
"Bagaimana makanannya? Suka?" Ferdi bertanya di sela sela kunyahannya.
"Suka. Apalagi suasananya" Jawab Wisnu sembari matanya mengitari sekitarnya. "Benar benar menyehatkan dan membuatku berdebar debar."
"Sukurlah."
"Kenapa tidak kau tambahkan anggur atau wine?
Kita bisa meminumnya dengan tangan menyilang.
Pasti romantis!" Sarkas Wisnu.
"Kau ingin kita mabuk? Dan berakhir di ranjang?" Ferdi menghentikan kunyahannya, dan menatap Wisnu dengan senyum damainya.
Iihh...Wisnu merinding!
"Ah...kau benar benar paham yang ku mau." Ucap Wisnu tersenyum dan di balas Ferdi dengan senyuman pula.
Mereka kembali menyantap makanan dan minum yang di meja dengan diam. Tidak ada lagi obrolan yang berarti hingga mereka selesai.
"Elvina...dia sedari kecil tinggal di panti asuhan" Ferdi memulai obrolan sambil netranya menatap Wisnu lekat.
"Aku tau."
"Bukan karna dia tak punya siapa siapa, tapi karna ibunya meninggalkannya begitu saja di depan gerbang panti asuhan, tanpa menitipkannya ke kepala panti." Cerita Ferdi masih menatap Wisnu dan Wisnu hanya diam menunggu lanjutan ceritanya.
"Saat itu usianya enam tahun. Dan dia masih ingat sampai sekarang, janji seorang ibu yang akan menjemputnya setelah menikah, dan akan memberinya seorang ayah dan kakak yang akan menjaganya. Tapi tiga belas tahun berlalu, dan itu semua hanya sebuah janji."
"Ibunya tidak pernah datang?" Tebak Wisnu. Dan di angguki Ferdi.
"Ibunya menikahi pria kaya." Ferdi menjeda ucapannya kemudian menghembuskan nafasnya lemah "Elvina, dia takut kembali di buang saat bersamamu, pria kaya."
"Dia jauh berpikir."
"Dia takut kau malu memilikinya jika di ketahui keluargamu. Dan meninggalkannya begitu saja. Sama seperti ibunya, meninggalkannya setelah bertemu pria kaya. Seakan akan malu punya putri seperti Elvina. Setidaknya itulah yang di pikirkannya."
"Aku serius ingin menjadikannya istriku."
"Tanggapan keluargamu?" Pertanyaan Ferdi menohok hati Wisnu.
Iya, keluargaku?
" Aku akan segera mengenalkannya pada ibuku."
"Bisakah aku memohon satu hal padamu?" Wisnu pun mengangguk. "Jangan tinggalkan Elvina apapun itu tanggapan keluargamu. Karna sekali saja kau melangkah meninggalkan Elvina, aku dan keluargaku akan membawanya menghilang dari hidupmu. Dan tidak ada kesempatan kedua."
"Aku mengerti." Tegas Wisnu.
*
*
*
Sementara itu di kafe, empat orang sedang makan malam bersama.
"Fierra, mari nonton setelah ini." Fierra menatap sengit pria di depannya.
Sok dekat!
"Siapa namamu?" Fierra bertanya dengan ketusnya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu mau menyebut namaku di setiap doa doamu ya...?"
"Iya, aku mau berdoa, semoga kita nggak pernah ketemu lagi!"
"Hahaha....di tolak lo Dit." Maudi tertawa mengejek Adit. Fierra itu cewek ketus, mana mempan dia di rayu pake acara nonton. Adit...Adit...
"Ferdi masakin apa ya untuk Wisnu...?" Cetus Pevita penasaran.
Dua orang pria makan malam bersama.
Apa mereka harus seromantis itu?
Akh...aku juga pengen di masakin Ferdi makanan sehat.
Kalo perlu di suapin.
di mandiin.
Eh?
"Heh tukang jahit! Kepo amat hidup lo." Maudi benar benar gemas di buat Pevita.
Perempuan ini sudah ngikutin Ferdi dan mereka kemana mana. Udah kayak rambut sama ketombe dah.
"Kak Pevita beneran suka sama kak Ferdi?" Tanya Fierra dan langsung di jawab anggukan antusias Pevita. Dan jangan lupakan tangannya yang memegang tangan Fierra juga.
"Terus apa usaha kakak untuk mendapatkan kakakku?"
"Apalagi? Ya ngintilin Ferdi kemana manalah!" Sela Maudi menjawab pertanyaan Fierra.
Pevita mencebikkan bibirnya.
"Jadi aku harus gimana, Maudi?" Kesal Pevita.
