
Bismillahirohmanirohim.
Waktu terus berputar tak terhentikan, hari terus berganti, tanggal pun satu persatu mulai terus saling bergantian, waktu yang berubah terasa lambat bagi Nurman, setelah kepergian kedua orang tua, membuat Nurman menjadi terus saja murung.
Hari ini setelah 40 hari meninggalnya kedua orang tua Nurman, Nurman memutuskan untuk kembali ke pesantren, diantar oleh paman nya.
"Nurman belajar yang rajin di pesantren ya, lupakan yang sudah terjadi yang lalu biarlah berlalu" pesan paman Nurman pada keponakannya itu.
"Tapi paman bagaimana bisa Nurman melupakan kejadian yang menimpa bapak dan ibu?, sementara kejadian itu Nurman saksikan dengan mata kepala Nurman sendiri, semua memori itu sudah tercetak jelas di kepala Nurman" elak Nurman.
Seperti paman Nurman takut jika keponakan nya itu menaruh dendam, tapi bagaimana lagi dendam di hati seseorang tak tahu kapan dia tumbuhnya, karena rasa benci yang mengawalinya.
Pama Nurman yang bernama Yanto itu menghela nafas berat. "Kamu belum mengerti mungkin Man, 4 tahun yang lalu bapakmu melakukan hal yang sama pada tetangga kita" Yanto mulai bercerita tentang masa lalu bapak Nurman, yang begitu tega terhadap orang lain, demi dia mendapatkan apa yang pak Ujang inginkan.
Tapi anehnya Yanto tidak peka jika Mira melakukan balas dendam pada pak Ujang atas kematian yang menimpa orang tuanya, Yanto pikir orang lain lah yang sudah mencelakai kakak dan kakak iparnya.
Yanto tahu jika dulu pak Ujang pernah menyantet orang, karena Yanto yang sering sekali menasehati kakaknya itu untuk tidak bersekutu dengan setan! Tapi pak Ujung sama sekali tidak pernah mendengarkan nasihat yang diberikan oleh Yanto.
Nurman juga bisa mesantren bukan karena orang tuanya yang memasukan ke sana, tapi Yanto yang mendaftarkan Nurman ke pesantren, Yanto melakukan itu takut Nurman akan menjadi orang seperti bapaknya, begitu arogan, kasar dan mau menang sendiri, juga selalu ingin mendapatkan apa yang pak Ujang inginkan.
"Mungkin ini balasan untuk bapak kamu Man" ucap Yanto pelan setelahnya.
Nurman tak bergeming dia hanya diam, masih tak terima dengan perkataan pamannya. Melihat Nurman yang diam saja tak bereaksi apa-apa membuat Yanto kembali berbicara.
"Sudah jangan pikirkan yang lain lagi, nanti di pesantren belajar yang giat" hibur Yanto pada Nurman.
__ADS_1
"Iya paman!" jawabnya dengan mantap.
Tak lama kemudian mobil yang dikendari Yanto, akhirnya tiba di pesantren Nurman.
Nurman merupakan salah satu santri yang mondok di pesantren ternama di kota itu.
Yanto langsung mengantar Nurman pada pengurus pesantren dan meminta maaf, karena Nurman pulang lebih lama dari perkiraan. Untungnya pengurus pesantren itu memaklumi, karena mereka tahu kedua orang tua Nurman sudah tiada.
"Paman pamit pulang, disini belajar yang benar ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab beberapa santri yang berada disitu sementara Nurman tak mengucapkan satu patah kata pun pada pamannya.
Sebenarnya Nurman juga merasakan hal yang sama, seperti yang pernah Mira rasakan dulu, Nurman begitu dendam dengan orang yang sudah menyantet ibu dan bapaknya, dendam sudah tertanam dalam diri Nurman. Nurman penasaran dengan orang yang telah menyantet orang tuanya, Nurman melupakan pesan paman nya, jika dia harus melupakan kejadian yang sudah menimpa ibu dan bapaknya.
Kenapa ada ilmu hikmah? Jadi yang namanya santri dibekali banyak ilmu untuk ilmu hikmah sendiri merupakan ilmu yang bagus hanya saja kadang banyak yang menyalah artikan setelah ilmu itu didapat, karena terhalang tadi rasa dendam dan benci menjadi satu.
