
"Apa yang kamu tau?"
Melinda bertanya pada Mira, bawahannya.
Dan wanita itu menyerahkan sebuah amplop cokelat.
"Namanya Elvina Rani, usia 19 tahun, lulusan SMA, bekerja di kafe D'ANGEL sebagai pelayan." Jelas Mira.
"Pelayan?" Tanya Melinda penuh tekanan.
"Orang tuanya?" Tanya Melinda lagi penasaran, sambil menatap foto foto yang di ambilnya dari amplop cokelat yang di berikan Mira tadi.
"Gadis itu besar di panti asuhan, setelah SMA dia keluar dari panti dan kost di daerah dekat tempatnya bekerja paruh waktu, gadis itu sudah hampir 5 tahun bekerja di kafe itu."
"Pelayan...kemudian tidak jelas asal usulnya." Ucap Melinda sambil mengetuk ngetuk meja dengan jarinya.
"Mbak...sepertinya dia gadis yang baik." Ucap Mira.
"Sepertinya?" Ucap Melinda menatap tajam Mira,
Kemudian tersenyum remeh.
"Apa kamu lupa? Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Faktor genitik lebih mendominasi dari pada faktor lingkungan, Mira...jangan lupakan itu!" Tegas Melinda.
"Orang tuanya mungkin orang baik Mbak, kitakan nggak tau."
"Seperti katamu Mira, mungkin dan kita nggak tau."
"Mbak...."
"Mira...apa ada orang baik yang membuang anaknya ke panti asuhan?" Tekan Melinda.
"Aku sudah menyiapkan Pevita untuk jadi nyonya muda Antara Yuda. Pevita gadis cantik, baik, berpendidikan, dan dia dari keluarga baik baik." Ucap Melinda tegas.
"Tapi mbak...sepertinya Desainer muda itu tau Wisnu menyukai pelayan itu." kalimat yang di lontarkan Mira sukses membuat Melinda terdiam.
"Biarkan Wisnu menentukan pilihannya sendiri Mbak. Jangan sampai sejarah Mas Bima terulang kembali." Kata kata Mira membuat Melinda menatapnya tajam.
"Mbak cukup mengamati gadis itu. Dia layak atau tidak mendampingi Wisnu. Kasihan Wisnu mbak."
"Kasihan Wisnu? Ada apa dengan putraku?"
"Gadis itu menolak Wisnu."
"Itu bagus dong Mir."
"Tapi Wisnu masih mengejarnya. Mbak...beri mereka kesempatan." Mira memohon.
"Buatlah sejarah Mas Bima jadi contoh." Timpal Mira kembali.
"Hubungi Pevita. Aku akan menemuinya di kafe D'ANGEL Jam 3 sore." Final Melinda, dan Mira pun bergegas pergi dari hadapannya.
__ADS_1
Melinda memejamkan matanya.
Bayangan masa lalu menghampiri ingatannya.
Mas Bima...
Melinda menyebutnya dalam hati, airmatanya pun perlahan menetes.
Dia masih ingat pertemuan pertamanya dengan lelaki itu.
Laki laki yang membuatnya terpesona.
Laki laki ramah dan hangat yang membuatnya terus jatuh cinta.
Tapi di perkenalannya yang ke tiga bulan, kalimat yang di ucapkan Abimana Antara membuatnya patah hati.
"Aku mencintai seorang gadis, namanya Elinna, Ayahnya satpam di sekolah dasar, Ibunya pedagang nasi goreng diwarung kaki lima, Orang tuaku tak merestui kami."
Ya Tuhan...kenapa aku masih ingat dengan jelas kata kata Mas Bima?
*
*
*
Sementara itu dikantor, Wisnu kedatangan Adit, sahabatnya. Mereka asik berbincang di ruangan Wisnu.
"Lo bisa keluar nggak? Gue sibuk ini!" Ucap Wisnu kesal.
Temen lagi galau di tolak terus, ini manusia satu malah ngejek terus, kan sialan itu!
