Aku, Kamu Dan Mama

Aku, Kamu Dan Mama
Mama dan kenangan


__ADS_3

Melinda duduk d iruang kerjanya di temani Mira. Melinda melihat satu persatu lembar foto yang di berikan Mira.


"Jadi...gadis itu memberikan semuanya ke panti asuhan?" Melinda bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari foto yang ada di tangannya.


"Iya, dia menyumbangkan uang 100 juta yang mbak berikan di panti asuhan." Jawab Mira tegas. "Dia gadis baik, Mbak. Restuilah mereka."


"Awalnya aku bahagia, Wisnuku bisa menemukan seseorang yang di cintainya." Melinda menghela nafasnya kasar. "Aku akan merestui mereka, itulah pikirku waktu itu. Tapi, saat aku melihat foto gadis itu yang kau berikan, aku merasa tidak asing." Melinda menatap Mira. "Dan saat aku melihatnya di kafe, mata itu...tatapan gadis itu mengingatkanku dengan istri pertama Mas Bima." Mira menatap Melinda dengan iba, setelah mendengar pengakuan Melinda.


"Aku pikir aku sudah melupakan hukuman itu. Tapi ketika aku melihat mata gadis itu, aku kembali teringat dosa dosaku pada Elinna." Aku Melinda, matanya sudah mengeluarkan air.


"Aku masih ingat, saat aku menikah di depan jenazah ibu mertuaku, wanita itu diam di sudut ruangan, menangis dalam diam." Melinda menerawang kejadian 28 tahun silam. "Tapi dia masih bisa tersenyum hangat, saat Mas Bima menatapnya."


Mira masih bungkam mendengar pengakuan Melinda. Dia pun mencoba mengingat wajah wanita itu, wanita yang sangat di cintai kakak iparnya, Elinna.


Ya, dia baru sadar, tatapan mereka hampir sama.


Itu...tidak mungkin!


Mira menggelengkan kepalanya menghalau pikiran anehnya.


"Aku masih ingat syarat yang ku ajukan pada Ayah mertuaku, Mir." Melinda mengepalkan tangannya yang gemetar di atas pangkuannya. "Hanya aku yang akan di kenal orang sebagai Nyonya Abimana Antara, dan melahirkan keturunannya." Airmata kembali mengaliri wajah Melinda, tapi tidak ada isakan.


"Dan ketika Wisnu lahir, aku meminta Ayah mertuaku untuk memindahkan istri pertama Mas Bima dari rumah utama keluarga Antara, dan mertuaku mengabulkannya." Melinda menahan rasa sesak di dadanya. "Mas Bima tidak menolak, dan wanita itu, istri pertama Mas Bima masih bisa tersenyum hangat, padahal sudah mengalami ketidak adilan."


"Mbak..." Hanya kata itu yang bisa di ucapkan Mira.


"Tapi akhirnya mereka bercerai. Wanita itu meninggalkan Mas Bima. Tapi tetap saja aku kesepian, Mir. Mas Bima memang mengabulkan semua kemauanku." Melinda masih merasakan tubuhnya gemetar. "Wanita itu tidak mengandung, dan pindah ke apartemen, tapi kenapa aku tidak merasa bahagia? Aku sudah menyulitkan kehidupan mereka. tapi seolah mereka tidak peduli."


"Mbak, sebenarnya aku juga merasa berdosa pada Mbak Elinna." Ucap Mira. "Siang itu, setelah seminggu perceraian mereka. Aku melihat Mbak Elinna keluar dari ruangan dokter Maria, dokter kandungan."


"Apa maksudmu Mir?" Tanya Melinda mulai gelisah.


"Mbak Elinna hamil 9 minggu."


"Kenapa tidak mengatakannya dari awal?"


"Maaf, Mbak...."


"Apa Mas Bima tau mantan istrinya itu mengandung?" Tanya Melinda. "Bagaimana ini, Mir? Saat kecelakaan itu terjadi, Elinna tidak membawa anak mereka kan?"


Mira hanya bisa menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Melinda.


"Mir....jangan bilang kalau gadis itu, Elvina....anak mereka. Tatapan mata gadis itu mirip Elinna." Duga Melinda.


Bagaimana ini? Tidak mungkinkan?

__ADS_1


"Tidak, mbak. Elvina di temukan di depan panti dalam keadaan tidak sadarkan diri sendirian, dan saat itu usianya enam tahun. Gadis itu mengatakan orang tuanya meninggal setahun sebelumnya. Orang tuanya tidak meninggalkan harta benda sama sekali."


"Jika benar bagaimana, Mira?"


"Tidak, mbak! Jika benar, gadis itu tidak akan tinggal di panti asuhan, dia akan berada di rumah mbak Elinna, atau ikut kecelakaan bersama kedua orang tuanya."


"Iya, kau benar."


*


*


*


*


Melinda kembali mengenang kejadian masa lalu.


