
Sudah dua bulan ini Fierra gelisah, sang kekasih tidak memberinya kabar sedikit pun.
Apa dia benar benar kembali kepelukkan sang mantan terindah?
Hatinya bertanya tanya.
"Fir...kamu kenapa nak?"
Suara sang bunda membuyarkan lamunannya.
Fierra menatap ibunya, tersenyum membalas pertanyaan sang ibunda.
"Tidak sesuai selera kamu gaunnya?" Tanya nyonya Sastrowardoyo lagi. "Besok acara bahagia kakakmu, kok sepertinya kamu malah gelisah. Ada masalah apa? cerita sama bunda."
Fierra menggelengkan kepalanya, memeluk ibunya dan di balas sayang oleh ibu dua anak itu.
"Fierra baik baik aja bun, cuma nggak nyangka aja kak Ferdi bisa move on dari Elvina."
"Kamu gelisah karna orang lain, kenapa bawa bawa nama kakak dan Elvina?" Ferdi yang baru datang menyahuti kata kata adiknya itu.
Enak aja, dia yang galau gara gara Adit, malah menyangkutkan orang yg tidak bersalah.
Apa tidak lempar batu sembunyi tangan itu?
"Apaan sih kak?" Fierra cemberut menatap sang kakak.
"Di telpon aja kalau rindu." Ucap Ferdi santai. "Ingat dek, hati yang patah tidak di tanggung pemerintah." Ferdi menatap sang adik tersayang. "Dan airmata yang menetes tidak di tanggung BPJS."
Fierra tambah cemberut mendengar ucapan kakak kandungnya itu.
"Jadi mereka benar benar bertunangan?"
Mira mengangguk menjawab pertanyaan Melinda.
Hari ini, Melinda mendapat sepucuk surat undangan. Pertunangan antara Ferdi Juan Sastrowardoyo dan Pevita Alma Salim.
"Baiklah...besok malam kita harus datang." Melinda tersenyum menatap adiknya, Mira. "Aku ingin melihat ada kebahagiaan atau tidak."
Mira tahu kebahagiaan siapa yang ingin di lihat kakaknya itu, tentu saja putranya yang sudah menikah lima bulan yang lalu.
Mira tahu, kakaknya sangat merindukan anaknya.
Tapi masih gengsi memberikan restu.
Entahlah...entah sampai kapan kakaknya mau mengalah dan menurunkan egonya.
Para tamu undangan serentak bertepuk tangan setelah sesi acara tukar cincin selesai.
Ya, malam ini acara pertunangan antara Ferdi dan Pevita sedang berlangsung.
Banyak tamu yang datang, karna memang kedua keluarga sama sama dari keluarga terpandang.
Yang satu keluarga raja kuliner dan satunya lagi keluarga pejabat.
Fierra, mata gadis itu mencari cari keberadaan kekasihnya.
*Kok nggak kelihatan sih?
Apa nggak diundang?
Nggak mungkin*.
__ADS_1
Gadis cantik itu menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan, ia benar benar lelah memikirkan sang kekasih.
Apa laki laki itu benar benar kembali merajut kasih dengan sikedelai hitam?
Fierra jadi ingat kata kata Ferdi kakaknya, hati yang patah dan airmata yang menetes, sepertinya dia akan mengalaminya segera.
"Nyari Adit, Fir?" Maudi dan Adam menghampiri Fierra.
"Nggak!"
"Terus dari tadi tuh mata jelalatan nyari siapa? nyari dompet?"
"Nyari kekasih yang hilang." Celetuk sang kakak yang ikut bergabung, tak lupa si tunangan yang mengapit lengannya.
"Ciee...yang lagi rindu." Pevita ikut meledek adik iparnya.
"Wah...beraninya main keroyokan ya kalian." Ketus Fierra.
Sepertinya mereka kompak meledek Fierra.
*Disetiap doaku disetiap airmataku
selalu ada kamu
Disetiap kataku kusampaikan cinta ini
cinta kita
Kutak akan mundur ku tak akan goyah
Meyakinkan kamu mencintaiku*
Tatapan Fierra beralih kearah suara penyanyi di panggung, yang di iringi dengan piano.
Suara sang penyanyi seperti tak asing di telinganya.
Tuhan kucinta dia
Kuingin bersamanya
Kuingin habiskan nafas ini berdua dengannya
Fierra menatapnya tak percaya.
Jangan rubah takdirku
Satukanlah hatiku dengan hatinya
Bersama sampai nanti
Adit menatap Fierra lembut, bibirnya menyunggingkan senyum manis.
*Tuhan kucinta dia
Kuingin bersamanya
Kuingin habiskan nafas ini berdua dengannya
Jangan rubah takdirku
Satukanlah hatiku dengan hatinya
Bersama sampai nanti*
Para tamu undangan kembali bertepuk tangan.
