Akibat Rasa Dendam!!

Akibat Rasa Dendam!!
Aj@l pak Ujang


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Saat detik-detik kematian orang pintar yang dipanggil oleh keluarga pak Ujang, untuk mengobati kedua orang tua Nurman, orang pintar itu seperti sedang mengucapkan sesuatu, tapi karena mulutnya yang terus mengeluarkan darah, membuat orang lain tidak tahu apa yang sebenarnya dikatakan orang pintar tersebut.


Orang pintar itu sempat terpental saat mengobati pak Ujang dan istrinya, tapi di detik-detik terakhir nyawanya, orang pintar itu masih berusaha mengucapkan sesuatu, tapi mereka tidak ada yang tahu apa kata orang pintar tersebut.


Juga mereka tidak peka jika orang pintar tersebut sedang memberi tahu sesuatu pada semua orang yang ada di sana, mereka hanya sibuk dengan keselamatan orang pintar tersebut, karena darah yang terus berkeluaran membuat orang lain merasa ngeri melihatnya, tak tega melihat apa yang terjadi.


".......a" hanya kata A yang dapat didengar dari mulut orang pintar tersebut entah A itu apa maksudnya.


Sepertinya dia menyebut nama 'Mira' tapi karena mulut yang terus berlumuran dara hanya kata A saja yang terucap, setelah itu orang pintar itu mati ditempat dengan keadaan yang begitu mengenaskan.


"Inalilahi Wainalilahi Rojiun" ucap mereka semua yang berada di sana dengan kompak, ketika melihat orang pintar itu sudah tak tertolong lagi. 


"Cepat bereskan mayatnya" suruh kepala desa, di situ berkumpul keluarga pak Ujang dan anaknya Nurman. Mereka segera menolong orang pintar itu. Begitu juga dengan kepala desa ikut membantu mengurus mayat nya.


"Kenapa bisa jadi begini bapak kepala desa?" risau Nurman.


Kepala desa itu untuk saat ini hanya bisa menenangkan Nurman. "Kita urus dulu jenazah orang tadi ya, besok kita cari orang lain lagi yang bisa mengobati ibu dan bapak kamu" hibur kepala desa pada Nurman.


"Benar Man, besok kita cari orang pintar lagi yang lebih sakti untuk mengobati ibu dan bapak kamu" timpal saudara pak Ujang yang merupakan paman dari Nurman.


"Iya paman" sahut Nurman dengan sedih.

__ADS_1


Orang pintar yang meninggal di rumah pak Ujang itu segera dikebumikan saat itu juga.


Esok harinya saudara-saudara pak Ujang kembali mencari orang pintar untuk mengobati orang tua Nurman yang jatuh sakit secara tiba-tiba itu, mereka tak putus asa mereka terus mencari orang yang bisa mengobati kedua orang tua Nurman. 


"Bagaimana paman apakah sudah dapat orang yang akan mengobati ibu dan bapak?" tanya Nurman sudah tak sabar, dia ingin ibu dan bapaknya segera diobati.


Nurman takut ibu dan bapak tidak tertolong, kekhawatiran atas kondisi ibu dan bapaknya membuat Nurman selalu resah dan terus berpikir yang tidak-tidak.


"Sabar ya Man, paman masih berusaha mencari orang yang bisa mengobati ibu dan bapakmu, sekarang kamu doakan saja yang terbaik untuk mereka" 


"Bagaimana Nurman bisa sabar pamah, jika setiap hari terus melihat keadaan bapak dan ibu yang semakin terpuruk" adu Nurman pada pamannya, dia sudah tak kuat melihat keadaan kedua orang tuanya.


Di tempat lain, tepatnya di rumah yang Mira tinggali, Mira yang tak sengaja mendengar percakapan Nurman dan paman Nurman, tersenyum bahagia atas penderitaan yang menimpa Nurman, karena terpuruknya kondisi pak Ujang dan istrinya yang merupakan orang tua Nurman.


"Jadi untuk kamu Nurman nikmati saja semua ini. Hahahaha!" Mira tertawa puas di rumahnya.


"Kita impas aku pernah merasakan berada di posisi kamu begitu sakit  bukan" Mira merasa sedikit puasa atas semua yang sudah dia lakukan pada pak Ujang.


Mira sudah menuntaskan dendamnya pada pak Ujang, yang pernah mencelakai orang tua Mira dulu. 


Kembali di rumah pak Ujang, saudara-saudara pak Ujang masih terus mencari orang yang dapat menyembuhkan kedua orang tua Nurman, tapi sampai 2 hari ini mereka belum juga bisa menemukan orang pintar yang bisa mengobati orang tua Nurman.


Nurman hampir putus asa paman nya sudah mencari kesana kemari orang pintar yang akan mengobati ibu dan bapaknya, tapi sudah dua hari paman Nurman tak kunjung mendapatkan orang pintar itu juga.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana ini, paman belum juga mendapatkan orang pintar yang bisa mengobati ibu dan bapak" Nurman mondar-mandir tak karuan di kamar kedua orang tuanya, hati Nurman semakin hari semakin risau dengan keadaan orang tuanya.


Sampai hari ini paman nya tak kunjung memberikan kabar baik untuk dirinya. Nurman berjalan mendekati kedua orang tuanya yang hampir 5 hari ini hanya bisa berbaring diatas kasur dan terus merintih kesakitan tiada henti-hentinya.


Nurman bahkan setiap malamnya hampir tidak bisa tidur, karena rintihan yang begitu memilukan terus berkeluaran secara bergantian dari mulut ibu dan bapaknya.


"Ibu, bapak sabar ya paman pasti akan segera mendapatkan orang yang bisa mengobati kalian"


Lama Nurman berdiam diri di antara ibu dan bapaknya, sampai dia tertidur di antara kedua orang tuanya, setelah larut malam, karena matanya yang begitu lelah, Nurman tak sadar kapan dia tertidur,  sudah beberapa malam ini Nurman selalu tidur tengah malam dan dia akan tertidur di sisi ibu dan bapaknya.


Tiga hari kemudian pasca meninggalnya orang pintar di rumah pak Ujang, hari ini juga kedua orang tua Nurman menghembuskan nafas terakhir mereka, padahal paman Nurman belum menemukan orang pintar lagi yang bisa mengobati orang tua Nurman, tapi mereka sudah menghembuskan nafas terakhir mereka.


Saat menjelang ajal pak Ujang dan istrinya, pak Ujang dan istrinya mengalami hal yang sama yang dirasakan dan dialami kedua orang tua Mira dulu. Dari mulut pak Ujang dan istrinya keluar cairan yang baunya tidak sedap, begitu juga dulu yang dialami oleh orang tua Mira.


"Ibu bapak!" teriak Nurman histeris saat detik-detik terakhir kedua orang tua Nurman.


Para warga yang mendengar kematian kedua orang tua Nurman, segera membantu untuk dikebumikan seperti orang lain yang meninggal pada umumnya.


"Semoga mereka tenang di sana" ucapan lirih di lonatrkan paman Nurman yang mengiring pemakaman kedua orang tua Nurman.


Nurman hanya bisa menangis melihat kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya, malam tadi adalah malam terakhir Nurman bersama ibu dan bapaknya.


Sekarang mereka sudah berada di alam yang berbeda, paman Nurman akan mejaga Nurman setelah kepergian orang tuannya.

__ADS_1


__ADS_2