Aku, Kamu Dan Mama

Aku, Kamu Dan Mama
Usaha Mama


__ADS_3

"Kamu tetap mau menikahi gadis itu?" Melinda memulai percakapan, setelah lama mereka bungkam seusai makan malam.


"Ya!"


"Tanpa restu dan kehadiran Mama?"


"Ya!"


"Dia tidak cantik."


"Aku sudah tampan."


"Dia tidak berpendidikan tinggi."


"Aku lulusan Harvard, S2."


"Dia miskin."


"Aku kaya."


"Dia tidak punya orang tua."


"Aku punya mama."


Melinda tersenyum mendengar setiap jawaban putranya.


"Dan yang paling penting, aku mencintainya." Tegas Wisnu dengan senyum simpul.


"Cinta itu mencuri kebahagiaan dan airmata, nak." Melinda meatap putranya hangat. "Mama dan Papa bahagia, walau pernikahan kami tanpa cinta."


"Ada yang pernah bilang, kesepian abadi itu adalah bisa bersama raganya tapi tidak hatinya. " Wisnu membalas tatapan Ibunya sayang. "Aku tidak ingin kesepian, seperti Papa dan Mama."


Melinda diam, masih menatap putranya. Perkataan sang anak membuatnya teringat tentang kehidupannya bersama Abimana Antara, suaminya.


Anaknya benar, dia kesepian, begitu juga suaminya.


"Ketika papa menghembuskan nafas terakhirnya, bukan nama nama yang di panggil." Melinda tersentak mendengar ucapan anak laki laki semata wayangnya itu. "Aku ada di sana, Mma. Dan aku tidak ingin itu terjadi padaku juga."


"Wisnu...." Ucap Melinda keluh.


Dia tidak menyangka, putranya mengetahui kejadian itu. Itu adalah hal yang menyakitkan baginya. Suaminya dari awal sampai akhir selalu mengingat satu wanita, dan itu bukan dia.


"Mungkin terdengar klise, tapi aku ingin hidup dan mati di sisi orang yang kucintai. Bukan di sisi orang yang di cintai oleh seorang yang ku cintai." Wisnu menatap dalam netra sang ibu. "Ada yang bilang, cinta yang tak sampai adalah sebuah hukuman dari surga. Surga itu di bawah telapak kaki ibu. Ma...jangan hukum aku."


"Wisnu, gadis itu bukan satu segalanya bagimu. Dia hanya satu dari segala yang kamu miliki, nak. Bebaskan dia."


"Aku tetap akan menikahinya!"


"Mama atau gadis itu?"


"Aku tidak sedang ikut kuis, ma."


"Kalau begitu, ajukan surat pengunduran dirimu secara resmi. Kamu mama pecat!"


"Ma...tidak ada yang layak menjadi Presdir di ANTARA GROUP selain aku." Ucap Wisnu tenang dengan bibir tersenyum. "Dan Mama sepertinya melupakan sesuatu."

__ADS_1


"Mama salah satu pemegang saham, jangan lupakan itu!"


"Saham Mama 15%, Om Rendra 5%, Tante Soraya 5%, Om Yaksa 5%, Tante Rumi 5%, dan sisanya milikku, 65%."


"Besok, kita temui gadis itu. Mama akan tunjukkan padamu, apa sebenarnya yang di inginkan gadis itu darimu."


*


*


*


*


Seperti yang di ucapkan Melinda malam tadi, siang ini mereka menemui Elvina di kafe.


Tidak hanya mereka bertiga yang duduk di satu meja. Melinda juga mengajak Pevita ikut serta.


"Kamu ingin menjadi Cinderella? Hidup nyaman bersama Pangeran?" Melinda menatap Elvina dengan senyum penuh arti.


"Aku tidak punya sepatu kaca yang bisa membuat Pangeran mencariku, tante." Ucap Elvina tenang dengan menyunggingkan senyum manisnya.


"Aku juga tidak ingin jadi Pangeran. Aku ini Peri, yang akan mengabulkan semua keinginannya." Sambung Wisnu tenang.


"O....kalian ingin menjadi Romeo dan Juliet masa kini?" Melinda tertawa kecil.


"Tante ingin kami mati bersama?" Elvina menanggapi perkataan Melinda, masih dengan tenang.


"Romeo dan Juliet tidak mendapatkan restu dari orang tuanya, memutuskan bunuh diri, dengan minum racun. Mama ingin kami juga begitu?"


Melinda mengambil sesuatu dari dalam tasnya, mengeluarkannya dan memberikannya ketangan Elvina.


Gadis itu membuka amplop cokelat yang di berikan ibu dari kekasihnya itu.


Uang?


