
Setelah Mira diseret keluar oleh beberapa bodyguard Revan, suasana menjadi riuh karena para karyawan yang heboh melihat kertas-kertas berisikan bukti-bukti yang berceceran tersebut.
“Apa kalian tidak akan bekerja?!” ucap Revan yang membuat semua karyawan terdiam.
“Hey kau! Naiklah ke ruanganku!” ujar Revan menunjuk Reyna.
“Hah? S-saya? T-tapi pak..” ucap Reyna yang langsung dipotong oleh Revan.
“Bagas! Bawa dia ke ruanganku sekarang!” perintah Revan kepada Bagas yang langsung dilaksanakan.
“Mari ikuti saya.” Ajak Bagas kepada Reyna yang terpaksa diikutinya dengan pasrah. Semua karyawan semakin dibuat melongo melihat Revan menyuruh Bagas membawa Reyna yang terluka ke ruangannya.
“Lalu, kalian.. Apalagi yang kalian tunggu?!” sentak Revan kepada para karyawannya yang langsung membuat mereka membubarkan diri menuju ruang kerja mereka masing-masing.
Setelah membubarkan kerumunan karyawannya, Revan pun langsung berlalu pergi menaiki lift untuk menuju ruang kerjanya. Namun, terlihat ada dua orang yang masih berdiri mematung akibat menyaksikan semua kejadian dilobi, siapa lagi kalau bukan Anya dan Gita.
“An, ini kita lagi nggak mimpikan?!” tanya Gita masih dengan ekspresi cengonya.
“Enggak deh Git, ini semua nyata.” jawab Anya dengan ekspresi yang sama persis dengan Gita.
“Pak Revan beneran belain Reyna dan bawa Reyna pergi ke ruangannya An?!” tanya Gita menolehkan wajahnya ke Anya sambil melongo.
“Iya bener Git. Baru kali ini gue lihat pak Revan se-menyeramkan dan seperhatian itu.” jawab Anya menoleh balik ke Gita dengan ekspresi yang sama.
“Beneran bukan mimpi kan ini?? Coba lu cubit gue An biar gue bangun dari mimpi ini!” pinta Gita pada Anya masih dengan ekspresi datar tak percaya.
“Plaakk!”
“Awws! Sakit B*go! Kenapa gue malah lu tabok sih?!” ucap Gita murka.
“Lah, kan elu yang minta.” jawab Anya santai dengan wajah tak berdosa.
“Gue mintanya di cubittt surtii!! Bukan di taboookkk!” protes Gita membenarkan.
“Oh iya ya.. ya ampun sorry ya Git..” ucap Anya dengan ekspresi menyesal yang dibuat-buat.
“Tapi tadi lu minta dibikin sadar kan? Nah, sekarang setelah gue tabok lu sadar nggak?!” lanjut Anya memberikan pertanyaan.
“Ya sadar sih..” jawab Gita seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Yaudah, kalau gitu tindakan gue bener dong buat nyadarin lu!” ucap Anya seperti sedang mempengaruhi Gita.
“Ya bener sih..” jawab Gita sekali lagi dengan polosnya.
“Yaudah kalau gitu nggak ada yang perlu dipermasalahkan.” jelas Anya sembari melangkahkan kakinya meninggalkan Gita yang masih terlihat berpikir.
“Eh.. tapikan gue minta cubit An, bukan ditabokk!” ucap Gita setelah berpikir keras sambil mengingat kembali ucapannya. Namun, tidak dihiraukan oleh Anya yang terlihat terus berjalan ke arah lift.
“Heehh! Anyaaa!”
“Anyaa!!”
“Tungguin gue woyy!!” lanjut Gita seraya berteriak kepada Anya yang sama sekali tak menggubrisnya, membuat Gita langsung menyusulnya.
__ADS_1
Sementara itu disisi lain..
Reyna terpaku saat dia diarahkan oleh Bagas menuju lantai 50 dan Bagas menyuruhnya masuk kedalam satu-satunya ruangan dilantai itu. Ruangan yang sangat megah dan mewah hingga membuat Reyna lupa akan rasa sakit akibat pembengkakan di pipinya.
“Silahkan anda tunggu disini, sebentar lagi tuan muda akan datang.” ucap Bagas mempersilahkan Reyna duduk di sebuah sofa yang terdapat dalam ruang kerja milik Revan.
“Kalau begitu saya permisi dulu.” pamit Bagas sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar ruangan.
“Ah, baik, terimakasih pak Bagas!” jawab Reyna sopan yang dibalas anggukan oleh Bagas yang lama-lama hilang dari pandangan Reyna.
