Aku, Kamu Dan Mama

Aku, Kamu Dan Mama
Mama Ellinna


__ADS_3

Siang ini Fierra mengundang Elvina kekafe sang kakak untuk merayakan ulang tahunnya.


Elvina datang diantar sang supir, karena suaminya masih ada urusan penting dikantor.


Sesampainya didalam kafe, Elvina langsung duduk dikursi meja nomor 7, bergabung dengan fierra dan maudi yang sampai lebih dulu.


"Aku nggak telat kan?"


"Nggak lah, baru juga aku sama kak Maudi yang datang."


"Kak Ferdi mana?"


"Nggak tau tuh, sok sibuk banget."


"Nih, minum dulu." Chef Adam datang dan memberi segalas mimuman pada Elvina. Kemudian duduk disamping Maudi, sang kekasih.


"Nana...."


Panggilan dengan nada tercekat itu memalingkan mereka yang sedang santai.


Elvina yang merasa terpanggil memandang sipemanggil sesaat, kemudian melarikan pandangannya kearah lain.


"Nak...."


Lagi nada tercekat itu terdengar. Maudi, Fierra, dan Adam saling tatap. Kemudian secara serentak mereka menatap Ferdi yang datang bersama perempuan yang kelihatannya mengenal istri dari Wisnu itu.


"Nana...maaf nak, mama baru datang." Serak suara wanita paruh baya itu terdengar. "Kamu tidak rindu"


Kata mama yang diucapkan wanita itu mengagetkan Fierra, Maudi dan Adam. Tidak dengan Ferdi, yang terlihat tenang. Seolah dia sudah tahu informasi itu.


"Apa kita sedekat itu?" Tak kalah tercekat suara Elvina terdengar. "Apa kita seakrab itu untuk basa basi sebuah rindu" Elvina menatap perempuan yang berdiri disisi Ferdi Juan Sastrowardoyo itu dengan tatapan penuh luka.


Sama seperti Elvina, perempuan yang mengaku sebagai mama Elvina itu memandang istri Wisnu dengan mata yang mengembun.


"Mama...."


"Mama?" Elvina memotong ucapan wanita itu dengan cepat. "Mama siapa yang anda maksud?" Elvina tersenyum sinis bertanya.


Hening.


Semua yang ada dimeja itu diam, tak ada yang bersuara. Suasana kafe yang sunyi karena telah dipesan khusus oleh Fierra menambah kesunyian.


"Apa aku datang terlambat?"


Suara Wisnu Antara Yuda yang baru datang memecah keheningan itu. Berjalan mendekati sang istri dengan santai tanpa tau apa yang terjadi.


"Sudah makan siang sayang?" Wisnu bertanya seraya mengecup puncak kepala sang istri. "Kamu kenapa sayang?" Bertanya karena melihat mata sang istri yang berkaca kaca.

__ADS_1


"Wi..Wisnu?"


Panggilan itu menarik perhatian putra Melinda Dian Antara. Tatapan Wisnu sejenak terpaku pada wanita paruh baya yang berada disamping Ferdi.


Wajah cantik yang tidak pernah Wisnu lupakan walaupun sudah sedikit menua. Wisnu masih terdiam terpaku.


"Wisnu Antara Yuda." Wanita itu kembali memanggilnya, dengan nama yang lebih lengkap.


Wisnu berjalan perlahan meninggalkan sang istri, menuju kearah sipemanggil. Begitu tiba, Wisnu tanpa kata memeluk erat, seolah sangat rindu dan takut terpisahkan.


Semua orang yang ada bingung dan bertanya tanya dengan kelakuan suami Elvina itu.


Mereka saling kenal?


Siapa?


"Mama...baik baik saja?" Ucapan Wisnu tambah membuat mereka bingung. "Kemana saja Mama pergi?" Masih memeluk erat Wisnu bertanya. "Aku...merindukan Mama."


Suara tercekat Wisnu mengiringi keheningan didalam kafe. Sementara yang lain masih terdiam penuh dengan tanda tanya.


Ini Mama Wisnu atau Mama Elvina?


Atau Wisnu sudah bertemu dengan sang mertua sebenarnya?


Entahlah..


"Ma..dia istriku, Elvina." Wisnu mengenalkan sang istri tercinta kepada wanita yang dipanggilnya mama itu, setelah melepaskan pelukan mereka.


"Sayang, dia Mama Ellinna, istri pertama papa." Wisnu memperkenalkan. Tambahlah bingung semuanya.


"Hah?" Semua terkejut tak percaya.


"Tidak boleh! ini tidak benar..." Wanita itu menggelengkan kepalanya berulang kali dengan airmata yang mulai deras mengaliri pipinya.


Wisnu kebingungan melihatnya. "Ma, ada apa?"


