
Bismillahirohmanirohim.
"Mbok Darmi, mang Aceng, Mira berangkat dulu ya, Mira titip semua yang ada disini, Mira hanya percaya dengan kalian"
"Iya neng, hati-hati di tempat orang, kalau sudah sampai kasih kabar mbok dan mamang disini" sahut mbok Darmi.
Ya hari ini jadwal Mira berangkat untuk mencari kerja, ucapnya pada mbok Darmi dan mang Aceng, tapi niatnya bukanlah itu ada niat lagi yang Mira lakukan, untuk kepergianya ini.
Saat ini mereka sudah berada di stasiun, mbok Darmi dan mang Aceng sendiri yang mengantar Mira menuju stasiun.
"Iya mbok, keretanya sudah sampai Mira duluan ya mbok" pamitnya melagkah pergi menuju kereta meninggalkan mbok Darmi dan mang Aceng yang masih menunggu Mira, sampai tak terlihat lagi.
"Semoga neng Mira baik-baik di kampung orang ya pak"
"Aamiin bu, kita pulang sekarang bu?"
"Ayo pak, lagi pula neng Mira sudah naik kereta" mbok Darmi berjalan lebih dulu meninggalkan mang Aceng yang masih berdiri.
"Tapi tak tahu kenapa rasanya ada yang neng Mira sembunyikan dari kami" gumun mang Aceng, sambil berjalan menyusul mbok Darmi.
Di dalam ketrta Mira masih mengotak atik hendphone nya, untuk mencari informasi yang masih dia butuhkan.
Seputur orang-orang pintar yang bisa untuk dirinya, jadikan sebagai guru ilmu hitam. Bahkan Mira mensekrol sampai bawah beberapa informasi yang jangan dikunjungi banyak orang.
Tak hanya informasi dari internet saja, Mira juga mendapatkan informasi dari beberapa buku yang dia dapat.
Setelah hampir 5 jam akhirnya Mira sampai di tempat yang dia tuju, Mira hanya berganti 3 kali transit kereta saja tidak lebih.
"Akhirnya sampai juga" ucap Mira lega.
Dia segera membawa tas gendonya dan menarik satu koper yang dia bawa. "Kenapa disini sangat begitu sepi dan juga sedikit menyeramkan?" tanya Mira entah pada siapa.
Namun sesepi apapun tempat itu dan semenyeramkan apapaun tempatnya tak mengurungkan niat Mira sedikitpun, malah jiwa ketidak sabarnya semakin meronta.
"Lelah sekali"
__ADS_1
Mira memutuskan untuk istirahat sebentar dibawah pohon yang sedikit rindang, Mira harus menaiki gunung untuk sampai ke tempat orang yang akan dia jadikan guru, agar bisa mengajarinya ilmu hitam.
"Ayo Mira tak boleh menyerah" dia harus menyemangati dirinya sendiri.
Setelah hampir 30 menit beristirahat Mira kembali melanjutkan perjalanannya. Dia masih harus terus berjalan kaki agar bisa sampai ke pucuk gunung.
Mira melihat ada beberapa orang yang melintas di tempat itu, tapi tak ada satu pun orang yang berniat untuk membantu dirinya.
"Kenapa mereka sangat sombong, ada orang kesusahan sepertiku, tapi tak ada yang mau menolong" bingung Mira.
Tapi lagi-lagi dia tetap terus berjalan. "His, sudahlah Mira tak usah pikirkan itu, sekarang kamu harus cepat sampai ke tempat tinggal mbah Jami, sesuai yang diberi tahu mbah Narto" ucapnya bergumun sendiri.
Memang sebelum Mira berangkat, dia menemui mbah Narto terlebih dahulu secara diam-diam, kali ini Mira tak mengajak mbok Darmi atau pun mang Aceng, dia hanya pergi sendiri.
Mira bukan hanya mencari informasi orang pintar dari internet maupun buku saja, tapi dia meminta solusi pada mabah Narto.
Mbah Narto mengusulkan pada Mira, ada tiga dukun ilmu hitam yang sudah mengasingkan diri, ketiga ini adalah orang yang paling hebat.
