
Malam telah berlalu dan pagi hari pun telah tiba. Terlihat Reyna sudah berada diruang kerjanya yang masih kosong dan tengah terduduk di meja kerjanya dengan wajah yang lesuh. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka menampakkan sosok Anya dan Gita yang memasuki ruangan secara bersamaan.
“Morningggg!!” ucap Gita sedikit berteriak dengan maksud menyapa para rekannya yang sudah datang. Namun sayangnya ruang kerja masih terlihat kosong dan hanya ada Reyna di dalam ruangan itu seorang diri.
“Loh.. Reyna ?! lu udah masuk kerja?!” tanya Gita kaget seraya mendekati Reyna diikuti Anya dibelakangnya.
“Iya.. kok udah masuk kerja? Kamu udah nggak papa Rey? Wajahmu terlihat lesuh sekali?!” ucap Anya menyahuti sambil mengecek kening Reyna.
“Loh nggak demam kok, kamu kenapa Rey? apa ada yang sakit? Penampilanmu juga sedikit berbeda dari biasanya?!” lanjut Anya tak henti-hentinya bertanya.
“Aku nggak papa kok kak Anya, kak Gita.. Bengkaknya udah kempes, memarnya juga udah nggak begitu terlihat karena kututupin pakai foundation, jadi aku memutuskan untuk masuk kerja. Dan aku nggak sakit kak.. semalam aku hanya tidak bisa tidur.” jelas Reyna kepada dua sahabatnya yang tengah menunggu jawabannya.
“Jangan bilang lu nggak bisa tidur karena panggilan telfon dari kita kemaren?!” tanya Gita sedikit khawatir jika penyebab kondisi Reyna yang seperti ini adalah karena mereka.
“Ah enggak kok kak, bukan karna itu.. Aku nggak bisa tidur karna semalam setiap aku berusaha memejamkan mata, berulang kali juga aku bermimpi buruk.” jelas Reyna bohong.
Padahal satu-satunya faktor yang menyebabkan Reyna tidak bisa tidur tak lain ialah karena saat Reyna memejamkan matanya, berulangkali ingatan akan mimpinya bersama Revan kembali muncul mengganggu tidurnya.
“Maaf kak Gita, kak Anya.. Aku terpaksa harus berbohong pada kalian, karena aku tak mungkin menceritakan penyebab kondisiku yang amburadul seperti ini ialah karna memimpikan pak Revan!” gumam Reyna dalam hati.
“Syukurlah kalau gitu, aku kira kamu sedang sakit dan sedang memaksakan diri untuk bekerja..” ucap Anya sedikit lega.
“Hehehe enggak kok kak aku baik-baik saja, hanya kurang tidur saja!” jawab Reyna seraya tersenyum manis, namun terlihat ngeri karna kantung hitam dibawah matanya.
“Hiiiii.. udah jangan senyum, serem tau!” celetus Gita sambil bergidik ngeri, namun malah membuat Anya dan Reyna tertawa terbahak-bahak.
“Hahahahaha!”
Tawa renyah mereka bertiga turut menghiasi keceriaan di pagi hari ini hingga terdengar sampai keluar. Namun tidak ada yang menyadari bahwa sedari tadi ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dengan mengintip dibalik kaca kecil yang terdapat pada pintu ruangan tersebut.
“Melihat dia yang sudah kembali bekerja dengan kondisi yang sudah membaik entah kenapa membuatku sedikit lega..” gumam seseorang dibalik pintu itu dengan suara pelan sambil terus memperhatikan Reyna.
“Tuan muda, mau sampai kapan anda akan terus berdiri didepan pintu ini? Bukankah sebaiknya anda masuk dan menanyakan tentang keadaannya daripada harus mengintip dibalik pintu seperti ini?” tanya satu orang lainnya menasihati.
“Ah tidak, aku kesini hanya ingin mencari kepala divisinya, tapi kurasa dia belum datang. Sebaiknya aku ke ruanganku sekarang!” jawab orang yang dipanggil tuan muda itu salah tingkah, dan langsung melangkahkan kakinya pergi dari ruangan Reyna, membuat orang dibelakangnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lalu beranjak mengikuti tuannya tersebut.
Saat tengah asyik berbincang-bincang dengan Gita dan Anya, tiba-tiba Reyna menolehkan kepalanya kearah pintu masuk ruangan, karena merasa ada seseorang yang tengah mengawasi mereka.
