
"Jadi kapan nih kalian sahnya?" Tanya Elvina.
Mereka bertujuh sudah duduk bersama sambil menikmati makanan.
"Setelah ayah dan bunda kembali dari Singapura, mereka akan melamar secara resmi ke orang tua Pevita." Jawab Ferdi.
"Dit, apa sih yang lo makan?" Wisnu bertanya sembari menutup mulutnya. "Bau banget."
Tatapan semua orang jatuh pada piring yang ada di hadapan Adit. Melihat isinya, tidak ada yang aneh, hanya nasi goreng seafood.
"Mual ya, Mas?" Elvina mengelus lembut punggung sang suami. Wisnu mengangguk sebagai jawaban.
"Nggak tahan aku, Yang." Wisnu berdiri dan bergegas menuju ke toilet. Elvina pun mengikuti suaminya itu.
"Ada apa sih?"
"Kenapa mereka?"
"Apa Wisnu sakit?"
Mereka saling tatap dan saling bertanya tanya setelah perginya sepasang suami istri itu ke arah toilet. Mereka bingung, mereka heran.
"Kamu sakit, Wis?" Pevita bertanya setelah pasutri itu kembali duduk bersama mereka.
"Nggak." Jawab Wisnu singkat, tangannya memijat pelan pelipisnya.
"Terus lo kenapa? tetiba elergi ma nasi goreng seafood? itukan makanan favorit kita." Ujar Adit sebal, tadi dia sudah seperti penjahat saja, yang mengakibatkan temannya sekarat.
"Aku yang hamil, mas Wisnu yang mual."
Jawaban Elvina membuat mereka saling pandang lagi.
Hening...
Hening...
Tunggu!
Mual?
Hamil?
"Nana, kamu hamil?" Ferdi menatap Elvina, dan mendapatkan anggukan dari istri Wisnu itu.
"Wah..."
"Selamat ya..."
"Selamat menuju ke dunia ya Wisnu Antara Yuda junior..."
Begitulah kalimat kalimat yang di ucapkan teman teman pasutri itu.
"Sudah berapa usianya?" Ferdi kembali bertanya.
"Kata dokter sudah empat minggu." Jawab Elvina
Pevita memandang kekasihnya yang sedang memandang Elvina.
Tatapan itu....
Entahlah...
Apa masih ada cinta ya?
Tapi baru saja laki laki itu memberinya lamaran, dan menjanjikannya sebuah pernikahan.
Tapi jika dia perhatikan, cara memandang calon suaminya kepada istri Wisnu itu sangat berbeda, spesial.
"Kamu harus hati hati dan jangan terlalu lelah." Ferdi memberikan nasihatnya. Dan nasihat itu membuat Pevita menatapnya penuh arti.
Tidak berapa lama mereka kedatangan Chef Adam, kekasih Maudi. Pria tampan itu membawa segelas kecil minuman, yang di berikan langsung kepada kekasihnya.
__ADS_1
"Minuman apa nih?" Maudi menerima gelasnya dan bertanya.
"Minuman terbaru yang aku buat." Tersenyum, chef itu menjawab. "Cobalah."
Maudi meminum minuman itu dengan pipet, menyedotnya sedikit demi sedikit, keningnya mengeryit kemudian matanya menatap kekasihnya itu.
"Ini jus melon kan?"
"Abiskan, rasakan lagi, bener jus melon nggak."
Ragu Maudi menuruti kata kata sang kekasih. Dia kembali menyedot minuman itu hingga tandas.
"Bener ihh, ini jus melon." Ujar Maudi.
Tapi...
Tunggu..
Apa ini?
Ini...
Cincin?
Maudi menatap Adam, Chef tampan itu tersenyum dan mengangguk.
"Kamu...?" Kalimat Maudi menggantung.
Dia bingung.
Chef Adam mengambil cincin yang ada di gelas hadapan Maudi, menekuk lututnya, tersenyum manis.
"Maudi...ini tahun ke lima kita bersama." Ucap Adam sambil menyodorkan cincin. "Aku bosan dengan status menjadi pacar kamu."
Maudi masih diam mendengarkan kata kata Adam.
"Aku ingin naik level." Lanjut Adam. "Jadikan aku suamimu. Kemudian Ayah dari anak anakmu. Jika memungkinkan untuk naik level lagi, aku akan jadi kakek dari cucu cucu kita."
Dia bingung...
Dia terharu...
Dia bahagia...
Akh...ternyata seperti ini rasanya mendapatkan kejutan lamaran.
"Mari kejar keterlambatan kita dari pasangan Wisnu dan Ferdi." Ucap Adam. "Mari jadi pasangan suami istri yang sah di agama dan negara."
Maudi hanya bisa mengangguk takzim. Dia tidak bisa berkata apa apa lagi. Adam langsung memakaikan cincin di jari manis Maudi, kemudian merengkuh gadis berambut gelombang itu ke dekapannya.
