
Setelah menempuh perjalan sekitar 40 menit, terlihat mobil Anthony sudah terhenti tepat didepan halaman rumah Reyna yang cukup luas. Rumah dengan nuansa klasik jaman dulu dengan bunga-bunga hias sebagai pemanis, memberikan nuansa alam yang asri.
Terlihat Anthony segera turun dari mobilnya dan melangkahkan kakinya dengan cepat ke seberang untuk membukakan pintu mobil di sisi Reyna.
“Silahkan Reyna..” ucapnya mempersilahkan Reyna untuk turun.
“Terimakasih pak Anthony.” jawab Reyna seraya turun dari mobil Anthony.
Melihat pintu rumahnya yang terbuka lebar, Reyna langsung mengajak Anthony untuk mampir.
“Mari pak singgah dulu di rumah saya.” ucap Reyna menawarkan.
“Boleh!” jawab Anthony singkat namun terlihat sangat antusias.
Akhirnya mereka berdua masuk kedalam rumah. Namun, saat hendak melangkahkan kaki memasuki rumah terdengar suara bunda Mery dari dalam rumah.
“Loh.. loh .. Rere? Sudah pulang kamu nak?” tanya bunda Mery seraya menghampiri Reyna yang masih di teras, hendak masuk. Tapi, belum sempat Reyna menjawab tiba-tiba saat bunda Mery berada dihadapannya, sang bunda menjadi sangat terkejut melihat wajah putri tercintanya yang memar dan bengkak.
“Ya ampuu Rey.. Kamu kenapa?! Pipi kamu kenapa?! Kok bisa kayak gini?!” tanya bunda Mery panik melihat kondisi anaknya.
“Bunda.. Rere nggak papa kok, tadi Rere terpeleset dan jatuh ke samping membentur pinggiran meja, jadinya bengkak dan ada memarnya kayak gini deh!” jelas Reyna yang langsung membuat Anthony melemparkan pandangan kepadanya. Reyna terpaksa berbohong agar tidak membuat sang bunda khawatir.
“Tapi bunda tenang aja, ini udah mendingan kok tadi udah Reyna obatin di kantor.” lanjutnya berhasil membuat raut wajah bunda Mery terlihat sedikit tenang.
“Ya ampuuunn.. kenapa bisa ceroboh gitu sih Rey.? Tapi syukurlah kalau kamu sudah mengobatinya.” ucap sang bunda menarik nafas lega.
“Hehe iya bun, tadi Rere nggak fokus saat jalan, jadi nggak lihat kalau lantainya licin.” jelas Reyna lagi dengan niat meyakinkan sang bunda agar percaya dengan kata-katanya.
“Dasar kamu yaa.. Bunda khawatir banget lihat pipimu yang kayak gitu!” ucap bunda Mery mengungkapkan kekhawatirannya.
“Ihh bunda.. Rere nggak papa kok, bunda tenang aja. Nanti juga bakalan sembuh.” ujar Reyna menenangkan.
“Oh iya bunda, kenalin ini atasanku namanya pak Anthony.” lanjut Reyna mengalihkan topik pembicaraan.
“Ya ampuun.. Maafkan saya pak, saya terlalu khawatir dengan anak saya sampai-sampai kurang memperhatikan bapak.” ucap bunda Mery sungkan.
“Tidak apa-apa bu.. Saya sangat mengerti kekhawatiran ibu, ibu tidak perlu meminta maaf.” jawab Anthony ramah.
“Ya ampun, bapak baik sekali.. Mari-mari silahkan masuk pak.” ucap bunda Mery mempersilahkan Anthony dengan sangat ramah.
“Baik bu terimakasih.” jawab Anthonya masih dengan senyuman.
Akhirnya mereka pun masuk dan mulai berbincang-bincang.
“Terimakasih ya.. Bapak sudah repot-repot mengantarkan anak saya.” ucap bunda Mery pada Anthony.
