Aku, Kenangan, Angan Dan Masa Depan

Aku, Kenangan, Angan Dan Masa Depan
Gengsi


__ADS_3

Langit telah menampakkan sinar jingganya, dan jam dinding pun telah menunjukkan pukul 16.00 yang artinya jam pulang kantor bagi para karyawan telah tiba.


“Hooaaaammm!! Akhirnyaaa waktunyaa pulaangggg ngantuk banget gue!” ucap Gita yang tengah menguap sambil meregangkan tubuhnya.


“Iya nih! sama gue juga ngantuk, capek banget pula!” sahut Anya yang juga merasakan hal yang sama.


“Yaudah yuk An, Rey kita pulang!” ajak Gita kepada kedua sahabatnya itu.


“Hayukkkk!” jawab Anya cepat.


“Maaf kak, kalian pulang dulu aja. Aku masih mau lanjutin pekerjaanku sedikit lagi.” ucap Reyna yang sedari tadi masih berkutat dengan pekerjaannya.


“Ya ampuunnn!! Yang hari pertama kerja, sibuknya bukan maeennn!” ejek Gita.


“Iya nih, kamu masih ngerjain apa sih Rey?!” tanya Anya penasaran.


“Hehe ini kak masih tentang laporan divisi. Tinggal sedikit lagi kok, kalian duluan aja..” jawab Reyna sembari mempersilahkan sahabatnya untuk pulang lebih dulu.


“Nggak papa nih?!” tanya Anya sekali lagi.


“Iya kak.. nggak papa kok!” jawab Reyna yakin.


“Yaudah kalau gitu kita pulang duluan ya Rey..” lanjut Anya berpamitan.


“Iya, gue pulang duluan ya Rey. udah gak kuat, ngantuk bangettt!” ucap Gita ikut berpamitan.


“Jangan terlalu keras ya Rey, santai aja. Kalau lu udah capek, lanjut besok aja okay?!” lanjut Gita mengingatkan sahabatnya itu.


“Siap kak Gita. Nggak usah khawatir hehehe!” jawab Reyna cengengesan.


“Yaudah kalau gitu kita balik yaa, Bye Rey..!!” ucap Anya sebelum akhirnya beranjak dari meja kerjanya dan diikuti oleh Gita.


“Bye Rey!” ucap Gita seraya melambaikan tangannya.


“Iya kak, kalian hati-hati dijalan..” ucap Reyna kepada dua sahabatnya itu.


“Siap Rey!” jawab Anya dan Gita serempak sebelum akhirnya mereka benar-benar keluar dari ruangan.


Setelah Anya dan Gita beranjak pergi dari ruangan, ruang kerja jadi terlihat sepi dan sunyi. Karena beberapa karyawan yang masih tersisa sebelumnya juga sudah pergi, dan hanya tinggal Reyna seorang diri.


“Hmm.. hari pertama kerja aku udah telat pulangnya karena masih ingin cari tahu lebih lanjut lagi tentang laporan yang kurasa nggak beres.” gumam Reyna seraya melanjutkan pekerjaannya.


“Ceklek!”


“Loh, Reyna. Kamu belum pulang?!” tanya pak Anthony, kepala divisi Reyna yang baru saja keluar dari ruangannya. Ya, berbeda dengan para staff yang menjadi satu ruangan dengan beberapa meja kerja, kepala divisi memiliki ruangannya sendiri di dalam ruangan yang sama dengan ruangan para staffnya.

__ADS_1


“Loh, pak Anthony masih belum pulang?” bukannya menjawab pertanyaan pak Anthony, Reyna malah balik bertanya.


“Iya, tadi masih ada beberapa hal yang harus saya kerjakan, pas keluar dari ruangan dan mau pulang sempet kaget kamu masih ada disini. Padahal ini kan masih hari pertamamu bekerja.” jawab pak Anthony


“Hehe.. iya pak, saya masih menganalisis laporan anggaran masing-masing divisi dari tahun-tahun sebelumnya hingga sekarang. Biar saya semakin paham.” ucap Reyna menjelaskan.


“Oh, gitu. yasudah kalau gitu mau pulang bareng?!” ajak pak Anthony yang membuat Reyna terlihat sedikit kaget beberapa detik.


“Eh..!”


“Sebelumnya terimakasih atas tawaran bapak, tapi saya masih mau melanjutkan ini sedikit lagi.” tolak Reyna dengan sopan.


“Baiklah, kalau gitu saya duluan ya..” ucap pak Anthony berpamitan.


“Iya pak, hati-hati dijalan..” ucap Reyna sambil tersenyum ramah.


“Iya, kamu juga..” balas pak Anthony seraya melangkahkan kakinya keluar ruangan. Setelah berada diluar ruangan, sikap pak Anthony yang semula terlihat cool tiba-tiba berubah menjadi tersipu malu dengan wajah merah padam.


“Deg! Deg! Deg! Deg!”


Suara detak jantung yang tak beraturan hingga seperti terdengar sampai keluar, membuat ia bersender sejenak pada dinding koridor.


“Bisa pingsan aku lama-lama disenyumin kayak gitu!”


