
Setelah sampai di rumahnya, Reyna langsung masuk untuk mencari sang bunda.
“Bundaaa!! Rere pulang..!!” ucap Reyna bersemangat seraya melangkahkan kakinya masuk ke rumah.
“Kok kayak sepi banget rumah ini. Bunda kemana ya?” gumam Reyna pelan sambil mengedarkan pandangannya mencari bunda Mery.
“Bundaaa..” panggil Reyna sekali lagi.
“Bunda dikamar Rey!” terdengar suara bunda Mery menyahuti panggilan Reyna, membuat Reyna segera bergegas ke kamar bunda Mery.
“Uhuk! Uhuk!”
“Uhuk! Uhuk!”
Saat Reyna hendak melangkahkan kakinya masuk ke kamar bunda Mery, Reyna melihat sang bunda sedang duduk di ranjangnya dengan terbatuk-batuk.
“Bunda.. Bunda kenapa?” tanya Reyna khawatir dan dengan cepat langsung duduk disamping bundanya.
“Uhuk! Uhuk! Nggak papa, bunda nggak papa kok Rey” jawab bunda Mery terbatuk-batuk.
“Beneran nggak papa? Atau kita ke dokter dulu aja bun?” ucap Reyna khawatir melihat kondisi sang ibunda.
“Nggak usah Rey, bunda nggak papa kok. Bunda cuma perlu istirahat aja, setelah istirahat pasti juga sembuh.” tolak bunda Mery.
“Yasudah kalau gitu. tapi, bunda sudah minum obat? Kalau belum Reyna beliin di warung depan??” tanya Reyna sekali lagi.
“Sudah Rey, bunda sudah minum obat.” jawab sang bunda yang membuat hati Reyna sedikit lega.
“Yasudah.. kalau gitu sekarang bunda istirahat dulu.” ucap Reyna sembari menyuruh bundanya untuk berbaring.
“Tapi bunda masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai Rey, cucian bu Anggi juga belum bunda antar..” jelas bunda Mery yang masih berat akan pekerjaannya.
“Udah, bunda tenang aja. Biar Rere yang selesaiin.” jawab Reyna lembut.
“Tapi Rey.. kamu kan capek habis pulang kerja, nanti kalau kamu sakit gimana?” tanya bunda Mery yang langsung mendapat respon cepat dari Reyna.
“Ssttt.. Bunda nggak perlu khawatir, Rere nggak capek kok bun. Tadi di kantor kerjanya juga masih ringan karna ini masih hari pertama, dan Rere juga nggak bakal sakit cuma karna bantuin kerjaan bunda. Jadi bunda tenang aja dan serahkan semuanya sama Rere, okey?” pinta Reyna kepada sang bunda yang membuat bunda Mery pasrah dan menuruti perkataan anaknya itu.
“Nah, sekarang bunda istirahat ya..” lanjut Reyna seraya membantu bunda Mery berbaring di ranjangnya dan menutup setengah badan sang bunda dengan selimut.
“Makasih ya Rey?!” ucap bunda Mery yang melihat Reyna akan beranjak dari kamarnya.
__ADS_1
“Bunda ngomong apa sih, nggak perlu terimakasih lah. Rere kan anak bunda. Sudah sewajarnya anak bantuin orang tuanya.” jawab Reyna dengan senyuman tulus.
“Yaudah Rere kebelakang dulu ya bun, sama mau nganterin cucian bu Anggi yang udah selesai.” lanjut Reyna berpamitan kepada sang bunda yang dibalas dengan anggukan.
Reyna pun melangkahkan kakinya keluar kamar sang bunda dan segera mengambil sapu dan kemoceng untuk beres-beres.
Selang beberapa menit berlalu..
“Wahh.. akhirnya, kelar juga bersih-bersih rumahnya. Sekarang tinggal antar cucian kering ke rumahnya bu Anggi lalu istirahat deh!” gumam Reyna pelan setelah melihat dengan puas ke penjuru ruagan yang terlihat bersih dan rapi.
“Tok! tok! tok!’
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat sang empunya segera berlari untuk membukanya.
“Eh, Reyna.. sudah selesai ya cuciannya?” terlihat sosok ibu-ibu paruh baya membukakan pintu untuk Reyna dan bertanya dengan ramah.
“Iya bu Anggi. Sudah bersih dan harum!” jawab Reyna dengan senyuman dan menyerahkan cucian bersih itu kepada bu Anggi.
“Tumben bukan bu Mery yang mengantar?” tanya bu Anggi sekali lagi.
“Iya bu.. Bunda sedang istirahat, sedang tidak enak badan.” jawab Reyna menjelaskan kondisi bundanya.
“Terimakasih bu Anggi..” balas Reyna tersenyum ramah.
“iya sama-sama. ini uangnya Rey..” ujar bu Anggi seraya memberikan uang senilai 50.000 rupiah kepada Reyna.
“Baik bu Anggi. Terimakasih..!!” jawab Reyna sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya untuk pulang.
