Aku, Kamu Dan Mama

Aku, Kamu Dan Mama
Pertemuan


__ADS_3

Hari ini Wisnu, Elvina, Pevita, Ferdi, Fierra dan Adit berkumpul di rumah Maudi. Mereka duduk beralaskan tikar piknik di halaman belakang rumah.


Mereka berencana memasak bersama.


"Masak apa kita hari ini?" Pevita yang sedang duduk lesehan di sebelah Maudi bertanya.


"Masak sup udang sama tumis pedas manis cumi." Ferdi menjawab seraya tangannya mengangkat udang dan cumi di mangkok yang sudah di bersihkan.


"Makanan kesukaan Elvina dong." Seru Fierra membuat semua orang saling menatap satu sama lain.


"Lo pake perlengkapan dapur gue, tapi yang lo masak makanan kesukaan Elvina?" Cibir Maudi pada Ferdi dan hanya di tanggapinya dengan senyuman.


"Kamu masakin pacar Wisnu tanpa tau perasaannya Wisnu gimana?" Pevita bertanya seolah bukan dia yang harus di jaga perasaannya. Sekaramg sudah mulai gengsi dong bilang cemburu!


"Hubungan kami berdua mesra kok." Wisnu berkata sambil tangannya menunjuk arah Ferdi dan dirinya sendiri.


"Elvina...mari bantu kakak!" Ajak Ferdi, dan Elvina menjawab ok dari tangannya, berdiri dari duduknya dan melangkah menuju Ferdi.


"Mari kita memasak dengan senyum dan semangat!" Ferdi dan Elvina bertos ria.


"Sambil dengerin lagu kesukaan kamu." Ucap Ferdi setelah menyalakan musik play dari ponselnya.


kuingin kau tau


kuingin kau slalu


dekat denganku setiap hariku


sudahkah kau yakin


n'tuk mencintaiku


ku hanya ingin satu untuk selamanya


Ferdi dan Elvina ikut bersenandung, tersenyum sambil memasak berdua.


Sedangkan yang lain menatap intens pemandangan di depan mata mereka. Seolah terhipnotis.


Seperti pengantin baru saja!


"Kenapa mereka terlihat serasi?" Celetuk Maudi.


"Mereka keren sekali." Pevita bersuara lemah.


"Jangan jangan kalian kekasih yang tertukar!" Fierra menambahkan pendapatnya, menatap Wisnu dan Pevita bergantian.


*cintaku tak pernah memandang


siapa kamu


tak pernah menginginkan


kamu lebih dari apa adanya dirimu selalu


cintaku terasa sempurna

__ADS_1


karna hatimu


selalu menerima kekuranganku


sungguh indah cintaku*


Ferdi dan Elvina masih ikut bernyanyi dengan suara merdu mereka.


Mereka berdua benar benar kompak.


"Ini tidak bisa di biarkan!" Wisnu berkata sembari berdiri. Melangkah mendatangi kedua orang yang sibuk memasak sambil berduet.


Wisnu mendekap Elvina lembut dari belakang. Menyandarkan dagunya di bahu sang gadis.


Gadis itu mendongak dan tersenyum.


"Ini romantis kan? Memeluk kekasih yang sedang memasak." Wisnu beralasan. Padahal yang ada hatinya gelisah, memandang sepasang manusia yang masak bersama, bernyanyi dan tersenyum bersama.


Bisa bisa nih, dua orang ini lupa, kalau kalau udah punya pacar masing masing.


Pevita pun tak mau kalah, dia juga sudah memeluk Ferdi dari belakang.


"Entar kalo kita udah nikah, kamu yang masakin untuk kita ya? Biar aku yang kerja." Pevita berkata sambil menyembunyikan wajahnya di punggung sang kekasih. Ferdi hanya menanggapinya dengan senyuman sambil masih memasak.


Setelah beberapa menit, acara masak memasak pun akhirnya selesai.


Kini makanan sudah tersaji cantik dibmeja. Mereka duduk mengitari meja, dan mulai menyantap makanan yang tersaji.


Tapi gerakan mereka terhenti sebab melihat apa yang di lakukan Ferdi.


Ferdi mengambil udang yang ada di piring Elvina dengan sumpit, membuat yang lain saling memandang.


Apa Ferdi belum move on? pikirnya sedih.


Seolah mengerti, Ferdi mengelus puncak kepala Pevita sayang dan tersenyum setelah Pevita menatapnya. Sedangkan Wisnu, pria itu bersikap tenang, seolah tak terjadi apa apa.


