ilmu yang sudah kyai Hasyim sampaikan tadi pada mereka semua, mereka tak ada satupun yang menyapa Mira.
Para jamaah itu malah ketakutan saat melewati tempat di mana Mira duduk, rasa takut jika mereka berbuat salah dan akan bernasib sia-sia.
Kadang orang tidak sadar jika apa yang mereka lakukan sudah melewati batas, kadang orang merasa dirinya paling benar padahal dia tidak sadar diantara banyaknya orang dia lah yang tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
Mira menunggu semua jamaah itu pulang agar dia bisa berbicara langsung dengan kyai Hasyim.
Kyai Hasyim yang masih berada di dalam masjid menyadari kehadiran Mira di majelisnya hanya tersenyum.
"Bu isi masuk" suruh kyai Hasyim pada Mira. Kyai Hasyim sambil mengisyaratkan kedua tanganya tanda menyuruh Mira untuk masuk ke dalam masjid.
Mira yang disuruh langsung oleh kyai Hasyim untuk masuk ke dalam masjid dengan langkah ragu dia masuk ke dalam masjid tersebut.
Energi yang bertentangan dari tubuh Mira, dengan masjid dan kyai Hasyim membuat Mira susah untuk berjalan.
Dengan sisa tenang yang masih Mira milik dia berusaha agar bisa mendekat pada kyai Hasyim yang ditemani oleh salah satu anak murid kyai Hasyim.
Sampai di depan kyai Hasyim Mira duduk tersimpuh begitu saja karena energinya sudah habis kalah dengan energi yang ada di dalam masjid dan juga energi yang dimiliki oleh kyai Hasyim.
Mira langsung menangis tersedu-sedua di hadapan kyai Hasyim, dia mengingat semua dosa-dosa yang pernah dia lakukan.
Akibat rasa dendamnya yang begitu dalam dia dengan pedenya menyekutukan sang Maha Esa. Dengan bangganya dia berguru pada setan dan lupa akan Allah tuhan yang sesungguhnya.
Kyai Hasyim membiarkan Mira menangis tersedu-sedua karena kyai Hasyim tahu Mira sedang mengingat semua doa yang telah dia perbuat dulu.
Bahkan Ilmu haram itu sampai dia sebarkan pada orang lain, saat Mira masih menjadi-jadi dengan kegiatannya dulu yang merupakan memiliki aktivitas meny@ntet orang.
Kyai Hasyim akhirnya buka suara. "Kenapa menangis? Tidak usah menangis jika mau bertaubat, taubatlah belum terlambat" ucap Kyah Hasyim yang membuat Mira semakin menangis tersedu-sedu.
Mira terus saja mengingat semua dosanya, rasa dendam sudah benar-benar menutup mata hatinya.
Hingga dia dulu melakukan perbuatan keji, bertemu dengan kyai Hasyim merupakan salah satu hidayah untuk Mira.
Karena Allah menjadikan kyai Hasyim sebagai perantara untuk Mira mendapatkan hidayahnya.
__ADS_1