Aku, Kamu Dan Mama

Aku, Kamu Dan Mama
Seseorang dari Masa Lalu


__ADS_3

Melinda melihat menantu tunggalnya berwajah murung.


Pertikaian tak kasat mata yang terjadi di arisan tadi sepertinya mempengaruhi hormonnya.


Ingin menenangkan, tapi bingung harus bagaimana.


Akh...mungkin membawanya ketempat menantunya bekerja dulu, bisa membuatnya terhibur sedikit.


"Pak kafe D' ANGEL ya." Perintahnya pada sang supir.


Dan lihatlah menantunya ini, tak memberi respon sedikit pun. Sepertinya dia sedang melamun.


Tidak ada percakapan yang terjadi, sepertinya Melinda sengaja membiarkan menantunya melamun.


Biarlah...asal kau bahagia. Pikirnya.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di parkiran kafe. Melinda melihat menantunya masih setia melamun. Entah apa saja yang di pikirkan.


Melinda menggoyang lengan menantunya lembut, mencoba menyadarkannya dari dunia lain di alam pikir menantunya.


Elvina menatap mertuanya linglung, sepertinya kesadarannya belum penuh.


"Kita sudah sampai." Suara sang mertua sedikit menyadarkannya.


"O.." Elvina menatap keluar mobil. "Loh, ini dimana ma?" Tanyanya bingung. Ini seperti tempat parkir.


Kata mama sudah sampai, tapi ini bukan rumah keluarga Antara. Apa mama mau membuangku?


"Apa yang kau pikirkan?" Melinda melihat wajah bingung menantunya. "Mama tidak akan membuangmu."


Elvina menghembuskan nafas lega. Tangannya mengusap usap dadanya.


"Wah, kau benar benar berfikir mama akan membuangmu?" Suara Nyonya Melinda mulai sedikit meninggi. "Kau pikir mama sekejam ibu tirinya Snow White." Gerutu Nyonya Melinda kesal.


Apa apaan menantunya ini?


Elvina merasa bersalah, tadi dia sudah berfikir buruk tentang mertuanya.


Tunggu dulu, tempat ini sepertinya tidak asing.


Ini seperti pelataran parkir tempatnya bekerja dulu.


"Ma, ini..."


"Iya, kita ada di kafe tempatmu bekerja dulu." Potong Melinda. "Mama pikir kau sedang merindukan teman temanmu yang ada disini."


Elvina diam mendengar perkataan ibu mertuanya. Matanya memanas, dan airnya pun jatuh.


"Hei, kenapa malah menangis?"


Elvina tidak menjawab pertanyaan ibu mertuanya, dia langsung menghambur memeluk ibu kandung suaminya itu.


Ternyata seperti ini rasanya,


Tidur di peluk mama,


Makan bersama mama,


Jalan jalan bersama mama,


Menemani mama arisan,


Dan di beri perhatian oleh seorang mama.


Oh bahagianya...


"Hari ini sepertinya kau ngidam menangis sambil memeluk mama ya?" Pertanyaan Nyonya besar Antara hanya di balas anggukan oleh istri putranya.


Tangan Nyonya Melinda masih mengelus punggung menantunya yang menangis. Dan sepertinya itu bukan tangis kesedihan, tapi tangis bahagia.

__ADS_1


"Mau sampai kapan adegan ini berlangsung? Mama sudah haus."


Elvina mengurai pelukannya, menatap ibu mertuanya, dan tersenyum manis.


Tapi keadaan itu membuat sang mertua mematung menatap lekat wajah Elvina.


Senyum itu,


Tatapan itu,


Ya Tuhan..aku seperti melihat Elinna.


Kali ini gantian Elvina yang menggoyang lembut lengan ibu mertuanya. "Ma, ayo kita masuk ke dalam kafe." Ajaknya.


"Hah? akh iya."


Kedua wanita beda generasi itu berjalan memasuki kafe, tangan mereka saling membelenggu, seolah takut terpisah.


Sesampainya di dalam, Elvina mengajak mertuanya menuju meja nomor enam, dan duduk di kursinya.


Tidak berada berapa jauh dari situ,


Ferdi, memandang mereka intens.


Dari mereka masuk sampai duduk, semua itu tak lepas dari penglihatannya.


Dua wanita penting dalam kehidupan Wisnu Antara Yuda sepertinya terlihat mesra.


Sepertinya mereka sudah berdamai. begitulah pikirnya.


"Hei Vin, lama kamu nggak kemari." Sapa pelayan yang menghampiri meja mereka.


"Iya ya? he..he..he.." Elvina nyengir ramah. "Ri, aku pesen dua jus jeruk ya." Ucapnya pada pelayan yang bernama Nuri.


"Itu aja? nggak ada yang lain lagi?" Elvina hanya menjawab dengan gelengan dan senyuman.


"Nana, kamu datang." Sapa Ferdi, pria itu sudah berada di hadapan Elvina dan mertuanya.


"Kakak." Wanita itu tersenyum manis pada Ferdi, dan sepertinya menular, karna pria itu pun ikut menarik lengkung bibirnya, walau tipis. "Aku rindu tempat ini."


"Dan tidak merindukan pemiliknya?" Pertanyaan dari Ferdi hanya di jawab dengan senyum manis Elvina.


Dan kelakuan dua orang itu tak luput dari pandangan Melinda.


Melinda melihat tatapan berbeda dari putra sulung raja kuliner itu pada menantunya.


Sepertinya Melinda tidak yakin pria ini benar benar melepaskan Elvina dari hatinya.


Melinda yakin, menantunya masih berada di posisi istimewah di hati laki laki ini.


