Aku, Kamu Dan Mama

Aku, Kamu Dan Mama
Ungkapan hati


__ADS_3

Melinda duduk di ruang kerjanya bersama Mira.


Dia sibuk memperhatikan setiap lembar foto yang di dapat Mira empat hari yang lalu.


"Siapa laki laki itu?" Melinda membuka suara setelah meletakkan foto foto itu di meja.


"Ferdi Juan Sastrowardoyo. Usia 26 tahun, dia seorang Chef." Mira menjelaskan.


"Sastrowardoyo?"


"Dia putra sulung Rahadi Sastrowardoyo, si raja kuliner. Dan dia menyukai pelayan itu sejak 5 tahun yang lalu." Mira menjelaskan kembali.


"Hahahaha..." Melinda tertawa hambar "Jadi dia saingan putraku?" Ucap Melinda tak percaya dan di balas anggukan tegas Mira.


"Apa tanggapan keluarga Sastrowardoyo tentang gadis itu?"


"Awalnya Tuan Rahadi dan istrinya ingin mengadopsi gadis itu menjadi anaknya. Tapi mereka mendapati fakta bahwa anak laki laki mereka jatuh cinta pada gadis itu. Jadi mereka memutuskan untuk membatalkan adopsi dan mendukung penuh putra mereka mengejar gadis itu."


"Wah kejutan! Benar benar keluarga sempurna."


"Lalu ini apa?" Melinda berkata sambil menujukkan foto empat orang, yang tak lain adalah Wisnu, Pevita, Adit dan Maudi.


"Mereka ada di tempat yang sama malam itu. Lebih tepatnya mereka mengikuti gadis itu." Jelas Mira.


" Sepertinya Wisnu benar benar menyukai gadis itu, mbak. Tidak bisakah mbak memberikan dukungan untuk Wisnu?"


"Aku selalu mendukungnya, Mira."


"Mendukungnya? Mendukungnya memenuhi keinginan mbak?" Mira cukup berani mengatakan itu, karna dia bukan orang lain bagi Melinda. Mira adalah adik serta pendukungnya yang setia.


"Mira....!" Tekan Melinda.


"Jangan egois Mbak..." Ucap Mira lemah.


Dia sangat kenal bagaimana Melinda.


Sebenarnya Melinda adalah wanita yang baik dan pengertian. Tapi semua berubah semenjak kematian sang suami, Abimana Antara, 13 tahun yang lalu.


"Mira...sudah berapa lama kamu mengikutiku?" Tanya Melinda dengan suara lemah.


"Aku datang saat umurku 13 tahun, mas Anwar 15 tahun, dan mbak Melinda pada saat itu 17 tahun." Jawab Mira menerawang jauh kenangan mereka. " Saat itu ayah akan mengurus usaha yang ada di Jepang, karna takut mbak kesepian ayah mengadopsi aku dan mas Anwar."


"Saat aku pertama bertemu dengan kalian, aku sangat senang. Akhirnya punya saudara. Lebih senang lagi saat aku bertemu dengan mas Bima. Keramahan dan sikap hangatnya selalu membuatku berbunga bunga. Semuanya sangat indah dan sempurna saat itu. Sampai perempuan itu datang menghancurkan semuanya. Mas Bima dan Anwar pergi meninggalkanku karna perempuan itu!"


"Mbak...Wisnu tidak akan meninggalkan kita."


"Perempuan miskin itu biasanya mengandalkan ketidak berdayaannya untuk memikat pria. Pura pura menyedihkan agar mendapat sandaran dari laki laki.


Wisnu itu seperti mas Bima, gampang bersimpati." Ungkap Melinda.


"Sepertinya mbak salah paham tentang gadis itu."


"Tidak Mira! Aku sangat paham. Lihatlah siapa saja yang coba dia pikat dengan hidup menyedihkannya itu? Putra Rahadi Sastrowardoyo, kemudian putra tunggalku." Ucap Melinda tenang. "Dan sekarang aku yakin, gadis itu masih sibuk menimang nimang antara Wisnu dan Chef itu. Siapa yamg lebih menguntungkan!" imbuh Melinda dengan senyum remehnya.


"Tidak bisakah mbak percaya dengan keinginan Wisnu kali ini?"

__ADS_1


"Itu bukan keinginan hati Wisnu yang sebenarnya. Aku yakin itu hanya rasa penasaran sesaat. Dengan kehadiran Pevita yang selalu ada di sisinya, cepat atau lambat perasaan itu pasti akan hilang." Yakin Melinda.


*


*


*


Sementara itu di kafe, empat orang duduk bersama. Mereka seperti dua pasangan yang sedang kencan bersama.


"Jadi dia orangnya?" Tanya Ferdi memecah keheningan.


