Akibat Rasa Dendam!!

Akibat Rasa Dendam!!
Ceramah atau menyebarkan Fitnah?


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Suasana di desa memang begitu berbeda, hembusan angin yang begitu segara membuat siapa saja ingin terus menghirup udara segera itu.


Angin segar yang masuk ke rongga hidung dan pori-pori kulit seakan memberikan kenyaman tersendiri tak ada asap yang bertebaran dimana-mana yang membuat polusi udara.


Di sebuah rumah yang tak terlalu besar, rumah itu masih tertawa, walaupun sang pemilik rumah merupakan wanita yang sudah lanjut usia rumah itu tetap begitu terawat.


Mira si pemilik rumah sedang menikmati semilir angin dari jendela kamarnya, tak tahu kenapa dia tiba-tiba mengingat wajah Kyai Hasyim  yang sudah dia jumpai beberapa kali di desa nya. 


Mira masih merasakan hal yang sama dimana ketika dia mengingat wajah kyai Hasyim, maka dia akan merasakan badanya yang begitu panas dingin, pusing dan mual-mual.


Mira bukan hanya berpapasan atau melihat kyai Hasyim saja, bisa merasakan hal seperti itu, tapi saat Mira mengingat wajah beliau saja, Mira akan merasakan panas dingin, badannya yang seperti terbakar.


"Siapa sebenarnya kyai Hasyim itu, kenapa setiap kali mengingatnya aku merasa seperti tersiksa" keluh Mira saat ini dia masih menahan sakitnya yang etah datang dari mana.


"Kenapa bisa seperti ini? setiap melihat ataupun mengingat kyai Hasyim aku seakan tersiksa, padahal jika dengan kyai atau ustadz yang lainnya aku tak mungkin seperti ini, apalagi dengan Norman aku malah sebal melihatnya, tapi tak tahu kenapa jika dengan kyai Hasyim aku merasa ketakutan sendiri"


Mira masih mencari apa sebab dia begitu tersiksa jika berada di dekat kyai Hasyim, atau jika dia mengingat sosok kyai Hasyim.


Lama-lama Mira menjadi penasaran dengan kaki Hasyim, kenapa dirinya merasakan ada hal aneh pada dirinya intinya saat mengingat kyai Hasyim saja.


***


Sementara itu di desa yang sama namun di rumah yang berbeda Nurman sudah lama lulus dari pondok pesantrenya, dia kini sudah menjadi seorang ustadz di desanya.


Tapi Nurman yang memiliki bekal ilmu banyak tak sesuai syariat, karena semua yang dia punya sudah terkontaminasi dengan dendam yang dia milik.

__ADS_1


Bukan hanya itu saja anehnya di desa Mira itu, setiap ustadz jika dia memiliki kebun dan sawah yang akan mengurus para penduduk desa, buka ustadznya.


Dan hasil sawah itu akan diberikan seutuhnya pada ustadz, mereka yang sudah mengolahnya tidak akan mendapatkan imbalan apapun, karena mereka mengatakan itu adalah sebagai tanda hormat pada ustadz mereka. Tak sampai di situ.


Begitu juga dengan Norman, semua sawah dan kebun kedua orang tuanya yang sudah diwariskan pada Norman, warga desa lah yang mengurus karena dia merupakan seorang ustadz.


Yang namanya ustadz paham agama mau ucapannya salah atau benar semua perintahnya akan diikuti oleh warga yang ada di desa Mira.


Nurman juga tak seberapa senang dengan Kyai Hasyim, mungkin dia iri pada kyai Hasyim, karena beliau lebih terkenal dan lebih dipercayai ucapanya oleh orang-orang.


Norman merasa iri karena Kyai Hasyim bukan orang pribumi tapi lebih dikenal banyak orang sedangkan dirinya adalah orang pribumi, tapi masih ada saja yang tak mengikuti kata-katanya.


Begitulah bahayanya jika memiliki ilmu agama yang luas, tapi sudah bersatu dengan dendam susah untuk melakukan kebaikan, dia akan merasa dirinya paling benar diantara yang lain.


