
Malam telah berlalu, dan pagi pun telah tiba. Terlihat Reyna masih tertidur pulas di ranjangnya hingga bunyi alarm membangunkannya.
“Klik! Klik! Klik! Klik!”
“Hoaaaaaammmmmm!!” Reyna menguap dengan kencang seraya merenggangkan tubuhnya sebelum akhirnya mematikan bunyi alarm di meja samping tempat tidurnya.
“Udah jam 06.30 mandi dulu ah!” gumam Reyna seraya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Saat hendak menuju kamar mandi, Reyna melihat bunda Mery sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk Reyna.
“Loh, bunda ngapain?!” tanya Reyna sambil berjalan kearah sang bunda.
“Bunda lagi nyiapin sarapan buat kamu Rey uhuk! Uhuk!” jawab bunda Mery sambil sesekali terbatuk.
“Ya ampun.. Bunda nggak perlu repot-repot, Rere bangun lebih pagi supaya bisa bikin sarapan sendiri. Lagipula bunda kan masih harus istirahat.” ucap Reyna terlihat khawatir dengan kondisi sang bunda.
“Bunda udah agak mendingan Rey, bunda udah nggak papa.” jawab bunda Mery menjelaskan kondisinya.
“Ih.. tapikan bun..” belum sempat Reyna menyelesaikan ucapannya, bunda Mery dengan cepat langsung memotongnya.
“Sssstt! Udah nggak papa, percaya deh sama bunda.” sergah bunda Mery.
“Sekarang kamu cepat mandi dan siap-siap habis itu langsung sarapan. Nanti keburu telat loh kalau kamu ngomel-ngomel mulu.” lanjut bunda Mery mengingatkan.
“Hmm.. Kalau bunda udah bilang kayak gitu Rere udah gak tau lagi mau ngomong apa.” ucap Reyna pasrah.
“Yasudah, buruan mandi gih! Baunya bikin nggak tahan..!” suruh bunda Mery sambil menggoda Reyna dengan menutup hidungnya.
“Ihh bunda jahil yaa sekarang.” ucap Reyna seraya mendekat kepada sang bunda dan langsung memeluk dan mengecup pipi sang bunda bertubi-tubi.
“Aduhh! Aduhh Rey! bau ihh bauuu!” ucap bunda Mery sambil berusaha menghindari kecupan dan pelukan Reyna.
“Hahaha biar bunda ketularan baunya Rere. Wleeekk!” jawab Reyna sambil menjulurkan lidahnya menggoda sang bunda.
“Awas kamu ya, sini bunda lap muka kamu pakai kain serbet kotor.” ujar bunda Mery bergaya seolah-olah akan mengejar Reyna, alhasil spontan membuat Reyna lari ke kamar mandi dan menutupnya.
“Hahahaha ampuunn bundaaa..!” ucap Reyna di kamar mandi sambil cengengesan membuat bunda Mery tersenyum simpul merasakan cerianya pagi hari ini.
Setelah 1 jam berlalu Reyna yang telah berdandan rapi pun menuju meja makan. Terlihat sang bunda tengah duduk sambil menunggunya.
“Ya ampunn! Anak bunda cantik bangettt hari ini..!” puji bunda Mery melihat penampilan Reyna hari ini yang terlihat sangat menawan, memakai atasan turtleneck yang dipadukan dengan blazer dan pantsuit berwarna pastel serta sepatu pantofel model slip on dengan rambut ia biarkan terurai dengan indah.
“Oohh.. jadi maksud bunda biasanya Rere nggak cantik nih?!” tanya Reyna seraya memanyunkan bibirnya.
“Biasanya juga cantik.. tapi sedikit.” goda bunda Mery karena suka melihat ekspresi anaknya itu.
“Ihh.. bunda mah gitu, bukannya nyenengin hati Rere, tapi malah tambah ngegoda Rere!” ucap Reyna agak sebal karena sang bunda yang jahil.
“Habis kamu lucu sih kalau lagi manyun begitu Hahaha!” jawab bunda Mery sambil tertawa puas.
