
Bismillahirohmanirohim.
Malam harinya Mira langsung melakukan ritual untuk menyantet pak Ujang, untung malam ini mbok Darmi tidak menginap di rumahnya, jadi Mira bisa melakukan ritualnya dengan leluasa, Mira mengunci semua pintu rumahnya terlebih dahulu sebelum mulai melakukan ritualnya, agar tidak ada yang mengganggu dia saat melakukan ritual s@ntet tersebut.
Saat Mira mulai melakukan ritual untuk menyantet pak Ujang, hal itu langsung kontak pada pak Ujang yang sedang berada di rumah.
Saat malam itu juga ada seekor burung hantu berukuran besar singgah di atas atap rumah pak Ujang, burung hantu itu bukan hanya hinggap saja, tapi juga mengeluarkan suara yang begitu berisik.
Kebetulan sekali anak pak Ujang yang sedang menyandang sekolah di pesantren saat itu sedang pulang, karena memang jadwalnya untuk pulang. Anak pak Ujang yang bernama Nurman itu mengecek apa yang sangat bising di atas atap rumah mereka.
Ternyata saat dilihat oleh Nurman ada seekor burung hantu yang berukuran besar hinggap di rumah mereka, burung hantu itu juga mengeluarkan suara berisik.
Nurman berusaha mengusir burung hantu itu karena sangat berisik. "Hus, huss, huss, pergi dari sini berisik" usir Nurman pada burung hantu itu.
Tapi burung hantu itu tak kunjung pergi dari atap rumah mereka, yang Nurman tidak tahu bersamaan dengan itu bapaknya yang merupakan pak Ujang tiba-tiba jatuh sakit, perutnya terasa seperti ditusuk-tusuk, perut pak Ujang juga langsung membesar, apa yang pak Ujang rasakan saat ini, sama halnya yang dirasakan oleh kedua orang tua Mira 4 tahun yang lalu, sama persis.
"Au, sakit…. sakit….. sakit!" rintih pak Ujang.
Pak Ujang merasakan perutnya begitu sakit, perih dan terasa seperti terbakar, sampai dia berguling-guling diatas kasur itu untuk mencari cara agar sakitnya hilang, tapi bukanya sembuh perut pak Ujang semakin membesar.
Setelah pak Ujang jatuh sakit, burung hantu tadi juga sudah pergi, Nurman segera masuk ke dalam rumahnya. Betapa kagetnya Nurman saat melihat perut bapaknya yang membesar dan bapaknya juga sedang berguling kesana kemari di atas kasur.
"Bapak" pekik Nurman dia segera menghampiri bapaknya, pak Ujang yang berguling-guling diatas kasur.
__ADS_1
"Bapak kenapa?" tanya Nurman dengan bingung, karena masih terlalu muda Nurman tak tahu harus berbuat apa saat melihat bapaknya jatuh sakit.
Pak Ujang tidak menghiraukan Nurman dia terus saja merintih kesakitan. "Sakit….sakit….sakit!" keluh pak Ujang lagi.
Nurman memegang kening bapaknya, yang terasa begitu panas seperti orang terbakar. "Bapak kenapa menjadi seperti ini" risau Nurman. Dia hanya bisa berdiam diri membiarkan bapaknya kesakitan, karena tak tahu dia harus bagaimana saat ini.
Para tetangga yang mendengar ada keributan di rumah pak Ujang segera berdatangan, termasuk Mira yang sudah selesai melakukan ritual s@ntetnya untuk dikirim pada pak Ujang.
"Ada apa?"
"Ada apa?" tanya warga yang pada berdatangan pada warga yang lainnya.
"Ada apa ini?" tanya seorang kepala desa saat memasuki rumah pak Ujang.
"Coba saya lihat dulu keadaan bapak kamu Man" ucap kepala desa di kampung itu.
