
Bismillahirohmanirohim.
Mira sudah sampai di tempat yang mbah Jarmi maksud, dia segera mencari dimana tempat tinggal orang yang akan Mira jadikan guru ke duanya setelah mbah Jarmi.
"Tiga tahun lagi Mira! Ya tiga tahun lagi kamu harus semangat!" ucapnya pada diri sendiri.
Mira terus berjalan menarik kopernya keluar dari arena stasiun. Dia celingukan mencari cara bagaimana agar dirinya bisa bertemu dengan mbah Kajo, yang sudah diberi tahu sebelumnya oleh mbah Jarmi, bahwa Mira harus belajar pada mbah Karjo.
Mira terus berjalan mengikuti kemanapun kakinya membawa dirinya melangkah, dia tak tahu harus naik apa menuju tempat tinggal mbah Karjo yang terdapat di hutan.
Daerah situ sangat sepi tak banyak orang yang melintas. Karena lelah berjalan sepanjang perjalanan Mira memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu.
"Huh, capek banget mana nggak ada orang yang lewat lagi" keluh Mira.
Mira membuka roti yang sempat dia beli sebelum naik kereta. "Laper makan dulu lah" ujarnya pada diri sendiri.
"Mira sebentar lagi kamu akan membalaskan dendam ibu dan bapakmu! Tunggu saja kepulanganku pak Ujang anda akan menderita!"
Mira terkekeh sinis mengingat pak Ujang, dia sudah tak sabar ingin membalaskan dendamnya yang sudah hampir 2 tahun lamanya tertanam dalam dirinya.
Lama Mira menghabiskan waktu ditempat yang tak sama sekali dia kenali, saat memutuskan untuk melajutkan perjalanannya Mira tak sengaja melihat seorang yang melintas.
Orang itu berpawakan sedikit menyeramkan, dengan tubuhnya yang tinggi tegap, rambut panjang seperti perempuan, padahal dia seorang laki-laki, belum pagi wajahnya yang begitu sangar, siapa pun yang melihat laki-laki itu pasti merasa ketakutan.
Sayangnya hal itu tidak membaut Mira takut, dia malah dengan bernainya memanggil laki-laki itu, sebenarnya jika ada orang lain Mira juga tak akan memanggil laki-laki tadi, namu yang melintas di tempat itu hanya laki-laki dengan perawakan menyeramkan itu saja.
Mira tak ada pilihan lain selain memanggil laki-laki tadi, diq juga ingin segera bertemu dengan mbah Karjo, agar tak seperti orang gelandang di tempat tersebut.
Mira berjalan mendekati orang tadi. "Pak, pak, pak" panggil Mira sampai tiga kali, tapi orang itu tak kunjung berbalik, hal ini membuat Mira berinisiatif untuk kembali memanggil bapak-bapak tadi.
__ADS_1
"Pak, pak permisi" ucap Mira sambil menepuk pundak orang itu.
Bapak-bapak yang Mira panggil tadi menoleh, sambil menatap Mira dengan tajam, Mira sempat menelan ludahnya dengan kasar.
"Maaf pak jika saya lancang, tapi saya butuh bantuan bapak" ucap Mira memberanikan diri.
Bapak berwajah sangar itu tak merespon ucapan Mira, tentu saja Mira yang tak mudah menyerah melanjutkan perkataannya.
"Pak saya ingin bertemu dengan mbah Karjo, apakah anda tahu dimana tempat tinggalnya?" tanya Mira memastikan, berharpa kali ini, bapak-bapak tadi mau bersuara.
"Apakah dia bisu" batin Mira tak terucap dari mulutnya.
"Huhu, kenapa dia tak kunjung bersuara juga" pikir Mira masih merasa bingung.
Sebenarnya bapak-bapak tadi sedikit melunak saat mendengar nama yang Mira sebutkan, mbah Karto, tapi tak berselang lama dia kembali menjadi sangar lagi, seperti dia masih butuh penjelasan dari Mira. "Untuk apa bertemu dengan mbah Karjo dan tahu tentang mbah Karjo dari siapa?" seperti itu mungkin hal yang ingin di dengar oleh bapak-bapak yang ada dihadapan Mira ini.