"Itu 100 juta, anggap itu sumbangan dariku. Tinggalkan Wisnu!" Tekan Melinda.


"Apa tante akan memberiku setiap bulannya?" Tanya Elvina tenang tanpa menatap Melinda. Gadis itu memilih menatap uang yang ada di tangannya.


"Apa?" Melinda tersentak karna pertanyaan Elvina. "Kau tidak menolaknya, dan memintaku memberi setiap bulannya?"


Apa apaan gadis ini? pikirnya.


"Bukankah sumbangan itu di berikan lebih dari sekali biasanya? Dan lagi, aku sudah biasa di beri sumbangan dari orang lain. Aku pernah tinggal di panti asuhan." Jelas Elvina. Kali ini tatapannya tepat di netra Melinda.


Wisnu tersenyum mendengar penjelasan dari kekasihnya, begitu juga Pevita.


Keren! Elvina tidak terintimidasi. salut Pevita.


Mungkin kalau dia yang di posisi Elvina, sudah berlari sambil menangis.


"Pevita..." Merasa namanya di panggil, dia menoleh menatap Melinda. "Kamu tidak ingin memberi sumbangan untuk gadis ini?"


"Ha? Apa yang bisa kusumbangkan?" Bingung Pevita bertanya.

__ADS_1


Kenapa aku di libatkan sih?


"Kamu bisa memberikan pakaian bekasmu." Melinda memberikan saran. "Bukankah begitu, Elvina?"


"Tentu saja!" Elvina tersenyum "Pakaian mbak Pevita kan mahal dan berkualitas."


Pevita masih bingung harus mengatakan apa. Sementara Ibu dan anak yang duduk bersamanya malah asik mengumbar senyum.


"Aku harus kembali bekerja, tante. Terima kasih sumbangannya." Ucap Elvina setelah melirik jam di tangannya.


"Kamu akan meninggalkan putraku kan?"


"Tidak."


"Kamu sudah menerima uangnya."


"Apa tante akan mengambil kembali uang yang sudah di sumbangkan? Bukankah itu memalukan?"


"Apa?" Melinda tertawa keras.


Gadis ini benar benar...entahlah!


Melinda juga bingung dengan gadis yang ada di samping putranya itu. Dia pikir gadis itu akan takut, menangis dan pergi meninggalkan Wisnu, setelah dia menghina harga diri gadis itu dengan uang.


Tapi ini di luar dugaannya. Gadis ini tidak bisa di tebak dengan mudah.


"Aku permisi kembali bekerja." Ucap Elvina, berdiri.


"Sayang...semangat ya." Wisnu memegang tangan Elvina, mengusap punggung tangannya lembut. Dan di sambut anggukan serta senyum teduh Elvina. "Aku mencintaimu, selalu."


"Aku tau!" Kembali tersenyum. "Aku juga mencintaimu." Balas Elvina.


"Kamu benar benar melepaskan Wisnu?" Tanya Melinda pada Pevita, setelah kepergian Elvina.


"Aku mencintai laki laki lain, tante." Jawab Pevita "Dan laki laki itu juga mencintaiku."


"Kamu yakin laki laki itu mencintaimu? Pevita?" Melinda masih berusaha mempengaruhi.


Bagaimana pun, Pevita itu calon menantu idaman baginya.


"Ma...berhentilah." Wisnu tak habis pikir.


"Bukankah laki laki itu mencintai Elvina? Sudah 5 tahun bahkan." Pernyataan Melinda membuat Pevita bungkam. "Kamu percaya laki laki itu benar benar mencintaimu?"


"Ada yang pernah bilang, Mengenang masa lalu itu sah sah saja, tapi jangan keseringan. Karna mengenang itu hanya pekerjaan pensiunan." Ferdi yang tiba tiba sudah berdiri di samping Pevita menyela ucapan Melinda. "Dan saya bukan pensiunan! Saya juga ingin membangun masa depan bersama wanita yang membalas cinta saya."


Pevita tersenyum menatap Ferdi. Rasanya dia lega Mendengar kata kata orang yang di cintainya itu. Walaupun dia sempat meragu tadi.


"Cepat sekali perasaan cinta itu menghilang." Cibir Melinda.


"Perasaan cinta saya tidak menghilang untuk Elvina." Ferdi tersenyum. "Saya melepasnya sebagai calon kekasih, tapi saya menahannya sebagai keluarga. Elvina, bagi saya sekarang, dia adalah adik yang harus saya lindungi."


"Hahaha....benarkah? Kamu percaya Pevita?"


"Tante, aku percaya!" Ucap Pevita tegas "Dan aku mengerti!"

__ADS_1


Ferdi mengelus lembut puncak kepala Pevita. Dan di balas senyuman manis oleh Pevita.


__ADS_2