Nurman mengajak kepala desa itu untuk melihat keadaan bapaknya di kamar, ternyata pak Ujang masih sama seperti tadi merintih kesakitan dan terus berguling-guling di atas kasur.
Kepala desa itu memperhatikan tubuh pak Ujang dengan saksama, dia dapat melihat perut pak Ujang yang terus membesar dan rintihan yang memilukan keluar dari mulut pak Ujang.
Setelah selesai memperhatikan apa yang terjadi pada pak Ujang, kepala desa itu dapat menyimpulkan satu hal yang menimpa pak Ujang. "Bapak kamu ada yang nya@ntete Man sepertinya, coba saya tanya tadi sebelum bapak kamu jatuh sakit ada apa yang datang ke rumah?" tanya bapak kepala desa itu pada Nurman, anak satu-satunya pak Ujang.
"Tadi ada burung hantu pak diatas atap rumah, terus burung hantunya juga bersuara sangat berisik sekali, pas diusir burung hantunya juga tidak mau pergi-pergi, setelah itu tak lama kemudian burung hantunya pergi, pasa saya masuk bapak sudah seperti sekarang ini " terang Nurman.
__ADS_1
"Benar berarti bapak kamu terkena s@ntet Man, biasanya orang yang terkena s@ntet itu dikirim barang-barang seperti itu, nah burung hantu itu tadi merupakan khodamnya si penyantet, untuk menyantet bapak kamu" terang kepala desa.
"Saya kan tidak tahu pak, kalau burung hantu itu yang menyebapakan bapak saya seperti ini"
"Sudah begini saja, besok bapak kamu bawa ke orang pintar untuk diobati, kasihan jika bapak kamu seperti itu" putus kepala desa.
Mira yang ternyata ikut masuk ke dalam kamar itu untuk mengecek kondisi pak Ujang, dia pun menimpali ucapan bapak kepala desa. "Iya pak kepala desa benar kasihan kalau seperti itu lebih baik dibawa ke orang pintar saja" timpa Mira.
Tapi dalam hati gadis itu tertawa senang. "Mampus! Itu yang dulu ibu dan bapak saya rasakan, maka bapak Ujang merasakannya juga, malam ini pak Ujang yang kena, besok giliran istri bapak jadi bersiaplah, hahahah!" Mira merasa sangat puas dalam hatinya apalagi dia melihat secara langsung penderitaan yang dialami oleh pak Ujang.
Malam berikutnya benar saja, hal serupa menimpa istri pak Ujang, kejadiannya yang menimpa istri pak Ujang sama persis seperti yang pak Ujang alami, hal itu tentu saja membuat Nurman semakin bingung.
Warga tidak ada yang peka jika kejadian yang dialami oleh orang tua Nurman, sama persis seperti yang dialami oleh kedua orang tua Mira 4 tahun yang lalu, karena mungkin kejadian yang menimpa orang tua Mira itu sudah bertahun-tahun lamanya.
esok harinya Nurman tidak jadi membawa kedua bapaknya keorang pintar, tidak tahunya saat malam hari ibu Nurman mengamai hal serupa.
Pagi-pagi sekali Nurman dengan dibantu oleh kepala desa membawa kedua orang taunya berobat ke orang pintar yang bisa menyembuahkan ibu dan bapak Nurman.
Samapi ditemat orang pintar itu kepala desa langsung menyuruh mengobati orang tau Nurman. "Pak tolong obati mereka" suruh pak kepala desa.
"Baik pak" orang pintar itu langsung mengecek terlebih dahulu s@ntet apa yang dialami orang tua Nurman, tapi saat dukun itu melawan dia kalah.
Saat orang tua Nurman dibawa ke orang pintar bukannya sembuh, tapi malah dukun yang mengobati orang tua Nurman meninggal, sambil muntah darah begitu banyak yang dikeluarkan oleh duduk yang didatangi oleh Nurman, tapi tak sanggup melawan Mira.
__ADS_1