
Teriknya sinar matahari di siang hari ini mampu menghangatkan suasana kota, sinarnya yang menyilaukan berhasil masuk menembus kaca sebuah ruangan megah dengan interior mewah yang terletak pada puncak tertinggi sebuah gedung pencakar langit di kota ini. Terlihat sosok pria tinggi nan tampan tengah berdiri di salah satu sudut ruangan sembari menikmati keindahan kota. Setelan jas berwarna biru tua dan kemeja putih polos pada bagian dalamnya, serta dasi dan sepatu pantofel berwarna hitam yang dikenakannya, memberikan kesan maskulin dan berwibawa.
“Tok tok tok!”
“Permisi tuan muda..” ucap seseorang dibalik ketukan suara pintu.
“Masuk!” balas pria didalam ruangan mempersilahkan. Terlihat Bagas memasuki ruangan dengan membawa beberapa berkas ditangannya.
“Tuan muda, ini laporan yang anda minta tentang gadis itu.” ucapnya seraya menyerahkan berkas itu kepada Revan. Ya, ruangan megah nan mewah ini adalah ruang kerja milik Revan Anggara Nugroho.
“Hmm.. baiklah!” jawab Revan yang langsung melihat informasi didalam berkas yang Bagas berikan.
“Reyna Handoko, usia 22 tahun, lulusan terbaik universitas S, pekerja keras, memiliki kakak laki-laki bernama Rian Handoko, seorang pengangguran dan peminum berat yang hanya bisa menghabur-hamburkan uang, bisnis orang tuanya hancur saat dia masih kecil, ayahnya menghilang, dan ibunya seorang pekerja serabutan..” ucap Revan membaca laporan yang diberikan Bagas.
“Cuma ini?!” tanya Revan sambil menaikkan satu alisnya.
“Iya tuan muda. Itu adalah laporan keseluruhan yang saya dapatkan tentang wanita itu. Dia hanya gadis biasa, dan saya bisa menjamin sepenuhnya bahwa dia bukan orang suruhan Charles.” jawab Bagas menegaskan.
“Apa yang membuatmu bisa se yakin itu?” tanya Revan lagi.
“Pertama, dari penyelidikan dan hasil pengintaian yang dilakukan Bobby, kami tidak menemukan adanya interaksi antara dirinya dengan Charles selama ini. Dan yang kedua, saat saya mengecek cctv dari awal dia masuk hingga sekarang, tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan dari dirinya.” ucap Bagas.
“Insiden tabrakan yang terjadi di lobi dan di lift pribadi tuan muda, semua itu murni karena kecelakaan. Insiden tabrakan terjadi karena dia sedang tergesa-gesa setelah melakukan wawancara kerja di ruang konferensi yang terdapat di sebelah lobi perusahaan. Dan untuk kejadian di lift sudah dipastikan bahwa dia memang tidak tahu bahwa itu adalah lift pribadi milik tuan muda.” lanjut Bagas menjelaskan panjang lebar.
Bobby yang dimaksud oleh Bagas adalah anak buah Revan yang bertugas sebagai mata-mata. Keahliannya dalam memata-matai target sudah tidak bisa diragukan lagi. Bisa dibilang dia adalah mata-mata yang sangat handal.
__ADS_1
“Oke, masuk akal. Namun, kejadian di lift, bagaimana kamu memastikannya?” tanya Revan sekali lagi.
“Saat saya berada dilobi pada jam makan siang, saya mendengar suara yang cukup bising dari arah kantin, dan saya menghampirinya. Saya melihat gadis bernama Reyna itu sedang di maki oleh salah satu karyawan yang melihat kejadian di lift sebagai tindakan yang disengaja dengan maksud mendekati tuan muda.”
“Awalnya, salah satu teman Reyna membenarkan hal tersebut, yang membuat saya tertarik untuk mengetahui kejelasannya, sehingga saya duduk dimeja yang bersebelahan dengan mereka. Tapi setelah insiden itu berakhir, Reyna menjelaskan kepada teman-temannya kejadian yang sebenarnya. Untungnya saya sempat merekamnya, silahkan tuan muda mendengarkannya sendiri.” jawab Bagas lalu memutar rekaman suara Reyna yang ia dapatkan.
Setelah mendengarkan suara rekaman tersebut, raut wajah Revan yang awalnya serius mulai berubah menjadi tenang.
“Baiklah, berikan rekaman itu padaku, dan kamu boleh pergi Bagas!” ucap Revan dengan nada memerintah.
“Baik tuan muda..” jawab Bagas patuh, meninggalkan rekaman suara itu dimeja Revan dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan.
