
Ferdi berbaring di ranjang dengan santai, setelah seharian penuh bekerja keras mengembangkan kafe warisannya yang ada di Brunei.
Tangannya mengotak atik ponsel pintarnya, ada panggilan tak terjawab dan beberapa pesan di sana.
Ferdi tersenyum setelah mengetahui dari siapa panggilan dan pesan itu.
Ya...itu dari sang kekasih, Pevita.
Sudah dua bulan Ferdi di negeri orang tanpa memberi kabar pada Pevita. Dan itu membuatnya mendapat hujan pesan dan panggilan dari sang kekasih.
Aku rindu setengah mati kepadamu
Sungguh kuingin kau tau
Aku rindu setengah mati
Aku rindu...
Ferdi tersenyum geli membaca pesan Pevita yang mengcopy lirik lagu Rindu setengah mati dari D'Masiv.
Kurindu senyumanmu dan kurindu suara romantismu
Kurasa bahagia bila kita bersama
Kali ini pesan Pevita di ambil dari lirik lagu negeri jiran. Ferdi kembali menyunggingkan senyum.
Rindukah hatimu pada diriku
Yang kini jauh dari dirimu
Kalau diriku ingat selalu padamu kasih
Yang kini jauh
Lirik lagu lawas kembali di baca Ferdi di pesan singkat Pevita.
Everynight in my dreams
I see you I feel you
Ferdi tergelak kuat membaca pesan singkat dari Pevita yang sudah entah keberapa. Kekasih konyolnya itu mengetik lirik lagu soundtrack Titanic.
Ferdi meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas, tanpa membalas pesan dari Pevita. Dia berencana besok akan kembali ke tanah air, dan lagi lagi tanpa memberi tahu sang kekasih.
*
*
*
Siang ini Pevita terlihat murung, dengan kepala telungkup dibatas meja. Disampingnya Maudi mengernyit heran.
Tumben nih si tukang jahit kalem, apa kehabisan stok kain?
"Hei tukang jahit, kenapa mendadak puasa kata kata lo?" Maudi tidak tahan untuk bertanya.
__ADS_1
"Ferdi....dia nggak ada kabar." Jawab Pevita lesu.
"Kak Ferdi ke Brunei untuk kerja, dan seperti biasa dia nggak akan mau di ganggu sampai kerjaannya bener bener beres." Ujar Fierra mencoba menjelaskan perihal kebiasaan sang kakak.
Maudi menghela nafas. "Mending kamu belajar masak deh, besok siang Ferdi balik kemari, kamu kasih makan siang spesial buatan kamu."
Maudi memberi saran, dia kasian juga melihat Pevita yang biasa bersifat aktif, tiba tiba jadi pendiam.
Belum lagi nih si Ferdi, kok bisa bisanya dia nggak ngabari pacar sendiri. Apa nggak belajar dari pengalaman masa lalu? gimana Elvina bisa jatuh ke pelukan Wisnu gara gara di tinggal ke Brunei tanpa kabar. Dan sekarang dengan santainya Ferdi ke Brunei tanpa memberi kabar untuk Pevita, gimana coba kalau Pevita berpaling juga?
"Emang besok Ferdi pulang?" Pevita bertanya dengan tatapan penuh harap.
"Iya." Jawab Maudi yang ikut di angguki oleh Fierra.
Mereka berdua merasa kasihan dengan Pevita, jadi memberi tahu hari kepulangan Ferdi ke tanah air.
Padahal Ferdi sudah mengatakan untuk tidak memberi tahukan pada wanita itu.
Tapi ya itu tadi, Fierra dan Maudi tidak tega melihat kemurungan si desainer cantik itu.
"Ya udah deh, aku pulang dulu mau latihan memasak." Ucap Pevita semangat, langsung berdiri dan melangkah keluar dari kafe tanpa peduli lagi tanggapan dua wanita yang bersamanya tadi.
"Dasar bucin." Ujar Fierra setelah kepergian Pevita.
"Tapi sifat konyolnya bener bener buat kakak kamu move on dari Elvina." Ucap Maudi yang di amini Fierra.
Tidak dapat di pungkiri, kerja keras Pevita yang mengejar Ferdi terus terusan, membuat lelaki itu akhirnya luluh dan membalas cinta Pevita.
*
*
*
Tidak lama kemudian Pevita datang dan duduk di samping Ferdi, meletakan sebuah rantang di hadapan sang kekasih.
