
Wanita paruh baya itu duduk bersimpuh di lantai,
Tidak ingin percaya ucapan yang tadi ia dengar.
Ini benar benar jauh dari bayangannya.
"Nyonya, anda baik baik saja?" Ferdi sedikit bingung dan heran, wanita paruh baya yang bertamu di kafenya sedari kepergian Nyonya besar Antara dan menantunya hanya diam duduk di lantai.
"Wanita tadi...dia Melinda?" Wanita itu bertanya menatap kosong ke depan.
Ferdi hanya menjawab dengan deheman di sertai anggukan. "Gadis itu...Elvina Rani, bagaimana Nana bisa menjadi putrinya?" Wanita paruh baya itu masih tak habis pikir.
Dahi Ferdi mengerut, Elvina Rani? Nana? bagaimana ibu ini tahu nama kecil Elvina? hanya orang terdekat yang memanggilnya begitu.
Melinda? dia juga tahu nama mertua Elvina.
Siapa sebenarnya ibu ini?
Tunggu...
Tunggu dulu...
Jangan jangan...
Suara dering ponsel membuyarkan pikiran Ferdi,
Itu suara ponsel wanita itu.
"Mas, aku menemukannya." Ucap ibu setengah baya itu, begitu mengangkat panggilan. "Tapi dia bersama Melinda Dian Antara." Sambungnya lagi.
Entah apa yang di katakan orang di seberang telepon, tapi Ferdi melihat ibu setengah baya itu mematikan panggilannya.
Berdiri, dan melangkah keluar kafe tanpa permisi.
\\
\\
Melinda meremas ujung pakaiannya dengan tangan gemetar.
Matanya terpejam, sosok wanita yang ia lihat di kafe tadi kembali menyapa ingatannya.
Elinna... dia tidak salahkan?
Tiga belas tahun, iya sudah tiga belas tahun.
Dan tadi pertemuan mereka kembali terjadi setelah kecelakaan suaminya.
Elinna...dia terlihat baik baik saja.
Kenapa dia kembali?
Ada apa?
Melinda duduk di tepi ranjang, dia masih asik dengan pikirannya tentang Elinna, mantan istri pertama suaminya. Wanita satu satunya yang di cintai suaminya. Masa lalu dalam kehidupan rumah tangganya.
Setelah keluar dari kafe, meninggalkan Elinna dan yang lainnya, Seluruh tubuh Melinda terasa lemas dan gemetar. Sampai di mobil pun, dia mengabaikan menantunya.
Dan seolah mengerti, Elvina pun diam tak mengatakan apa apa. Tapi dia sempat melihat ibu mertuanya gemetaran. Entah kenapa, tapi sepertinya bukan karna ketakutan atau kelaparan.
Ya, seperti sedang gelisah.
Sesampainya di rumah pun Melinda langsung masuk ke kamarnya tanpa bicara pada Elvina.
Elvina mengerti, mungkin ibu mertuanya ingin sendiri dulu.
__ADS_1
Dan jujur, Elvina pun ingin waktu untuk sendiri sekarang, setelah kejadian di kafe tadi.
Dia mendengar pembicaraan Ferdi dan mertuanya.
Pembicaraan tentang alasan Ferdi bertunangan dengan Pevita, itu semua karna dirinya sendiri.
Benarkah? dia takut jika itu adalah sebuah fakta.
Bagaimana perasaan Pevita?
Dan wanita paruh baya yang dia lihat di kafe tadi, dia tidak salah lihatkan?
Itu benar dia kan?
Dia kembali setelah tiga belas tahun berlalu?
Beraninya dia.
Sama seperti Melinda, Elvina pun asik dengan pikirannya. Duduk di pinggir ranjang.
\\
\\
Mira duduk menemani Melinda di ruang kerjanya.
Tadi selepas makan malam, Melinda mengajak adiknya untuk membahas hal penting.
"Mbak...?" Panggil Mira, tapi kakak angkatnya itu masih diam saja. Jika di hitung, sudah setengah jam mereka tidak berbicara apapun setelah masuk keruangan ini. "Ada apa sebenarnya?" Mira sudah sangat penasaran. Tidak biasanya kakaknya terlihat gelisah seperti ini. Apa ini ada sangkut pautnya dengan anak dan menantunya?
Karena tadi pun di meja makan mereka bungkam seperti saling mendiamkan.
"Elinna..." Lirih Melinda, tapi masih bisa di dengar oleh Mira. "Dia...dia kembali, kami bertemu tadi."
Ya Tuhan...
"Apa yang harus kulakukan Mira?" Melinda mengepalkan tangannya yang gemetar. "Aku...aku belum siap untuk permohonan maafku."
