
Elvina berjalan ke meja nomor tujuh, di sana sudah duduk Wisnu, Adit, Maudi, Fierra, Ferdi dan juga Pevita.
Mereka semua sudah tau kalau Wisnu dan Elvina resmi menjadi sepasang kekasih.
"Aku masih belum selesai." Ucap Elvina begitu sampai.
Wisnu berjanji menjemputnya sore ini. Tapi masih jauh dari waktu yang di janjikan pria itu malah sudah datang, dan duduk santai dengan teman temannya.
"Aku sudah merindukanmu." Wisnu berucap dengan senyum manis di bibirnya, dan tangan yang sudah menggenggam jemari Elvina tanpa peduli sekitar.
Sedangkan Adit sudah geleng geleng kepala, bahkan Maudi melakukan adegan muntah.
Wisnu ini orang yang susah untuk jatuh cinta.
Tapi begitu jatuh cinta, kok kesannya jadi menjijikan ya. Alay cuy!
Hanya Ferdi dan Fierra yang memandang pasangan itu biasa saja. Sedangkan Pevita, jangan di tanya!
Saat semua mata memandang pasangan yang baru bersatu beberapa hari yang lalu, dia malah asik menatap Ferdi tanpa kedip. Mana sambil senyum senyum lagi.
"Ya udah aku tinggal dulu ya." Elvina tersenyum teduh
"Hati hati ya..." Balas Wisnu melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Elvina pergi meninggalkan meja nomor tujuh itu.
"Elvina cuma mau ke dapur bukan mau perang. Nggak usah lebay! Pake kata kata hati hati segala." Ketus Fierra.
Dia tidak habis pikir, gimana bisa kakaknya kalah saing dengan laki laki alay begini.
"Apa sih yang kamu buat ke Elvina? Kok dia mau terima kamu? Kak Ferdi aja udah 5 taon jatuh bangun nggak ada hasil." Fierra benar benar penasaran ternyata.
Kakaknya itu nggak kalah tampan dan kaya.
Tapi Fierra tau pasti, Elvina tidak pernah melihat dari segi itu semua.
"Karna Ferdi dan aku di takdirkan bersama." Bukannya Wisnu yang menjawab, eh malah Pevita yang antusias.
Pevita ini beneran jatuh cinta akut deh kayaknya!
"Kamu siapanya kak Ferdi?" Fierra mengalihkan tatapan dan pertanyaannya pada wanita yang duduk di sebelah kanan kakaknya itu.
Fierra baru menyadari kalau wanita itu sudah beberapa hari ini mengikuti kakaknya.
"Aku calon istrinya." Pevita menjawab dengan percaya diri dan senyum bangga.
"Kapan aku memilihmu jadi istriku?" Ferdi bertanya tidak habis pikir.
Gadis ini benar benar ya!
"Aku yang memilihmu." Tegas Pevita.
""Apa kita saling mencintai?" Ferdi menegaskan.
__ADS_1
"Karna itu...terima aku bekerja di sini supaya kita bisa bertemu setiap hari, kemudian kau akan jatuh cinta padaku. Aku tidak akan menolakmu seperti Elvina." Jelas Pevita.
Sudah beberapa hari ini dia memohon pada Ferdi untuk menerimanya bekerja di kafe milik laki laki itu. Tapi di tolak terus. Karna memang semua posisi sudah penuh. Dan Pevita tidak mau menyerah, dia terus mengikuti Ferdi kemana saja. Sudah seperti kancing dan baju.
"Heh tukang jahit! Lo bukan pengangguran!" Maudi sudah mulai greget melihat mantan teman kencan Wisnu itu.
"Aku sudah di pecat. Jadi aku pengangguran sekarang. Dan aku butuh pekerjaan untuk menghasilkan uang, menyambung hidupku." Pevita berucap dengan tenang.
"Kamu kerja di butik kamu sendiri. Siapa yang bisa mecat kamu?" Kali ini Adit bertanya.
Dia tak habis pikir dengan jalan yang di pilih Pevita mengejar Ferdi.
Entah aneh...Entah bodoh...
" Aku nggak ada semangat lagi kerja di butik. Karna itu ku pecat aja diriku sendiri." Jawab Pevita dengan senyum manisnya, membuat semua yang duduk di situ geleng geleng kepala.
Pevita sudah gila karna cinta!
"Ferdi....ayok kita makan malam berdua malam ini." Ajak Pevita merengek manja mengguncang lengan Ferdi.
