Aku, Kamu Dan Mama

Aku, Kamu Dan Mama
Mendengarkan


__ADS_3

Sekarang Elvina sedang duduk di warung lesehan. Dia tidak sendiri, ada seorang pria tampan duduk manis di depannya.


"Jadi, siapa dia?" Pria di depan Elvina bertanya dengan senyum damainya.


"Siapa?" Elvina balik bertanya sok bingung.


"Sainganku!"


"Kakak...!"


"Elvina...kakak baru merantau jadi TKI tiga bulan loh, kamu udah jatuh cinta aja sama laki laki lain."


"Sepulang dari Brunei, kak Ferdi jadi tukang drama gini." Elvina tertawa di ikuti dengan Ferdi.


Tak lama pesanan mereka datang di antar seorang pelayan. Setelah mengucapkan selamat menikmati, pelayan itu pun pergi.


"Berasa jadi putri aku tuh." Ucap Elvina tersenyum geli. Karna biasanya dia yang melayani pembeli.


"Kakak boleh jadi Pangerannya?"


"Nggak mau jadi kurcacinya?"


"Kamu berharap jadi Snow White ya? Perlu ciuman nggak?"


"Apaan sih?"


"Biar kamu sadar, terus selamet deh dari kejaran laki laki sihir itu."


"Laki laki sihir?"


"Iya, laki laki yang udah buat kamu jatuh cinta. Aku ngejer kamu tuh 5 tahun loh. Dia baru berapa bulan? Eh...kamu udah seneng plus gelisah. Apa coba kalo nggak pake sihir?"


Elvina dan Ferdi sama sama terkekeh, sembari memakan mie ayam pesanan mereka.


Warung ini adalah tempat favorit mereka, tempat yang nyaman dan makanan yang enak adalah alasan Elvina dan Ferdi memilih warung ini.


"Seperti apa laki laki itu?" Ferdi bertanya setelah berhenti tertawa.


"Kaya." Jawab Elvina singkat menghentikan kegiatan makannya dengan kepala tertunduk.


"Hei...laki laki di depan kamu ini juga kaya. Bahkan baik lagi." Ferdi mengucapkan kalimat itu dengan senyum jahil, sembari tangannya mengangkat dagu Elvina agar melihatnya.


"Jangan lupakan, aku juga tampan!" Imbuh Ferdi lagi membuat Elvina tersenyum sebal.


"Kami tidak mungkin bersama, kak."


"Kamu benar benar menyukainya? Bukan bukan... kamu mencintainya?" Ferdi bertanya dengan wajah serius, matanya menatap lekat mata Elvina.


"Kami berbeda, kak."


"Kakak hanya bertanya, apa kamu mencintainya?" Ferdi menegaskan pertanyaannya tanpa mengalihkan tatapannya pada Elvina.

__ADS_1


Anggukan lemah Elvina sebagai jawaban membuat Ferdi menghela nafasnya.


" Ada yang bilang...mencintai adalah takdir, menikah adalah nasib. Kita bisa memilih dengan siapa kita menikah, tapi kita tidak bisa memilih untuk siapa cinta kita. Begitu juga aku kamu dan dia..."


Ferdi menggenggam tangan Elvina lembut dan menyunggingkan senyum damainya.


"Cintaku memilih kamu, cintanya memilih kamu, dan cintamu memilih dia. Elvina, kamu membuatku patah hati setelah 5 tahun berharap." Ferdi berkata dengan wajah memelas yang di buat buat. dan itu membuat Elvina tersenyum dan memukul lengan Ferdi.


"Coba percayalah pada orang lain. Percayalah bahwa dia tidak akan membuangmu di kemudian hari. Dia akan menemanimu selalu. Coba percayakan hatimu, kalau kamu memang benar benar mencintainya."


"Tapi aku udah nolak dia berulang kali, kak."


"Aku juga udah kamu tolak, 5 tahun loh! Tapi aku tetep ngejar kamu. Dan aku juga yakin, kalau dia juga belum berhenti berharap dan ngejar kamu.


Jadi Elvina, semangatlah! Jangan pernah merasa takut dengan perbedaan.


Kamu harus ingat... aku, Fierra, ayah dan bunda selalu mendukungmu."


Kalau sudah begitu, Elvina tidak tau harus berkata apa lagi. Dia bahagia, dia terharu.


Dia tidak merasa terbuang lagi.


Elvina sudah terisak, Ferdi mendekat dan mendekapnya menenangkan.


Tangannya terus mengelus lembut punggung Elvina yang bergetar.


"Kenangan itu mungkin tidak bisa di lupakan, Elvina. Tapi kamu bisa meninggalkannya.


