
“Reyna!” panggil seseorang dari arah belakang, terdengar suara yang sangat familiar di telinga Reyna hingga membuatnya langsung menoleh.
“Grebb!”
“Pak Revan?!” ucap Reyna tersentak kaget, karena saat ia baru saja membalikkan badannya tiba-tiba Revan langsung memeluknya dengan erat, dan sangat erat.
“Pak Revan ada apa ini?!” tanya Reyna kebingungan masih didalam dekapan Revan.
“Aku mencintaimu! Aku benar-benar mencintaimu Reyna Handoko! Aku mohon jangan tinggalkan aku, dan jadilah satu-satunya wanitaku!” ucap Revan seraya melepaskan pelukannya lalu memegang pundak Reyna dengan tatapan yang sangat tulus dan hangat yang belum pernah Reyna lihat.
“Deg!”
“P-pak.. Pak Revan?! Apa maksud pak Revan?!” tanya Reyna yang masih kaget dengan pernyataan Revan yang tiba-tiba.
“Aku mencintaimu! Benar-benar mencintaimu! Selama ini aku hanya bisa memikirkanmu dalam diam, dan aku tak tahan lagi dengan perasaan yang semakin meluap-luap ini! Aku menginginkanmu! Aku ingin kamu menjadi wanitaku!” ucap Revan lagi kali ini dengan nada yang sangat lembut dan hati-hati seraya menangkup wajah mungil Reyna dengan tatapan yang sangat dalam.
“P-p-pak Revan..” gumam Reyna terpaku dengan pernyataan Revan hingga tidak menyadari bahwa air matanya telah meluncur dengan mulus di kedua pipinya.
“Kenapa kamu menangis?! Apakah kamu tidak nyaman karena aku telah mengungkapkan perasaanku padamu?” tanya Revan sembari menghapus air mata Reyna dengan jari-jarinya yang lembut.
“Tidaak.. tidak sama sekali!” jawab Reyna seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.
“Lalu.. Kenapa kamu menangis Reyna?” tanya Revan lagi yang membuat Reyna menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Revan artikan.
“Aku.. aku hanya tidak menyangka kamu begitu tulus menyampaikan perasaanmu padaku.” ucap Reyna menjelaskan.
“Jadi kamu tidak keberatan akan pernyataanku?” tanya Revan sekali lagi untuk memastikan.
“Tidak, sama sekali tidak keberatan!” jawab Reyna cepat sambil masih menatap Revan.
“Lalu jawabanmu??” tanya Revan penuh harap.
“Pada awalnya, aku tidak tahu perasaan apa yang kumiliki padamu. Bagiku, ini adalah hal yang baru pertama kali kurasakan, debaran jantung yang sangat kencang tanpa bisa kuatur temponya saat menatapmu, dan saat berada di dekatmu, serta bayanganmu yang selalu muncul dalam setiap aktifitasku. Hingga pada akhirnya aku menyadari bahwa perasaan yang kumiliki padamu merupakan perasaan cinta.” jelas Reyna panjang lebar, hingga akhirnya..
“Aku juga mencintaimu Revan Anggara Nugroho!!” sebuah jawaban yang Revan harapkan meluncur dengan mulus dari bibir Reyna, sontak membuat Revan memeluk Reyna dengan erat. Belum sempat Reyna membalas pelukan Revan, tiba-tiba tubuh Reyna diangkat oleh Revan seraya berputar dengan bangga.
__ADS_1
“P-pak Revann turunin ihh.. malu kalau sampai ada yang lihat..” ucap Reyna seraya memukul pelan bahu Revan membuat Revan menghentikan aksinya dan menurunkannya.
“Maaf Reynaa.. aku terlalu bahagia mendengar jawabanmu. Terimakasih Rey! terimakasih kamu sudah menerima pernyataan cintaku. Aku janji aku nggak akan mengecewakanmu dan aku akan membahagiakanmu selama lamanya!” ucap Revan serius namun tetap dengan suara yang lembut sambil tangannya menangkup wajah Reyna, membuat Reyna merasa hangat.
Tanpa disadari jarak diantara keduanya menjadi dekat, sangat dekat. Hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Hal yang tak pernah diduga sebelumnya, tiba-tiba Revan memiringkan wajahnya dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Reyna. Dekat, dekat, dan sangat dekat. Jika diukur menggunakan penggaris, jarak yang tersisa diantara mereka hanya 0,5 cm membuat Reyna memejamkan matanya dan..
“Ding ding dung ding! Ding ding dung ding!”
Terdapat panggilan masuk di handphone Reyna hingga membuat Reyna terbangun dari tidurnya.
“Hoaaaammm! Siapa sih ini yang nelfon?!” tanya Reyna kepada dirinya sendiri sembari meraih ponselnya di meja sebelah tempat tidur.
“Kak Anya dan kak Gita..” ucap Reyna setelah melihat panggilan grub di hpnya dan buru-buru mengangkatnya.
“Halo kak Anya, kak Gita!” sapa Reyna kepada dua sahabatnya itu.
“Halooo Reyy!! Ya ampuunn.. akhirnya lu angkat jugaaa!!” ucap Gita dengan suara yang cukup kencang membuat Reyna sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga.
“Pelan-pelan dodol! Lama-lama gendang telinga gue sama Reyna bisa jebol karna suara lu!” protes Anya dari sebrang sana yang mungkin memberikan reaksi yang sama seperti yang Reyna lakukan.
“Aduuhh.. maaf ya kak Anya, kak Gita.. aku tadi lagi tidur, jadi nggak tau kalau kalian sampai nelfon berkali-kali kayak gini. Maaf ya kak..” ucap Reyna meminta maaf.
“Pantesan nggak diangkat-angkat, orang dia lagi tidurrr..!” celetuk Gita mendapati alasan Reyna yang lama mengangkat telfonnya.
