Akibat Rasa Dendam!!

Akibat Rasa Dendam!!
Rencana Mira


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Esok hari setelah berada di desanya selama 1 hari untuk beristirahat, karena lelah di perjalanan Mira mulai merencanakan untuk melancarkan aksinya, akan menyantet pak Ujang, tapi sebelum itu Mira harus mencari cara agar pak Ujang emosi, untuk memudahkan Mira melakukan aksinya.


"Mbok hari ini Mira ikut ke sawah ya" ucap Mira saat dia baru selesai membersihkan diri. Malam setelah kepulangan Mira mbok Darmi menginap di rumah Mira.


Mbok Darmi yang sedang memasak untuk sarapan mereka bersuara. "Memang neng Mira tidak lelah?" mbok Darmi memastikan.


"Tidak mbok, lagipula seharian di rumah saja pasti Mira suntuk tak ada yang bisa dikerjakan" 


"Oke neng!" setuju mbok Darmi.


Mbok Darmi dan mang Aceng biasanya akan berjadwalan untuk mengecek kebun dan sawah miliki Mira, karena mereka juga harus mengurus kebun mereka, walaupun kebun yang dimiliki mbok Darmi dan mang Aceng hanya 1, tapi kebun itu harus tetap mereka urus, tidak seperti kebun miliki Mira yang sangat luas dan ada beberapa, tetap saja kebun itu harus dirawat dengan baik.


Selama ini hasil kebun dan sawah miliki Mira masih mbok Darmi dan mang Aceng  simpan untuk Mira, mereka tak menghabiskan keuntungan dari sawah dan kebun Mira, karena mbok Darmi dan mang Aceng bukan orang yang serakah.


Setelah selesai sarapan Mira dan mbok Darmi berjalan menuju sawah dengan berjalan kaki, tak lupa mbok Darmi membawa bekal dan alat yang dibutuhkan, hari ini giliran mbok Darmi yang mengecek keadaan sawah, sementara mang Aceng harus pergi ke kebun.


Tadi saat akan berangkat ke kebun mang Aceng juga, sarapan di rumah Mira, karena istrinya mang Aceng yang merupakan mbok Darmi itu hanya memaksa di rumah Mira, tidak sempat memasak di rumah mereka, lagipula untuk apa bolak balik pikir mbok Darmi mendingan sekalian saja.


Malam harinya mbok Darmi sudah berpesan pada mang Aceng untuk besok pagi sarapan di rumah Mira.


Mira dan mbok Darmi sama-sama menikmati semilir angin di pagi hari, seperti sedang menggiring keduanya menuju ke sawah.


"Mbok sudah 4 tahun desa tak banyak berubah ya, masih sama seperti dulu, bahkan orang-orangnya juga masih sama, jarang yang ramah" ucap Mira.


"Iya neng, ya seperti ini lah desa kita tak maju-maju, karena banyak orang serakah" cicit mbok Darmi, takut ada yang mendengar perkataannya, Mira tersenyum simpul saat mendengar perkataan mbok Darmi.


"Termasuk anda pak Ujang!" ucap Mira reflek dalam benaknya saat mbok Darmi mengatakan desa mereka banyak orang serakah.

__ADS_1


Tak lama kemudian mbok Darmi dan Mira sampai di sawah. "Mbok saya mau liat-lihat sawah yang lain dulu ya" pamit Mira.


"Iya neng" mbok Darmi melanjutkan kegiatannya, dia membiarkan Mira melihat-lihat sawah milik Mira sendiri.


Mira terus berjalan sambil memperhatikan sawah peninggalan kedua orang tuanya yang ada berpetak-petak.


Sampai Mira memberhentikan langkahnya saat melihat 3 petak sawah berbeda dari sawah miliknya yang lain, tapi sawah itu berada ditengah-tengah sawah milik Mira.


"Itu sawah siapa?" tanya Mira penasaran yang entah pada siapa.


Saat sudah puas melihat-lihat Mira memutuskan untuk kembali menemui mbok Darmi, sekaligus dia akan menanyakan sawah siapa yang tadi dia lihat.


