Akibat Rasa Dendam!!

Akibat Rasa Dendam!!
Liciknya Nurman.


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Lima bulan setelah taubatnya Mira, setiap kyai Hasyim mengisi pengajian di desa Mira, dia akan selalu hadir dipengajian tersebut.


Mira tidak peduli dengan ucapan tentangga yang selalu dilemparkan untuk dirinya ketika dia menghadiri acara pengajian yang diisi oleh kyai Hasyim.


Setiap selesai pengajian itu juga Mira selalu dibimbing untuk kembali membaca dua kalimat syahadat.


Tak ada yang tahu jika Mira sudah tidak memiliki limu hitam lagi, tapi anehnya entah Nurman tahu dari mana jika Mira tidak lagi memiliki ilmu s@ntet.


Malam hari Nurman segera bertamu di rumah Mira, rasa dendam pada diri Nurman dengan Mira masih belum terkisik sedikitpun, Nurman ingin Mira lenyap dari muka bumi ini.


Sekarang lah kesempatan Nurman untuk mengancam Mira, karena dia tahu Mira sudah tidak memiliki ilmu s@ntet lagi, padahal dulu Nurman juga termasuk orang yang sama sekali tidak berani pada Mira, karena tahu Mira dukun s@ntet yang begitu hebat.


Nurman sudah berdiri di depan rumah Mira, dia sengaja bertamu sendiri di malam hari, karena Nurman ingin mengancam Mira. Dia bertamu bukan untuk bersihlaturahmi, melaikan itu tadi ingin mengancam Mira.


"Assalamualaikum!"


"Assalamualaikum!"


'Tok.....tok....tok.....!'


Nurman mengucapkan salam dengan nada seperti orang marah sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah Mira dengan sedikit keras.


Mira yang sedang berdzikir dan bershalawat kaget ketika ada orang yang mengedor-gedor pintu rumahnya dengan begitu keras.


Mira yang masih mengenakan mukenanya segera berjalan ke arah pintu rumahnya untuk menghampiri siapa yang sudi bertamu di rumahnya ini.


Sampai di depan pintu rumahnya Mira langsung membuka pintu tersebut sambil menjawab salam dari Nurman.


"Wa'alaikumsalam Ustadz" Mira sedikit kaget karan Nurman bertamu ke rumahnya, tapi setelah ini Mira sedikit tersenyum bersyukur ada yang bertamu ke rumahnya.


"Alhamdulillah ustadz ada yang mau datang ke rumah saya ini pak ustadz"


"Ayo pak ustadz masuk dulu" ujar nenek Mira pada Nurman.


Sekarang umur nenek Mira sudah hampir genap 50 tahun, semakin tua dia tapi Mira tak lelah untuk terus bertaubat pada sang Maha Kuasa atas segalanya.

__ADS_1


Nurman yang melihat nenek Mira mengenakan mukena dia tersenyum sinis, dia melihat Mira dengan tatapan tidak suka. "Boleh-boleh masuk saya juga kesini memang ada perlu" sahut Nurman akhirnya.


Akhirnya Nurman masuk ke dalam rumah Mira duduk di kursi ruang tamu yang sudah disediakan di rumah nenek Mira.


Mira hanya tersenyum pada Nurman yang menanggapinya dengan senyum sinisnya, kini hati Mira sudah melembut karena dia memperbanyak berdzikir dan shalawat.


Nenek Mira menyuguhkan kopi dan beberapa camilan untuk Nurman yang merupakan tamunya, Nurman menatap kopi di atas meja tersebut dengan mengejek.


Nurman menunjuk kopi yang ada di atas meja itu sambil berkata. "Ini kopinya nggak pake s@ntet kak?"


Mendengar ucapan Nurman, nenek Mira segera beristihgfar. "Astagfirullah hal-adzmi"


"Walaupun saya mantan dukun s@ntet, bekas dukun s@ntet, Insya Allah saya sudah bertaubat, saya juga sudah tidak punya ilmu itu lagi"


"Baguslah" tanggap Nurman dengan cepat.


"Ya nek Mira tujuan saya datang ke rumah nenek ini saya merasa kasihan dengan nenek"


Nenek Mira yang tak mengerti dengan perkataan Nurman akhirnya bertanya. "Maksud Nak Nurman apa ya? Maksud pak ustadz bagaimana?" tanya Mira dengan suara lembut.