"Kreatif dong! Buatin dia sarapan tiap pagi kek."
"Aku nggak bisa masak..." Keluh Pevita.
Lagian nih ya, kalau dia bisa masak, apa bisa enak di lidah Ferdi? Kan Ferdi Chef, apa bisa dia mengimbangi cita rasa masakan Ferdi?
Hadeehh...
"Gini aja deh, selain bisa bikin baju, lo bisa apa lagi?"
Pevita diam mengetuk ngetukan jarinya di dahi seolah berpikir. "Aku bisa...mencintai Ferdi dengan tulus dan ikhlas selamanya. Dan menerima Ferdi apa adanya."
Maudi, Fierra dan Adit serempak menepuk jidat mereka masing masing.
Kok ada ya manusia seperti Pevita ini?
Untung cantik!
"Ya Tuhan Pevita...Kalo cuma modal cinta bisa menjalani hidup bersama, aku sama Fierra udah jadian." Gemas Adit.
"Lah...kok bawa aku sama kamu sih?" Fierra tidak terima.
"Jadi? Masa bawa aku sama Maw maw? Kan kami nggak saling mencintai."
"Geli gue, Dit." Maudi menggoyangkan bahunya jijik. "Ya Tuhan....mengapa engkau hadapkan hamba pada manusia manusia gila cinta begini... Cobaan macam apa lagi ini ya Tuhan..." Maudi mengangkat tangannya seolah berdoa dengan wajah sedih di buat buat.
Tapi ini orang orang di depannya ini memang benar benar....
__ADS_1
Entahlah Maudi sudah tidak bisa lagi berkata kata.
"Kayak kita saling mencintai aja!" Ketus Fierra.
"Akan sayang...." Kata kata Adit membuat Maudi dan Fierra membuat gerakan muntah.
Sayang? Alay!
"Ih...kalian romantis deh..." Pevita bertepuk tangan heboh.
Ini Pevita ngapa sih? Dimana letak romantisnya!
"Aku dukung kamu loh Dit. Jadi kamu juga harus dukung aku. Biar kita bisa jadi keluarga yang sesungguhnya." Antusias Pevita.
"Cakep! Ini baru yang namanya keluarga. Saling mendukung satu sama lain. Jadi nggak sabar pengen jadi saudara ipar yang sesungguhnya." Adit pun tak kalah antusias.
"Bisa setres aku hidup diantara kalian! Aduh... nggak bisa aku bayangin deh..." Fierra berucap sembari mengusap usap dahinya.
Bisa gila dia kalau Adit menjadi suaminya dan Pevita menjadi kakak iparnya.
"Jangan di bayangin sayang. Kita laksanakan aja terus. Kita pasti bahagia."
"Nggak hanya kamu aja yang setres, Fierra. Aku juga lama lama bisa hilang kewarasanku berhadapan sama mereka berdua." Timpal Maudi.
Adit dan Pevita sepertinya sama saja.
Mana yang di kejar kakak beradik lagi.
"Kamu nggak mau terima aku jadi kakak ipar?"
"Aku belum bisa move on dari kriteria seorang Elvina." Ucap Fierra acuh.
"Dia udah jadian sama Wisnu loh! Kamu mau membuat kakakmu jadi orang ketiga?" Todong Pevita.
"Mereka belum menikah! Dan Wisnu datangnya belakangan, jadi dialah orang ketiganya." Bela Fierra.
"Wisnu dan Elvina saling mencintai. Kamu jangan ganggu mereka. Biarkan aku bersatu dengan Ferdi. Dan kamu bersatu dengan Adit."
"Nah...itu aku setuju!" Adit menyambut senang kata kata Pevita.
"Cih...Katanya cinta sama aku! Tapi belain perempuan lain! Di depan mataku lagi!" Decih Fierra.
"Nggak gitu sayang....Aku setuju kata katanya yang bilang kita bersatu." Terang Adit
"Jadi kamu nggak dukung aku bersatu sama Ferdi, Dit? Tega kamu, aku dukung kamu ikhlas loh." Pevita sudah memperlihatkan wajah sedihnya.
Ini gimana sih Adit? Udah di dukung kok malah nggak balik dukung.
Kan curang!
"Bukan gitu Pevita....."
"O...Jadi kamu lebih dukung dia dari pada aku?" Ucap Fierra memotong ucapan Adit.
"Bukan gitu sayang...."
"Dit....." Ucap Pevita memelas.
"Kamu pilih dia apa aku?"
"Males banget dah gue nonton drama kalian yang nggak mutu! Hadeehh..." Ucap Maudi lalu berdiri, melangkah meninggalkan Adit, Fierra, Pevita dan drama tidak jelas mereka.
__ADS_1