
"Kalian tidak ada rencana pergi bulan madu?" Melinda bertanya pada Elvina, tangannya mengelus sayang puncak kepala menantunya itu.
Setelah tiba di kamar super luas Nyonya besar Antara, Melinda menuntun menantunya di kasur empuknya.
Berbaring bersebelahan saling menghadap dan mendekap sayang, seolah mereka baru bertemu setelah terpisah lama.
"Nggak ma."
"Kamu...ehm, maksud mama...apa anak kalian tidak ingin pergi ke Paris, Roma, Jepang atau Korea selatan misalnya."
Elvina menggeleng. "Nggak perlu ma."
"Kenapa? di pulau Jeju tempatnya bagus loh." Tangan Melinda tak berhenti mengelus kepala menantu perempuannya. "Ada yang bilang pulau Jeju itu Balinya Korea."
"Bali?" Melinda mengangguk. "Kalau sama seperti Bali ngapain jauh jauh ke Korea, ma. Entar yang ada uangnya malah habis."
"Wah, kamu pikir keluarga Antara itu miskin?"
Elusan di kepala Elvina berhenti, alarm bahaya dalam diri Elvina seolah berbunyi.
Waduh, gawat! aku salah bicara.
"Bukan begitu ma...."
"Suamimu itu pewaris tunggal ANTARA GROUP, uangnya tidak akan habis tujuh turunan, bahkan delapan tekongan sembilan tanjakan." Potong Melinda geram.
Matanya melotot menatap menantu yang baru di terimanya itu. Apa tadi kata istri putranya? uangnya habis? Putra tunggalnya tidak semiskin itu.
"Maksudku bukan itu ma." Elvina menurunkan wajahnya, tidak berani menatap ibu mertuanya. "Aku tidak ingin serakah, mama mau menerimaku dan mas Wisnu selalu mencintaiku itu sudah cukup. Lagi pula aku sedang hamil, tidak berani pergi jauh."
Elvina mengangkat wajahnya setelah merasakan elusan lembut di kepalanya terasa kembali.
Ibu mertuanya menatapnya hangat.
"Mari kita bicarakan pesta dan honeymoon kalian setelah anak kalian lahir." Elvina mengangguk takzim.
"Maafkan mama."
Elvina terperangah, ibu dari suaminya meminta maaf? ini bukan mimpikan? "Aku yang harusnya minta maaf ma, aku yang miskin tidak berpendidikan dan tidak memiliki orang tua berani membuat putra tampan mama jatuh cinta. Lagi lagi aku membuat mama dan mas Wisnu bertengkar."
"Kami tidak bertengkar, nak. Dan lagi sebenarnya, bukan karna alasan latar belakangmu mama tidak menerimamu, tapi....." Kalimat yang di ucapkan Melinda menggantung, seiring elusan tangannya pun berhenti. Elvina menatap ibu dari suaminya itu penasaran.
Jika bukan karna latar belakang lalu apa? tanyanya dalam hati, tidak berani mengungkapkan.
Elusan dikepala Elvina berlanjut, tapi tidak ada obrolan yang tercipta. Mertua dan menantu itu sama sama bungkam dengan pikiran masing masing.
"Elvina, tatapan matamu mengingatkanku akan seseorang. Seorang wanita yang pernah menjadi korban keserakahanku. Wanita yang sangat dicintai suamiku. Tatapan matamu itu benar benar membuat rasa bersalah kembali menghantuiku. Aku tidak bisa tenang jika menatap sorot matamu. Seolah kehadiranmu dihidup putraku adalah hukuman untukku karna kelakuan burukku dimasa lalu. Perasaan sesalku benar benar menyiksaku.
Elvina, jika kau benar hukuman itu, maka aku akan menerimamu, terus menatap matamu, agar aku tidak pernah lupa dosa dosa besarku pada Elinna dimasa lalu."
__ADS_1
Pagi ini Melinda dan anak serta menantunya sarapan bersama tanpa Mira.
Dan sarapan kali ini koki membuat sup udang karna keinginan Elvina.
Tapi pemandangan aneh di depan matanya, membuat Melinda penasaran.
"Apa udangnya tidak enak?" Tanya Melinda, karna dia melihat putranya mengambil setiap udang yang ada di piring istrinya.
Apa menantunya sedang ngidam?
"Elvina suka sup udang, tapi tidak dengan udangnya." Jawab Wisnu masih mengambil udang yang ada di piring sang istri. "Jadi dia makan kuahnya, aku yang makan udangnya.
Melinda terperanjat, keadaan seperti ini juga pernah dia lihat di meja makan ini, dua puluh delapan tahun yang lalu.