Mira terus berusah tak kenal menyerah dia akhirnya kembali berusara agar bapak-bapak di hadapannya ini mau membantu dirinya.
"Pak saya murid mbah Jarmi, disuruh berguru dengan mbah Kajo di daerah selatan ini, apakah bapak tahu dimana tempatnya mbah Karjo tinggal?"
Mira berhapa kali ini berhasil setelah menjelaskan semuanya pada bapak-bapak dihadapannya ini.
Bapak-bapak itu terlihat membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu. "IKUT SAYA!" ucapnya dengan intonasi yang begitu mengerikan.
Hanya menyuruh Mira agar mengikuti dirinya bapak-bapak tadi tak bersuara lagi, dia berjalan tanpa menunggu jawaban dari Mira.
Sementara Mira masih terpaku di tempatnya, belum bisa menyaring apa yang sudah terjadi, sampai suara brinto bapak-bapak tadi membuat Mira tersadar dan begidik ngeri.
"APAKAH KAMU AKAN BERIDIR DISITU SAJA? ATAU MAU IKUT DENGAN SAYA, SAYA TUNJUKKAN DI MANA TEMPAT TINGGAL MBAH KARJO!"
__ADS_1
Mira buru-buru menyusul bapak-bapak itu agar tak tertinggal jauh, karena jalanya yang begitu cepat membaut Mira harus bisa mengimbangi langkah bapak-bapak itu.
"Cepat sekali jalanya" keluh Mira, tapi sebisa mungkin dia berusaha menyusul bapak-bapak itu.
"Oke Mira semangat tak boleh menyerah begitu saja sebelum berusaha!" Mira harus bisa menyemangati dirinya sendiri.
"Ini terlalu melelahkan, sungguh perjuanganku begitu berat, ini artinya aku harus bisa membuahkan hasil yang bagus tak boleh menyia-nyiakan semua ini"
"Ayo Mira semangat!"
Dengan perjuangannya yang begitu kerasa akhirnya Mira bisa menyamakan langkahnya dengan bapak-bapak yang memiliki wajah menyeramkan itu.
Sebenarnya bapak-bapak yang bersama Mira itu memang ditugaskan untuk menyusul Mira, mbah Kajo sudah tahu jika dia akan kedatangan tamu yang ingin berguru pada dirinya, maka dari itu dia mengutus salah satu muridnya untuk menjemput Mira, yang merupakan bapak-bapak berwajah menyeramkan itu.
Mbah Kajo adalah pemilik ilmu hitam yang begitu senang jika ada orang lain yang dendamnya begitu besar, datang kepada dirinyan untuk berguru agar bisa membalaskan demam mereka.
Setelah lama berjalan tanpa henti, akhirnya Mira mengikuti langkah bapak itu sampai ke dalam hutan. "Akhirnya sebentar lagi sampai" lega Mira.
Mira tahy jika mereka sudah berada di hutan itu artinya sebentar lagi akan sampai di tempat tinggal mbah Karjo.
Bahkan barus masuk beberapa langkah ke dalam hutan saja Mira sudah bisa meraskan hawa kekuatan yang begitu besar menghampiri dirinya.
"Benar-benar ilmu yang sangat-sangat besar" takjub Mira, saat merasakan hawa itu menerpa dirinya.
Mira masih terus berjalan mengikuti langkah bapak tadi, sampai beberapa langkah setelahnya bapak-bapak tadi tak melajutakan perjalanannya.
"Saya hanya bisa mengantar kamu sampai disini, seterusnya kamu berjalan sendiri, ikuti saja jalan yang ada di depanmu ini. Nanti di ujung jalan kamu akan menemukan satu gubuk disitu tempat tinggal mbah Karjo" jelasnya pada Mira, setelah itu dia pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Mira, atau pun tanpa berpamitan pada Mira.
"Baiklah aku akan berterima kasih pada anda bapak menyeramkan, karena sudah mengantarku sampai disini, ya walaupun anda itu sombong sekali menurutku" ucap Mira sambil kembali melangkah, karena belum sampai di tampat mbah Karjo.
__ADS_1