
"Kamu harus datang, jangan buat mama kecewa Wisnu."
Wisnu duduk di meja makan bersama ibunya, di temani desakan sang ibu untuk kencan buta dengan anak koleganya.
"Ma..."
"Wisnu... Pevita itu cantik, baik, desainer muda berbakat lagi, pasti cocok deh."
"Mama udah kayak SPG di ANTARA MALL deh."
"Wis...Pevita itu anak Pak Rano mantan Gubernur ituloh. Ibunya Make Up Artis. Nah terus kakeknya itu mantan Menteri loh, keluarga sempurnakan?"
"Dimana?"
"Kamu mau datang?" tanya ibu Melinda berbinar menjawab pertanyaan sang putra tunggal.
"Bertemu bukan berarti menerimakan?" Jawab Wisnu santai.
"Udah tiga belas gadis dari keluarga baik baik yang kamu tolak, kamu mau cari yang gimana lagi nak?"
"Tidak cantik, kulitnya tidak terlalu putih, rambutnya hitam lurus, tingginya sekitar 160 cm..."
"Kamu udah punya pacar Nak?" Tanya ibu Melinda memotong ucapan sang putra, menyadarkan pikiran Wisnu yang sejenak teringat tentang si pelayan kafe.
"Kafe D'ANGEL, Jln Anggrek. Aku tunggu anak mantan Gubernur itu makan siang. Katakan padanya jangan terlambat." Ucap Wisnu sambil berdiri meraih tas kerja dan kunci mobilnya. Kemudian berlalu meninggalkan sang ibu di meja makan sendirian, tanpa menjawab pertanyaannya. Ibu Melinda berpikir sejenak, kemudian meraih ponselnya dan melakukan panggilan.
"Mira..cari tau segera akhir akhir ini Wisnu bertemu dengan siapa saja." Perintah ibu Melinda begitu panggilan terjawab. Dia curiga anaknya itu menyembunyikan sesuatu darinya. Dia harus segera mencari tau sebelum terlambat pikirnya.
"Jangan sampai kamu salah pilih Nak.." Gumamnya sambil menghela nafas panjang.
*
*
*
Waktu terus berjalan, seorang wanita cantik dengan rambut terurai sebahu duduk manis sendiri di kafe.
Dia terus melihat ponsel yang ada di tangannya. sudah lima belas menit dia menunggu seseorang untuk makan siang bersama.
"Mbak..sudah mau pesan?" Tanya sang pelayan kafe membuyarkan tatapannya dari layar ponsel.
__ADS_1
Belum sempat wanita cantik itu menjawab pertanyaan si pelayan, suara pria datang mengitrupsi.
"Pevita?" Wanita cantik itu menoleh, kemudian tersenyum manis kepada pria yang baru datang.
"Wisnu?" balasnya, kemudian sang pria duduk di seberangnya.
"Maaf terlambat, tadi ada masalah sedikit.
Elvina...aku pesen nasi goreng seafood sama jus jeruk. Kamu mau pesen apa?" Ucap Wisnu tanpa memandang Elvina karna tatapannya masih tertuju pada Pevita, wanita cantik yang ada di depannya.
"Hah..? Eh..di samain aja." ucap Pevita gelagapan karna masih terpesona dengan sosok seorang Wisnu Antara Yuda.
Lebih tampan aslinya dari pada fotonya, pikir Pevita. Mudah mudahan jodoh deh.
Doa Pevita dalam hati.
Tidak ada percakapan yang terjadi di meja nomor enam itu, hanya ada mata yang saling menatap dan senyum manis Pevita yang tidak pernah luntur di bibirnya, sampai pelayan datang mengantar pesanan.
"Selamat menikmati..." ucap si pelayan sambil tersenyum, Pevita pun balas tersenyum tapi kata kata Wisnu membuatnya menautkan alis sejurus keryitan di dahinya.
"Elvina...kamu udah makan siang?"
"Hah?"
"Iya mas. Selamat menikmati."
Elvina berlalu dari meja nomor enam itu dengan rasa bingung.
Dasar laki laki penggoda!
Ada pacar di depan mata masih sempat godain perempuan lain.
Kesal Elvina dalam hati.
Apa tadi katanya?
Jaga kesehatan?
Jangan telat makan?
Dia pikir dia dokter apa?
__ADS_1
Dasar...laki laki playboy!
Elvina terus mengumpat dalam hati.
"Kamu kenal pelayan tadi?" Pevita bertanya karna merasa ada yang aneh antara Wisnu dan pelayan wanita tadi.
"Hemm.." Wisnu menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari piring di depannya.
"Wanita yang kamu sukai?" Pevita kembali bertanya dengan rasa penasaran yang luar biasa.
Seorang Wisnu suka dengan seorang gadis pelayan?
Apa tante Melinda tau?
"Kenapa?" Bukannya menjawab Wisnu balik bertanya, matanya menatap mata Pevita.
"Nggak punya pacar bukan berarti nggak ada orang yang di sukaikan?" Ucap Pevita tersenyum menatap Wisnu menyembunyikan rasa penasarannya.
Sepertinya benar, dia menyukai gadis itu.
Yakin Pevita.
"Kenapa? Maksudku apa yang kamu suka dari gadis itu?"
"Dia berbeda dari wanita wanita yang ada di sekitarku."
"Berbeda?" Tanya Pevita tidak mengerti.
"Perhatikan gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu perhatikan dirimu sendiri dari ujung rambut sampai ujung kaki juga." Jelas Wisnu sambil memakan nasi goreng seafoodnya.
"Semua orang kan di takdirkan dengan wajah dan penampilan yang berbeda." Ucap Pevita, sebenarnya dia masih belum mengerti apa maksud Wisnu,
Pevita masih bingung.
"Berapa harga gaunmu itu?" Tanya Wisnu setelah menghabiskan makanannya.
"Ini? O..kalau tidak salah sekitar 35 Juta." jawab Pevita mengingat ingat harga gaun yang ia kenakan itu.
"Dimana kamu beli?"
"Di Paris bulan lalu."
__ADS_1
"Itulah bedanya kamu dan gadis itu. Maaf Pevita... aku harus kembali ke kantor, lain kali kita makan bersama lagi." Wisnu berkata sambil berdiri meninggalkan Pevita yang masih mencerna penjelasan Wisnu tentang bedanya dia dan gadis yang di sukai pria itu.