
Bismillahirohmanirohim.
Mira hari ini benar-benar mengurus sawahnya yang terletak di sebelah sawah pak Ujang. Mbok Darmi dan mang Aceng membiarkan Mira mengurus sawah itu, karena memang sudah hak Mira untuk mengurusnya.
Mira tersenyum smirk saat sampai di depan sawahnya yang berbatasan langsung dengan sawah pak Ujang. "Mari kita mulai Mira!" ucapnya.
Mira mulai nyemplung ke dalam sawah, untuk mengurus sawahnya, sebentar lagi panen akan tiba.
Saat sudah berada di dekat sawah pak Ujang Mira mulai berulah, dia menggeser terus pembatas sawah yang memisahkan sawahnya dengan sawah pak Ujang.
Mira memang sengaja melakukan itu untuk memancing emosi pak Ujang, biasanya kebiasaan dukun s@ntet itu mencari masalah pada orang yang akan dia sasarkan s@ntetnya, agar dia bisa melakukan s@ntetnya dengan mudah dan lancar.
Mira sudah mulai mencari gara-gara pada pak Ujang, masalah sawah. Mbok Darmi sebenarnya sudah 2 hari ini merasa heran atas perubahan sikap Mira yang jauh berbeda dari 4 tahun yang lalu.
4 tahun yang lalu sebelum kepergian orang tua Mira dan sebelum dia memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya, dia masih merupakan seorang gadis yang begitu lemah lembut, tapi setelah kepulangan Mira beberapa hari yang lalu dia berubah menjadi gadis yang cepat marah, arogan dan suka membalas jika orang lain menghina dirinya, padahal dulu Mira tak akan pernah marah pada orang lain.
"Beres!" ucap Mira tersenyum melihat hasil kerjanya.
Tak sampai disitu Mira memperhatikan 3 petak sawah yang ada di tengah-tengah sawah nya itu, dia melihat jika sawah pak Ujang mendapatkan air dari sawahnya, Mira segera menutup salah satu saluran air itu, agar sawah pak Ujang tidak mendapatkan air dari sawahnya.
"Oke hari ini cukup sampai disini saja, besok kita teruskan, aku tak sabar ingin segera melihat bagaimana reaksi pak Ujang besok, saat mengetahui jika sawahnya tidak mendapatkan air.
__ADS_1
Hari ini mungkin pak Ujang tidak ke sawah, karena masih ada urusan lain. Besok mungkin dia akan mengecek keadaan sawahnya.
Saat hari sudah menjelang sore Mira mengajak mbok Darmi pulang. "Mbok ayo pulang lanjut besok lagi" ucap Mira meneriaki mbok Darmi yang masih berada ditengah sawah.
"Iya neng sebentar lagi tanggung ini" mbok Darmi juga balas teriak pada Mira.
Mira menunggu mbok Darmi sebentar tak lama kemudian mbok Darmi sudah mentas dari sawah, Mira hanya bersikap baik pada mbok Darmi dan mang Aceng, karena Mira hanya percaya pada mereka, Mira tahu mereka tulus pada dirinya.
"Ayo pulang neng" ajak mbok Darmi setelah beres, keduanya segera pulang.
***
Pagi-pagi sekali Mira sudah berada di sawahnya setelah selesai sarapan bersama mbok Darmi dan mang Aceng.
Sama seperti kemarin Mira kembali berbuat ulah lagi, lagi-lagi dia kembali menggeser pembatas sawahnya dan sawah pak Ujang, bukan hanya pembatas sawah saja, tapi hari ini Mira menutup semua saluran air yang memberikan air ke sawah pak Ujang.
Jadi otomatis sawah 3 petak yang dimiliki pak Ujang satupun tidak ada yang mendapatkan air, karena semua jalan saluran air yang mengarahkan ke sawah pak Ujang sudah Mira blokir semua, tidak ada yang tersisa satupun.
Siang harinya semua orang banyak yang datang ke sawah termasuk pak Ujang sendiri, pak Ujang melotot dengan sempurna saat melihat sawahnya tidak. Mendapatkan saluran air sama sekali Pak Ujang semakin ingin marah saat melihat pembatas sawahnya sudah digeser yang melihat keberadaan Mirah di sebelah sawahnya langsung berkata. " hei Mira! Kenapa kamu terus menggeser batas sawahnya!" bentak pak Ujang pada Mira.
"Siapa yang menggeser batas sawahnya pak, setahu saya memang pembatas sawahnya sudah lama ya tetap disini, tidak ada yang memindahkannya, jangan asal menuduh ya pak" bantah Mira tidak terima dirinya dituduh memindahkan batas sawah, padahal memang benar dia yang memindahkan batas sawah tersebut.
__ADS_1
"Hei Mira! Kamu itu bocah kemarin sore sudah bosan hidup ya, saya bunuh kamu tau rasa! Jadi jangan sok-sokan dihadapan saya" ucap pak Ujang dengan ternang-terangan.
Mira terkekeh geli dengan perkataan pak Ujang barusan, tak mau kalah Mira segera membalas ucapan pak Ujang. "Bapak kali yang bosan hidup, mau saya bunuh juga!" lawan Mira tidak mau kalah.
Para penduduk desa tidak ada yang tahu jika selama 4 tahun meninggalkan desanya Mira, berguru pada para ahli ilmu hitam, yang termausknya s@ntet. Yang mereka tahu Mira pergi untuk bekerja. Setelah ceko-cok antara pak Ujang dan Mira terjadilah perkelahian anatara Mira dan pak Ujang, dendam pak Ujang pada kedua orang tua Mira yang tadinya sudah terbalaskan kini tumbuh kembali saat melihat Mira anak dari pak (lupa namanya) menajdi seperti sekarang ini.
"Dasar bocah kemarin sore saja sudah belagau kamu itu Mira!" ucap pak Ujang dengan keras.
"Memangnya kenapa kalau bocah kemarin sore?"
Mereka yang melihat pertengkaran Mira dan Pak Ujang segera memisahkan keduanya dan Mang Aceh dan mbok Darmi segera menjauhkan Mira dari Pak Ujang. Begitu juga dengan warga yang lainnya mereka menjauhkan Pak Ujang dari Mira.
Para orang yang berada di sawah itu, tidak tahu pasti apa yang terjadi, antara pak Ujang dan Mira, yang pasti keduanya hampir saja saling melukai satu sama lain.
"Neng Mira sudah biarkan saja pak Ujang itu, kamu tahu sendiri dari dulu dia orangnya begitu tak mau mengalah pada orang lain" ucap mbok Darmi, dia tidak ingin terjadi apa-apa pada Mira, seperti yang menimap kedua orang tua Mira 4 tahun yang lalu.
"Justru itu mbok kalau dibiarkan orang seperti pak Ujang itu akan terus menjadi-jadi"
Mira saat ini dalam hatinya merasa senang, karena dia sudah berhasil memancing emosi pak Ujang, itu artinya Mira sudah bisa melancarkan akisnya.
"Ya juga sih neng, sudah sekarang tak usah memikirkan pak Ujang dulu, kita pulang sekarang" ajak mbok Darmi.
__ADS_1
Sementara itu pak Ujang yang diatasi oleh warga lainnya, menatap Mira dengan tatapan tajam, saat Mira berjalan melewati gerombolan orang yang sedang menahan pak Ujang.
"Akhirnya berhasil juga, bersiaplah untuk nanti malam pak Ujang" Mira melirik pak Ujang dengan tatapan sinisnya, saat melewati rombongan itu, hari ini Mira begitu senang.