Itulah yang terjadi pada Nurman, akibat dendamnya yang begitu dalam pada Mira, membuat dirinya buta akan kesalahan, Nurman selalu menganggap dirinya benar.


Karena rasa iri Nurman tadi pada kyai Hasyim, dia menyebarkan berita yang tidak benar mengenai kyai Hasyim.


Alahmadulillah tak semua orang terhasut oleh fitnah-fitnah yang Nurman buat untuk menjatuhkan kyai Hasyim.


Untungnya majelis ilmu yang diisi kyai Hasim dan Nurman berada di tempat yang berbeda, jadi Nurman masih sedikit lega setidaknya masih ada yang mau mendengarkan ceramahnya yang dia buat untuk mebalaskan dendamnya atas kematian kedua orang tuanya.


"Kalian semua jangan dengarkan apa yang dikatakan kyai Hasyim, semua yang dia katakan itu tidak benar" ucap Nurman pada para jamaahnya yang ikut hadir dikajian majlisnya.


"Ceramah kyai Hasyim itu tidak baik, apa kalian lebih percaya pada orang lain dibandingkan orang pribumi di desa ini"


Nurman mulia memfitnah kyai Hasyim yang tidak-tidak, kebetulan sekali ada salah satu jammah dari kampung sebelah yang merupakan jammah kyai Hasyim tak sengaja mengikuti kajian yang diisi oleh Nurman hari ini.

__ADS_1


Jammah itu hanya ingin menambah wawasanya saja maka dari itu dia hadir di majelis yang Nurman isi, tak tahunya malah ustadz yang masih muda bernama Nurman itu Menjelek-jelekan kyai Hasyim yang lebih sepuh.


Setidaknya jika dia benar-benar seorang ustadz yang paham agama bisa menghormati yang lebih tua dan tidak menghasut orang untuk membenci kyai Hasyim, harusnya dia memiliki tatakrama yang baik pada lebih tua.


Bukan seperti sekarang ini malah mengatakan yang tidak-tidak. "Sebenarnya orang ini ustadz atau bukan sih kenapa berani sekali dia memfitnah kyai Hasyim seperti itu" batin jammah kyai Hasyim.


Ingin dia segera memberontak karena kyai Hasyim sudah difitnah yang tidak benar, tapi ajaran kyai Hasyim sudah melekat pada dirinya, harus sabar mengamhadapi orang contohnya seperti Nurman saat ini yang sudah memfitnah tanpa bukti.


Yang membuat jamaah kyai Hasyim tak habis pikir lagi para jamaah yang mengikuti kajian di majelis ini percaya begitu saja dengan perkataan Nurman, karena dia ustadz yang menjadi panutan mereka.


"Astagfirullah bisa-bisanya mereka percaya dengan yang dikatakan Nurman, haru kasih tahu kyai Hasyim" bati orang itu.


Dia segera keluar dari masjid tersebut untuk bertemu dengan Kyai Hasyim kebetuan sekai kyai Hasyim sudah 1 minggu ini menginap di rumah pak RT di kampung sebelah untuk mengisi pengajain rutin satu minggu penuh di daerah itu.


"Pak yai, pak yai, pak yai" panggil orang tadi saat melihat Kyai Hasyim sedang bersama pak RT baru saja melihat desa itu.


"Assalamualaikum pak Yai, pak RT" sapa orang itu ngos-ngosan dia sudah ada di depan pak yai dan pak RT.


"Waalaikumsalam" jawab kedua orang yang disapa


"Kamu kenapa Nang? Kayak abis dikejar setan aja" tanya pak RT.


"Itu pak anun" sahutnya belum jelas.


"Tenangkan dulu dirimu ambil nafas pelan-pelan baru ngomong" ujar pak kyai Hasyim.


Setelah tenang atas intruksi dari kyai Hasyim orang itu mulai berbicara. "Itu pak si ustadz Nurman fitnah pak kyai yang tidak-tidak, mengatakan apa yang pak yai sampaikan salah semua, dia lagi ceramah padahal"

__ADS_1


"Sudah biarkan saja, kita doakan agara dia sadar dengan perkataannya" sahut kyai Hasyim enteng.


__ADS_2