Mira memberanikan diri menggenggam tangan sang kakak yang gemetar. Mengelusnya pelan. "Mbak Elinna, dia wanita dengan segala kebaikannya. Itu yang aku ingat." Mira merawang ke masa lalu.
Jika bicara tentang Elinna, jujur dia sangat ingat wanita itu, wanita sederhana yang sangat di cintai suaminya. Tapi sayangnya tak di inginkan mertuanya.
Mira jadi teringat Elvina, gadis itu juga sama.
Di cintai Wisnu tapi tidak dengan mertuanya.
Walau sekarang sudah berdamai.
"Mira..." Panggil Melinda lirih.
"Mungkin mbak Elinna hanya ingin mengunjungi makam mas Bima."
"Dia juga terkejut tadi, sama sepertiku." Tangan Melinda tidak berhenti gemetar, dan Mira pun masih setia menggenggamnya.
Keduanya terdiam, Melinda kembali teringat terakhir kali dia melihat Elinna, tiga belas tahun lalu, setelah kecelakaan itu terjadi.
"*Mira, minta bantuan pada ayah untuk membuang Elinna ke tempat yang jauh." Melinda mengucapkan dengan nafas memburuh.
Bagaimana bisa wanita yang sudah bercerai selama tujuh tahun dari suaminya, kecelakaan bersama.
Dan dengan kompaknya mantan suami istri itu koma bersama juga.
"Mbak..."
"Ikuti perintahku Mira!" Intonasi suara Melinda sudah meninggi. "Jika di biarkan, wanita ini yang akan menggeserku dari samping mas Bima."
__ADS_1
Mira hanya bisa mengangguk. "Berani beraninya mereka mengkhianatiku. Bertemu tanpa sepengetahuanku." Geram Melinda. "Katakan pada ayah, matinya wanita ini jauh lebih baik."
Mira terperanjat karena kata kata kakaknya, bagaimana bisa kakak yang dia kenal baik dan berpendidikan mengatakan hal sekeji itu hanya karena seorang pria.
Tidakkah kakaknya sadar, bahwa sebenarnya kakaknya lah yang mengusik pasangan suami istri yang saling mencintai itu.
Ya, terlepas tidak adanya restu dari pihak laki laki.
*
*
Dan akhirnya, atas bantuan dari ayahnya, Melinda menyingkirkan Elinna.
Entah kemana Ayahnya membawa mantan istri suaminya itu.
Melinda tidak peduli, yang penting wanita itu tidak terlihat lagi di matanya sekarang. kalau bisa pun tak terlihat untuk selamanya.
"Elin...Elinna..."
Melinda mendengar suara. Disana, di ranjang rumah sakit, suaminya sudah sadar setelah sebulan koma.
Dan apa tadi yang dia dengar?
Suaminya memanggil nama Elinna?
Bukan namanya, yang masih sah menjadi istrinya.
"Elin...Elinna..."
Kembali, Melinda kembali mendengar nama mantan istri pertama suaminya di panggil.
"Elin..."
Melinda masih terpaku, dia diam membisu.
Tidak memanggil Dokter ataupun Suster, walaupun dia tahu suaminya sudah sadar.
"Elinn...na.."
Kali ini keterdiaman Melinda di temani airmatanya yang sudah menetes.
"E...El..linn..."
Melinda mendengar suara suaminya yang mulai terputus putus memanggil mantan terindahnya.
Tapi Melinda masih diam.
"El....lin..."
Panggilan itu terdengar lagi.
Tit..tit...tit..
Layar monitor di samping brankar suaminya berbunyi.
"Ma..."
Melinda menoleh ke arah belakangnya, Wisnu anaknya sudah ada disitu.
"Kenapa tidak memanggil Dokter?" Wisnu berjalan mendekat ke brankar sang ayah, di tekannya tombol yang ada diatas ayahnya.
Melinda masih berdiri diam di tempatnya tadi, sampai Dokter dan perawat masuk ke ruangan itu, Melinda tidak bergerak sedikit pun, dan dia pun tetap bungkam.
Walau Dokter mengatakan suaminya tidak bisa tertolong lagi, dan divnyatakan meninggal, Melinda tetap sama, tidak bergerak dan bungkam di tempatnya.
Hanya suara tangis Wisnu yang terdengar.
Tiba di hari pemakaman, Melinda pun hanya diam, bahkan tidak menangis.
__ADS_1
Entah apa yang ada di pikirannya.
Walau matanya tidak mengeluarkan air, tapi tatapan matanya kosong, hampa.*.