
Elvina terdiam di atas ranjangnya, matanya menatap langit langit kamarnya.
Sementara sang suami hanya menatapnya dalam diam, tidak berani bersuara.
Istri dari Wisnu Antara Yuda itu jadi pendiam setelah pulang dari pesta pertunangan Ferdi dan Pevita.
Tidak, lebih tepatnya setelah bertemu dengan sang mertua yang tak pernah menganggapnya.
Entah sampai kapan ibu kandung dari suami tercintanya itu bisa dengan lapang dada merestui pernikahan mereka.
Apa sampai anak dalam kandungannya itu lahir?
Atau malah sampai adik dari anak yang ada dalam kandungannya lahir lagi?
Akkhh entahlah...
Tak terasa airmata Elvina menetes, tangannya mengelus perutnya yang sedikit membucit.
Wisnu, laki laki itu reflek menegakkan tubuhnya.
Menghapus airmata sang istri, membawanya ke dalam pelukan hangatnya.
Isakan sang istri mulai terdengar.
Nyeri, itulah yang di rasakan Wisnu.
"Sayang...ada yang kamu inginkan." Tanya Wisnu pada sang istri, meski ia tahu istrinya tidak sedang mengidam.
"Aku ingin restu mama kamu mas." Jawaban sang istri membuat Wisnu terdiam sesaat. Bingung harus menjawab apa, jujur dia juga menginginkan restu dari ibu kandungnya itu. Bahkan melebihi keinginan istrinya.
"Apa aku benar benar nggak pantas buat kamu mas?" Lirih Elvina.
"Kamu ngomong apa sih?" Wisnu masih mendekap istrinya.
"Gara gara aku, kamu dan mama jadi seperti orang asing. Bahkan bertengkar." Sesal Elvina.
"Kami tidak bertengkar." Wisnu mengusap punggung istrinya. "Jangan merasa bersalah, ikuti alur aja. Yakinlah, kebahagian itu diam diam selalu bersama kita."
Elvina hanya bisa mengangguk sambil terisak di dalam pelukan suaminya.
"Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia." Sambung Wisnu lagi.
"Terima kasih masih mempertahankanku, terima kasih tidak membuangku sampai sekarang." Ucap Elvina yang di balas ciuman hangat dibpuncak kepalanya oleh suaminya. "Mas...mari tetap berjuang bersama mendapatkan restu dari mama."
"Aku sudah berjanji akan membuatmu bahagia, dan sekarang pun aku masih memperjuangkan kebahagiaan itu." Elvina mendongakkan kepalanya, menatap sang suami. "Restu mama, itukan kebahagiaan kita?" Elvina mengangguk.
Seminggu berlalu setelah kejadian pertunangan Ferdi dan Pevita.
Hari hari itu di lalui Elvina dan Wisnu dengan baik.
Tapi hari ini, tepat hari minggu, pukul 10.16 WIB, mereka kedatangan tamu.
__ADS_1
Mira, adik dari mama Wisnu.
"Lusa, datanglah ke rumah utama. Kunjungi mama kalian." Mira membuka percakapan setelah lebih dari lima belas menit mereka saling diam.
"Hah?"
Pasangan suami istri itu masih bingung, tidak mengerti arti dari ucapan Mira.
"Berdamailah."
"Mama yang meminta kami berkunjung?"
"Sepertinya begitu."
"Baiklah, kami akan berkunjung lusa. Sekalian makan siang bersama." Janji Wisnu.
Seperti yang sudah di sepakati, hari ini Wisnu dan Elvina datang mengunjungi Nyonya besar Antara di kediamannya.
Mira langsung membawa pasutri itu ke ruang makan keluarga Antara.
Disana terlihat Melinda Dian Antara, duduk dengan anggun di kursi.
"Duduklah." Melinda bersuara, setelah melihat putranya tiba di hadapannya.
"Makanlah, mama sudah lapar." Ucap Melinda lagi, sementara mereka hanya diam, mematuhi perintah wanita paruh baya itu.
Setelah selesai dengan santap siangnya, mereka bergeser pindah ke ruang keluarga.
"Jadi kapan kalian mengadakan resepsi?" Ibu dari Wisnu memulai obrolan. Tidak ada yang menyahut, mereka diam dan saling pandang.
Kapan resepsi?
Ini maksudnya?
"Jangan mempermalukan Keluarga Antara, menikah tanpa pesta." Cibir sang mama. "Kalian pikir keluarga Antara semiskin apa? sampai tidak bisa mengadakan resepsi pesta pernikahan kalian?"
"Ma..." Wisnu bingung harus berkata apa begitu juga istrinya yang sudah meneteskan airmatanya. Dia terharu.
Ini sebuah restu kan?