Tinggalkan kenangan pahit itu!


Tanpa mereka sadari, ada empt orang yang duduk di belakang mereka. Mendengarkan dengan khusuk setiap kalimat yang mereka ucapkan.


"Kayaknya bener ucapan lo, Maw maw."


"Yang mana, Wis?"


"Gue akan terpesona kalo ketemu yang namanya Ferdi secara langsung." Wisnu berkata dengan lemah, setelah mendengarkan obrolan Elvina dan Ferdi, yang di anggap saingannya itu.


Sekarang mana tega dia menikung Ferdi, laki laki yang baru saja di anggapnya keren dan bijaksana.


"Dia bener bener keren...." Pevita berucap dengan wajah berbinar.


Entah bagaimana ceritanya tadi Pevita bisa bergabung dengan Wisnu, Maudi dan Adit.


Yang pasti mereka tau keberadaan Elvina dan Ferdi dari Maudi, dengan mencari tahu lewat Fierra, adik Ferdi sekaligus sahabat Elvina.


"Kamu bener bener gampang terpesona ya..." Kali ini Adit berucap dengan gaya yang di buat buat seperti Pevita tadi.


"Beneran! Dia juga Tampan..." Ucap Pevita tak berhenti mengagumi sosok Ferdi.


"Aku juga tampan!" Ucap Adit lagi.

__ADS_1


"Tapi dia baik banget, udah kayak sosok Jack di film Titanic, rela mati agar Rose tetap hidup, walaupun mungkin hidup dengan pria lain." Ucap Pevita tanpa menghilangkan binar kagum di wajahnya.


"Ya Tuhan.... yang di peluk Elvina yang baper malah si tukang jahit." Gumam Maudi tapi masih bisa di dengar oleh yang lainnya.


"Tukang jahit? Aku Desainer terkenal loh ini!" Pevita menatap Maudi tidak terima.


" Sama aja! Sama sama buat baju intinya!" Balas Maudi acuh.


Nih perempuan, semua laki laki di baperin.


Kemarin Wisnu, sekarang Ferdi, lah besok siapa lagi?


Hatinya cepat banget meleleh, udah kayak keju kena panggangan.


"Jadi lo mau mundur, Wis?" Tanya Maudi.


"Ya nggaklah! Kalian denger sendirikan tadi, Kalo sebenernya dia suka sama gue.


Gue akan meyakinkan Elvina untuk percaya sama cinta gue, dan ngajak dia berjuang sama sama untuk menjaga cinta kami selamanya." Tegas Wisnu.


"Bahasa lo, Wis! Udah siap lo ngenalin Elvina langsung di hadapan tente Melinda?" Adit bertanya serius.


Karna di rasanya sahabatnya itu terlalu senang sejak tau perasaan sesungguhnya sang pujaan hati.


Dan melupakan ibunya sendiri yang banyak aturan itu.


"Soal mama...gue percaya dia akan nerima Elvina nanti, tenang aja." Yakin Wisnu.


"Aku akan bantu kamu yakinkan tante." Timpal Pevita meyakinkan Wisnu.


"Kamu beneran?" Adit bertanya tak percaya.


"Ya iyalah! Kamu pikir aku pemeran antagonis yang akan memisahkan mereka?"


"Emangnya kamu nggak benci udah di tolak sama Wisnu? lagak mau bantuin lagi!" Kini gantian Maudi yang bertanya seperti meragukan ketulusan Pevita.


Bagaimanapun dia wanita yang di tolak Wisnu, tapi mendapatkan dukungan penuh dari ibunya Wisnu.


Kan takutnya nih ya ada udang di balik batu.


"Ya Tuhan....Kalian meragukan kualitas kebaikan hatiku? Sulit di percaya!" Ucap Pevita tak habis pikir sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Aku bener bener udah move on dari dia." Pevita berkata sambil menunjuk Wisnu.


"Dan sepertinya aku jatuh cinta dengan dia." Pevita menunjuk Ferdi.


"Sudah ku putuskan...Aku akan mengejar laki laki itu!"


"Tapi sayangnya dia suka Elvina!" Ucap Adit mengejek Pevita.


"Tapi sayangnya Elvina suka Wisnu!" Balas Pevita meniru gaya Adit.

__ADS_1


"Baiklah Pevita, aku memberikanmu dukungan penuh untuk mengejar Ferdi. Jadi semangatlah!" Ucap Wisnu menyodorkan tangannya pada Pevita.


"Terima kasih, aku benar benar mendoakan kebersamaanmu dengan Elvina." Bslas Pevita meraih tangan Wisnu.


__ADS_2