“Kenapa Rey?” tanya Anya disela-sela percakapan.
“Oh enggak kak, aku hanya merasa tadi aku melihat seseorang mengintip dari balik pintu itu!” jawab Reyna menjelaskan apa yang ia rasakan.
__ADS_1
“Ah masa sih? Dari tadi Cuma ada kita bertiga doang, gara-gara datang terlalu pagi. Coba gue cek dulu!” ucap Gita seraya berjalan mendekat kearah pintu dan membukanya. Namun nihil, tak ada siapapun dibalik pintu itu.
“Nggak ada siapa-siapa tuh, mungkin Cuma perasaan lu aja kali Rey!” ucap Gita lagi seraya menutup pintu dan berjalan kembali kearah dua sahabatnya itu.
“Ah iya kak, mungkin hanya perasaanku saja!” ungkap Reyna sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Perasaan tadi memang ada orang deh, dan sempat terdengar percakapan dari luar ruangan juga. Apa mungkin memang perasaanku saja karena kurang tidur? Tapi suara orang itu terdengar sangat familiar ditelingaku, seperti suara pak Revan dan Pak Bagas?! Haahh!! Nggak mungkinlah, ngapain juga mereka kesini. Mungkin memang benar hanya perasaanku saja!” gumam Reyna dalam hati masih memikirkan sosok dibalik pintu ruangannya itu.
“Rey, katanya lu mau cerita ke kita soal kejadian yang lu alamin kemaren?” tanya Gita tiba-tiba karena teringat perkataan Reyna tadi malam yang akan menceritakan semuanya ketika ia sudah kembali bekerja.
Namun, tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Reyna, malah terlihat Reyna sedang memandangi pintu ruangan kerja mereka sambil melamun.
“Kenapa sih Rey? kok jadi ngelamun? Jangan nakut-nakutin deh!” ucap Anya saat melihat Reyna tiba-tiba diam seribu bahasa saat mereka sedang menanyainya.
“Ah maaf kak! Aku jadi kepikiran cucianku di rumah yang lupa belum ku jemur!” alibi Reyna karena tak ingin membuat Anya berfikir yang tidak-tidak, karena Reyna tahu Anya adalah orang yang sangat mempercayai adanya hantu.
“Lalu kak Gita tadi ngomong apa?!” lanjut Reyna masuk kedalam pembicaraan.
“Yaelah Rey.. gue kira kenapa, ternyata karena cucian..”
“Gue tadi tanya, katanya lu mau ceritain kejadian yang lu alamin kemaren ke kita?” ucap Gita mengulangi pertanyaannya.
“Oh soal itu..” gumam Reyna ragu.
“Ah enggak kok kak, aku Cuma nggak yakin mau bilang. Karena kejadian kemaren menurutku termasuk dalam kejadian diluar nalar.” jawab Reyna yang membuat Anya langsung bergidik ngeri.
“Pasti ini tentang hantu?!” tanya Anya khawatir.
“Ini lebih dari hantu kak!” jawab Reyna dengan ekspresi datar namun penuh penekanan dalam kalimatnya.
“Hey! Hey! Kalian berdua ngapain sih ya ampuunn.. Please deh, ini masih pagi gak bakalan ada hantu!” ucap Gita mengehentikan kedua sahabatnya yang mulai bertindak konyol.
“Hehehe maaf kak gita!” ucap Reyna cengengesan.
“Hmm.. Okay, jadi apa maksudmu hal diluar nalar itu?” tanya Gita penasaran.
“Tapi janji kak Gita nggak bakal bikin kegaduhan setelah mendengar ceritaku?!” ucap Reyna seraya memunculkan janji kelingkingnya untuk membuat janji dengan Gita.
“Iya-iya gue janji!” jawab Gita seraya menautkan kelingkingnya pada kelingking Reyna.
“Jadi kemarin saat diajak pak Bagas ke ruangan Pak Revan dan menunggunya seorang diri didalam ruangan, tiba-tiba pak Revan datang dan mengobati pembengkakan dipipiku. Anehnya saat itu, beliau tidak terlihat seperti pak Revan yang arogan yang kita lihat setiap harinya, dia berlaku sangat lembut padaku, itu membuatku berpikir bahwa dia sangat aneh!” jelas Reyna kepada kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
“OMG!!!! Ini gila sih! Pak Revan idola semua orang yang selalu bersikap dingin dan arogan itu bersikap lembut padamu dan mengobati lukamu dengan tangannya sendiri?!! waaahh!! Ini sungguh mengejutkanku!” heboh Gita setelah mendengar Reyna menceritakan kejadian yang ia alami.
