
"Aku baik baik aja, Fierra." Elvina berdecak sebal lewat sambungan ponselnya.
Fierra adalah sahabat Elvina sejak masa SMA.
Fierra jugalah yang memberikannya pekerjaan di D'ANGEL, kafe orang tua Fierra.
"Jangan bilang rindu, rindu itu berat, biar pemerintah aja yang tanggung. Hahaha..." Ucap Elvina di iringi tawa gelinya menanggapi ucapan sahabatnya di ponselnya.
"Kamu mau ajak aku pindah? di apartemen kamu?" Tanya Elvina seiring langkahnya yg terhenti karna ajakan sahabatnya itu.
Sahabatnya itu sungguh baik, menerima kehadirannya tanpa syarat, bahkan memberinya pekerjaan dengan gaji yang lumayan.
Fierra dan keluarganya benar benar luar biasa baiknya, pokoknya bener bener calon penghuni surga jalur undangan deh.
"Emangnya kapan kamu balik kemari?" Tanyanya lagi.
"Besok? ya udah besok aku tunggu di kafe. Aku akan beres beres barang aku nanti. Kamu hati hati di situ, jaga kesehatan, bye..." Tutup Elvina.
Tapi ketika ia melangkah ke depan, sesosok manusia tampan di depannya membuatnya terkejut.
"Yaa Tuhan...." Elvina mengusap dadanya, sementara orang yang mengejutkannya terlihat tenang.
"Pacar kamu yang telpon?" Tanya pria tampan itu penasaran, menatap netra Elvina lekat.
"Bukan!" Elvina menjawab singkat.
"Temen aku yang telpon tadi, dan dia perempuan. Aku nggak punya pacar." Ucap Elvina lagi, seolah menjelaskan kesalah pahaman, tapi kemudian Elvina merutuki dirinya sendiri.
Kenapa aku harus menjelaskan ke dia?
Seolah aku takut dia marah, kecewa terus salah paham.
Ya Tuhan...kami nggak sedekat itu.
Elvina...kamu memalukan!
Makinya terus menerus.
"Ayo makan malam!" Ajak pria itu.
"Aku udah makan."
"Ayo ikut aja!" Ajak pria itu sembari memegang tangan Elvina dan mengajaknya berjalan.
"Kenapa aku harus ikut?"
"Supaya kita lebih dekat." Setelah mengatakan itu, Wisnu mengajak Elvina masuk mobil mahalnya.
Tidak ada percakapan antara mereka berdua.
Hanya suara musik di dalam mobil itu yang mendominasi.
Berdua bersamamu
mengajarkanku apa artinya kenyamanan
kesempurnaan cinta
Begitulah Rizky Febian berkata lewat lagunya.
Menemani pendengaran Wisnu dan Elvina.
__ADS_1
Seolah mengerti perasaan Wisnu saat ini.
Anak Sule emang paling ngerti suasana saat ini.
Itulah batin Wisnu sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Elvina sampai tak berkedip memandangnya.
Buset...Kok nggak ada jelek jeleknya sih nih laki?
Aduh...Mendadak hati ini kok jadi seperti margarin dalam tevlon panas sih?
Elvina.. bertahan..bertahan...
"Mau sampe kapan kamu mandangi aku?" Ucap Wisnu membuyarkan pikiran Elvina.
"Makin di pandang makin tampan. Udah ayok kita turun. Aku udah laper." Ucap Wisnu lagi membuat Elvina berdecak sebal dan malu bersamaan.
Malu tau! Ketahuan!
Wisnu terus menggenggam jemari Elvina masuk ke dalam restoran mahal.
Baru mereka duduk, suara tak asing menyapa mereka.
"Kalian kencan?"
Wisnu dan Elvina mendongak menatap sang pemilik suara.
"Pevita? Kamu sendirian?" Seperti biasa, bukannya menjawab Wisnu balik bertanya.
"Tadinya mau ajak kamu, tapi kamu udah sama yang lain." Pevita menjawab dengan wajah yang seolah sedih.
"Kalian makan berdua aja, aku permisi." Suara Elvina membuat Wisnu dan Pevita menatapnya.
Pevita pun merasa bersalah, bagaimanapun tadi dia hanya bercanda.
Apa Wanita ini cemburu? pikirnya.
Berarti mereka punya perasaan yang sama.
"Maaf mbak...saya yang akan pergi." Ucap Pevita merasa bersalah.
