Aku, Kamu Dan Mama

Aku, Kamu Dan Mama
Hidup bersama


__ADS_3

Elvina masih setia menatap dirinya sendiri.


Celana jeans hitam, baju kaos longgar warna biru dengan merek D'ANGEL di punggungnya.


Benarkah begini penampilannya saat ini?


Pandangan Elvina beralih pada benda yang berada di tangannya. Sepasang buku nikah.


Ini beneran nyata?


"Maaf...hanya bisa memberikan pernikahan seperti ini." Ujar Wisnu.


Elvina tersenyum menatap Wisnu.


Ya, hari ini tepat pukul 14.23 WIB, Wisnu resmi menjadi suami Elvina. Pernikahan yang hanya di hadiri kedua mempelai, Maudi, Adit, Pevita, Fierra, Ferdi dan Bapak Rahadi Sastrowardoyo beserta istrinya.


Bahkan Elvina tidak tau kalau dia akan di nikahi Wisnu hari ini. Semua ini rencana Wisnu yang di bantu oleh teman temannya.


"Ingin resepsi?" Wisnu bertanya, yang hanya di jawab gelengan oleh Elvina.


"Aku hanya nggak menyangka, aku menikah bukan dengan baju kebaya atau gaun pengantin." Elvina terkekeh "Kamu juga Mas...cuma pake baju kaos biasa dan celana jeans biasa juga"


"Kita cocok dong." Balas Wisnu. "Aku malah suka kamu nggak pake baju." Bisik Wisnu di telinga Elvina, yang di hadiahi pukulan di lengannya.


"Beneran nggak ada pesta nih, Wis?" Tanya Maudi yang di angguki oleh Wisnu.


"Nggak ada pesta nggak masalah, yang jadi masalah kalo nggak ada malam pertama." Ujar Adit yang langsung di hadiahi tendangan di kakinya oleh Fierra.


"Aduuhh, sakit yang." Adit meringis menahan sakit.


"Yang sopan kalo ngomong." Fierra sudah melotot galak.


"Bener loh yang, kan nggak mungkin udah halal cuma salam salaman doang." Adit membela diri.


"Udah udah, sekarang kita ke apartemenku, kita pesta di sana." Ajak Wisnu. "Makasih Om dan Tante mau hadir disini." Ucap Wisnu sembari menyalami Orang tua Ferdi.


"Iya nak, jaga Elvina dengan baik ya. Dan semoga pernikahan kalian langgeng sampai ke anak cucu." Balas Bapak Rahadi Sastrowardoyo.


"Kami harus pergi sekarang, maaf nggak bisa lama lama bareng kalian semua." Sambung Ibu Ayudiah Sastrowardoyo.


"Nggak papa bunda." Ucap Elvina " Ayah sama bunda hati hati di jalan."


Setelah kepergian orang tua Ferdi dan Fierra, mereka semua menuju apartemen Wisnu.


Setelah sampai, mereka langsung menuju ke ruang keluarga.


Didalam ruang keluarga sudah tersedia banyak makanan dan minuman, dari yang ringan sampai yang berat.


Mereka mulai memakan makanan yang ada dengan nikmat dan semangat.


"Wis, tante nggak kamu kasih tau kalo kamu nikah hari ini?" Pevita penasaran, membuat semua orang berhenti memakan makanannya.


"Aku udah kirim fotocopy surat nikah kami tadi, mungkin sekarang udah di tangan mama." Jelas Wisnu santai.


*


*


*


Benar saja, Melinda sekarang sedang menatap fotocopy surat nikah anak tunggalnya.


"Kalian mempercepat pernikahan ternyata." Monolog Melinda. "Wisnu, kamu semakin mirip dengan Papamu."


"Mbak...restui saja mereka." Mira bersuara setelah sedari tadi diam menemani kakaknya.


"Aku belum bisa, Mir." Melinda membuang nafas pelan. "Biarkan saja mereka dulu, sampai kapan mereka bertahan. Mereka pikir menikah semudah itu."

__ADS_1


Mira hanya bisa mengiyakan keinginan kakaknya.


*


*


*


Setelah kepulangan teman temannya, Wisnu dan Elvina membersihkan sisa sisa kekacauan mereka tadi.


Elvina membaringkan badannya di karpet bulu setelah semuanya bersih.


Wisnu juga menjatuhkan badannya di samping Elvina.


"Capek?" Tanya Wisnu memiringkan badannya menatap Elvina.


Elvina tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.


Wisnu pun membelai rambut Elvina, kemudian tangannya turun mengelus lembut pipi Elvina.


"Mandi yuk." Ajaknya.


Elvina tersenyum malu sambil mengangguk.


*


*


Paginya Wisnu terbangun, dan tidak mendapati Elvina di sampingnya. Dilihatnya jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 06.30.


Wisnu merenggangkan otot ototnya, suara pintu terbuka mengalihkan pandangannya.


"Udah bangun, Mas. Mandi sana terus kita sarapan." Ucap Elvina.


