Akibat Rasa Dendam!!

Akibat Rasa Dendam!!
Bab 6. Keputusan Mira


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Hari-hari Mira kembali dia jalani seperti sebelumnya, Mira sudah kembali mengurus kebun dan sawah milik orang tuanya. Walaupun rasa kehilangan masih mendominasi pada dirinya, juga rasa dendam yang masih terus mengalir dalam lubuk hatinya.


"Neng Mira" panggil mbok Darmi saat melihat Mira sedang berada di ladang. Menguras kebun orang tua Mira sendiri.


"Iya mbok" Mira berjalan menghampiri mbok Darmi yang berada tak jauh dari tempatnya.


"Iya mbok, ada apa?" tanya Mira saat sudah berada disebelah mbok Darmi.


"Makan dulu neng jangan kerja terus kasihan perutnya kalau tidak diisi" tegur mbok Darmi.


"Iya mbok, mbok kenapa repot-repot bawain Mira makan, padahal Mira bisa ambil sendiri" ucapnya merasa tidak enak.


"Sudah tidak usah dipikirkan, ayo kita makan mbok juga laper neng, hehe" ujar mbok Darmi.


Keduanya makan dengan lahap sesekali mereka berbincang, sesekali mereka juga akan tertawa dengan ucapan mbok Darmi. 


Begitulah setiap hari yang Mira jalani, tapi walaupun seperti itu rasa sedih kehilangan kedua orang tuanya masih tampak, sementara rasa dendamnya yang dia tanam di dalam hatinya terus saja berkembang, terus saja memberontak untuk dituntaskan.


Setelah pulang dari kebun dan sawah Mira akan membersihkan diri dan membereskan rumahnya.


Mira berhenti sejenak saat sedang menyapu lantai, kala melihat foto kedua orang tuanya bersama dirinya sedang tersenyum yang terpajang di atas lemari televisi.


Mira kembali merasakan sakit saat menatap lama foto-foto itu, rasa dendamnya yang ada di dalam diri Mira, terus memotivasi Mira untuk membalaskan dendam itu..


"Benar aku harus membalasnya, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya" ucap Mira, masih memandangi foto orang tuanya.


"Apakah aku harus mencari guru, agar bisa membalas pak Ujang, dia juga harus menanggung akibatnya, dia juga harus merasakan apa yang ibu dan bapak Mira rasakan" batin Mira.


Mira kembali melanjutkan pekerjaannya,  dia terus berpikir agar bisa bicara pada mbok Darmi dan mang Aceng, bahwa dia ingin berkelana dan menenangkan diri,  Mira ingin keluar dari kampung untuk sementara waktu, atau bahkan dalam waktu jangka yang lebih lama.


"Benar aku harus pergi, aku harus belajar ilmu itu, kalau begini terus aku bisa stres" pikir Mira.

__ADS_1


Selesai membereskan rumah, Mira segera menuju rumah mbok Darmi, ada hal yang ini dia bahas, pada orang yang selalu ada saat dirinya membutuhkan itu.


Tok…tok…tok!


"Mbok ini Mira" ucapnya dari luar pintu rumah mbok Darmi.


Mbok Darmi dan mang Aceng yang sedang berbincang segera membuka pintu. "Neng Mira ayo masuk" suruh mbok Darmi.


"Iya mbok, Mira masuk" Mira menyusul mbok Darmi dan mang Aceng masuk ke dalam rumah mereka.


Mbok Darmi dan mang Aceng, menyuruh Mira untuk duduk kebetulan sekali mereka sedang makan malam.


"Makan dulu neng, kebetulan mbok masak banyak" ajak mbok Darmi.


"Iya mbok makasih banyak Mira juga baru selesai makan malam di rumah" ujarnya.


"Kalau begitu buahnya dimakan ya neng, jangan cuman liatin mbok sama mamang makan dong" sahut mang Aceng.


Mira membaikan mbok Darmi dan mang Aceng menghabiskan makanan mereka, terlebih dahulu sebelum dia ingin bicara penting pada mereka.