“Oh tidak bu.. sama sekali tidak merepotkan. Saya senang bisa membantu Reyna.” jawab Anthony tersenyum ramah.
__ADS_1
“Ibu.. ibu tidak perlu memanggil saya dengan sebutan ‘pak’. Panggil Anthony saja bu.” lanjut Anthony mempersilahkan bunda Mery memanggil namanya.
“Baiklah kalau begitu, nak Anthony..” ucap bunda Mery membenarkan panggilannya kepada Anthony.
“Sekali lagi saya berterimakasih karena nak Anthony sudah mau mengantarkan anak saya ini.” lanjut bunda Mery seraya mengelus pundak Reyna.
“Sama-sama bu.. sudah seharusnya saya membantu Reyna.” jawab Anthony santai membuat Reyna dan bunda Mery sedikit tersentak mendengar jawaban Anthony.
“Maksud saya, sudah seharusnya membantu staff saya.” lanjut Anthony membenarkan ucapannya seolah-olah tau apa yang sedang dipikirkan Reyna dan bunda Mery.
“Ohh begitu.. nak Anthony baik sekali ya sebagai atasan, terlihat sangat mengayomi..” puji bunda Mery yang terlihat kagum pada Anthony.
“Ah tidak bu.. ibu terlalu memuji!” ucap Anthony malu.
“Ihh bundaa.. jangan gitu ah, lihat pak Anthony jadi malu.” ucap Reyna masuk kedalam percakapan bundanya dan atasannya itu.
“Hehe iya deh .. Maaf ya nak Anthony..” ujar bunda Mery.
“Eee iya bu, nggak papa kok.” jawab Anthony kikuk.
“Yasudah, mumpung ini masih jam makan siang dan bunda baru masak. Sebaiknya kita makan siang dulu yuk bareng-bareng!” lanjut bunda Mery menawarkan untuk makan bersama.
“Waahh.. boleh bun, mari pak Anthony!” ucap Reyna setuju dengan ajakan bundanya.
“Aduh, maaf ya bu.. saya jadi ngrepotin.” ujar Anthony sungkan.
“Yasudah, mari kita ke meja makan..” ajak bunda Mery yang langsung beranjak dari ruang tamu ke arah meja makan diikuti Reyna dan Anthony.
“Maaf ya nak Anthony, lauknya sederhana..” ucap bunda Mery apa adanya.
“Tidak bu, ini sudah lebih dari cukup.” jawab Anthony tersenyum manis membuat hati bunda Mery lega mendengarnya.
Akhirnya Reyna, bunda Mery dan Anthony makan siang bersama. Mereka makan siang dengan santai sambil sesekali bercakap-cakap tak mau kalah dengan dentingan sendok dan garpu yang saling beradu. Setelah makan siang mereka selesai, Anthony langsung pamit untuk segera pergi ke kantor.
“Ibu.. terimakasih banyak atas makan siangnya, ini sangat enak.. maaf saya harus pamit, karna saya masih harus kembali ke kantor menyelesaikan pekerjaan saya.” ucap Anthony sopan.
“Buru-buru banget nak Anthony?!” tanya bunda Mery.
“Iya bu.. karena sepertinya saya sudah terlalu lama keluar kantornya.” jawab Anthony jujur.
“Baiklah kalau gitu, nak Anthony.. terimakasih ya sudah mengantarkan Reyna?!” ucap bunda Mery berterimakasih kesekian kalinya.
“Iya ibu .. sama-sama, kalau gitu saya permisi dulu..!” jawab Anthony seraya mencium tangan bunda Mery.
“Iya nak Anthony.. hati-hati di jalan..” ucap bunda Mery.
“Iya bu.. terimakasih!” ujar Anthony seraya melangkahkan kakinya keluar.
__ADS_1
“Rey, anterin pak Anthony sampai depan!” perintah bunda Mery pada Reyna.
“Iya bunda.” jawab Reyna patuh seraya menyusul Anthony keluar.