Wisnu tidak menjawab, dia malah menyuruh Elvina mendekat dengan isyarat tangannya.


Elvina mendekati sang suami, setelah dekat Wisnu menarik Elvina hingga duduk di pangkuannya.


"Sebentar sayang."


Wisnu memeluk Elvina. "Wah...istriku udah wangi banget pagi pagi." Wisnu mengendus endus di ceruk leher sang istri.


"Iihh...cepetan mandi sana. Entar makanannya dingin." Elvina mengurai pelukannya.


"Nggak mau mandi bareng?" Tawar Wisnu


"Aku udah mandi."


"Yakin nih nggak mau mandi bareng suami"


"Mas...!"


"Iya iya."


Wisnu mencium kening istrinya, kemudian melangkah menuju kamar mandi.


Elvina membereskan tempat tidur, kemudian menyiapkan pakaian untuk suaminya.


Elvina menyiapkan sarapan sederhana untuk sang suami. Hanya Roti panggang yang di beri selai srikaya, dan segelas kopi hitam.


"Nggak masalahkan aku nggak cuti?" Tanya Wisnu setelah mendaratkan bokongnya di kursi ruang makan.


"Nggaklah, toh kita juga nggak kemana mana." Jawab Elvina sembari duduk di sebelah suaminya.


"Kamu nggak kepengen honeymoon?"


"Nggak Mas, di rumah juga sama aja."

__ADS_1


"Sama apanya?" Goda Wisnu pada sang istri.


"Mas....!" Elvina mencubit perut Wisnu.


"Aww...sakit sayang."


"Mas, ihh!" Rengek Elvina, di sambut tawa oleh Wisnu.


Mereka kemudian memakan sarapan dengan penuh canda tawa. Setelah selesai sarapan, Elvina mengantar Wisnu sampai depan pintu apartemen.


"Mas berangkat ya."


"Nanti siang mas makan siang dimana?"


"Jam sebelas nanti mas ada pertemuan penting, mungkin sampai makan siang. Kamu nggak masalah kan makan siang sendiri?"


Wisnu merasa kasian dengan istrinya sebenarnya. Baru menikah sudah di tinggal kerja. Tidak ada pesta, tidak ada gaun pengantin.


Dan sudah pasti tidak ada adegan susah buka resleting gaun pengantin seperti di novel novel. Wong dia tinggal narik kaosnya ke atas kok.


Eh..?


"Kalo kamu bosen, pergi aja ke kafe temui temen temen kamu." Imbuh Wisnu lagi dan di angguki oleh Elvina.


Elvina mencium takzim tangan suaminya, dan di balas ciuman di kening oleh Wisnu.


Setelah Wisnu menghilang dari pandangannya, Elvina kembali masuk ke dalam. Tapi baru beberapa langkah, suara bel sudah terdengar.


Elvina mengeryit bingung, apa suaminya kembali lagi? Apa ada yang ketinggalan?


Elvina melangkah kembali menuju pintu, lalu membukanya. Didepan pintu berdiri seorang wanita cantik dan elegan, mungkin berusia sekitar empat puluhan.


"Maaf, cari siapa?" Tanya Elvina ramah.


"Elvina?"


"Ya?"


"Saya Mira, tantenya Wisnu." Wanita itu memperkenalkan dirinya, mengulurkan tangannya pada Elvina.


"Elvina." Balasnya meraih tangan Mira. "Silahkan masuk, tante."


Mira dan Elvina masuk ke dalam, kemudian mereka berdua duduk di ruang tamu.


Elvina menyuguhkan segelas teh hangat di hadapan Mira. Jantungnya berdebar kencang.


ada apa tante dari suaminya datang kemari?


Setelah suaminya berangkat kerja?


Apa ada hubungannya dengan ibu mertuanya?


"Apa kalian bahagia?" Mira bertanya setelah meminum teh hangat yang ada di hadapannya.


"Iya, walaupun kebahagiaan kami belum sempurna." Jawab Elvina berusaha terlihat tenang.


"Boleh saya bertanya sesuatu yang pribadi?" Mira menatap Elvina lekat. Elvina pun mengangguk sebagai jawaban.


"Siapa nama kedua orang tuamu?"


Elvina menegang di beri pertanyaan seperti itu.


Itu sama saja membuka sejarah kelam kehidupan seorang Elvina Rani.


"Jangan tersinggung, Tante hanya ingin memastikan satu hal saja. Bisakah kamu beri tau tante siapa nama orang tuamu? Ayahmu? Ibumu?"


"Maaf, aku tidak tau siapa ayahku." Elvina menatap netra Mira dengan tenang. "Soal ibuku, dia meninggal karna sebuah penyakit. Nama ibuku....Aliya." Elvina menjawab dengan yakin.

__ADS_1


Sementara Mira menghembuskan nafas lega.


Setidaknya dia bisa memastikan, bahwa ibu kandung Elvina bukan Elinna, istri pertama Abimana Antara.


__ADS_2