"Fir...kamu beneran sama si Adit?" Maudi membuka suara, mengalihkan suasana yang aneh menurutnya.


"Hemm.." Fierra berdehem menjawab pertanyaan Maudi, karna dia masih sibuk mengunyah makanannya.


"Selera kamu sama Elvina sama, tua!" Ejek Maudi.


Adit sudah bersiap untuk membalas, tapi terpotong dulu oleh Fierra. "Aku nggak kayak kak Maudi, seleranya berondong!" Ucapnya tenang, Maudi sudah melotot garang.


"Siapa yang suka berondong?" Maudi tak terima.


Enak aja!


"Chef Adam kan muda-an dari kakak."


"Kami seumuran!" sanggah Maudi


"Kak Maudi genap 26 tahun bulan Februari kemaren." jeda sebentar, Fierra meminum air mineral di gelasnya. "Kak Adam masih nunggu bulan 12 biar genap."


"Tetap aja kami lahir di tahun yang sama!" Bela Maudi.

__ADS_1


Enak aja! Dikira aku tante girang apa?


"Kak...Februari ke Desember itu jauh loh! kecuali Desember ke Februari."


*


*


*


*


Sesuai kesepakatan, sore ini Wisnu mengajak Elvina bertemu sang Mama di rumahnya.


Mereka memasuki rumah yang terlihat sepi untuk ukuran rumah yang sangat besar. Hanya ada beberapa ART yang menyapa ramah mereka. Memberikan informasi, bahwa sang nyonya besar ada di taman samping, sedang bersantai.


Wisnu melihat sang Mamah menyesap secangkir teh, sambil memandang taman bunga dahlia yang ada di seberangnya.


"Ma...." Sapa Wisnu setelah berada di hadapan sang ibu, tangannya masih setia menggenggam tangan Elvina sedari tadi. "Ini Elvina, calon istriku."


"Duduklah." Melinda menyunggingkan senyum simpul. Kemudian menuangkan teh di gelas, meletakkannya di depan Wisnu dan Elvina.


"Kamu tau ini teh apa?" Melinda masih tersenyum menatap ramah Elvina.


"Ha?" Bingung Elvina.


"Ini teh bunga krisan." Melinda meminum anggun teh di gelasnya. "Langsung di impor dari Korea Selatan 2 hari yang lalu. Kamu sudah pernah meminumnya?"


Elvina tersenyum kikuk sambil menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aku membawanya untuk mengenalkannya pada Mama. Bukan membicarakan tentang teh!" Wisnu menatap ibunya.


"Mengenalkan?" Kini tatapan Melinda beralih pada putra semata wayangnya.


"Bulan depan, aku berencana menikahinya."


"Pevita?" Masih dengan senyum yang sama menatap sang putra.


"Sama sepertiku, dia juga mencintai pria lain."


"Tapi Mama masih menginginkan Pevita." Dengan tenang dan senyum Melinda berujar. Tanpa peduli, Elvina akan tersinggung atau tidak dengan kata katanya.


Sukur Elvina sudah mendengarkan cerita dari Wisnu tadi tentang ibunya. Kalau tidak, entahlah....


Sebelum masuk kedalam rumah mewah keluarga ANTARA, Wisnu sudah berpesan Apapun yang dikatakan Mama jangan dibantah, cukup dengarkan yang baik, hempaskan kalimat yang menyakitkan. Cukup ingat aku mencintaimu. Apapun yang terjadi kita akan tetap bersama. Hapalkan itu!


"Pevita tidak inginkan Mama jadi mertuanya."


"Mama akan bantu kamu, meyakinkan Pevita dan orang tuanya."


"Aku akan menikahi Elvina, Ma!"


"Mama tidak merestui!"


"Aku datang bukan meminta restu mama. Aku hanya memberi tau mama, dan mengundang Mama untuk datang." Wisnu meminum teh yang ada di depannya dengan tenang." Jika mama sibuk, tidak masalah tidak hadir." Wisnu mengambil gelas berisi teh bunga krisan yang ada di depan Elvina. Memberikannya pada gadis itu. "Minumlah sebelum kita pergi." Ucapnya.

__ADS_1


Patuh pada perintah sang kekasih, Elvina menerima gelas yang di sodorkan Wisnu, dan meminumnya dengan tenang. Tidak terganggu dengan penolakkan calon mertua.


Melinda? Dia lagi lagi tersenyum menanggapi kata kata dan kelakuan Wisnu.


__ADS_2