"Jadi begini kemarin saya di datangi pak RT dan beberapa warga, mereka datang ke rumah saya untuk minta dukungan saya, mereka minta komando saya buat membunuh nenek" tunjuk Nurman tepa di depan Mira.


Deg!


"Kenapa kalian ini membunuh saya?"


Nurman tersenyum sinis pada Mira. "Bukannya nenek tahu sendiri, bukannya nenek merasa sendiri bahwa di kampung kita ini sudah banyak warga yang menjadi korban s@ntet yang nenek lakukan"


"Banyak warga di kampung kita ini yang sudah nenek bunuh dan pasti nenek juga tahu bahwa semua warga di kampung ini tahu kalau nenek merupakan seorang dukun s@ntet!"


"Mereka tidak akan peduli apakah nenek sudah taubat atau belum, dendam warga masih tetap ada terismpan pada diri mereka masing-masing, mereka datang ke saya untuk meminta izin membunuh nenek"


"Saya kasihan dengan nenek" Mira mengelus dadanya langsung menangis.


Nenek Mira menangis bukan karena dia takut mati, dia hanya masih mau menikmati masa-masa ibadahnya di hari tuanya, bukan dia takut mati dibunuh orang bukan.


"Lalu saya harus bagaimana Nak Nurman? Pak ustadz"

__ADS_1


"Nah, kalau nenek mau selamat, nenek kan punya sawah nih ya, kasih sawah itu sama saya nek"


"Sawah? Sawah yang mana ya Nak Nurman, pak ustadz?"


"Sawah nenek yang dekat dengan sawah bapak saya!"


Deg!


Nenek Mira kembali teringat dengan dosa-dosanya dulu dia sering memindahkan batas sawah pak Ujang untuk memancing kemarahan bapak Nurman.


Mira merasakan hatinya begitu teriris-iris mengingat dosa-dosanya masal lalunya yang dulu pernah dia laukan ketika sering berbuat licik.


"Sawah aja nak Nurman?"


"Iya nek!"


Sawah Mira memang hanya ada beberapa petak lagi yang lainnya sudah dia jual, dan sisa sawah itu tepat di sebelah sawah orang tua Nurman.


"Tapi nak Nurman bisa menjanjikan bahwa para warga tidak akan membunuh saya?" nenek Mira kembali bertanya dia harus memastikan hal ini lebih dulu.


Nenek Mira hanya tidak ingin konsentrasi ibadahnya terganggu hanya karena masalah ini.


Nurman tersenyum miring atas pertanyaan Mira. "Nenek kan tahu sendiri warga itu ikut apa kata saya"


Di kampung tempat Mira tinggal memang perkataan ustadz sangat ditaati, walaupun ustadz itu menyuruh membunuh orang maka mereka para warga akan mematuhinya.


Setelah Nurman berkata seperti itu nenek Mira meminta jaminan pada Nurman. "Sawah saya serahkan pada Nak Nurman, saya tidak sayang dengan yang namanya sawah, silakan saja saya serahkan pada pak ustadz, toh sawah juga buat saya untuk apa, tapi nak Nurman bisa menjamin, bisa menjanjikan jika saya tidak akan dibunuh?"


"Saya menjaminnya nek! Asalkan sawah punya nenek itu buat saya"


Nurman memang sengaja memeras nenek Mira, karena dia juga masih memiliki dendam pada nenek Mira.


Memang ada beberapa warga yang datang ke rumah Nurman untuk membalaskan dendam mereka pada Mira, karena beberapa keluarga mereka terekan s@ntet keganasan Mira.


Dengan licik Nurman memanfaatkan keadaan ini untuk memeras nenek Mira. Akhirnya sawah yang tinggal berapa petak itu diberikan pada Nurman.


Nurman tertawa sinis dia merasa sudah mengalahkan Mira. "Kalau bukan karena saya nenek pasti sudah mati dibunuh warga!" ucap Nurman dengan begitu pedenya.

__ADS_1


Padahal tak ada yang tahu hidup mati seseorang, semua itu rahasia Allah Aza wa Jaal.


__ADS_2