"Aku mau makan malam bareng Wisnu." Ucapan Ferdi itu membuat semua mata memandang Wisnu dan Ferdi bergantian.
"Aku ikut. Dan kamu nggak akan jadi orang ketiga." Rengek Pevita.
"Kami akan makan malam berdua. Kalau kamu ikut, Kamu akan jadi orang ketiga." Ucap Ferdi santai.
Dan semua mata kembali menatap Wisnu dan Ferdi bergantian.
Dia akan datang sendiri ke tempat itu.
Bilang aja...Aku kebetulan mau makan disini.
Hehehe...
"Nggak usah ngikutin aku! Aku dan Wisnu mau makan malam di apartemenku. Aku akan masak makanan sehat untuk Wisnu." Ferdi menjelaskan dengan jari telunjuknya berada di dahi Pevita dan mendorongnya pelan.
"Ngapain kakak makan malam sama laki laki ini? di masakin segala lagi!" Tanya Fierra ketus.
"Wisnu harus makan makanan sehat agar dia sehat terus. Dan bisa jaga Elvina dengan baik. Tapi kalau suatu hari dia buat Elvina kita sedih,
Kakak akan memasakkan dia makanan yang mematikan. Untuk apa hidup kalau membuat beban orang lain." Jawab Ferdi tenang.
*
*
*
Dan di sinilah sekarang Wisnu dan Elvina, di depan apartemen Fierra.
Setelah adegan menunggu kepulangan Elvina bekerja tadi, Wisnu mengantar gadis itu pulang.
__ADS_1
Elvina sekarang tinggal bersama Fierra di apartemennya atas permintaan Fierra.
"Maaf ya nggak bisa makan malam sama kamu." Sesal Wisnu.
Entah apa maksud dan tujuan sang saingan mengajaknya makan malam berdua.
Sok Romantis!
Semoga saja tidak ada lilin lilin kecil dan bunga mawar segar di meja makan mereka nanti.
Membayangkannya saja Wisnu sudah merinding.
"Iya...nggak masalah kok."
"Ya udah...aku pergi makan malam sama Ferdi dulu ya.."
"Hemm...hati hati di jalan, dan semoga makan malamnya berkesan ya."
"Apaan sih." Ucap Wisnu mengusap pucuk kepala Elvina. "Aku mau melakukan hal romantis sebelum pergi, bersiaplah!" Wisnu tersenyum.
"Apa yang...." Belum sempat Elvina menyelesaikan ucapannya, bibir Wisnu sudah berada di keningnya.
Lembut dan hangat. Elvina memejamkan matanya.
"Aku pergi...Jangan pernah lupa memikirkanku!" Ucap Wisnu setelah melepaskan ciuman di kening gadisnya. Kemudian dia berlalu dari Elvina.
Sedangkan gadis itu, sibuk memegang dadanya.
"Ya Tuhan....ternyata hal romantis membuat jantungku tak sehat." Elvina masih memegang dadanya.
"Dan apa ini? Kenapa wajahku terasa panas?" Elvina beralih memegang pipinya.
"Hal romantis membuatku jadi demam!" Elvina masuk ke dalam apartemen, dan langsung menuju ke kamarnya. Membaringkan badannya di ranjang empuknya.
"Apa tadi benar benar romantis? Kenapa aku terus mengingatnya sih?"
Elvina sudah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia senyum senyum sendiri memikirkan kejadian tadi.
Ternyata seperti ini jatuh cinta yang sesungguhnya.
Sukur nggak ada Fierra, kalau ada pasti Fierra sudah mengejeknya alay.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Sudah mau mencintaiku. Menerimaku apa adanya. Terima kasih mas Wisnu..." Ucap Elvina memandang cincin di jari manisnya.
Sememtara itu di sini, Wisnu memandang nanar meja di depannya.
Ada dua piring steak daging, dua gelas teh lemon dan dua gelas air mineral. Tapi bukan itu yang jadi masalahnya. Di sisi masing masing meja ada empat lilin kecil tersusun rapi.
Tidak ada bunga mawar di meja, karna bunga mawar merah itu di biarkan kelopaknya bertaburan di atas karpet alas tempat duduk mereka.
Yah, Wisnu dan Ferdi makan malam lesehan, beralaskan karpet yang di taburi bunga mawar. Mereka seperti pasangan romantis yang sedang piknik.
__ADS_1
Benar kata Elvina Semoga makan malamnya berkesan. dan Wisnu sudah benar benar terkesan sekarang.