“Huuhhh.! Oke Anthony, pelan-pelan saja. Santai saja, jangan terlalu agresif, buat dia merasa nyaman didekatmu. Sekarang pulang dulu, dan persiapkan diri untuk besok, kamu harus terlihat berwibawa dihadapannya. okey!” ucapnya menyemangati diri sendiri sebelum akhirnya beranjak pergi.


Benar, sejak pertama kali Reyna memperkenalkan diri diruang kerja, pak Anthony sudah terpanah akan kecantikan dan aura positif yang ada pada diri Reyna. Sejak saat itulah ia terus memperhatikan Reyna dan tidak berhenti menatapnya. Bisa dibilang cinta pada pandangan pertama.


30 menit telah berlalu, terlihat Reyna sedang merapikan meja kerjanya dan bergegas untuk pulang.


“Hufftt.. Akhirnya.. waktunya pulanggg!!” ucapnya bersemangat sambil melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju lift.


“Ting!”


Bunyi dentingan lift terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu lift, dan memperlihatkan sosok Reyna yang telah mendarat dengan selamat sampai ke lantai dasar, yakni lobi.


“Ting!”


“Drap! Drap! Drap!”


Bunyi dentingan lift terdengar sekali lagi dari arah yang tak jauh dari tempat Reyna beranjak saat ini, dan tak lama disusul bunyi beberapa langkah kaki yang semakin mendekat.


Terlihat dua orang pria tampan sedang berjalan ke arah Reyna dengan gagah.


“Hah, itukan.. pak Revan dan sekretarisnya. Aduhh.. gimana nih, apa yang harus aku lakukan?”

__ADS_1


“Apa sebaiknya aku lari aja ya.? Tapi, kalau ingat kejadian tadi.. dia kan sudah membelaku, dan aku belum sempat mengucapkan terimakasih kepadanya. Sebaiknya aku sapa dia untuk berterimakasih karena sudah membelaku seperti tadi!” ucap Reyna dalam hati sembari melihat Revan dan Bagas yang semakin mendekat.


Saat Revan dan Bagas sudah akan melintas dihadapannya, Reyna akhirnya memberanikan diri melangkahkan kakinya kehadapan Revan dan Bagas yang berhasil membuat keduanya berhenti.


“Ada apa? kenapa menghadang jalanku?” tanya Revan dengan tatapan angkunya.


“S-saya..” entah kenapa saat didepan Revan, Reyna malah menjadi gugup. Bahkan bicaranya pun jadi berantakan.


“Kalau tidak ada yang ingin kau sampaikan, menyingkirlah!” ucap Revan dingin.


“Terimakasih!"


"Saya ingin mengucapkan terimakasih karena anda telah membela saya tadi siang!” ucap Reyna sedikit cepat dan terengah-engah karena merasa sulit untuk menyelesaikan kata-katanya.


“Oh, kamu berterimakasih padaku?!” tanya Revan dengan mengangkat sebelah alisnya.


“Iya pak.” ucap Reyna sambil menganggukkan kepalanya mantap dan entah kenapa bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman.


“Sayangnya itu tidak perlu, karena sebenarnya saya melakukannya untuk diri saya sendiri. saya melakukannya karena sudah jenuh dengan wanita itu.” alibi Revan.


“Hah?!” Reyna tercengang mendengar jawaban Revan, dan seketika senyuman yang terukir dibibir Reyna menghilang.


“Kenapa? Kamu malu karena sudah terlalu percaya diri? mengira aku membelamu tapi kenyataanya aku melakukannya untuk diriku sendiri?!” ucap Revan dengan nada mengejek.


Reyna terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya membalas perkataan Revan.


“Tidak, saya hanya mengira bapak masih memiliki hati nurani untuk membela karyawan kecil seperti saya, tapi ternyata saya salah!” ucap Reyna yang berhasil membuat wajah Revan menjadi merah karena malu dan amarah yang bercampur aduk menjadi satu.


“Apa katamu?!” tanya Revan dengan nada sedikit dinaikkan.


“Kalau begitu, saya permisi dulu pak Revan yang terhormat!” ucap Reyna dengan senyuman sebelum akhirnya ia beranjak pergi dari hadapan Revan.


Sebenarnya, Reyna sengaja membuat Revan emosi karena telah mempermainkan ucapan terimakasih yang ia berikan. Oleh karena itu Reyna sengaja memancing amarah Revan lalu berpura-pura seakan-akan tidak terjadi apa-apa dan langsung meninggalkannya tanpa rasa bersalah seperti yang Revan lakukan terhadapnya.


“Dasar orang gila! Bisa-bisanya mempermainkan orang seperti itu. Untungnya aku bisa memanfaatkan sifat temperamentalnya itu untuk membalasnya.. Hahaha kita impas sekarang!” kata Reyna dalam hati sambil tersenyum puas dan tetap melangkah pergi.


“Heyy! Kembali kau lalat kecil!”


“Heyy!!”


Terdengar suara teriakan Revan yang menyuruh Reyna kembali kehadapannya. Namun tidak dihiraukannya, Reyna segera menaiki bus dan pulang.


“Sabar tuan muda! Anda harus bisa mengontrol emosi anda!” ucap Bagas menenangkan bosnya yang temperamental itu.


“Sekarang kita harus segera pulang, karena Tuan dan Nyonya besar sedang menunggu.” lanjutnya yang membuat Revan terdiam dan langsung bergegas pulang.

__ADS_1


__ADS_2