Akibat Rasa Dendam!!

Akibat Rasa Dendam!!
Mira semakin menjadi


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Nurman yang semakin giat di tempatnya menimba ilmu, hanya karena ingin membalaskan dendam kedua orang tuanya, yang sudah tiada dengan cara yang tidak wajar.


Sementara itu berbeda pula dengan yang Mira lakukan, gadis itu tak tahu kenapa semakin-hari semakin menjadi-jadi


Mira di kampungnya semakin menjadi-jadi setelah kematian pak Ujang dan istrinya. Gadis yang hampir genap 25 tahun itu, bukanya selesai dengan semua yang dia lakukan, karena dendamnya sudah terbalaskan.


Mira malah menambah banyak korban yang dia santet, dendam yang sudah terbalaskan, ternyata tidak membuat Mira berhenti untuk meny@ntet orang.


Sudah berapa orang di desanya meninggal secara tidak wajar, setelah berdebat dengan Mira.


Seperti saat ini Mira tidak terima jika dirinya dibilang gadis tua yang tak laku, karena sampai sekarang gadis itu tak juga kunjung menikah.


"Heh ibu! Memang apa urusannya dengan kamu jika aku belum juga menikah? hah! toh saya tidak merugikan kamu kan!" bentak Mira pada sorang ibu-ibu yang sedari tadi membicarakan dirinya.


Sepulang dari sawah Mira tak tahu kenapa ada seorang ibu-ibu yang terus membicarkan dirinya, sehingga membuta Mira merasa begitu kesal.


"Neng Mira yang sopan doang, kalau bicara sama yang tua" tegur ibu-ibu tadi yang sedari tadi membicarakan Mira.


Mira terekeh dengan ucapan ibu-ibu barusan, sekaan lelucon bagi Mira ibu, ibu tadi mengatakan untuk berbicara dengan sopan pada yang lebih tua, padahal ibu-ibu itu sendiri yang tidak bisa menghargai Mira dulaun.


"Saya bicara sopan dengan ibu?" tunjuk Mira pada dirinya sendiri, Mira kembali terkekeh. "Apa ibu sedang bercanda dengan saya, ibu sendiri yang duluan mulai, ngatai saya, jadi kenapa saya harus bicara yang sopan pada ibu" Mira tersenyum miring.


Sementara ibu-ibu tadi diam membisu, tidak bisa menjawab ucapan Mira dengan lantang seperti tadi, setiap warga yang berdebat dengan pasti akan selalu kalah, mau itu ibu-ibu atau bapak-bapak sekalipun.


Warga menjadi heran pada Mira padahal dulu gadis itu begitu lemah lembut dan sekarang malah tumbuh menjadi seorang gadis yang menantang dan berani melawan orang lain.

__ADS_1


"Lihat saja nanti malam akan aku habisi kamu" Mira pergi begitu saja dari hadapan ibu-ibu itu.


Sebelum pergi Mira menatap ibu-ibu tadi dengan tatapan horo miliknya. Mira pergi dengan senyum penuh arti.


"Dasar gadis tak tahu sopan santun!" maki ibu-ibu tadi pada Mira, setelah Mira tak terlihat lagi di hadapannya.


Tapi entah kenapa ibu-ibu tadi merasa jika akan terjadi sesuatu pada dirinya, dia segera membuang pikiran buruknya, tentang dirinya sendiri.


Malam harinya Mira kembali melakukan ritual s@ntetnya untuk meny@ntet orang yang sudah membuatnya sakit hati.


"M@ti kamu!" Mira tertawa kejam, entah sudah berapa korban di desanya yang sudah terkena sasaran untuk Mira s@ntet, sebenarnya mbok Darmi dan mang Aceng merasa curiga dengan Mira, tapi mereka tak mau menuduh Mira sembarangan.


Apalagi mbok Darmi begitu yakin jika Mira tak melakukan hal-hal yang dilarang agama mereka, mbok Darmi masih sangat yakin, jika Mira yang sekarang, masih tetap Mira yang dulu.