__ADS_1
“Udah ah, kita sarapan yuk keburu dingin nasinya.” ajak bunda Mery yang langsung membuat Reyna menyantap sarapannya dengan lahap.
Setelah selesai sarapan, Reyna bergegas pamit dan berangkat menaiki bus menuju perusahaan. Selama diperjalanan, Reyna terus melihat keluar kaca, menikmati indahnya pemandangan pagi hari ini tanpa mau memikirkan hal apapun yang dapat mengusiknya.
“Semoga hari ini dipenuhi kebahagiaan.” doa Reyna dalam hati sebelum akhirnya bus yang ia tumpangi berhenti di halte yang letaknya tak jauh dari perusahaan.
Setelah turun dari bus dan berjalan kaki ±1 menit, akhirnya Reyna tiba di perusahaan. saat ia hendak masuk, tiba-tiba langkahnya terhenti oleh sapaan seseorang dibelakangnya.
“Hay Reyy!” sapa seseorang dari belakang yang membuat Reyna langsung berhenti dan menoleh.
“Eh, kak Anya..baru sampai juga?” tanya Reyna seraya tersenyum.
“Iya nih Rey, baru aja turun dari taxi. Eh ngelihat kamu, langsung lari deh akhirnya!” jelas Anya yang terlihat sedikit ngos-ngosan.
“Ya ampun, makanya kak Anya sampai ngos-ngosan begini..”
“Nih kak tissue.” ujar Reyna sembari memberikan selembar tissue kepada Anya.
“Thanks Rey! Btw, Gita belum datang ya?” tanya Anya kepada Reyna. Namun, belum sempat Reyna menjawab. Terdengar teriakan cempreng dari belakang mereka.
“Woyyy Anya, Reyna! Kalian nungguin gue ya?” teriak Gita dengan PD nya hingga membuat beberapa karyawan menoleh kearahnya namun ia hiraukan dan terus berjalan mendekat kearah Anya dan Reyna.
“Nah, datang juga nih makhluk satu.” celetus Anya dengan santai.
“Eh surti! Lu kira gue apaan seenak jidat bilang makhluk-makhluk!” protes Gita tak terima.
“Yaelah, bener dong gue ngomong, lu itu makhluk.. makhluk hidup!” ucap Anya dengan penuh penekanan di akhir ucapannya yang berhasil membuat Reyna terkekeh melihat tingkah keduanya.
“Selamat pagi pak Revan.”
“Selamat pagi pak!”
Seperti biasa, Revan hanya membalas semua sapaan itu dengan anggukan dan melangkahkan kakinya memasuki perusahaan untuk menuju lift pribadinya diikuti Bagas dibelakangnya.
“Gilaaaa! Gilaaa! Pagi hari mata udah disuguhin yang ganteng-ganteng gini yaampuunnn!!” ucap Gita heboh melihat ketampanan Revan.
“Tuhkan mulai kumat, udah ah kita masuk yuk Rey!” ujar Anya sembari menggandeng tangan Reyna.
“Ehh tungguin gueee!!” ucap Gita dan langsung menyusul dibelakangnya.
Saat mereka baru melangkahkan kakinya dilobi, tiba-tiba ada seseorang dari arah belakang yang menarik tangan Reyna dengan kuat hingga membuat Reyna hampir tersungkur.
“Ehh Ehh!” ucap Reyna kaget dengan tangan seseorang yang menariknya hingga melepaskan pegangan tangannya kepada Anya.
“DASAR GADIS JAL*NG!!”
“Plaaakk!!”
__ADS_1
Ucap seseorang itu yang tanpa memberikan kesempatan kepada Reyna untuk menstabilkan tubuhnya, tapi malah memberikan sebuah tamparan yang keras hingga membuat Reyna tersungkur.
“Aaaww!!” terdengar suara jeritan Reyna sembari memegangi pipinya yang langsung memerah.