"Jangan bilang kalian tidak ingin sebuah pesta?" Melinda menyipitkan matanya. "Kau itu pewaris tunggal ANTARA GROUP, masa tidak ada pesta."
"Mama sudah merestui kami?"
"Mama menerimanya masuk kedalam keluarga Antara. Tapi belum merestui kalian." Balas Melinda. "Ingat, mama menerima bukan merestui."
Wisnu tersenyum menanggapi kata kata ibunya, begitu juga Elvina.
Akhirnya...
Entahlah, entah apa beda antara menerima dan merestui versi Nyonya Melinda.
__ADS_1
Yang penting itu adalah sebuah kemajuan untuk hubungan mereka kedepannya.
"Pindahlah kemari hari ini juga." Melinda kembali memberi perintahnya. "Biar Mira yang mengurus barang kalian."
Wisnu dan Elvina kompak mengangguk.
"Bagaimana dengan bulan depan?" Pasutri itu bingung dengan kalimat yang di ucapkan ibu mereka. "Pesta pernikahan kalian." Jelas Melinda lagi.
"Kami bukan tidak menginginkan pesta, tapi keadaan Elvina sedang tidak mendukung untuk menggelar pesta, ma." Jawaban Wisnu membuat sang mama mengeryitkan dahi. "Elvina sedang hamil tiga bulan, ma. Dia jadi cepat lelah."
"Baiklah, pesta kita tunda saja sampai anak kalian lahir." Final Nyonya Melinda. Sementara pasutri itu kembali mengangguk takzim.
"Apa kau mengalami mual atau hal hal seperti mengidam?"
"Bukan Elvina yang mengalaminya, ma. Tapi aku." Gerutu Wisnu.
"Jadi kau yang tersiksa?" Ejek sang mama.
Wisnu mengangguk lemas.
"Kau tidak menginginkan sesuatu hari ini?" Tanya Melinda menatap menantunya.
"Aku?" Tanya Elvina ragu.
"Iya." Jawab Melinda membuat Elvina bingung.
Dia bingung, karna jujur dia tidak menginginkan apa apa hari ini. Ya kecuali restu mertuanya. "Misalnya pelukkan dariku." Imbuh Mertua Elvina.
Wisnu dan Mira tersenyum samar. Nyonya besar Antara ini ingin memeluk menantunya yang sedang hamil rupanya. Tapi gengsi mau memeluk duluan.
Dan sepertinya si menantu polos tidak mengerti kode si mertua.
"Sayang...bukannya kamu bilang tadi di rumah ingin memeluk mama kalau mama mau menerimamu?" Celetuk Wisnu sambil mengedipkan mata pada istrinya.
"I..iya.." Meski bingung, Elvina menghambur memeluk mertuanya. Dan di sambut hangat oleh ibu mertuanya itu.
"Mama tidak mau cucu mama ileran kalau lahir nanti, jadi mama terpaksa mau memelukmu."
"Iya ma, aku yang memaksa mama memelukku." Elvina masih dalam pelukkan mertuanya. "Apa mama juga mau tidur siang bersamaku? aku ngantuk."
Nyonya Melinda mengurai pelukannya, menatap lekat istri putranya. "Jangan kurang ajar! Aku mau menerimamu bukan berarti kau bisa seenaknya meminta ini dan itu." Elvina menunduk sedih mendengar kata kata mertuanya. "Tapi karna kau sedang mengidam tidur siang bersamaku, baiklah...mama tidak akan membiarkan cucu mama ileran."
Seketika senyuman terbit diwajah ketiga orang itu.
Mama masih aja gengsi. Cibir Wisnu dalam hati.
"Wisnu, siang ini dan nanti malam istrimu akan tidur bersama mama."
"Hah? nanti malam juga?" Wisnu benar benar tidak percaya dengan kata kata mamanya.
Baru tinggal disini setengah hari saja, mamanya sudah mau mengambil alih istrinya.
Apa maksudnya coba?
"Iya, itu permintaan anak kalian. Ya kan Elvina? Kamu ngidam itukan?" Tekan Nyonya Melinda.
Elvina menatap suaminya tak enak. "Iya ma." Jawab Elvina cari aman.
Dia tak ingin cari masalah, baru saja di terima oleh mertua, masa mau membantah? ya nggaklah.
__ADS_1
Maaf ya mas... Ucap Elvina lewat matanya menatap suami tercinta.
"Mira, urus semua keperluan Wisnu dan istrinya." Perintah Melinda pada adiknya. "Kamu Wisnu, kembalilah ke kantor." Kali ini perintah di berikan pada putranya. "Elvina, ayo kita ke kamar mama istirahat, cucu mama pasti lelah." Menggandeng tangan Elvina, Melinda menuntun sayang menantunya itu menuju kamarnya.