"Kalian menikah?" Tanyanya lagi tak percaya. " Kau dan Elvina menikah?" Wisnu mengangguk sebagai jawaban.


Wanita itu menggeleng, kemudian menatap Ferdi yang ada disampingnya. "Jadi..bukan kamu suami Elvina?" Tanyanya pada Ferdi. "Kenapa bukan kamu yang menikahi putriku?" Wanita itu mengguncang bahu Ferdi yang masih dalam keterkejutannya.


"Apa maksud Mama?" Suara Wisnu melemah.


"Siapa yang putrimu?" Elvina yang tadi terdiam bersuara, menatap nyalang wanita yang bernama Ellinna itu. "Siapa yang putrimu?" Elvina berteriak.


"Nana...." Ellinna tercekat, kerongkongannya terasa kering.


"Kenapa kembali?" Istri Wisnu itu meradang, marah. "Ingin memungutku kembali? Setelah membuangku?"

__ADS_1


"Sayang?" Wisnu bingung dengan apa yang terjadi. Menatap kesegala arah mencari penjelasan. Nyatanya semua orang juga bingung sama sepertinya.


"Mama tidak pernah membuangmu." Ellinna menangis sedih. "Sung...guh, Mama tidak membuangmu."


"Membuangku didepan Panti Asuhan tengah malam, dan meninggalkanku begitu saja." Suara Elvina tercekat. "Itu apa namanya?"


"Ma...? Sayang...?" Suara Wisnu turut bergetar, dia mulai paham jalan ceritanya. Menatap bergantian Ellinna dan Elvina.


"Kalian...Kalian tidak boleh bersama. Tidak boleh!" Ellinna menatap kedua suami istri itu sambil terus menggelengkan kepalanya. "Wisnu Antara Yuda! Mama menyuruhmu menjaga adikmu, bukan menikahinya!" Suara Ellinna meninggi. "Kalian...kalian harus bercerai."


"Ma..." Wisnu bingung, kenapa begini? Tidak mungkin istri yang dia perjuangkan, yang dia cintai dengan tulus adalah adiknya. "Tidak mungkin..."


"Aku bukan putrimu! Aku bukan putrimu!" Elvina menyangkal dengan keras. "Bundaku...Bundaku sudah meninggal."


"Dia pengasuhmu! Bukan ibu kandungmu!" Balas Ellinna tak kalah keras.


Bruukk


"Elvina." Ferdi berlari kearah Elvina yang jatuh pingsan, menepuk pelan pipinya sambil menyebut namanya.


Wisnu yang sadar istrinya pingsan mendekati sang istri, memanggil dan memeluk istrinya. "Sayang...Sayang..."


Mengangkat sang istri, menuju mobilnya diikuti yang lainnya yang turut khawatir.


"Biar aku yang bawa mobilnya." Ferdi menawarkan bantuan yang langsung diangguki Wisnu.


Mobil berjalan agak lambat menuju Rumah Sakit, karena macetnya lalu lintas. Semua cemas, Elvina belum juga sadar. Bukan hanya Wisnu yang meneteskan airmata ketakutan, tapi juga Ellinna, ibu kandung Elvina.


Begitu sampai di Rumah Sakit, Elvina langsung ditangani. Wisnu, Ferdi, Fierra dan Ellina menunggu dengan gelisah.


Setelah hampir lama menunggu, Dokter yang menangani istri Wisnu itu keluar.


"Dok..Bagaimana keadaan istri saya?" Wisnu langsung bertanya. "Kandungannya baik baik saja kan?"


"Istri bapak baik baik saja, begitu juga kandungannya." Senyum menenangkan sang Dokter menjelaskan. "Sepertinya Istri bapak hanya kelelahan biasa, tidak berbahaya." Lanjut sang Dokter. "Biarkan ibunya istirahat beberapa hari disini kalau Bapak khawatir."


Wisnu mengangguk lega, begitupun Fierra dan Ferdi.


"Kandungan?" Ibu kandung Elvina bertanya penuh tekanan. "Nana hamil? Anak kamu?" Tanyanya pada Wisnu, yang dijawab anggukan pasti. "Kalian kakak adik! Menikah saja tidak boleh, tapi kau malah membuatnya hamil." Ellinna meradang, marah, kecewa, putus asa.


Tangannya dengan bebas memukuli Wisnu yang terdiam meneteskan airmata.


Bagaimana mungkin?


Elvina itu istrinya.


Elvina bukan adiknya kan?

__ADS_1


"Kalian harus berpisah, kalian harus bercerai." Ellinna tidak henti hentinya memukuli Wisnu. "Mama titipkan adikmu untuk kau jaga. Bukan begini Wisnu Antara Yuda." Ellinna sudah menangis histeris, Wisnu juga masih dalam diam menangis. Tidak tau harus apa.


Demi Tuhan dia sangat dangat mencintai istrinya, Elvina.


__ADS_2