“It’s okay Rey, santai aja. Seharusnya kita yang minta maaf udah gangguin kamu yang lagi istirahat?!” ucap Anya merasa tidak enak karena telah membuat Reyna terbangun karena panggilan telfon dari mereka.
“Nggak papa kok kak, aku nggak terganggu sama sekali” jawab Reyna jujur.
“Jadi gimana keadaanmu saat ini Rey? Apa pipimu masih bengkak? Lalu memarnya?” tanya Anya cepat sekan tak sabar ingin mendengar kondisi sahabatnya saat ini.
“Aku baik-baik saja kok kak, untuk memarnya sepertinya masih cukup terlihat, dan untuk pembengkakannya sejauh ini sudah sangat lebih baik dari sebelumnya karena waktu dikantor tadi pak Revan langsung cepat tanggap membantu mengobatinya, jadi sudah cukup mengempes.” jawab Reyna menjelaskan kondisi terkininya.
“Syukurlah kalau gitu Rey!” ucap Anya dan Gita bersamaan, merasa lega mendengar kondisi Reyna yang sudah sangat membaik.
“Tunggu.. Kamu bilang pak Revan mengobatimu??!!” tanya Gita setelah menyadari bahwa Reyna menyebutkan nama Revan dalam penjelasannya.
__ADS_1
“Eee.. Itu..” ucap Reyna bingung, didalam hatinya ia sedang merutuki mulutnya yang tidak bisa di rem. Namun kebingungan Reyna sontak membuat Gita menjadi sangat heboh.
“Wooww!! Ini luar biasa bangetttt!! Pertama kali dalam sejarah perusahaan Z pak Revan mremberikan perhatian kepada karyawannya, bahkan dia sampai mengobati luka karyawannya secara langsung!! Omg!! Apakah ini nyata??!! Kejadian akhir-akhir ini membuat gue merasa bahwa ini mimpi bukan dunia nyataaa!! Reynaaa sungguh iri diri ini kepadaamuuuuu!! Tapi jika memang pak Revan memilihmu, aku sebagai fansnya akan sangat mendukung hubungan kaliaann!!” oceh Gita panjang lebar agak tak berfaedah.
“Oy oy oy bajaj! Diem napaa!! Ya ampun, dasar mulut kayak knalpot bajaj, susah banget kalau disuruh diem!” ejek Anya gemas kepada sahabatnya yang suka heboh sekali jika seseorang menyebutkan nama Revan.
“Hehehe habis bahas pak Revan sih, kan jadi semangat 45 ngomongnya!” jawab Gita disertai kekehan khasnya.
”Aduhhh maafin ya Rey si Gita emang suka hebohh orangnyaa..” ucap Anya meminta maaf atas sikap sahabatnya itu.
“Hehe.. iya nggak papa kok kak, aku tadi cuma bingung mau mulai darimana ngejelasinnya. Banyak kejadian kejadian tak terduga yang terjadi padaku hari ini dan aku belum bisa jelasin sekarang, tapi nanti saat di kantor aku bakalan jelasin kok ke kalian..” ucap Reyna meminta pengertian dari dua sahabatnya itu.
“Okey Rey santai aja.. kita bakalan nunggu sampai kamu bener-bener siap cerita ke kita.” balas Anya pengertian.
“Iya Rey, enjoy aja. Sorry gue sempet bikin ga nyaman karna kehebohan gue tadi..” ucap Gita meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
“Eh, enggak kok kak. Kakak nggak perlu minta maaf, aku nggak pernah merasa nggak nyaman karena kehebohan kakak. Aku malah seneng lihatnya hehe!” jawab Reyna meluruskan kesalah pahaman Gita.
“Syukurlah kalau gitu, yaudah Rey mumpung udah malem juga, lu lanjutin deh tidur lu!” ujar Gita menyuruh Reyna kembali beristirahat.
“Iya Rey, kamu lanjut istirahat gih. Kalau gitu kita tutup dulu ya telfonnya..” ucap Anya langsung berpamitan.
“Bye Reyy!” lanjut Anya dan Gita kompak.
“Ohh oke kak.. Byeee, terimakasih udah khawatir sama aku!” ucap Reyna yang sedari tadi belum sempat berterimakasih kepada dua sahabatnya itu.
“Okey Rey!!”
“Santai Rey!” jawan Anya dan Gita bergantian lalu sambungan telepon pun terputus.
Setelah telepon terputus Reyna melihat jam yang tertera di layar ponselnya membuat ia kaget karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam. Ia pun segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, karena setelah Anthony mengantarnya pulang Reyna langsung tidur di kamarnya.
20 menit berlalu, Reyna keluar dari kamar mandi dan langsung menuju kamarnya. Saat membaringkan tubuhnya di kasur, tiba-tiba Reyna teringat akan mimpinya yang terasa seperti nyata.
“Kenapa tiba-tiba bisa mimpi pak Revan ya?! Mana mimpinya cinta-cintaan kayak gitu lagii.. Pasti ini Gara-gara perlakuan dia hari ini yang baik banget ke aku. Iya, pasti karna itu! Bukan karena yang lain!” ucap Reyna berusaha berfikir positif. Namun, pikiran itu mendadak hilang saat bayangan mereka yang sedang bertatapan saat Revan mengobati pipinya itu muncul. Membuat wajah Reyna memerah padam karena tatapan Revan sama seperti tatapannya didalam mimpi Reyna.
__ADS_1
“Argghh!! Kayaknya aku mulai gila deh! Kenapa jadi kepikiran orang itu mulu sihhh!! Argghh !!” gumam Reyna jengkel dan langsung menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya, berharap dengan begitu ia segera tertidur agar pikiran tentang Revan menghilang.