"Maw maw, lo bisa nangis juga?" Seru Adit setelah mendengar suara isakan di antara dekapan pasangan itu.
Masih dalam dekapan sang kekasih Maudi mengeraskan tangisannya. "Aku terharu, ternyata sebahagia ini di lamar sama orang yang di cintai."
"Yang, kamu nggak pengen aku lamar juga?" Adit bertanya pada kekasihnya. "Tinggal kita loh." Adit menaik turunkan alisnya."Perlu kejutan juga?"
Belum sempat Fierra membalas kata kata Adit, sebuah suara mengitrupsi.
"Adit, kamu disini?"
"Malika?"
Fierra membuang tatapannya jengah.
Haduuhh...si kedelai hitam lagi.
"Mantan terindah lo, Dit." Ujar Maudi mengejek.
"Rindu sama Adit, Malika?" Kali ini Wisnu juga ikut nimbrung.
"Kalo boleh jujur sih, iya." Ucap Malika dengan senyum manisnya. "Adit...aku beneran pengen balik lagi sama kamu." Mohonnya. "Adit...ayo kita mulai lagi dari nol." Malika penuh harap.
__ADS_1
Fierra berdiri dari duduknya, kemudian melangkah meninggalkan meja itu. Biarkan saja laki laki yang berstatus jadi pacarnya itu reunian sama mantannya.
aku maunya kejutan lamaran, bukan kejutan datangnya mantan.
"Kamu pikir aku Pertamina." Ucap Adit ketus. "Yang...tunggu." Adit mengejar Fierra yang sudah mencapai pintu.
*
*
*
Wisnu terbaring lemas di ranjang, tangannya di biarkan memeluk erat tubuh istrinya.
"Mas, jangan masuk kerja dulu ya." Tangan Elvina mengelus punggung suaminya lembut. "Kamu masih lemes gini, entar kalo di kantor tiba tiba mual lagi gimana?" Elvina benar benar khwatir, suaminya itu sudah muntah muntah seharian. Tidak kenal waktu lah pokoknya, mau pagi, siang atau malam mualnya selalu datang. Dan berujung dengan keluar cairan dari mulutnya.
Suaminya itu juga sudah susah untuk menikmati makanan. Bau bawang putih muntah, melihat bawang merah juga ogah.
Katanya bawang merah itu kejam suka bikin nangis.
"Kamu pengen deket deket ya sama suami...?"
Wisnu semakin mengeratkan pelukannya. Elvina hanya pasrah saja. Suaminya itu semakin hari semakin manja. Tidak mau jauh darinya sedikitpun.
"Sayang...." Wisnu mengurai pelukannya. Matanya menatap sang istri memuja. Tangannya sudah mengabsen satu persatu bagian di wajah Elvina dengan lembut.
"Hemm..." Elvina berdehem, matanya membalas tatapan sang suami, seolah berkata apa lagi?
"Mas kok tiba tiba kangen anak kita ya..." Mendengar kata kata suaminya, Elvina memutar bola matanya jengah. Mengerti dari maksud suaminya itu.
"Boleh nggak kami ketemu?"
" Boleh, Mas." Wisnu tersenyum sumringah mendengar ucapan istrinya. "Tunggu delapan bulan lagi, anak kita lahir, Mas bisa ketemu sepuasnya."
"Hah? Elvina...." Wisnu merengek manja, wajahnya di jatuhkan di ceruk leher sang istri. "Mas mau ketemu sekarang. Udah nggak tahan ini. Rindu serindu rindunya."
"Kamu kan masih lemes, Mas."
"Nggak sayang." Wisnu meyakinkan istrinya. "Kalau ketemu sama anak kita, tiba tiba tenaga mas full. Pokoknya kuat sakti mandraguna deh."
Kalau sudah begini, Elvina tidak bisa bilang tidak. Wisnu selalu bersemangat kalau sudah berhubungan dengan kata anak kita.
Dokter pun sudah mengatakan tidak ada masalah selama mereka pelan pelan dan hati hati.
Eits...udah kayak nyebrang jalan aja.
"Istriku...."
Tatapan mereka bertemu, Elvina memejamkan matanya saat wajah suaminya mendekat.
Tunggu!
Kok tidak ada apa pun yang menyentuh wajahnya?
Tidak ada ciuman di kening, dibpipi atau pun di bibir.
Kasur empuknya bergoyang seperti ada yang bergerak. Elvina membuka matanya, suaminya ternyata turun dari ranjang. Suaminya berlari menuju kamar mandi.
Huueekk...
Huueekk...
Huueekk...
Ternyata suaminya kembali mual dan berakhir dengan muntah di kamar mandi.
Sekarang Elvina bingung, harus sedih atau senang.
Sedih melihat suaminya tak berdaya seperti itu.
Atau senang, akhirnya tidak jadi melakukan itu.
__ADS_1