“Apa-apaan ini! Anda sudah keterlaluan nona mira!” ucap Gita tak terima melihat sahabatnya tiba-tiba diperlakukan seperti itu tanpa tahu kesalahannya. Yap benar, wanita yang menampar Reyna ialah Mira, Mira Phanthom.
“Reyna, kamu nggak papa?!” tanya Anya khawatir sembari membantu Reyna untuk berdiri.
Terlihat hampir seluruh karyawan sedang berkumpul dan menyaksikan kejadian yang terjadi pada jam masuk kerja ini. Namun, tiba-tiba terdengar suara yang membuat kerumunan itu membelah memberikan jalan.
“Ada Apa ini?!” tanya Pria itu dan tak ada satupun yang menjawabnya.
“Revaannn!!” ucap Mira berlari kearah Revan dan bergelayut manja. Namun, langsung dihempaskan oleh Revan karena melihat wajah Reyna yang membengkak dan terdapat bekas tamparan yang sangat nyata.
“Awwws!!” ucap Mira meringis kesakitan.
“Apa yang kau lakukan kepada karyawanku Mira?!” tanya Revan dengan tatapan membunuh yang membuat semua orang terdiam takut.
“Aku.. aku.. aku hanya memberi gadis jal*ng itu pelajaran Revan!! Karena dia.. karena kejadian kemaren yang ia sebabkan, membuatmu menjadi marah padaku dan membuat perusahaan ayahku menjadi bangkrut, sekarang keluargaku hancur Revaann!! Dan itu semua karena gadis jal*ng ini!!” ucap Mira yang membuat seluruh karyawan heboh karena ternyata Revan tidak main-main dengan ucapannya kemarin.
“CUKUP MIRA!!” teriakan Revan langsung membuat kehebohan itu seketika lenyap.
“Siapa yang kau sebut gadis jal*ng?!!” tanya Revan dengan murka.
“Ddd-diaa!!” jawab Mira sembari menunjuk Reyna.
“Turunkan jari kotormu itu atau aku akan mematahkannya!” ucap Revan yang membuat Mira sontak menurunkan jarinya.
“Dengarkan aku baik-baik Mira.! Semua yang terjadi pada bisnis dan kehancuran keluargamu tidak ada hubungannya dengan dia! Semua murni karena perbuatanmu dan keluargamu selama ini!” ucap Revan tegas, sangat tegas.
“Apa maksudmu Revan?” tanya Mira tak mengerti.
“Kau pikir selama ini aku tak tahu rencana busukmu dan keluargamu yang ingin mengambil alih perusahaan ini dan menendangku keluar?!” ucap Revan diakhiri teriakan yang sangat kencang diakhir kalimatnya.
“Revaann.!! Sepertinya ini salah paham!” jawab Mira masih berusaha mengelak.
“Kau pikir aku tak bisa mempertanggungjawabkan perkataanku? KAU PIKIR AKU BODOH HAH?!!” tanya Revan sebelum akhirnya ia melemparkan tumpukan kertas ke atas Mira dan membuat kertas-kertas yang ternyata adalah bukti itu berceceran dimana-mana.
Mira tercengang melihat semua bukti-bukti yang Revan dapatkan, tapi Mira masih berusaha mengelak.
“Revan! Ini semua aku bisa jelaskan, bagaimana kalau kita ke ruang kerjamu. Aku akan menjelaskan semuanya.” ucap Mira panik seraya memberikan penawaran.
“Penjagaa!! Penjaga!!” Revan memanggil beberapa bodyguardnya. Dan tak perlu menunggu lama, bodyguard Revan pun telah sampai dihadapannya.
“Bawa wanita gila ini keluar dan jangan sampai aku melihatnya menginjakkan kaki di perusahaanku lagi!” perintah Revan yang membuat para bodyguard itu menyeret Mira keluar dengan paksa.
“Revan!! Aku bisa jelaskan!!”
__ADS_1
“Revaannn!!”
“Revaaaannnnn!!!!” teriak Mira berusaha memanggil Revan namun tak dihiraukan.