Mira hampir 1 jam mengitari sawah-sawah itu untuk melihat perkembangan sawah milik orang tuanya, ternyata mbok Darmi dan mang Aceng benar-benar mengurus sawah milik almarhum orang tua Mira dengan baik.


Mira sudah berada di sisi mbok Darmi yang sedang beristirahat, Mira ikut duduk di tikar yang mbok Darmi gelar.


"Mbok Mira mau tanya itu yang ditengah-tengah sawah kita, sawah siapa emang?" tanya Mira hanya untuk memastikan saja.


"Itu Mah sawah pak Ujang neng"


Mira melotot dengan sempurna saat mendengar nama pak Ujang orang yang paling dia benci disebut oleh mbok Darmi.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba! Ini pribahasa yang cocok sekali" batin Mira merasa senang.


Mira merasa ada peluang untuk dirinya melancarkan aksinya. "Kalau boleh tahu pak Ujang yang mana ya mbok?"


Mbok Darmi menghela nafas pelan. "Itu pak Ujang yang pernah konflik sama Almarhum bapak!" ujar mbok Darmi pelan.


Benar tebakan Mira, dia tak salah lagi pak Aceng yang dimaksud oleh mbok Darmi. Sontak dendam yang ada di dalam hati Mira kembali meledak dan meronta ingin segera dituntaskan.

__ADS_1


"Tamat riwayat anda pak Ujang! Tunggu sebentar lagi!" Mira tertawa puas dalam hatinya. 


"Mbok untuk sawah yang disana biar Mira saja yang urus"


"Tapi neng, neng Mira kan tidak pernah ke sawah sudah 4 tahun ini, sudah tidak papa biar mang Aceng dan mbok saja yang mengurus"


"Tidak apa mbok, sekalian Mira belajar lagi, siapa tahu Mira bisa kembali mengingat  cara yang dulu" Mira memegang lengan mbok Darmi dengan lembut.


"Baiklah neng, tapi kalau ada apa-apa beritahu mbok dan Mang Aceng"


"Iya mbok" sahut Mira cepat.


"Selangkah lagi pak Aceng, jadi bersiaplah!" ucap Mira senang dalam benaknya.


"Tapi hati-hati di sawah loh neng, sebentar lagi kita akan panen" 


"Iya mbok, Mira pasti akan berhati-hati" Mira harus meyakinkan mbok Darmi terlebih dahulu agar dia dapat melancarkan aksinya.


Mbok Darmi kembali terjun ke sawah, sementara Mira membantu apa yang dia bisa, besok dia akan mempraktekkan apa yang diajarkan mbok Darmi hari ini pada dirinya.


Tak terasa bagi mbok Darmi maupun Mira, hari sudah mulai sore matahari sudah berpindah tempat, keduanya memutuskan untuk pulang, Mira membantu mbok Darmi naik ke atas.


Setelah membersihkan diri yang terkenal, lumpur sawah mbok Darmi mengajak Mira pulung. "Ayo balik neng hari sudah semakin sore" ajak Mbok Darmi pada Mira.


"Iya mbok" ujar Mira, mengikuti langkah mbok Darmi yang sudah berjalan lebih dulu di depan Mira.


Saat perjalan pulang dari sawah Mira tak sengaja melihat sosok yang begitu dia benci sedang tertawa di gardu bersama bapak-bapak yang lainnya. "Tertawa dengan puas pak Ujang, karena sebentar lagi tawa anda akan lenyap" Mira menatap tajam pak Ujang, tak ada yang menyadari jika Mira sedang menatap tajam pak Ujang termasuk mbok Darmi yang masih setia jalan di depan Mira, sambil terus mengoceh.


"Neng sore ini mau sarapan apa? Iya neng mbok lupa bilang sama neng Mira kalau lusa mbok sudah tidak bisa menginap di rumah neng Mira, kalau sarapan neng datang saja ke rumah ya" ucap mbok Darmi panjang lebar.

__ADS_1


Mbok Darmi yang menyadari tidak ada respon dari Mira segera menoleh kebelakang. "Neng Mira ngapain bengong disana" tegur mbok Darmi saat melihat Mira seperti sedang menatap sesuatu tapi entah apa itu.


__ADS_2