
Sesampainya di Nugroho Hospital, Revan segera turun dengan cepat dari mobilnya dan langsung membopong Reyna sambil berlari masuk kedalam rumah sakit milik keluarganya itu.
“Dokter! Dokter! Cepat panggilkan dokter Jerry!” teriak Revan sangat panik, membuat para perawat langsung menghampirinya dengan kasur dorong untuk pasien.
“Tuan muda Revan?! Ada apa ini? Kenapa bisa seperti ini?!” tanya dokter bernama Jerry yang menghampirinya setelah mendengar teriakan Revan yang cukup kencang.
Dokter Jerry merupakan salah satu dokter senior terbaik yang bekerja dibawah naungan Nugroho Hospital, usianya memang terbilang tidak muda lagi. Namun, keahlian dan prestasinya tidak perlu diragukan karena beliau telah bekerja selama lebih dari dua puluh tahun di rumah sakit ini, beliau juga merupakan salah satu dokter kepercayaan keluarga Nugroho.
“Aku akan menjelaskannya nanti, tapi tolong segera tangani dia Dokter! Aku mohon! Kondisinya terlihat cukup parah!” jawab Revan dengan raut wajah yang berantakan dan tak tahu apa yang harus ia lakukan selain memohon kepada dokter Jerry agar segera memberikan perawatan pada Reyna.
“Baik tuan muda!”
“Ayo segera bawa pasien ke IGD!” ucap dokter Jerry kepada beberapa perawat di sampingnya dan segera membawa Reyna ke ruang IGD.
“Bagas, segera hubungi pihak yang berwajib untuk melaporkan kejadian ini!” perintah Revan tegas kepada Bagas.
“Baik tuan muda.” Jawab Bagas cepat dan ia segera menghubungi pihak kepolisian.
Melihat para perawat dan dokter Jerry yang telah berlalu pergi membawa Reyna menuju ruang IGD, membuat Revan langsung berlari mengikuti mereka hingga ke ruang IGD.
“Mohon maaf tuan muda, anda tidak bisa ikut masuk ke dalam. Silahkan anda menunggu disini.” ucap salah seorang perawat menghadang Revan yang hendak ikut masuk kedalam.
“Tapi.. Aku ingin tahu bagaimana kondisi Reyna!” ucap Revan bersikeras ingin ikut masuk.
“Mohon maaf tidak bisa tuan muda.” jawab perawat itu dengan sopan.
“Tapi suster..!” perkataan Revan terhenti saat tiba-tiba Bagas datang dan memotong ucapannya.
“Tuan muda, tolong tenangkan diri anda.” ucap Bagas berusaha menenangkan Revan setelah berhasil menyusul ke depan ruang IGD.
“Baiklah suster, maafkan aku. Silahkan, tolong tangani dia dengan baik.” ucap Revan lemah.
“Baik tuan muda, kami akan berusaha melakukan yang terbaik.” jawab perawat itu lalu menutup pintu ruang IGD.
Setelah itu, Revan langsung terduduk pasrah di kursi ruang tunggu yang berada di depan IGD dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir dan frustasi.
“Baru kali ini aku melihat tuan muda mengkhawatirkan seorang wanita selain nyonya. Bahkan sampai mengeluarkan ekspresi yang dari dulu pun belum pernah aku lihat. Sepertinya tuan muda mulai menyukai nona Reyna, bahkan mungkin lebih.” ucap Bagas dalam hati yang sedari tadi terus memperhatikan sikap bosnya tersebut.
Setelah ±30 menit berlalu, terlihat dokter Jerry keluar dari ruang IGD dengan raut wajah yang sulit diartikan. Membuat Revan bergegas menghampirinya.
__ADS_1
“Dokter! Bagaimana kondisi Reyna?!” tanya Revan dengan gusar.
“Sebelumnya kita patut bersyukur, karena dia adalah wanita yang kuat. Luka lebam yang berada di bahu, wajah dan perutnya memang cukup parah, tapi untungnya pada bagian perut tidak melukai rahimnya. Jika anda mau menjenguknya anda bisa langsung masuk kedalam, namun untuk saat ini kondisinya masih sangat lemah dan belum sadarkan diri, jadi dia harus dirawat disini untuk pemantauan lebih lanjut.” ucap dokter Jerry menjelaskan membuat Revan sedikit lega mendengar kondisi Reyna.