"Pevita lebih cantik deh Wis dari pada pelayan kafe itu." kompor Adit.
"Gue udah Ganteng, itu aja udah cukup!" Balas Wisnu sekenanya dan sukses membuat Adit berdecak kesal.
Temen satu ini kok narsis bener.
"Terus tante Melinda?" Tanya Adit serius.
"Mama paling juga udah nyari tau dari tante Mira." Yakin Wisnu.
"Tante lo itu udah kayak Google, tau segalanya.
ini ya Wis, tante Mira mungkin tau juga warna daleman lo."
"Nggak berbobot bahasan lo Dit!"
*
*
__ADS_1
*
Waktu berlalu juga, wanita paruh baya itu masih setia memperhatikan seorang pelayan wanita di sebuah kafe.
Hingga datang seorang wanita cantik menyapanya.
"Udah nunggu lama, tan?" Tanyanya tak enak sembari mendudukkan bokongnya di kursi seberang wanita paruh baya itu.
"Nggak juga, tante udah pesen makanan. Silahkan di makan." Ucap wanita paruh baya itu lembut dan wanita itu menjawab dengan anggukan serta senyum di bibirnya.
"Pevita...kamu menyukai Wisnu?" Melinda bertanya memecah keheningan yang tercipta beberapa menit tadi.
"Wisnu mencintai wanita lain tante." Jawab Pevita tenang setelah menyelesaikan makannya, dan meminum jus wortelnya.
"Pelayan itu?" Tanya Melinda menunjuk seorang pelayan di depan meja nomor tiga dengan dagunya, kemudian mendapat jawaban anggukkan dari Pevita.
"Gadis itu besar di panti asuhan. Dan tidak jelas siapa orang tuanya." Ucap Melinda santai, seolah menjelaskan gadis itu tidak berarti apa apa.
"Dia gadis yang baik tante."
"Karna dia gadis baik, dia perlu orang tua untuk hadir di pernikahannyakan?" Tekan Melinda membuat Pevita menghela nafasnya.
"Tidak ada anak di dunia ini yang ingin tidak memiliki orang tua. Aku, tante dan juga gadis itu tidak pernah berdoa untuk jadi yatim piatu." Ucap Pevita bijak, membuat Melinda tersenyum menatapnya.
"Kamu memang menantu idaman, Pevita." Tegas Melinda dengan senyum yang tak pudar dari bibirnya.
"Tante, pangeran aja menerima Cinderella apa adanya."
"Dan demi harta ibu bawang merah meracuni ibu bawang putih." Balas Melinda tenang.
"Tante, jangan berburuk sangka dulu sebelum mengenalnya."
"Pevita...kamu memang bijaksana." Masih tersenyum Melinda mengucapkannya.
Pevita sampai frustasi dibuatnya.
Tante Melinda bener bener gigih menolak Elvina. batinnya bersuara.
"Pevita...kamu hanya perlu menyukainya dan selalu berada di sisinya. Mendukungnya apapun yang terjadi. Pasti perlahan Wisnu akan menyukaimu, dan dua keluarga besar kita akan bahagia." Tegas Melinda meyakinkan Pevita.
"Iya tante. Aku memang mendukung Wisnu untuk mengejar Elvina apapun yang terjadi. Mereka berdua harus bersatu dan bahagia." Terang Pevita menatap netra Melinda dengan serius.
"Pevita...."
"Tante, Wisnu bukan anak tiga tahun yang tidak memahami semua hal. Wisnu sudah 26 tahun, dan dia sudah paham apa yang memang benar benar di inginkan." Ucap Pevita menyela kata kata Melinda.
"Aku masih ada keperluan lain di butik. Aku permisi dulu tante." Pevita berkata kemudian beranjak pergi keluar kafe meninggalkan Melinda.
Sementara Melinda kembali mengamati gadis pelayan kafe itu.
Mas Bima...kenapa ini terulang?
__ADS_1