"Kak, ini ibu mertuaku." Elvina mengenalkan wanita paruh baya yang ada di sampingnya. Meski ia yakin, sebenarnya dua orang ini saling mengenal.


Ferdi tersenyum, mengulurkan tangannya pada wanita yang ada di sebelah Elvina.


Tentu Ferdi sangat mengenal Nyonya besar dari keluarga Antara ini, bahkan dia pernah berdebat dengannya.


Begitu juga dengan Melinda, senyuman tipis terukir di bibirnya. Tangannya meraih uluran tangan Ferdi.


"Terima kasih atas pencerahan anda waktu lalu Chef."


Ferdi menautkan alisnya, apa maksud ibu kandung Wisnu ini? jujur, dia tidak mengerti.


"Mengenang masa lalu boleh boleh saja, tapi jangan keseringan. Karna mengenang itu hanyalah pekerjaan pensiunan." Ucap Nyonya Melinda masih menyunggingkan senyum. "Saya sudah tidak peduli dengan masa lalu Elvina, saya hanya ingin melihat masa depannya bersama putra saya, tentunya masa depan yang bahagia."


"Benarkah?" Ferdi tersenyum. "Baguslah kalau begitu."


"Sama seperti anda yang melepaskan wanita yang di harapkan, saya juga melepaskan wanita yang saya harapkan. Semua itu untuk kebahagian orang terkasih kita."


Ferdi tersenyum menanggapi perkataan Nyonya Melinda. "Ada juga yang pernah bilang, Kebahagiaan itu bukan satu satunya tujuan dalam dimensi ruang dan waktu. Tapi detik detik waktu yang terpilih, yang pernah dilalui bersama dengan hati putih dan damai itu lebih dari kata bahagia."

__ADS_1


Nyonya Melinda, wanita paruh baya itu mengeluarkan gelak tawanya.


"Aku permisi ke toilet dulu ya." Suara Elvina mengintrupsi.


Dan dengan kompaknya Ferdi serta Nyonya Melinda mengangguk bersama senyuman.


Setelah kepergian Elvina ke toilet, pelayan datang membawa pesanan. Setelah mengucapkan selamat menikmati, pelayan itu pun berlalu.


"Apa sekarang anda bahagia setelah pertunangan?"


"Bagaimana kelihatannya, tante?"


"Kau terlihat lega, bahkan sangat lega saat ini." Ucap Nyonya Melinda sudah tak formal lagi.


Ferdi kembali menyunggingkan senyumnya.


"Tante sebenarnya takut." Ucap Melinda dengan senyum dan tenang.


"Takut?"


"Iya, kau tidak membohongi tunanganmu kan?"


"Membohonginya?" Beo Ferdi.


Nyonya Melinda mengangguk. Tatapannya tak lepas dari laki laki muda di depannya. "Melamar Pevita agar Elvina aman."


Ferdi melemparkan senyumnya kembali."Kau takut Wisnu akan meninggalkan Elvina kan, jika Pevita masih berstatus sendiri. Karna Pevita mendapat dukungan penuh dari tante dan status sosialnya." Kata kata itu membuat senyum Ferdi perlahan luntur.


"Status pertunangan hanyalah kompensasi darimu untuk Pevita, agar tante berhenti menyatukan Pevita dan Wisnu." Ferdi benar benar berhenti tersenyum karna kata kata ibu kandung Wisnu itu.


"Kau benar benar Angelman ya." Nyonya Melinda terkekeh. "Kau mengikat Pevita demi kelangsungan pernikahan putra tante dan istrinya. Tante terharu, tapi...." Kata kata Nyonya Melinda menggantung. "Tante kasihan jika teringat Pevita."


"Tante, aku...."


"Tante menerima pernikahan mereka bukan karna Pevita sudah bertunangan denganmu." Potong Nyonya Melinda. "Dan juga bukan karna seorang Pevita, tante dulu tidak menerima kehadiran Elvina disisi Wisnu."


"Lalu?"


"Tante punya alasan sendiri, dan itu tidak ada hubungannya dengan status sosialnya."


"Be..."


"Permisi." Kalimat Ferdi terpotong karna intrupsi seorang wanita paruh baya yang dibawa salah satu pelayan di kafenya.


Tidak hanya Ferdi yang menoleh, Nyonya Melinda juga mengalihkan pandangannya.


Tapi wanita paruh baya yang ada di hadapannya membuatnya terperanjat.


"Elinna..." Gumamnya


Sama seperti Nyonya Melinda, keadaan wanita yang baru datang itu pun tak kalah terkejut.


"Ma.." Panggilan Elvina membuat mereka semua menoleh kearahnya.


"Ada apa, nak? apa ada yang sakit?" Tanya Nyonya Melinda melihat wajah pucat menantunya.


Wanita paruh baya yang baru datang itu menatap lekat Elvina, begitu pula Elvina.


Nyonya Melinda berdiri menghampiri menantunya.


"Kita pulang ya." Ajak Nyonya Melinda pada Elvina dan dibalas anggukan.


"Ka..kalian saling mengenal?" Pertanyaan itu muncul dari wanita paruh baya yang baru datang itu.


"Dia Elvina, putriku." Melinda menjawab mantap dan tegas.


"Pu...putri?" Tanya wanita paruh baya itu seolah tak percaya.


"Walau dia bukan putri kandungku, tapi aku menyayanginya sama seperti Wisnu Antara Yuda, putraku." Tekan Melinda menjelaskan. Kemudian menggenggam tangan sang menantu menuntunnya keluar dari kafe.

__ADS_1


__ADS_2