“Tuan muda, mohon maaf jika saya lancang menanyakan hal ini. Tapi ini juga untuk memastikan lebih dalam mengenai kondisi pasien. Tuan muda, apakah pasien merupakan korban kekerasan fisik?!” tanya dokter Jerry membuat Revan langsung mendongakkan wajahnya dengan tatapan yang mengerikan.
“Ya, aku menemukannya saat mendengar suara jeritan dari dalam gang kecil disebelah perusahaan. Dia sudah tergeletak lemah karena dianiaya oleh bedeb*h gila yang merupakan kakaknya sendiri.” jawab Revan dengan tatapan membara mengingat kejadian yang telah Reyna alami.
“Permisi tuan muda, polisi telah datang.” ucap Bagas memberitahu, membuat Revan langsung menolehkan pandangannya.
“Selamat siang pak Revan. Kami disini untuk menindaklanjuti laporan yang anda buat atas kekerasan fisik yang dialami oleh saudari Reyna Handoko.” ucap salah seorang polisi yang saat ini tengah berdiri di hadapan Revan dan dokter Jerry.
“Bagaimana saat ini keadaan pasien?” lanjutnya menanyakan kondisi Reyna.
“Saat ini kondisi pasien belum sadarkan diri dan masih sangat lemah karena luka memar yang ada di tubuhnya cukup serius, namun untungnya tidak berakibat fatal.” jawab dokter Jerry menjelaskan.
“Baiklah dokter, ini adalah surat permintaan visum untuk korban, mohon agar segera dilakukan pemeriksaan visum.” ucap pihak penyidik yang langsung mendapatkan anggukan dari dokter Jerry.
“Baik pak kami akan segera melakukan pemeriksaan.” jawab dokter Jerry lalu kembali masuk kedalam ruang IGD untuk menjalankan tugasnya.
Selama pemeriksaan visum berlangsung Revan dan Bagas terus menunggu didepan ruang IGD dengan cemas, hingga akhirnya dokter Jerry keluar dan menjelaskan hasil visum lalu meyerahkannya kepada penyidik.
“Baiklah, kami akan membawa hasil visum ini sebagai bukti agar kasus ini dapat diselidiki lebih lanjut dan kami dapat segera menangkap pelaku. Nanti jika ada hal lain yang ingin disampaikan, anda bisa langsung menghubungi kami. Apabila pelaku sudah tertangkap kami akan segera menghubungi anda.” ucap salah seorang polisi dengan tegas setelah menerima hasil visum Reyna.
“Sama-sama pak Revan. Kalau begitu kami permisi dulu.” ucap polisi itu berpamitan sebelum akhirnya beranjak pergi.
“Baiklah tuan muda. Setelah ini nona Reyna akan dipindahkan ke..” belum sempat dokter Jerry menyelesaikan kalimatnya, Revan dengan cepat memotong ucapan sang dokter.
“Pindahkan dia ke bangsal VVIP.” sergah Revan dengan cepat dan tegas.
“Baik tuan muda. Pasien akan dipindahkan ke bangsal VVIP.”
“Suster, tolong segera pindahkan pasien ke bangsal VVIP.” ucap dokter Jerry memberikan perintah kepada para perawat yang ikut serta menangani Reyna.
“Baik dokter.” jawab para perawat dan dengan sigap langsung memindahkan Reyna ke bangsal VVIP sesuai dengan permintaan Revan.
Revan dan Bagas pun mengikuti dokter Jerry dan para perawat hingga kedalam suatu ruangan yang sangat megah dan sangat nyaman dengan fasilitas yang lengkap untuk ukuran kamar inap pasien.
“Baiklah tuan muda, kalau pasien sudah sadarkan diri, anda bisa langsung memanggil saya untuk memastikan keadannya lebih lanjut.” ucap dokter Jerry.
__ADS_1
“Baik dokter, terimakasih banyak.” ucap Revan yang langsung mendapatkan anggukan dari dokter Jerry.
“Kalau begitu saya permisi dulu.” pamit dokter Jerry setelah menyampaikan apa yang perlu ia sampaikan sebelum akhirnya pergi dari hadapan Revan dan Bagas.