“Tunggu..!” ucap Revan yang berhasil membuat Bagas menghentikan langkahnya.
“Untuk masalah saham yang aku tugaskan kepadamu, apa sudah beres?” tanya Revan ingin mengetahui sejauh mana Bagas telah menjalankan tugas yang ia berikan.
“Berapa kerugian yang mereka alami?” tanya Revan memastikan.
“Sekitar 2 Milyar Rupiah tuan muda.” ucap Bagas menjelaskan.
“Bagus! Kerja bagus Bagas. Pantau terus, jika waktunya sudah tiba, hancurkan mereka!” Revan tersenyum puas dengan jawaban yang diberikan Bagas.
“Baiklah kalau begitu, kamu boleh pergi..” lanjutnya mempersilahkan Bagas meninggalkan ruang kerjanya.
“Baik tuan muda.” jawab Bagas dan langsung beranjak meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Setelah Bagas keluar, Revan mengambil alat perekam yang diberikan Bagas di mejanya dan memutar ulang rekaman suara Reyna.
“Gadis yang menarik!” gumam Revan pelan sambil tersenyum tipis.
Belum lama Bagas meninggalkan ruangan Revan, tiba-tiba terdengar suara bising dari luar ruangan. Terdengar suara Bagas yang berusaha mencegah seseorang yang ingin menerobos masuk.
“Ih.. Minggir dong!” terdengar suara seseorang dibalik pintu ruangan Revan sebelum akhirnya pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok wanita dengan dandanan yang lumayan centil. Mengenakan dress selutut tanpa lengan, dengan rambut curly yang dibiarkan terurai, serta lipstik merah yang menghiasi bibirnya. Wanita itu bernama Mira Phanthom.
Mira Phanthom, sosok wanita manja, angkuh, dan keras kepala yang merupakan putri tunggal keluarga Phanthom, salah satu rekan bisnis Revan. Awalnya hubungan kerjasama yang terjalin antara Revan dan keluarga Phanthom berjalan dengan baik, bahkan bisa dibilang sangat baik. Namun, manusia memang tidak pernah puas dengan apa yang telah mereka dapatkan.
Kesuksesan yang telah diraih keluarga Phanthom atas kerjasamanya dengan perusahaan Revan membuat mereka menjadi manusia serakah. Keluarga Phanthom ingin memperoleh keuntungan yang lebih banyak lagi dan ingin perusahaannya menjadi satu-satunya perusahaan terbaik di negeri ini. Oleh karena itu, keluarga Phanthom mulai melakukan berbagai cara untuk lebih mendekatkan keluarganya dengan Revan, salah satunya ialah dengan mengirim putri semata wayangnya itu untuk mendekati Revan dengan harapan dapat menyatukan keluarga Phanthom dan Revan melalui sebuah ikatan pernikahan.
“Maaf tuan muda, nona Mira memaksa masuk, dan saya tidak bisa menahannya.” jelas Bagas atas apa yang sedang terjadi.
“Apa yang membawamu datang ke sini Mira?!” tanya Revan dingin kepada Mira.
“Apalagi kalau bukan makan siang bersamamu. Kita ke Restoran itali kesukaanku yuk!” ajak Mira sambil bergelayut manja di lengan Revan.
“Aku sudah kenyang!” tolak Revan singkat namun tegas.
“Ayolah, aku tahu kamu belum makan Revan. Jadi, jangan menolakku. Okay!” ucap Mira diakhiri dengan kedipan mata genitnya.
Tanpa persetujuan dan aba-aba dari Revan, Mira pun langsung menggandeng tangan Revan dan menariknya keluar untuk mengajaknya makan siang.
“Tuan muda!” ucap Bagas khawatir dengan bosnya yang hanya dijawab dengan isyarat tangan oleh Revan agar Bagas mengikutinya.
__ADS_1
Selama ini, sikap Revan yang selalu diam dan terkesan selalu menuruti permintaan Mira bukanlah tanpa alasan. Ya, sejak awal Revan sudah mengetahui rencana licik keluarga Phanthom yang serakah itu. Revan tahu bahwa keluarga Phanthom ingin Revan menikahi putrinya hanya agar bisa mengambil alih perusahaan Revan dan mendepaknya keluar dari sana. Namun, mereka tidak tahu bahwa Revan bukanlah orang yang mudah dibodohi. Revan sudah memiliki rencananya sendiri, dia akan memberikan semua yang mereka inginkan sebelum akhirnya ia jatuhkan sedalam-dalamnya. Karena itulah ia selalu membiarkan Mira melakukan apapun yang dia inginkan.