Adit turun, melangkah menghampiri wanita yang di rindukannya itu.
Sementara itu, Fierra masih diam mematung, tak percaya sang kekasih bisa menyanyi dengan baik plus dengan alunan piano yang di mainkan sendiri dengan apik pula.
Dia baru tahu kekasihnya ternyata berbakat juga.
"Fierra Widya Sastrowardoyo...dua bulan tidak bertemu denganmu membuat hatiku kacau." Ucap Adit setelah tiba di hadapan Fierra. "Bahkan lebih kacau dari meletusnya si balon hijau."
Fierra, gadis itu masih bungkam membalas tatapan Adit.
"Mulai malam ini aku akan memegangmu erat erat.
__ADS_1
Tidak akan ku lepaskan, ingat itu!" Tangan Adit sudah menggenggam tangan Fierra lembut.
"Jangan buat kursus piano dan menyanyiku selama dua bulan ini jadi sia sia." Fierra akhirnya tersenyum juga mendengar ucapan kekasih tampannya itu.
"Jika kamu sudah siap untuk sebuah pernikahan." Jeda sebentar, Adit masih menatap netra cokelat gadisnya. "Kuharap akulah laki laki pertama yang kamu pikirkan untuk menjadi suamimu."
Fierra mengangguk. "Aku ini pria sempurna, bisa menjadi kekasih yang keren dan suami yang baik."
"Huh, percaya diri over dosis!" Ucap Fierra sebal, tapi tak ayal langsung memeluk Adit dan tentu di balas dengan senang hati oleh laki laki itu.
"Jangan ngambek lagi ya, aku nggak kuat sayang." Fierra kembali mengangguk dalam dekapan Adit.
"Apa lamaranmu juga kekanakan seperti itu?"
Wisnu mengalihkan tatapannya dari dua sejoli di depan sana ke arah kanannya. Ibunya bersama tantenya ternyata sudah berada di sampingnya.
"Mama..."
"Pernikahan macam apa yang kalian gelar?" Melinda kembali bertanya dengan nada sinis.
Ini pertemuan pertama antara ibu dan anak itu, setelah lima bulan berlalu.
"Kau lebih memilih meninggalkan orang yang sudah melahirkanmu. Benar benar luar biasa."
"Ma..." Hanya itu yang bisa dibucapkan Wisnu.
"Ternyata Ibumu ini tidak lebih penting dari pelayan kafe itu ya."
Wisnu menghela nafasnya, untung istrinya sedang ngobrol bersama nyonya Sastrowardoyo, jadi tidak perlu mendengar kalimat pedas mamanya.
"Mama dan dia adalah orang yang sangat penting dalam hidupku."
"Wisnu...kau jangan pernah berpikir kalau mama dan istrimu itu bisa hidup damai dan saling mendukung."
"Kalau memang tidak bisa hidup dengan damai, maka saling mengabaikan saja, sepertinya tidak buruk." Balas Wisnu tenang.
"Kau benar benar serius untuk hidup bersama pelayan itu selamanya?" Ucap Melinda tak habis pikir. "Kau yakin, Nak?"
"Benar, orang yang akan menua bersamanya adalah aku." Wisnu menatap hangat ibu kandungnya itu. "Dan yang paling penting aku mencintainya. Jadi aku akan menggunakan cinta seumur hidupku untuk membahagiakan istriku."
"Wisnu...kau semakin mirip dengan papamu." Melinda tersenyum kecut.
"Tidak ma, aku tidak ingin seperti papa yang tidak bisa mempertahankan wanita yang di cintainya. Dan lebih memilih kesepian bersama wanita yang di cintai keluarganya."
Melinda menatap putranya dalam, kalimat yang di ucapkan anak semata wayangnya itu benar benar membuatnya teringat suaminya.
Suami yang bahkan tidak pernah mencintainya.
Bukan tidak hanya tidak mencintainya, mungkin juga tidak pernah memikirkannya.
"Ma...Elvina adalah kebahagiaanku, tidak bisakah mama menerimanya?" Ucap Wisnu lemah.
Melinda tidak menjawab kata kata anak laki lakinya itu, matanya menatap lembut sang anak tunggal.
Hingga suara lembut mengalihkan pandangannya.
"Mas..."
"Ya sayang." Tegas Wisnu membalas panggilan istri tercintanya. "Kamu lelah? mau pulang sekarang?"
Elvina terdiam menatap wanita paruh baya yang ada di sebelah suaminya.
Mertuanya.
"Mira, mari kita kembali ke rumah." Melinda pergi meninggalkan anak dan menantunya itu.
Menantunya?
Sudah ikhlaskah dia menerima gadis itu menjadi menantunya.
__ADS_1
Entahlah...ada rasa ikhlas tapi tak rela dalam batinnya.