
Bismillahirohmanirohim.
Masih ditempat yang sama di dalam masjid yang ada di desa Mira, Mira masih menangis terisak di sebelah kyai Hasyim.
Kyai Hasyim tersenyum melihat Mira yang akhirnya tersadar dari apa yang Mira lakukan. "Sudah tidak usah menangis, yang namanya perjalanan hidup setiap manusia pasti akan merasakan"
"Jika kamu ingin benar-benar bertaubat dan kembali ke jalan Allah, Insya Allah akan saya bimbing" ucap kyai Hasyim pada Mira yang masih setia menangis.
Mira mulai membuka mulutnya untuk berbicara. "Saya berjanji ingin bertobat pak kyai tapi saya tidak bisa lepas dari perjanjian yang pernah saya lakukan"
Kyai Hasyim dia sejenak sebelum bertanya pada Mira. "Memangnya perjanjian apa yang pernah kamu lakukan?" tanya pak kyai Hasyim dengan tenang dan sabar.
Akhirnya Mira menceritakan semuanya pada pak kyai Hasyim, mulai dari pertama kali dia memiliki dendam pada orang yang sudah mencelakai kedua orang tuanya, semua dimulai dari rasa tak terima Mira melihat kedua orang tuanya tiada dengan keadaan tak wajar.
Tidak sampai disitu saja, Mira juga menceritakan pada pak kyai Hasyim entah sudah berpuluh-puluh orang dan beratus-ratus orang yang sudah terkena s@ntet keganasan Mira, sudah banyak dirinya melakukan pembunuhan pada orang-orang yang tidak tahu apa-apa karena keganasan s@ntet Mira.
Mira juga menceritakan aktivitasnya saat masih menjadi dukun s@ntet, setelah selesai bercerita semua perjalan hidupnya yang penuh akan kesalahan pada kyai Hasyim. Mira merasa dirinya sedikit lega.
"Sudah begitu banyak dosa yang saya lakukan pak kyai, entah sudah berapa nyawa yang sudah saya bunuh, apakah sama masih mendapatkan ampunan dari Allah pak kyai? Apa Allah mau mengampuni saya?"
"Apakah Allah masih membukakan pintu taubat untuk saya pak kyai?, sedangkan banyak sekali nyawa orang-orang yang sudah saya habiskan"
"Allah itu Maha pengampun, Allah Maha pemurah" ujar pak kyai Hasyim pada Mira.
__ADS_1
Mira semakin menangis sejadi-jadinya saat mendengar perkataan kyai Hasyim. setelah Mira sudah tidak lagi menangis akhirnya kyai Hasyim menuntun Mira membaca syahadat.
"Mari saya tuntun lebih dulu untuk bersyahadat" ucap pak kyai Hasyim, Mira menurut dia segera mendengarkan dengan seksama syahadat yang akan dibacakan kyai Hasyim setelah itu akan dia ikuti.
"Asyhadu Anna La ilaha illallah wa Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah" pak kyai Hasyim membacanya dengan perlahan agar Mira dapat mengulangi mengucapkan lafal kalimat syahadat yang diucapkan pak kyai.
"Asyhadu Anna La ilaha illallah wa Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah" Mira benar-benar bertaubat di depan pak kyai Hasyim.
Entah apa saja yang dibicarakan Mira pada pak kyai Hasyim, dan pak Kyai banyak sekali mengucapkan dzikir dan segala macam pujian-pujian untuk Allah.
Setelah Mira dituntun membaca syahadat dan dzikir-zikir pada Allah yang Mira raskan pada di dalam hatinya yang tadinya takut, was-was sirna begitu saja setelah Mira membaca syahadat dan dzikir, rasa takut, was-was yang sirna begitu saja tadi digantikan dengan perasaan tenang, damai dan tentram di dalam hati Mira.
Rasa sakit dan panas gemetar tubuh yang Mira rasakan juga sebelumnya sudah menghilang berganti dengan rasa sejuk yang mira rasakan.
Dan Mira merasakan sendiri jika badannya terasa seperti plong, kosong seperti tidak ada beban apa-apa lagi dalam dirinya, Mira merasakan badannya begitu enteng.
Setelah satu jam lamanya pak kyai Hasyim membantu Mira untuk kembali ke jalan yang benar akhirnya Mira kembali membaca syahadat lagi.
"Asyhadu Anna La ilaha illallah wa Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah" ucap Mira kalau pak kyai Hasyim menyuruhnya untuk kembali bertaubat.
"Sekarang pulang lah, usahakan setiap saya mengisi pengajian disini kamu datang" ujar kyai Hasyim.
"Saya pasti akan datang pak kyai, saya tidak peduli dengan ucapan dan tanggapan orang-orang nanti pada saya" sahut Mira dengan begitu yakin.
__ADS_1
Setelah selesai urusan dengan kyai Hasyim Mira pulang ke rumahnya dengan perasaan tentram dan damai.
Selama perjalanan pulang ke rumahnya Mira terus berulang kali membaca dzikir yang dibacakan pak kyai Hasyim saat di masjid tadi.
Tak lama kemudian akhirnya Mira sampai di rumahnya, sesampainya di rumah Mira langsung mengambil air wudhu dan menggelar sajadah miliknya yang masih tersimpan rapih di dalam lemari, sajadah itu tak pernah di pakai oleh Mira sejak kematian orang tuanya, sampai hari tuanya.
Lagi-lagi Mira meneteskan air matanya ketika mengelar sajadah itu, entah sudah berapa banyak waktu yang dia buang dengan sia-sia hanya karena dirinya lebih mementingkan rasa dendamnya.
Mira bersiap dia akan melaksanakan shalat taubatnya, dengan khusyuk Mira segera melakukan shalat tabubat. Bagi Mira mungkin di umurnya yang sudah tidak lama lagi tak akan bisa menembus semua kesalahan yang pernah dia lakukan pada banyak orang.
Mira melakukan shalat taubat entah berapa rakaat, setelah itu dia juga mengqodo shalatnya yang entah sudah berapa banyak Mira tinggalkan.
Menangis tentu saja sampai sekarang air mata Mira terus mengalir tanpa henti, mungkin sekarang air matanya sudah habis karena sejak siang hingga malam hari sampai di rumah tangis Mira tak kunjung reda.
Mira terus beristigfar mengingat semua perbuatan keji yang pernah dia lakukan pada banyak orang.
"Maafkan hamba Engkau yang hina ini YA Rabb, hamba telah membunuh banyak orang yang tidak bersalah, maafkan hamba Ya Rabb, hamba tahu semua yang sudah hamba lakukan mungkin tak akan sebanding dengan yang hamba tembus"
"Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim" entah sudah berapa ratu kali Mira terus beristigfar dalam hati dan di lisannya.
Setelah selesia melaksanakan shalat Mira tak langsung beranjak dari atas sajadahnya dia terus memutar tasbihnya tanpa henti, kini tak ada air mata lagi yang keluar dari pelupuk mata Mira.
Mungkin air mata Mira sudah habis karena menangis sepanjang waktu tak henti-hentinya, Entah sudah berapa lama Mira terus memutar tasbihnya sambil mulut dan hatinya teruse berdzikir.
__ADS_1
Mulut dan hatinya terus menyebut kalam-kalam Allah tanpa terputus sedikitpun, tak lupa shalawat yang Mira panjatkan pada baginda agung Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Sampai tak terasa saking betahnya Mira yang terus berdzikir dan bertasbih dia tidak sadar jika tertidur di atas sajadahnya