Padahal semua itu sudah berbuah, ketika rasa dendam sudah tertanam di dalam hati Mira. Ketika kedua orang tuanya sudah tiada, dan ketika Mira memutuskan untuk pergi dari kampungnya, sejak hari itu semuanya sudah mulai berubah.


"Ada apa, pak?" tanya seorang yang melihat bapak-bapak berlarian untuk memberi tahu warga, jika salah satu warga di desa mereka sudah tiada.


Kematiannya sama persisi seperti yang dialami beberapa penduduk lainnya. Bapak-bapak tadi segera memberi tahu apa yang terjadi.


"Itu pak, Ibu Kasim meninggal dunia, kematiannya sama persisi seperti beberapa warga kita yang lainnya" jelas orang itu.


Kebetulan sekali di tempat itu sedang ramai orang berkumpul termasuk Mira. Mira tersenyum senang dalam hatinya.


"Itulah akibat nya jika ada orang yang berani macam-macam denganku" batin Mira, dia tertawa sinis.


Entah sudah berapa warga yang telah menjadi korban keegoisan dan kekejaman Mira. "Kalau diantara kalian ada yang berani lagi, maka akan bernasib sama seperti yang sudah-sudah" Mira kembali berbicara di dalam benaknya sendiri.

__ADS_1


Gadis itu meniup-niup kukunya seakan tidak terjadi apa-apa, seakan memang dia tak tahu apa yang sudah terjadi.


"Sepertinya desa kita sudah tidak beres" ujar seorang bapak-bapak angkat bicara.


"Benar aku rasa ada orang yang sudah mengacau di kampung kita" tambah seorang lagi, sampai-sampai di tempat itu terjadi sedikit keributan.


Mang Aceng yang kebetulan lewat situ segera membubarkan pada warga desa, karena seharusnya mereka segera membantu menguburkan orang yang meninggal hari ini.


"Ada apa ini? ibu ibu, bapak bapak?" tanya mang Aceng memastikan.


"Sekarang lebih baik pada bubur, kita harus memakamkan jenazah ibu Kasim" lanjut mang Aceng meneruskan ucapannya.


"Jadi sekarang bubar-bubar" suruh mang Aceng yang membuat mereka semua satu persatu pergi dari tempat itu.


Selesai memalukan pemakaman untuk ibu Kasim, seorang bapak-bapak mengusulkan pada bapak-bapak yang lain, agar mereka bisa mengetahui apa penyebab banyak orang yang mati secara mendadak di kampung mereka.


"Bapak-bapak, kampung kita semakin hari, semakin meresahkan, apa tidak alangkah lebih baiknya kita bertanya pada orang pintar mengenai kampung kita ini" usul seorang bapak-bapak pada bapak-bapak yang lainnya.


"Benar saya setuju pak, apalagi saya merasa heran, setiap orang yang baru saja berdebat dengan Mira akan berakhir seperti ini entah apa yang terjadi" tambah seorang bapak-bapak lagi.


"Bagaimana kamu tahu jika mereka yang meninggal secara mendadak setelah ada mulut dengan Mira akan berakhir seperti ini"


"Karena saya pernah memergoki beberapa kali ada yang adu mulut dengan Mira, besoknya berakhir seperti ibu Kasmi ini" jelasnya.


"Dan kebetulan sekali saya kemarin sore tak sengaja melihat almarhumah ibu Kasim dan Mira sedang berdebat saat pulang dari sawah, tapi saya tak mau ikut campur, takut kejadian seperti yang sudah-sudah" bapak-bapak tadi menceritakan apa yang pernah dia lihat.


"Sepertinya benar kita harus menanyakan masalah ini pada orang pintar, jika seperti ini terus tidak tahu siapa korban yang berikutnya" ujar pak kepala desa yang ikut berkumpul dalam perkumpulan itu.

__ADS_1


"Besok saya akan pergi menanyakan pada orang pintar, apa yang sebenarnya sudah terjadi di desa kita" keputusan pak kepala desa akhirnya disetujui oleh semua bapak-bapak yang berkumpul di sana.


__ADS_2