Nurman yang merupakan santri tentu saja banyak ilmu bermanfaat yang dia pejalari, karena saat terjun ke masyarakat banyak sekali orang-orang yang akan ditemui dengan sikap yang berbeda pula.
Di pesantren yang Nurman tempati ada sebuah pelajaran yang mengajarkan tentang hikmah, tapi Nurman salah mengartikan ilmu itu, karena di dalam hatinya sudah tertanam sebuah dendam yang semakin lama dendam itu akan menjadi jika tidak dicegah.
Karena dendam tadi yang tertanam dalam hati Nurman akhirnya akal sehat Nurman sudah tertutup, dia mempelajari ilmu itu hanya dengan satu tujuan untuk membalas orang yang sudah menyantet ibu, bapak Nurman.
Selama di pesantren belajar dengan giat seperti Nurman mendapat hasil yang percuma, karena sudah tahun-tahun dia belajar di pesantren ternama itu, tapi Nurman masih memikirkan rasa dendamnya yang belum terbalaskan.
Nurman sudah beberapa tahun tidak pulang dari pesantren, karena menekuni ilmu tadi, padahal dulu Nurman akan pulang ke rumah 3 bulan sekali, saat kedua orang tuanya masih ada.
__ADS_1
Akhirnya ilmu agama yang Nurman milik sudah terkontaminasi dengan dendam yang ada di dalam hati Nurman tadi.
"Aku harus betul-betul mempelajari ilmu ini agar segera bisa membalas perbuatan orang yang sudah mencelakai ibu dan bapak" mata Nurman menyorot tajam kedepan.
Dari matanya saja sudah jelas jika Nurman memiliki dendam yang begitu besar dalam dirinya, sejak kejadian yang menimpa orang tuanya.
Dalam diri Nurman sudah benar-benar ternama rasa dendam dan benci, ibarat kata yang namanya dendam dan benci itu, seperti bara di dalam sekam, sekamnya ada banyak tapi bara nya begitu kecil, lama lama kelamaan bara itu pasti akan habis, karena kalah dengan sekam yang banyak tadi.
Begitulah kondisi yang di alami Nurman, semakin lama dendam itu terus semakin membesar, seperti dendam Mira dulu pada orang tua Nurman, pak Ujang.
Semua ilmu yang Nurman pelajari di pesantren, seperti ilmu adab, akhlak dan masih banyak ilmu baik yang diajarkan pada dirinya, akhirnya tak berguna, akibat tertutup dengan dendam Nurman tadi.
Satu hari Nurman pernah bertanya pada orang yang memiliki kasyaf atau pandangan yang bisa melihat hal-hal, seperti siapa yang bersekutu dengan setan.
Hari itu Nurman bertanya. "Boleh tidak melihat siapa orang yang sudah menyantet ibu dan bapak saya" ucap Nurman setelah menceritakan semuanya pada orang tadi.
Orang itu mengangguk lalu dia menerawang siapa yang sudah menyantet orang tua Nurman.
"Dia perempuan namanya Mira, orang yang tinggal satu kampung denganmu, dia juga memiliki dendam yang sama seperti dirimu saat ini, karena dulu bapak kamu yang lebih dulu menyantet orang tuanya" jelas orang itu dengan nada dingin.
"Terima kasih" ucap Nurman lalu dia segera pergi dari hadapan orang itu tadi,Nurman setelah mengetahui siapa orang yang menyantet orang tuanya setelah tahu jika itu Mira, dia menjadi sangat benci dengan perempuan yang namanya Mira di desa nya.
Nurman berjalan sambil mengingat titik terang untuk menyambungkan apakah benar Mira yang sudah melakukan itu pada orang tuanya. "Benar juga, saat orang pintar itu akan mengobati ibu dan bapak, tapi gagal malah dia yang meninggal di tempat, orang pintar itu sempat mengatakan sesuatu, tapi yang terdengar kata A saja"
"Berarti benar orang itu adalah Mira!" batin Nurman yang saat itu juga begitu membenci Mira.
__ADS_1