Masing-masing diantara mereka memiliki kelebihan yang luar biasa, tapi mereka tinggal di tempat terpencil dan berbeda-beda, mbah Narto tak menjelaskan semuanya.
Hanya itu informasi yang diberikan pada mbah Narto selebihnya, Mira harus berusaha sendiri.
Mbah Narto sudah memprediksi jika Mira akan kembali menemuinya, kali ini dia akan berangkat sendiri, ternyata benar pridikasi mbah Narto.
Karena dia bisa melihat dendam yang begitu besar tertanam di dalam hati Mira, bahkan dendam itu tak akan berhenti sebelum apa yang menjadi niatnya belum dituntaskan.
"Hohohoh" Mira ngos-ngosan, karena leleh mendaki gunung baginya untuk pertama kali dia berjalan begitu jauh dan susah.
"Kenapa masih jauh, tempatnya saja belum terlihat diujung mataku" keluh Mira. "Sementara hari semakin gelap, aku tak boleh beristirahat lagi kalau begini"
Walaupun sudah sangat lelah Mira tetap melanjutkan perjalanannya. "Sudah hampir sampai tak boleh mudur!"
Gadis 21 tahun itu benar-benar memiliki tekad besar hanya untuk sebuah dendam, jika dia sadar apa yang dia lakukan hanya sebuah kesia-siaan belaka.
Begitulah dendam jika bukan kita yang mengontrol dendam, tapi dendam kita sendiri yang akan mengontrol kita, bahkan apa pun akan di lakukan demi menuntaskan sebuah dendam.
__ADS_1
Usaha Mira tak sia-sia akhirnya setelah berjalan cukup jauh dan hanya beristirahat sebentar dia menemukan sebuah gubuk sederhana yang disamapinya ada dua pondoh tak berpenghuni.
"Sesuai yang diberi tahun mbah Narto" ucap Mira senang.
Mira berjalan mendekati gubuk tadi dengan perasaan gembira. "Permisi apakah ada orang" ucap Mira di depan pintu.
Tak ada jawaban Mira kembali bersuara. "Permisi apakah ini benar tempat tinggal mbah Jarmi?" ucapnya lagi, kali ini sedikit berteriak.
"Kenapa belum ada jawaban juga" keluh Mira.
Baru dia ingin melangkah pergi untuk mengistirahatkan sebentar kakinya yang begitu pegal, pintu dihadapanya terbuka disusul suara seseorang yang begitu menyeramkan.
"Ada yang bisa saya bantu?!!" tanya seorang laki-laki yang sudah sangat tua, tapi intonasi suaranya begitu menyeramkan, bisa saja orang yang mendengar suara itu lari ketakutan.
Tapi tidak untuk Mira, walaupun sebenarnya dia ingin lari saat ini juga dari tempat itu, tekadnya yang begitu besar mampu mengalahkan ketakutannya.
"Saya disini ingin bertemu mbah Jarmi!" ucap Mira dengan yakin.
"Kenapa kamu mencarinya?" tanya kakek-kakek itu lagi yang sebenarnya dia adalah mbak Jarmi.
"Saya ingin menjadi murid mbah Jarmi" Mira kembali menjawab dengan yakin.
"Hei anak muda apa alasamu begitu ingin berguru dengan seorang kakek tua sepertiku ini?"
"Sederhana saja saya ingin menjadi kuat dan membalaskan dendam saya sampai tuntas!"
"Tekadmu begitu besar anak muda, baiklah karena kamu sudah jauh-jauh kesini, aku akan mengajarimu, walaupun sebenarnya, aku sudah tak menerima murdi lagi" jelas kakek Jarmi.
"Jadi anda mbah atau yang sering disebut kakek Jarmi" ucap Mira tak percaya.
"Memangnya kenapa, jika ingin jadi muridku, jangan pernah berani mengucapakah hal-hal bukur di tempatku"
"Baiklah mbah aku setuju, jadi maafkan aku jika tadi tak sopan"
"Yasudah masuk, malam ini kamu kamu mulai latihan, kamu harus bertapa di satu pondok yang ada disana" ucap mbah Jarmi yang berlalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Apa! Sudah mulai berlatih bahkan aku belum istirahat" keluh Mira.