“Pak Anthony, terimakasih banyak sudah mengantar saya hari ini.” ucap Reyna menyampaikan rasa terimakasihnya.
“Iya Reyna sama-sama. Tapi Rey, kenapa tadi kamu berbohong kepada ibumu dan bilang bahwa bengkak dan memar dipipimu itu akibat kamu terjatuh?” tanya Anthony yang sedari tadi ingin meminta penjelasan dari Reyna karena berbohong kepada ibunya.
“Soal itu.. Karena saya takut membuat bunda saya khawatir pak, apalagi bunda saya sedang dalam kondisi yang kurang fit. Jadi saya takut kalau bakal mempengaruhi kondisi bunda saya.” jelas Reyna.
“Saya juga minta maaf pada pak Anthony yang terpaksa harus diam atas kebohongan saya.” lanjutnya seraya membungkukkan setengah badannya dihadapan Anthony untuk meminta maaf.
“Saya mengerti Reyna, maaf kalau saya telah menanyakan soal itu.” ucap Anthony mengerti dan memahami keputusan Reyna.
“Tidak apa-apa pak, sungguh tidak apa-apa.” jawab Reyna meyakinkan.
“Baiklah, kalau gitu saya balik ke kantor dulu Rey!” ucap Anthony seraya memasuki mobilnya.
“Hati-hati di jalan pak Anthony, dan terimakasih.!.” ucap Reyna sambil membungkukkan sedikit badannya disebelah kaca mobil yang telah dibuka oleh Anthony.
“Iya Reyna sama-sama, see you tomorrow!!” ucap Anthony sebelum akhirnya melajukan mobilnya menuju kantor.
“See you sir..!” jawab Reyna sebelum akhirnya mobil Anthony melaju kencang dan hilang dari pandangannya, membuat Reyna kembali masuk kedalam Rumahnya.
“Ehem.. Ehemm.. Ciee putri kecil bunda rupanya sudah ada yang naksir nih!” goda bunda Mery saat Reyna baru memasuki rumah.
“Ish bunda apaan sih, pak Anthony itu atasannya Rere bun..” ucap Reyna membantah perkataan bundanya.
“Lah, emang kenapa kalau atasan kamu Rey? Cinta kan nggak memandang status.” jawab bunda Mery semakin menggoda anaknya.
“Ihh bunda apaan sih.. Hubungan Rere sama pak Anthony itu sebatas staff dan kepala divisi aja, nggak lebih bun..!” ungkap Reyna berusaha menjelaskan kepada bundanya.
“Yakan siapa tahu Rey kalau-kalau bisa lebih dari itu?!” ucap bunda mery masih terus menggoda putrinya itu.
“Ish, malas ah bunda godain Rere muluuuu..!” ucap Reyna sambil memanyunkan bibirnya.
“Hahahaha.. iya deh engga.. unch unch sayangnya bundaaa.. kamu ke kamar gih Rey, istirahat dulu biar bengkaknya cepet ilang.” ucap bunda Mery masih mengkhawatirkan kondisi anaknya.
“Hmm.. iya bunda, kalau gitu Rere ke kamar dulu ya bun.. muach!” ujar Reyna disertai kecupan pada pipi sang bunda diakhir kalimatnya.
“Iya sayang.. yaudah gih, bunda juga mau rehat dikamar bunda.” ucap bunda Mery.
“Selamat istirahat bundaaa..!!” ucap Reyna seraya melangkah menuju kamarnya.
“Iya, kamu juga sayang..” balas bunda Mery sebelum ia melangkahkan kakinya pergi ke kamar untuk istirahat.
Berbeda dengan suasana kehangatan di rumah Reyna. Suasana di ruang keluarga Nugroho terlihat sangat serius. Bahkan Tuan dan Nyonya Nugroho yang biasanya penuh kehangatan mendadak wajah mereka berubah menjadi masam dan penuh selidik terhadap putra semata wayang mereka yang tengah terduduk dihadapannya.
__ADS_1