Setelah Bagas keluar dari ruangan, Reyna masih terlihat sibuk memperhatikan interior ruangan hingga keseluruh bagian-bagian terkecil dengan sangat teliti.
“Waahh.. Ruangan ini terlihat sangat mewah..” gumam Reyna melihat keindahan didepan matanya.
“Tapi sayang banget, untuk ruangan yang mewah dan megah seperti ini pasti terlalu banyak menghabiskan uang. Ternyata pak Revan orang yang boros.” lanjutnya blak-blakan.
“Siapa yang boros?!” tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan sosok Revan yang datang seraya melontarkan pertanyaan. Sepertinya dia sedikit mendengar ucapan Reyna.
“Ah, tetangga saya pak, tetangga saya boros banget!” jawab Reyna kikuk, membuat Revan menyunggingkan senyuman karena tingkahnya, walaupun senyuman itu hanya sekilas.
“Bagaimana lukamu?!” tanya Revan seraya duduk di sofa sebrang yang tak jauh dari Reyna.
“Emm ini.. saya tidak apa-apa pak.” jawab Reyna sambil memegangi pipinya.
“Tidak apa-apa bagaimana? Sebaiknya kamu segera ke rumah sakit!” ujar Revan dingin karena jawaban Reyna yang seperti sedang menutup-nutupi apa yang ia rasakan.
“Ah, nggak perlu ke rumah sakit pak, saya beneran nggak papa.. saya sudah terbiasa.” jawab Reyna panik. Namun, ia tidak menyadari bahwa jawabannya ini sukses membuat Revan sangat kaget.
“Deg!”
“Ah itu.. Em, maksud saya..” ucap Reyna terbata-bata bingung menjawab pertanyaan Revan, membuat ia merutuki kebodohannya karena keceplosan. Namun, seakan dewi fortuna sedang berpihak pada Reyna, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan suara seseorang yang sangat familiar yakni Bagas.
“Tok! Tok!”
“Permisi tuan muda, saya membawakan obat antiseptik yang anda minta.” ucap Bagas seraya masuk ke dalam ruang kerja milik Revan.
Yap, benar. Sebelum Revan masuk kedalam ruangan, ia sempat meminta Bagas membeli obat antiseptik untuk pembengkakan pada pipi Reyna, karena Revan menebak jika ia menyuruh Reyna ke rumah sakit, dia pasti akan langsung menolaknya.
“Oke, letakkan di meja dan kamu boleh pergi Bagas.” ucap Revan memerintah.
“Baik tuan muda.” jawab Bagas patuh dan segera menaruh obat antiseptik itu dimeja dan selanjutnya berpamitan sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya keluar.
“Kalau begitu saya permisi tuan muda.” pamit Bagas yang hanya dibalas dengan anggukan dan isyarat tangan oleh Revan.
“Pakailah obat antiseptik itu untuk mengobati bengkak dan memar diwajahmu.” ujar Revan.
“Baik pak, terimakasih!” ucap Reyna seraya mengambil obat dan beranjak dari sofa yang ia duduki.
“Mau kemana kamu?!” tanya Revan melihat Reyna yang bangkit dan hendak beranjak pergi.
“Ah, saya mau membawa obat antiseptik ini dan mengobatinya diruang kerja saya pak.” jawab Reyna jujur. Terus terang, berada di ruangan Revan hanya berdua saja membuat ia merasa sesak.
“Jadi kau mau menunjukkan kepada rekan-rekanmu jika lukamu separah itu dan membuat mereka khawatir?!” ucap Revan yang berhasil membuat Reyna terduduk kembali, Reyna merasa kalah telak.
__ADS_1
“Maafkan saya pak, saya akan mengobatinya disini.” jelas Reyna seraya mengambil obat antiseptik dan kapas didepannya. Saat Reyna hendak mengobati pipinya, Reyna merasa kesulitan karena tidak ada kaca agar bisa mengoles lukanya dengan benar.
Saat Reyna mencoba mengoles dengan asal, dia tidak sengaja mengusap terlalu kasar pada bagian pipinya yang memar, membuat ia meringis kesakitan.
“Awws!”
Revan yang sedari tadi memperhatikan Reyna yang kesulitan akhirnya merasa gemas, membuat ia langsung mengambil kapas baru didepannya untuk di bubuhi dengan obat antiseptik.