Setelah kepergian Mira tadi, Melinda masuk ke kamarnya. Berbaring di kasur empuknya, menatap langit langit kamarnya.


"*Kau harus menikah dengan Melinda!" Tekan Yuda Antara, ayah Abimana Antara.


"Aku sudah menikahi Elinna, ayah. Bagaimana bisa aku menikahi Melinda?" Tolak Abimana Antara.


"Ayah..." Abimana tidak tau harus berkata apa lagi. Dia sangat mencintai istrinya, walau tanpa restu orang tuanya dia tetap menikahi Elinna.


"Tidak masalah, mas. Menikahlah! Aku akan tetap berada di sisimu." Elinna menenangkan suaminya, memberikan izin.


"Baiklah...." Abimana pasrah.


"Aku mau menikah dengan Mas Bima, tapi ada syaratnya." ucap Melinda.


"Katakan, Nak." Ucap Yuda Antara lembut.


"Aku mau seluruh dunia tau, hanya aku istri dari seorang Abimana Antara. Dan hanya aku yang boleh melahirkan anaknya." Tegas Melinda.


Sementara Abimana menatap Melinda tak percaya, wanita yang di kenalnya baik itu, bisa berbuat kejam pada istrinya.


"Baiklah, dengar Elinna...kau tetap boleh tinggal di samping anakku tanpa perhatian publik. Dan kalau aku dengar kau mengandung, gugurkan saja! Atau kau bisa pergi dari sisi anakku, dengan cara perceraian." Jelas Yuda Antara tegas.


"Ayah.......?" Abimana sudah ingin protes, tapi gelengan sang istri dan senyum teduhnya menghentikan Abimana.


"Aku setuju. Tidak masalah, mas. Yang penting kita tetap bersama. Tidak hanya kita yang bahagia, tapi juga seluruh keluarga kita juga bahagia. Itu sudah cukup. Jangan serakah." ucap Elinna, tersenyum menatap sang suami*.


*

__ADS_1


*


*


"*Ayah...cucumu sudah lahir, beri dia kehidupan yang benar." Ucap Melinda setelah sebulan melahirkan Wisnu Antara Yuda, putra pertamanya dengan Abimana.


"Apa maksudmu, Nak?"


"Aku ingin anakku hanya mengenal aku sebagai satu satunya ibunya." Kata kata Melinda membuat mereka saling pandang. "Elinna...bisakah kamu pindah dari rumah utama?"


"Tentu, Bima....bawalah istri pertamamu pindah ke apartemenmu. Kalian boleh bersama dua kali seminggu." Sang ayah memberi perintah.


"Apa itu tidak keterlaluan, ayah?" Abimana benar benar merasakan sesak. Lagi lagi istri pertamanya mendapat ketidak adilan di sini.


"Tentu saja tidak. Ya kan Elinna?" Balas sang ayah, menatap istri pertama putranya.


Elinna tersenyum mengangguk. "Iya, Ayah. Kita masih tinggal didunia yang sama, Mas. Kita masih bisa bertemu." Elinna menatap hangat suaminya. Menyembunyikan rasa sakit dan kecewanya.


Tidak masalah, yang penting dia masih mendapatkan cinta dan perhatian sang suami. itulah pikirnya.


*


*


*


"Apa ini?" Abimana menanyakan berkas yang di berikan Elinna. Hari ini Elinna datang ke rumah utama keluarga Antara, setelah 4 tahun keluar dari kediaman ayah mertuanya.


"Mari kita bercerai, Mas." Ucap Elinna tegas. membuat Abimana terkejut. Dan tidak hanya dia saja yang kaget dengan ajakan Elinna, Melinda dan Tuan besar Antara pun kaget.


"Kenapa?" Hanya itu yang bisa di tanyakan Abimana.


"Aku lelah, lepaskan aku, Mas...." Jawab Elinna lembut menatap manik suaminya.


Abimana menghela nafasnya kasar. "Baiklah. Aku melepaskanmu istriku."


"Terima kasih suamiku, maaf...maafkan aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi di sisimu. Tersenyumlah, berbahagialah walau tidak ada aku di sampingmu."


"Kamu juga harus lebih bahagia mulai sekarang. Sudah cukup hanya membahagiakan orang lain." Abimana menatap sayang Elinna, tangannya mengelus lembut pipi wanita yang di cintainya itu. Elinna menjawab dengan anggukan.


Abimana menanda tangani berkas perceraiannya dengan Elinna. Pria itu menangis tanpa suara, begitu juga Elinna. Melinda dan Yuda Antara hanya bungkam, tidak ingin ikut campur.


"Aku pergi." Elinna tersenyum menatap semua orang yang ada di ruangan itu.


"Berhati hatilah. Ingat, bahagiakan dirimu sendiri sebelum orang lain." Abimana berpesan dan hanya di balas anggukan Elinna sebelum dia berlalu pergi.*.

__ADS_1


__ADS_2