“Hssssttttt!! Diem b*go!!” ucap Anya yang langsung membekap mulut Gita dengan kedua tangannya.
“Emm.. em.. emm.. eeeemmm!!” ucap Gita berusaha berteriak dan melepaskan bekapan tangan Anya dari mulutnya
“Lanjutin Rey..” ujar Anya mempersilahkan Reyna melanjutkan ceritanya sembari melepaskan bekapannya pada Gita. Membuat Gita diam menstabilkan nafasnya.
“Lalu setelah itu, saat aku keluar dari ruangan pak Revan karena beliau menyuruhku pulang. Aku tidak menyangka kalau pak Anthony menungguku didepan ruangan pak Revan, lalu beliau menawarkan untuk mengantarku pulang. Awalnya aku menolak tawaran beliau, tapi karena beliau sedikit memaksa jadi aku tidak enak jika menolak ajakannya.” ucap Reyna menjelaskan panjang lebar.
“Namun aku merasa ada yang aneh pada sikapnya saat kami hanya berdua..” lanjut Reyna menggantungkan kalimatnya.
“Apa itu Rey?” tanya Anya makin penasaran.
“Saat kami berada di lift, tiba-tiba wajahnya dipenuhi keringat, sikapnya menjadi kikuk. Lalu saat berada di depan mobilnya, beliau berlari membukakan pintu mobil untukku. Hal itu juga dilakukannya saat mobilnya sudah berhenti di rumahku. Awalnya aku hanya menganggap beliau bersikap ramah saat menawarkan ingin mengantarkanku pulang, tapi saat beliau membukakan pintu mobil untukku, aku jadi berfikir apakah itu bagian dari sikap ramahnya atau bukan? Menurutku itu sangat aneh!” jelas Reyna lagi membuat kedua sahabatnya mangut-mangut dan ikut memikirkan hal yang terjadi pada Reyna.
“Iya, memang cukup aneh. Pak revan yang tiba-tiba bersikap lembut dan pak Anthony yang mendadak jadi perhatian padamu.” ucap Anya seraya menyilangkan kedua tangannya dan terlihat berfikir keras.
“Sudahlahhh.. kalian berdua ini nggak peka banget sih! Jelas-jelas mereka menunjukkan ketertarikannya padamu Rey..!” ucap gita menanggapi.
“Haa??! Apa-apaan! Nggak mungkin lah!” kata Reyna mengelak tak percaya.
“Rey, dengerin gue! Cowok nggak akan berlaku spesial terhadap seseorang kalau mereka bener-bener nggak punya rasa apapun. Bahkan jika mereka gak sadar sama perasaan mereka sendiri, hati mereka yang bakalan menarik mereka untuk bertindak!” jelas Gita bijak.
“Yaps! Masuk akal deh Rey kata Gita!” ucap Anya setuju.
“Ah nggak mungkinlah. Mungkin mereka hanya bersikap baik kepadaku, aku tak mau memikirkan hal ini lagi!” ucap Reyna masih tak percaya.
“Ah elu Rey, gue ini berpengalaman tentang cinta-cinta an. Lu gak tau kalau gue pernah jadi admin komunitas curhat masalah percintaan?!” ucap Gita memamerkan jam terbangnya.
“Ah gatau ah! Aku gamau mikirin ini, aku mau fokus kerja aja!” ucap Reyna tak mau mendengarkan.
“Ehem! Ehem!” terdengar suara deheman dari arah pintu ruangan, membuat mereka bertiga menoleh ke sumber suara.
“Selamat Pagi Reyna, Gita, Anya!” sapa orang itu yang tak lain ialah pak Anthony.
“Oh! Pagi pak..”
“Selamat pagi pak!”
“Iya, pagi pak!” jawab Gita, Anya dan Reyna bergantian.
__ADS_1
Kedatangan pak Anthony membubarkan perbincangan mereka, membuat mereka kembali ke meja kerjanya masing-masing. Karena tak lama setelah pak Anthony datang, rekan kerja yang lainnya juga turut memasuki ruangan untuk memulai aktifitas mereka begitu juga dengan Reyna, Gita, dan Anya.