Setelah para perawat dan dokter Jerry keluar dari ruangan tersebut, Revan langsung bergegas duduk di kursi yang berada tepat disebelah ranjang Reyna dengan raut wajah yang lega namun masih terlihat khawatir dan emosi.
“Bagas, sebaiknya kamu kabari ibu Reyna dan sebaiknya jemput beliau kemari.” Perintah Revan kepada Bagas.
“Baik tuan muda. Kalau begitu saya permisi dulu.” Pamit Bagas seraya meninggalkan ruangan untuk mengabari dan menjemput bunda Mery.
Setelah Bagas pergi meninggalkan ruangan, Revan terlihat memandangi Reyna dengan tatapan yang amat sangat dalam.
“Entah mengapa, saat melihatmu seperti ini aku merasa dadaku begitu sesak dan aku merasa sangat kecewa pada diriku sendiri. Apakah aku mulai menyukaimu? Atau bahkan lebih dari itu? Entahlah, yang terpenting sekarang adalah tekad kuat yang terbesit dalam benakku, bahwa mulai saat ini aku harus melindungimu.” ucap Revan dalam hati sambil masih memandangi Reyna yang belum sadarkan diri dengan tatapan yang sangat tulus.
Tiba-tiba jari jemari Reyna bergerak sedikit demi sedikit, menunjukkan tanda-tanda bahwa ia telah siuman. Reyna membuka matanya perlahan-lahan dan beberapa kali mengerjapkan matanya yang masih terlihat buram.
“Kamu sudah sadar?” tanya Revan bersemangat saat melihat Reyna sudah membuka matanya.
Tanpa menunggu jawaban Reyna, Revan langsung bergegas keluar dan memanggil dokter Jerry untuk memeriksa kondisi Reyna saat ini.
“Dokter! Dokter! Reyna sudah sadar!” ucap Revan dengan semangat. Tak menunggu waktu lama, dokter Jerry langsung menghampiri Revan dan mereka berdua berjalan dengan tergesa-gesa ke bangsal VVIP tempat Reyna dirawat.
Sesampainya di sana, dokter Jerry pun segera bergegas memeriksa kondisi Reyna dengan Revan yang berdiri memperhatikan di sisi lain ranjang.
“Bagaimana kondisinya saat ini dokter?” tanya Revan setelah dokter Jerry selesai memeriksa Reyna.
“Saat ini kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya tuan muda, pasien hanya membutuhkan beberapa waktu untuk memulihkan kondisinya. Anda tidak perlu khawatir.” jawab dokter Jerry dengan senyuman yang tenang, membuat Revan menghela nafas lega.
“Kalau begitu saya permisi dulu tuan muda.” pamit dokter Jerry yang dibalas dengan anggukan oleh Revan sebelum akhirnya beranjak pergi dari ruangan tersebut.
“T-terimakasih pak Revan.” kalimat pertama yang Reyna ucapkan ketika ia telah sadarkan diri sukses membuat Revan tersentak dan terharu.
“Tidak perlu berterimakasih, semua itu berkat teriakanmu. Aku bisa datang kesitu karena teriakanmu. Tapi setidaknya kamu sudah baik-baik saja sekarang, dan bedeb*h gila itu akan segera mendapatkan hukumannya.” jawab Revan dengan tatapan sinis mengingat wajah Rian yang begitu tega melukai adik kandungnya sendiri.
“Pak Revan melaporkan kasus ini?!” tanya Reyna kaget, namun dengan suara yang masih lemah.
“Benar. Aku tidak bisa mentolerir hal seperti itu terjadi padamu.” jawab Revan membuat Reyna tersentak kaget dengan jantung yang berdegub kencang.
“Ha? Terjadi padaku? Apa ini?! Pak Revan melaporkan kak Rian karena tidak bisa melihatku diperlakukan seperti itu oleh kakakku sendiri?!” gumam Reyna dalam hati tak percaya.
__ADS_1
“Tapi pak.. kak Rian adalah kakak saya satu-satunya.” ucap Reyna mencoba menjelaskan.
“Aku tak peduli hubungan saudara diantara kalian, yang aku tahu apa yang telah dilakukannya adalah hal yang keliru, terlebih lagi dia melakukannya padamu. Jadi dia pantas mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya itu.” jawab Revan dengan tegas.