Aku, Kamu Dan Mama

Aku, Kamu Dan Mama
Elvina dan kenangan


__ADS_3

Sore ini Wisnu berniat menjemput Elvina, ketika sampai di depan pintu masuk dia bertemu dengan Fierra, Adit, Maudi dan Pevita.


"Mau jemput Elvina?" Pevita menyapa Wisnu, dan mendapatkan anggukan dari pria itu.


Mereka memasuki kafe bersama.


"Kok udah tutup? Tumben." Maudi bergumam pelan tapi masih bisa di dengar yang lain.


Dia sedikit bingung, ini masih jam empat sore loh, tapi ada tulisan close di depan pintu masuk tadi.


Seorang pria tampan keluar dari dapur, mendatangi mereka. Saat Maudi hendak bertanya, Fierra sudah bertanya terlebih dahulu.


"Udah berapa yang pecah, Chef?" Mereka semua saling pandang bingung, kecuali pria yang di beri pertanyaan oleh Fierra.


"Piring dua, gelas empat." Jawab Chef Adam sambil tersenyum simpul.


"Dasar gadis cengeng!" Umpat Fierra. "Mereka ada di tempat biasa?" Tanyanya lagi.


Si Chef mengangguk, kemudian menarik tangan Maudi. "Aku punya menu baru, mau nyoba?" Tanya Chef Adam pada Maudi, sang kekasih.


Maudi mengiyakan, kemudian mengikuti Chef tampan itu menuju dapur.


"Kemana Ferdi...?" Mata Pevita mencari cari keberadaan sang pujaan hati. Tapi tak terlihat.


"Mereka ada di halaman belakang." Ucap Fierra memberi tahu. "Jangan ganggu." tegasnya lagi.


"Mereka?" Tanya Pevita.


"Elvina pasti mimpi buruk." Fierra terdengar menghela nafasnya. "Seperti biasa, dia pasti tidak fokus bekerja. Piring dan gelas yang di pegang pasti berjatuhan. Dan kak Ferdi akan menenangkannya."


"Mimpi buruk?" Wisnu jadi tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Kita sebaiknya pergi." Mengabaikan pertanyaan Wisnu, Fierra mengajak mereka pergi.


"Aku ingin melihatnya. Tidak akan mengganggu."


Pevita menolak pergi. Jujur, dia sungguh penasaran, mimpi buruk seperti apa yang membuat Elvina perlu ketenangan dari Ferdi.


"Bisa kalian berjanji hanya diam saja? Hanya melihat dan mendengar, jangan menyela." Tanya Fierra memastikan, dan mereka mengiyakan.


Wisnu, Adit dan Pevita mengikuti langkah Fierra. Mereka menuju halaman belakang. Terlihat Ferdi dan Elvina duduk berdua di kursi panjang.


Mereka berdiri sekitar tiga meter di belakang Ferdi dan Elvina. Mungkin terlalu fokus bercerita Elvina maupun Ferdi tidak menyadari kedatangan orang lain.


"Aku lelah, Kak." Lirih Elvina.


"Mimpi itu lagi?"

__ADS_1


"Iya, sudah empat hari ini."


Ferdi menarik lembut kepala Elvina, membawanya bersandar di bahunya. "Apa karna penolakan orang tua Wisnu?" Tanya Ferdi kemudian.


"Seharusnya kami tidak bertemu. Andai kami di dunia yang berbeda."


"Mau kakak bawa kabur?" Goda Ferdi.


"Aku mencintainya, Kak." Elvina menghembuskan nafas kasar. "Aku pikir cinta kali ini akan membawa kebahagiaan, tapi penolakan ibunya membuatku ingat hari itu, hari aku di buang."


"Wisnu tidak akan membuangmu, Elvina. Dia akan mempertahankanmu. Karna dia mencintaimu."


"Kak....hari itu juga Mama bilang akan datang." Elvina mengangkat kepalanya dari bahu Ferdi. "Tapi mungkin keluarga barunya tidak menginginkan aku. Jadi aku benar benar di campakkan."


"Nana...." Ferdi memanggil Elvina dengan panggilan kecilnya. Elvina menatapnya, airmatanya sudah jatuh.


Ferdi mengelus kepala Elvina sayang.


"Hari itu, Mama meninggalkanku di rumah sendirian. Setelah tiga hari Mama baru kembali. Mama tidak bertanya apa aku sudah makan? Apa aku takut di rumah sendirian? Mama tidak bertanya." Elvina kembali mengingat kejadian kelam itu. "Mama langsung membawaku pergi keluar rumah. Aku pikir Mama merindukanku, dan ingin mengajakku jalan jalan. Tapi......kami malah berhenti di depan panti asuhan. Mama bilang...Nana, Mama akan menikah. Tinggallah dulu dipanti ini, setelah itu Mama akan datang bersama ayah dan kakak laki lakimu."