"Boleh saya bertanya?" Ucap Elvina menatap Pevita, sementara Wisnu sudah melepas cekalannya.
"Ya?" Pevita menjawab dengan bingung atas pertanyaan Elvina.
Dia memandang Elvina dan Wisnu bergantian.
"Mbak tau berapa harga baju yang di pakai mas Wisnu?"
"Hah?" Pevita masih tidak mengerti dari pertanyaan Elvina, sementara Wisnu menghela nafas panjang.
"Elvina..." Panggil Wisnu lemah, seolah tau arti dari pertanyaan Elvina.
"Itu pakaian edisi minggu lalu milik Desainer Paris, harganya sekitar 30 juta." Ucap Pevita mencoba menjelaskan meski sebenarnya dia masih bingung.
Mereka kenapa sih?
Ada apa dengan baju itu?
"Lalu celananya?" Tanya Elvina lagi.
__ADS_1
"Celananya? O...itu juga dari Paris, edisi bulan lalu, harganya...45 juta. Bener nggak sih Wis?" Seolah tak yakin dengan harganya, Pevita bertanya pada Wisnu, tapi yang di tanya hanya diam sambil terus memandang Elvina dengan tatapan seolah berkata,
Ku mohon Hentikan.
Sebenarnya ada apa sih ini?
Pevita masih belum mengerti.
"Berapa harga gaun yang mbak pakai?" Tanya Elvina tenang.
"Ini? Ini hanya 30 juta." Jawab Pevita.
"Ini sebenernya ada apa sih? Kenapa kita membahas harga pakaian? Kalian mau bisnis pakaian impor?" Pevita yang bingung terus bertanya.
"Baju ini.." Ucap Elvina sambil memegang T shirt yang di pakainya. "Harganya 75 ribu, lalu..celana ini.." ucapnya lagi sambil tangannya menyentuh celana jeansnya "Harganya 180 ribu."
Pevita terperanjat sadar dengan apa yang coba di sampaikan Elvina.
Ternyata gadis itu mencoba mengungkapkan bahwa dunianya berbeda dengan Pevita dan Wisnu.
Dia hanya gadis miskin.
Pevita merasa bersalah dan takjub.
Dia sekarang paham, Elvina menolak perasaan Wisnu, Elvina membandingkan gaya hidup mereka yang berbeda.
"Cinderella juga hanya upik abu, tapi di cintai pangeran." Ucap Pevita seolah memberi solusi antara Wisnu dan Elvina.
"Aku nggak punya buah labu yang bisa berubah jadi kereta kencana, untuk bisa pergi ke pesta pangeran.
Lagi pula Raja dan Ratu belum tentu suka dengan pilihan pangeran." Ucap Elvina kemudian berlalu meninggalkan mereka.
Pevita sekarang mulai mengerti, andai mereka bersama belum tentu tante Melinda merestui hubungan mereka.
Miris sekali memang cerita cinta kalangan atas.
Mereka selalu menekankan pada bibit, bebet dan bobot.
Seolah orang miskin itu tidak berkelas.
Tidak selevel. Padahal semua orang kan punya perasaan. Lagian siapa yang mau terlahir jadi orang miskin?
"Ternyata ini yang kamu maksud? Elvina berbeda dengan wanita wanita yang ada di sekitarmu?" Suara Pevita memecah keheningan setelah kepergian Elvina.
"Maaf ya? Tadinya aku hanya ingin menyapa, tapi malah menghancurkan acara kalian." Sesal Pevita lagi.
"Kamu masih terpesona sama aku?" Tanya Wisnu.
"Hei tuan Wisnu Antara Yuda! Saya sudah move on loh." Pevita berdecak sebal.
Narsis sekali laki laki ini!
Tapi memang mengagumkan sih.
Pevita...Hayo Sadar!
Jangan jatuh dalam pesona laki laki ini!
" Baiklah...aku pulang duluan." Wisnu pun berlalu meninggalkan Pevita.
Sementara Pevita hanya bisa memandang kepergian Wisnu dengan perasaan anehnya.
__ADS_1
"Kenapa aku nggak kecewa ya? Aku juga nggak sakit hati melihat kebersamaan mereka tadi? Aku malah ingin mendukung mereka, menyemangati mereka, dan aku merasa sedih kalau mereka nggak bisa bersama. Ya Tuhan...Sebenarnya seberapa miskin Elvina sih?"