“Sini! Kamu terlalu ceroboh terhadap dirimu sendiri!” ucap Revan yang langsung berpindah kesamping Reyna dan langsung memegang dagu Reyna dengan lembut, mengarahkannya menoleh kesamping untuk mempermudah Revan mengoleskan antiseptik pada luka memar dan bengkaknya.
“Deg!”
Reyna sangat terkejut dengan apa yang sedang ia alami sekarang, Perubahan sikap Revan dari sosok arogan dan menyeramkan berubah menjadi sangat lembut hingga mau mengobatinya. Sebenarnya Reyna ingin menolak, namun apa daya niat hati ingin menolak namun tubuhnya tak dapat bergerak.
Saat Revan mulai mengoleskan obat di pipi Reyna, untuk menghindari rasa canggung diantara mereka, Reyna mulai memberanikan diri memulai percakapan.
“Pak Revan, maaf sebelumnya. Kenapa tadi bapak bisa tahu kejadian dilobi? Bukannya tadi anda sudah masuk terlebih dulu saat bertemu saya didepan kantor?” tanya Reyna penasaran.
“Oh, itu karena Bagas mendengar suara keributan di lobi saat akan naik lift dan dia langsung mengeceknya. Ternyata Mira yang datang membuat keributan denganmu.” jawab Revan santai masih sambil mengobati pipi Reyna, membuat Reyna manggut-manggut mengerti.
Revan mengobati Reyna dengan lembut dan sangat berhati-hati takut Reyna akan meringis kesakitan jika ia mengoleskan obat dengan kasar. Wajah mereka yang saling berhadapan dengan jarak yang dibilang sangat dekat ini membuat jantung Reyna berdebar kencang tanpa ia minta.
“Deg! Deg! Deg! Deg!”
“Kenapa jaraknya tiba-tiba jadi sedekat ini?! Apa dari tadi memang sudah sedekat ini?”
“Kenapa juga jantungku jadi berdebar-debar kayak gini? Kenapa suaranya kenceng banget? Oh Tuhan.. dia nggak denger suara debaran ini kan? Aduhh.. jangan sampai suara debaran ini terdengar sampai keluar!” gumam Reyna dalam hati.
Saat Reyna sedang sibuk dengan kata hatinya, tanpa sadar mata Revan dan Reyna bertatapan. Membuat udara didalam ruangan ini terasa sangat panas hingga wajah Reyna memerah.
“Ah, maaf!” ucap Revan seakan tersadar kembali ke dunia nyata dan langsung menarik jari-jarinya dari dagu Reyna.
“I-iya nggak papa pak.” jawab Reyna kikuk.
Setelah kejadian itu suasana menjadi hening dan terasa sangat canggung. Hingga suara tegas itu memecahkan keheningan tersebut.
“Melihat kondisimu, sebaiknya kamu pulang dulu hari ini.” ucap Revan membuat Reyna langsung menoleh kepadanya.
“Tapi pak, pekerjaan saya masih banyak. Karena saya masih baru disini.” tolak Reyna.
“Lantas, kamu akan bekerja dengan kondisimu yang seperti itu?!” tanya Revan dingin membuat Reyna diam dan terlihat berfikir keras.
“Sudahlah, tak ada yang perlu kau pikirkan dan kau tidak boleh membantah. Sekarang pulanglah dulu. Kembalilah bekerja besok jika kondisimu sudah membaik!” ucap Revan dengan tegas.
Sebenarnya, alasan Reyna menolak bukanlah karena pekerjaannya yang menumpuk, namun karena ia takut jika sang bunda menjadi sangat khawatir saat melihat pipinya yang bengkak, ditambah lagi kondisi sang bunda yang sedang sakit. Namun, apalah daya Reyna juga tidak bisa menolak perintah Revan, akhirnya dengan terpaksa Reyna mengangguk setuju atas perintah bosnya itu.
“Baiklah, Kalau gitu saya permisi dulu.. terimakasih pak!” ucap Reyna seraya beranjak dari sofa dan berlalu pergi meninggalkan ruangan.
Setelah Reyna keluar, Revan mulai merutuki perbuatannya. Terlihat wajah dan daun telinganya memerah karena apa yang telah ia lakukan.
“Bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku ngapain sih!! Karena jarak yang terlalu dekat, aku jadi nggak fokus sama lukanya dan malah menatap wajahnya!!”
“Tapi.. kalau dilihat dari dekat seperti itu, dia terlihat semakin cantik.”
__ADS_1
“Arghh!! Aku mikir apasih! Sepertinya aku sudah mulai gila!” Revan menggumam frustasi seraya menenggelamkan dirinya di sofa miliknya.