"Mereka saling mencintai, tapi terhalang harga pakaian." Ucap Pevita sok menjelaskan.


Sementara yang bersangkutan, Wisnu dan Elvina hanya membisu saling menatap.


"Kamu siapa?" Ferdi bertanya heran pada sosok wanita yang duduk dibsebelah Wisnu.


"Akhirnya kamu bicara juga padaku." Ucap Pevita tersenyum lega dan bahagia tentunya. Akhirnya pria di depannya penasaran tentang dia.


"Aku Pevita. Dan yang paling penting.... Aku menyukaimu!" Antusias Pevita dengan wajah berbinar.


"Hah?"


"Eh?"


"Pevita?"


Itulah tanggapan Ferdi, Elvina dan Wisnu.


Bukannya dia perempuan yang suka mas Wisnu? Elvina bertanya dalam hati.


Pevita ini! janjinya mau ngomporin Elvina biar menerima cintanya. Lah ini malah menyatakan cintanya sendiri. Perusak suasana! Wisnu memaki dalam hati.


"Kalian tidak dalam tahap pacaran? Kalian cocok loh." Ucap Ferdi.


"Wisnu nolak aku, kamu di tolak Elvina, bukankah kita lebih cocok bersama?" Jelas Pevita dengan senyum manisnya.


Dan itu membuat Elvina dan Wisnu tersenyum geli.


"Pevita...bisakah kamu bawa Ferdi pergi dari sini dulu? Aku ingin bicara berdua dengan Elvina." Ucap Wisnu memohon pada Pevita.


Bisa bisa hancur rencananya untuk menyatakan perasaannya lagi pada Elvina, kalau dua pengganggu ini masih disini.


" Oke! Ayok!" Pevita langsung menarik tangan Ferdi, Menuntunnya keluar dari kafe meninggalkan Wisnu dan Elvina.


"Kamu masih mau menolakku, Elvina?" Tanya Wisnu setelah kepergian Pevita dan Ferdi.


"Aku nggak cantik seperti mbak Pevita."


"Aku tau."


"Aku juga nggak kaya."


"iya, aku tau."

__ADS_1


"Pekerjaanku juga cuma pelayan."


"Itu juga aku tau."


"Jadi kenapa kamu masih suka sama aku?"


"Itulah yang membuatku bingung! Kamu miskin, jelek dan cuma pelayan. Tapi kamu berani membuat aku jatuh cinta. Nyalimu benar benar besar membuat pewaris ANTARA GROUP tergila gila padamu." Wisnu mengucapkan dengan tegas dan tenang.


Sementara Elvina berdecak sebal,


Ini mau meyakinkan Elvina menerima cintanya atau malah mengejek?


"Jadi, Elvina...jangan membuatku semakin gila dengan menolakku lagi. Kita punya perasaan yang sama. Jadi, mari bersatu menuju kebahagiaan."


"Kamu yakin kita akan bahagia jika bersama?"


"Pasti!"


"Kamu nggak akan buang aku suatu saat nanti kan?"


"Nggak!"


"Baiklah, mari bersama."


"Akhirnya..." Wisnu mendesah lega. Dia pun mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya. Membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya, lalu memakaikannya di jari manis Elvina.


"Apa ini sebuah lamaran?" Tanya Elvina masih menatap cincin di jarinya tak percaya.


"Anggap seperti itu." Wisnu menjawab sambil menggenggam tangan Elvina.


"Kamu melamarku dengan mengataiku jelek, miskin dan pelayan? Benar benar lamaran yang buruk! Dan bodohnya aku menerimanya."


"Aku memang mencintaimu. Tapi kamu pelayan, miskin dan jelek...itu memang fakta."


"Aku tidak jelek!"


"Kamu mau bilang kamu cantik?"


"Aku...aku hanya tidak cantik."


"Sama saja.."


"Dasar tidak romantis!"


"Jadi kamu ingin lamaran yang romantis?"


"Tentu saja! Tapi sayangnya itu tidak akan terjadi. Karna aku sudah memakai cincin ini." Elvina mengangkat tangannya, menunjukkan cincin di jari manisnya.


"Baiklah, begini saja...hal romantis apa yang kamu inginkan? Katakanlah..." Tawar Wisnu dan di sambut senyuman oleh Elvina.


"Memberimu bunga mawar setiap pagi? Kamu mau aku melakukan itu?" Ucap Wisnu tersenyum manis.


"Wah...kamu mau membuatku sarapan bunga mawar setiap pagi? Aku bukan kuburan!"


"Jadi?"

__ADS_1


"Aku akan memikirkannya mulai sekarang. Kamu harus mengabulkannya nanti. Ingat itu!" Final Elvina dan di angguki oleh Wisnu


__ADS_2