Sesampainya dirumah, Reyna segera bergegas untuk membersihkan diri karena hari sudah semakin gelap. Setelah 30 menit berlalu, Reyna keluar dari kamar mandi dan menuju kamarnya. Didalam kamar, ia terduduk di tepi ranjang sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
“Haahhhh..!! Hari pertama kerja yang cukup melelahkan. Banyak banget hal-hal yang terjadi hari ini. Mulai dari bertemu beberapa kali dengan CEO sombong yang menjengkelkan itu, dilabrak karyawan lain, hingga insiden tabrakan dengan mantan pacar CEO yang membuat heboh seluruh karyawan perusahaan”
“Tapi kalau dipikir-pikir. Semua hal yang terjadi padaku hari ini, semuanya berkaitan dengan CEO sombong itu. Ya, dialah penyebab dari semua masalah ini! Dasar pria sombong dan arogan! Aku harus menghindarinya, agar aku tidak terlibat masalah yang lebih jauh lagi. Ya, HARUS!” kata Reyna bergumam dengan kesal pada dirinya sendiri. setelah rambutnya yang basah sudah kering. Tanpa pikir panjang, Reyna segera membaringkan tubuhnya dikasur dan langsung memejamkan matanya.
Di sisi lain..
Terlihat mobil porsche 911 berwarna hitam jet metalic dengan tipe tertinggi tengah melintasi pekarangan rumah yang sangat mewah nan megah milik keluarga Nugroho. Mobil itupun berhenti tepat didepan rumah dengan para maid dan kepala pelayan yang tengah menyambutnya.
“Silahkan tuan muda, tuan dan nyonya besar sudah menunggu.” ucap kepala pelayan yang bernama Tiyo itu seraya membukakan pintu mobil Revan.
“Dimana mereka?” tanya Revan kepada pak Tiyo.
__ADS_1
“Di ruang keluarga tuan muda.” jawab Tiyo yang membuat Revan bergegas memasuki rumahnya untuk segera menemui kedua orang tuanya, dengan diikuti Bagas dibelakangnya.
“Pa, ma.. ada apa kalian mencariku?” tanya Revan sesampainya diruang keluarga dan melihat kedua orang tuanya tengah duduk santai menunggunya.
“Akhirnya kamu pulang juga sayang, sini duduk..!” ucap Nyonya Nugroho sembari menghampiri anaknya dan mengajaknya untuk duduk.
“Gimana pekerjaanmu hari ini Revan?” tanya Tuan Nugroho kepada putra semata wayangnya itu.
“Lancar, bahkan bisa dibilang sangat lancar pa.” jawab Revan santai.
“Papa dengar dari Bagas, hari ini ada keributan yang terjadi di perusahaan?” tanya Tuan Nugroho sekali lagi.
“Oh, hanya keributan kecil. Papa tidak perlu khawatir.” jawab Revan menenangkan papanya.
“Syukurlah, kalau ada masalah serius. Langsung hubungi papa.” ucap Tuan Nugroho mengingatkan anaknya.
“Papa tenang aja, tidak ada masalah yang akan terjadi dengan perusahaan kita.” jawab Revan dengan percaya diri.
“Baguslah kalau kamu berkata begitu. Pilihan papa menyerahkan perusahaan padamu memang tidak salah!” ucap Tuan Nugroho puas dengan perkataan anaknya.
“Sayang, sudah dong bahas masalah pekerjaan. Revan kan baru pulang, biarkan dia istirahat..!” ucap Nyonya Nugroho mengingatkan.
“Yasudah.. karena mamamu sudah berkata begitu, kamu istirahat saja Revan.” kata Tuan Nugroho menuruti kemauan istrinya untuk membiarkan sang anak beristirahat.
“Dan Bagas, kamu juga istirahatlah.” lanjut Tuan Nugroho mempersilahkan Bagas menuju kamarnya dilantai bawah. Ya, semua pelayan dan asisten dikeluarga Revan tinggal di rumahnya.
“Baik Tuan besar, Nyonya besar, dan Tuan muda. Saya permisi.” ucap Bagas hormat seraya melangkahkan kakinya menuju lantai dasar.
“Kalau gitu Revan ke kamar dulu Pa, ma.” pamit Revan kepada kedua orang tuanya itu.
“Iya sayang, selamat istirahat!” ucap Nyonya Nugroho lembut.
“iya ma, pa.. selamat istirahat juga untuk kalian.” balas Revan seraya melangkahkan kakinya ke kamar miliknya.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Revan pun langsung berbaring di kasur king size miliknya. Saat ia mulai merebahkan dirinya di kasur, Revan melihat perekam suara yang berada di meja samping tempat tidurnya lalu mengambilnya dan memutar rekaman suara yang tak lain ialah rekaman suara Reyna, sambil mendengarkan Revan tanpa sadar membayangkan awal pertemuannya dengan Reyna dan kejadian hari ini hingga membuatnya tersenyum lebar. Bahkan bisa dibilang sangat lebar.
“Reyna Handoko. Gadis yang sangat menarik.” gumam Revan seraya tersenyum.
“Baru pertama kali aku bisa terkekeh seperti tadi karena seorang gadis sepertimu. Wajah panikmu saat menumpahkan gelas di baju Mira, cukup menggemaskan, dan aku menyukainya.” ucap Revan membayangkan raut wajah Reyna.
“Kita lihat, hal menarik apa lagi yang akan kau perlihatkan kepadaku kedepannya. Aku sangat menantikannya.” lanjut Revan tersenyum licik sebelum akhirnya menenggelamkan dirinya kedalam selimut dan tertidur lelap.
__ADS_1