Ya, Elinna, istri pertama suaminya juga suka sup udang tapi tidak dengan udangnya.
Dan keadaan yang sama, maka suaminya yang akan makan udang udang yang ada di piring Elinna.
"Apa ibumu juga seperti itu?" Tanya Melinda spontan.
Pasangan suami istri itu kompak menghentikan kunyahannya.
"Ma...." Panggil Wisnu lemah.
"Aku yatim piatu."
Ucapan Elvina yang mengatakan yatim piatu menyadarkan Melinda.
Benar, Elvina yatim piatu, tidak ada hubungannya dengan mantan istri suaminya.
Ini hanya salah satu kebetulan saja.
Elvina dan Elinna tidak ada sangkut pautnya.
Mereka kembali makan dalam diam.
Kedatangan Mira lah yang memecahkan suasana hening itu.
"Hari ini mbak ada arisan dengan club ibu ibu pencinta tanaman." Beritahu Mira yang di balas deheman oleh Melinda, kakaknya.
"Sayang, kamu ikut mas seharian di kantor ya." Ajak Wisnu pada sang istri. Tapi belum sempat istrinya menerima ajakannya, suara sang ibu sudah terdengar.
"Tidak bisa! hari ini Elvina akan ikut mama arisan."
"Tapi ma..." Protes Wisnu.
"Bukan mama yang ingin, tapi anak kamu yang ingin ibunya di kenalkan ke publik. Ya kan, Elvina?" Tekan Melinda.
"Hah?" Elvina jadi bingung, kapan dia mengidam ingin ikut arisan dengan mertuanya. Minta di kenalkan ke publik lagi. "Iya ma."
Wisnu mendengus jengkel mendengar kata kata ibunya dan istrinya.
Kenapa tiba tiba ibunya jadi bucin pada istrinya sih.
__ADS_1
Tidak diterima susah.
Sudah diterima juga susah.
Niat hati ingin bermanja ria dengan sang istri.
Akhirnya gagal total.
Di sinilah sekarang Elvina, duduk manis di samping mertuanya.
"Jadi ini istrinya Wisnu toh."
Begitulah kalimat yang di ucapkan teman teman arisan ibu mertua Elvina, setelah Melinda mengenalkan Elvina sebagai menantunya.
"Pernah menempuh pendidikan dimana aja, nak Elvina?" Tanya salah satu dari ibu ibu arisan itu.
"SMA Negeri 5." Jawab Elvina seadanya, membuat ibu ibu arisan itu terdiam dan saling pandang.
"Menantu saya ini lulusan SMA, dan dia dulunya bekerja di kafe D'ANGEL ." Jelas Melinda pada teman teman arisannya.
Dan hasil dari penjelasannya membuat semua teman arisannya terkejut.
Bagaimana bisa menantu keluarga Antara hanya lulusan SMA?
Pernah bekerja dikafe,
Kalau dilihat juga wajahnya tidak begitu cantik.
Sepertinya tidak ada yang istimewah.
Kok bisa ya?
"Putraku itu tidak hanya tampan dan kaya, tapi juga berpendidikan tinggi. Dia hanya perlu punya istri yang pengertian dan bertanggung jawab seperti Elvina." Jelas Melinda seolah tahu pertanyaan pertanyaan dari pikiran teman teman arisannya. "Dan yang paling penting mereka saling melengkapi dan saling mencintai. Bukankah itu sempurna?"
Ibu ibu sosialita itu mengangguk kikuk. Tidak ada yang berani membantahnya.
Bagaimana pun juga, keluarga Antara masih yang terkaya diantara mereka.
"Dan yang paling kami suka itu, Elvina ini mandiri. Semua keperluannya di lengkapi dengan uangnya sendiri, hasil kerja kerasnya sendiri. Tidak meminta dari orang lain." Tambah Melinda. "Saya dengar, Siska anak Bu Dewi lulusan tata rias ya?" Ibu Dewi yang merasa disebut pun membenarkan. "Tapi sampai sekarang kok masih menganggur? malah kebutuhannya sampai sekarang masih ibu yang menanggung kan."
"Saya kan orang tuanya, bu Melinda. jadi saya wajib memenuhinya." Balas bu Dewi mulai tersinggung.
"Kapan anak bu Dewi bisa mandiri kalau begitu? Tunggu punya suami?" Melinda pun mulai gerah, dia bisa melihat teman temannya mulai memandang remeh menantunya, begitu tau menantunya hanya lulusan SMA.
Mereka pikir mereka siapa? mau meremehkan istri tercinta anaknya.
Tunggu mereka lebih kaya dari keluarga Antara,
__ADS_1
baru pantas.