Mbok Darmi dan mang Aceng memang hanya tinggal berdua, karena anak-anaknya sudah memiliki keluarga sendiri, tapi sesekali anak-anak mbok Darmi akan pulang ke rumah mereka untuk melihat keadaan mbok Darmi dan mang Aceng. 


"Mbok Mira kedapan ya" pamitnya, mbok Darmi dan mang Aceng hanya sama-sama mengangguk.


"Sepertinya ada yang ingin Mira bicarakan pada kita ya pak" ucap mbok Darmi pada suaminya, saat melihat Mira sudah tak berada di ruang makan lagi, bersama mbok Darmi dan suami.


"Iya bu, bapak juga liat-liat sepertinya eh Mira ingin bicara penting pada kita, selesai kita makan lebih baik kita temui dulu neng Mira" usul mang Aceng.


"Iya sudah pak, ibu juga sudah selesai ibu susul Mira dulu" mbok Darmi beranjak dari tempat duduknya menemui Mira.


"Mbok sudah beres makannya?" tanya Mira dan kebetulan mang Aceng juga menyul mbok darmi di belakangnya.


"Sudah, duduk neng" suruh mbok Darmi.

__ADS_1


"Neng Mira malam-malam kesini pasti ada hal penting yang ingin disampaikan, ada masalah apa neng?" mang Aceng langsung bertanya tanpa bertele-tele, karena sudah tahu maksud Mira.


Gadis itu tak akan pernah datang bertamu ke rumah orang di waktu malam hari, selain ada hal penting yang mau dia sampaikan.


"Jadi begini mbok, mang, Mira sudah memutuskan untuk pergi keluar kota, Mira ingin bekerja sekaligus menenangkan diri disana, agar Mira tidak terus merasa sedih kehilang ibu dan bapak" ucapnya langsung.


"Jadi Mira mau menitipkan kebun dan sawah orang tua Mira, pada mbok dan mang Aceng, karena hanya kalian yang bisa Mira percaya disini" lanjut Mira.


Mbok Darmi dan mang Aceng hanya saling pandang.


Nita Mira sebenarnya bukan untuk bekerja tapi dia ingin belajar ilmu s@ntet yang sebenarnya tidak diperbolehkan dalam agamanya, namun rasa dendam yang sudah sangat mendominasi memuat Mira melupakan ajaran agamanya sendiri, sayang sangat tidak boleh menyekutukan tuhan mereka.


Karena hanya Allah yang wajib disembah dalam agamanya, tapi mata hati Mira sudah tertutup dengan rasa dendam. 


"Neng Mira mau pergi ke provinsi mana?" Mbok Darmi mematikan, ada rasa khawatir pada diri mbok Darmi membiarkan Mira pegi.


"Mira belum tahu mbok, nanti akan Mira pikirkan lagi, kemungkinan Mira sudah berangkat lusa, jadi Mira titip sawah, kebun dan rumah yang mang, mbok" Mira kembali berucap.


"Kalau yang kamu tinggalkan disini, Insya Allah semua akan mbok dan mang Aceng jaga neng, yang penting hati-hati di daerah orang" pesan mbok Darmi.


"Iya mbok terima kasih banyak"


"Sama-sama neng tidak usah sungkan pada mbok dan mang Aceng, jika meng Mira butuh bantuan bilang saja pada kita"


"Iya mbok, oh iya nanti hasil ladang dan sawahnya, ambil untuk mbok Darmi dan mang Aceng saja ya" suruh Mira.


"Sudah semakin larut mbok, mang Mira mau pamit pulang dulu, lusa minta tolong antar Mira ke stasiun yang mang" ucapnya lagi sebelum beranjak dari tempat duduknya.


"Insya Allah neng, nanti kabar saja kalau neng Mira sudah siap, lusakan?" Mira mengangguk.


Setelah itu Mira benar-benar pamit pulang ke rumahnya, dia tak memikirkan kebun dan sawah, juga rumah lagi nanti yang ada dikampung, karena ada mbok Darmi dan mang Aceng yang akan megurus semuanya.


Jadi Mira hanya tinggal memikirkan apa yang akan Mira lakukan nanti di daerah orang, gadis itu sudah benar-benar niat untuk belajar s@ntet.

__ADS_1


__ADS_2