"Aku buatin kamu makan siang." Ujar Pevita tersenyum manis pada Ferdi. dan di balas Ferdi dengan senyum hangat, tangannya terulur mengelus puncak kepala gadisnya.
Pevita membuka tutup rantangnya. "Makanlah." pintahnya.
"Hah? kamu mau makan siang apa mau buka puasa?" Adit mengintrupsi setelah melihat isi rantang yang Pevita bawa tadi. "Nggak ada orang makan siang pake kolak pisang."
"Udah anggap aja buka puasa setengah hari." Ujar Pevita santai.
Ferdi memakan hasil karya sang kekasih, kolak pisang yang kemanisan dan pisang yang kematangan. Dia tersenyum menatap kekasihnya itu, dan di hadiahi senyuman pula. Sementara yang lain hanya memperhatikan pasangan itu dalam diam.
"Enak?" Tanya Pevita yang di jawab anggukan oleh Ferdi. " Akukan masak ini sendirian, terus pas motong pisangnya jari aku keiris pisau juga" cerita Pevita sembari menyodorkan jarinya yang tergores pisau.
"Sakit?" Tanya Ferdi, tangannya menggapai jari Pevita yang terluka dan membelainya.
Pevita mengangguk. "Sakit...tapi lebih sakit di abaikan." Ucap Pevita dengan wajah sedihnya.
Ferdi mengelus wajah Pevita sayang. "Aku pikir kamu nggak suka kata aku rindu kamu dan sebuket bunga mawar." ucap Ferdi, tangannya masih di wajah kekasihnya. "Aku pikir kamu lebih suka kalau aku bilang saya terima nikahnya dan seperangkat mahar."
Pevita mengerjapkan matanya berkali kali mencerna kalimat yang di ucapkan Ferdi.
__ADS_1
Begitu juga yang lain, mereka saling tukar pandangan seakan berkata ini maksudnya apa?
"Terus terdengar sahutan kata sah ." Lanjut Ferdi.
Tunggu...ini?
"Pevita..." Ferdi mengambil kedua tangan Pevita, menggenggamnya dengan lembut. Sementara sang empuhnya masih terlihat syok.
"Kamu lagi lamar aku?" Tanya Pevita ragu.
Ferdi tersenyum bukannya menjawab pertanyaan wanita cantik itu.
Kemudian terdengar suara gitar akustik memgalun merdu dengan sebuah nyanyian.
Kemesraan ini janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini ingin kukenang selalu
Hatiku damai jiwaku tentram disampingmu
Hatiku damai jiwaku tentram bersamamu
"Pevita...aku tidak tau orang seperti apa yang kamu harapkan untuk jadi pendampingmu. Aku juga tidak tau lamaran seperti apa yang kamu impikan." ucap Ferdi. Maniknya menatap lekat netra Pevita yang sudah berkaca kaca.
suatu hari dikala kita duduk ditepi pantai
dan memandang ombak dilautan yang kian menepi
"Aku hanya laki laki biasa, tidak berani menawarkan memberikanmu kebahagiaan setiap waktu. Tapi aku ingin sekali kamu percaya, percaya padaku...aku akan menemanimu tidak peduli itu saat suka atau duka."
sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam
suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta
ada hati membara erat menyatu
"Pevita...aku ingin mengikatmu dengan ikatan sakral dan suci. Ikatan yang berdasarkan kasih sayang dan tanggung jawab."
kemesraan ini janganlah cepat berlalu
"Pevita...jadilah istriku. Jadilah ibu dari anak anakku. Jadilah pelengkap hidupku."
kemesraan ini inginku kenang selalu
Ferdi mengeluarkan kotak beludru, mengeluarkan isinya. "Pevita...mari kita menikah, secepatnya."
Airmata terus mengalir di pipi desainer cantik itu. Ini benar benar kejutan manis menurutnya. Kekasihnya pergi keluar negeri tanpa kabar pasti, tapi begitu kembali dia di hadiahi sebuah lamaran yang mengesankan.
Pevita terharu...Pevita bahagia.
Pevita mengangguk. "Iya, jadilah suami yang propesional untukku."
hatiku damai jiwaku tentram bersamamu
Ferdi memeluk Pevita dengan lembut, di iringi riuh tepuk tangan semua orang yang ada di kafe itu. Akhirnya acara lamarannya berjalan sukses.
__ADS_1
"Wah, sepertinya kami datang terlambat." Wisnu mengintrupsi adegan romantis itu.
"Sepertinya acaranya sukses." Sambung Elvina.