Elvina menghapus kasar airmatanya. "Mama tidak mengantarkanku masuk ke dalam panti, Mama tidak bertanya aku takut tidak di tinggal sendirian. Mama berpaling meninggalkanku, Kak. Tanpa menoleh ke arahku. Aku menatap punggungnya sambil berdoa. Berbaliklah Ma....aku mohon...peluk aku....aku takut.... " Elvina sudah terisak pilu.


"Mama tidak berbalik, dia berjalan terus tanpa berhenti, tanpa menoleh. Setelahnya aku tidak sadar lagi apa yang terjadi, Ibu panti bilang aku pingsan karna kelaparan, bukan karna di campakkan Mama."


"Mungkin Mamamu tidak sanggup untuk menatapmu, mungkin dia terpaksa meninggalkanmu." Ferdi mencoba menenangkan Elvina.


Ferdi mendekap Elvina dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis. "Masih ingat pertama kita bertemu?" Tanya Ferdi, dan gadis itu hanya mengangguk. "Kamu tidak pernah tersenyum dengan yang lain. Kamu hanya tersenyum pada pembeli." Ucap Ferdi tertawa samar.


"Masih ingat lagu yang kakak nyanyikan untukmu saat ulang tahun?" Tanya Ferdi, pria itu masih memeluk Elvina sayang. Sementara gadis dalam pelukannya itu mengangguk. "Mau kakak nyanyikan lagu itu sekarang?" Elvina kembali mengangguk.


Mengapa engkau tega mencuri hatiku


Tanpa seizin aku lebih dulu


Memaksaku membuatku lemah tak berdaya


Geude saranghamnida


Ferdi sudah membawa Elvina tidur di pangkuannya. Membelai kepala gadis itu dengan sayang, sambil menyanyi.


Aku bahkan tidak seindah


Ku tak seindah kedipan matamu


Tapi dapatkah kau berikan senyum untukku


Walau itu bukan cinta

__ADS_1


Tapi aku memohon


Elvina memejamkan matanya, menikmati buaian yang Ferdi berikan.


*Aku menunggumu sampai akhir


Hanya satu kata


Geude saranghamnida


Kemarin aku tertidur


Ketika terbangun airmataku jatuh


Lalu aku memohon*


Tangan Ferdi masih betah membelai rambut Elvina. Sementara suara isakan gadis itu masih terdengar di selah nyanyian Ferdi.


Hanya airmata


Geude saranghamnida


Wisnu yang sedari tadi melihat dan mendengar interaksi dan perbincangan sang kekasih dan orang yang sudah di anggap kakak itu, melangkah ke dalam kafe, di ikuti Pevita, Adit dan Fierra.


"Elvina....berarti dia bukan yatim piatu?" Tanya Pevita, setelah mereka duduk di dalam kafe.


"Iya, dia di tinggalkan ibunya di depan panti asuhan, saat berumur enam tahun." Jawab Fierra menjelaskan.


"Gadis yang malang." Sambung Adit iba.


Wisnu mengiyakan dalam hati ucapan Adit.


Dia pernah mendengar kisah Elvina dari Ferdi, tapi setelah mendengarnya langsung dari mulut sang kekasih, hatinya terasa teriris.


Memang benar benar malang sekali kekasihnya itu. Dan tambah malang lagi dapat penolakan dan penghinaan dari ibunya Wisnu sendiri. Sayang...maafkan aku sudah menambah luka dihatimu. Sesal Wisnu.


"Lalu ayahnya?" Pevita sepertinya mulai penasaran.


"Sejak kecil Elvina hanya tinggal berdua dengan Mamanya. Dia tidak tau dimana ayahnya. Mamanya juga tidak pernah menceritakan tentang ayahnya." Fierra menanggapi.


"Adit." Adit menoleh kearah Wisnu yang memanggilnya. "Bantu aku, aku akan menikahi Elvina Rabu depan." Ucap Wisnu.


"Apa?" Pekik Adit tak percaya. "Bukankah rencananya bulan depan?"


"Itu...lima hari lagi, kamu yakin?" Timpal Pevita.


"Orang tua Mas Wisnu?" Tanya Fierra ragu.

__ADS_1


"Aku ingin Elvina benar benar yakin, bahwa aku tidak akan pernah meninggalkannya. Aku ingin dia percaya, apapun yang terjadi aku selalu ada untuk melindungi dan mencintai dia. Aku serius dan tulus untuk menikahinya. Soal Mama...aku akan berjuang bersama Elvina agar Mama menerimanya."


__ADS_2