Aku, Kenangan, Angan Dan Masa Depan

Aku, Kenangan, Angan Dan Masa Depan
Hukuman


__ADS_3

“Tok! Tok! Tok!”


“Tuan muda, kami telah membawanya kesini!” ucap Bagas sebelum akhirnya masuk kedalam ruangan Revan.


Terlihat Bagas dan Bobby masuk sembari menyeret kerah baju seseorang yang tak lain ialah Andrew. Yap, benar. Sebelumnya, Bagas dan Bobby pergi dari ruangan Revan adalah untuk menuju ruangan Andrew dan menyeretnya ke hadapan Revan, hal tersebut sempat membuat heboh para karyawan yang melihat kejadian itu.


“Ada apa ini?! Ada apa ini pak Bagas, pak Revan?! Kenapa saya diperlakukan seperti ini?!!” protes Andrew tak terima dengan perlakuan kasar yang diterimanya. Sontak saja Bobby langsung melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga membuat Andrew tersungkur di hadapan Revan. Dan tanpa banyak bicara, Revan langsung melemparkan bukti-bukti penggelapan yang ia lakukan ke hadapan Andrew dan berhasil membuatnya langsung terdiam.


“I-i-ini..” ucap Andrew gagap.


“Bukti-bukti penggelapan dana perusahaan yang kamu lakukan selama ini!” jawab Revan dengan tatapan yang mematikan.


“P-pak Revan.. i-ini.. saya bisa menjelaskannya pak, ini semua hanya kesalahpahaman!” ucap Andrew berusaha mencari-cari alasan.


“Kesalahpahaman katamu?! Apa kamu pikir saya orang bodoh?!!” tanya Revan murka. Membuat Andrew langsung berlutut di kaki Revan.


“Maafkan saya pak! Maafkan sayaaa! Saya khilaf!! Ini semua saya lakukan karena keadaan ekonomi keluarga saya yang tidak tercukupi pak!” ucap Andrew mengarang cerita agar Revan mau memaafkannya. Namun dengan segera Revan menghempaskan Andrew dari kakinya.


“Dengan segala bukti yang telah terkumpul, kau masih bisa berbohong bahwa itu untuk kepentingan keluargamu?!!” teriak Revan.


“Waaahh!! Orang ini benar-benar sudah gila!!” celetus Bobby ikut geram menyaksikan adegan yang penuh drama ini.


“Rasanya aku ingin sekali menghujanimu dengan beberapa pukulan yang mematikan jika saja polisi tidak sedang dalam perjalanan kemari!” lanjut Bobby seraya meregangkan jari-jari tangannya hingga mengeluarkan bunyi yang cukup untuk membuat orang bergidik ngeri.


“P-polisi?!!” kaget Andrew mendengar ucapan Bobby, yang kemudian membuatnya berlutut lagi di kaki Revan sambil memohon.


“Pak Revan, saya mohoonnn! Saya mohon jangan melibatkan polisi dalam masalah ini, saya berjanji akan mengembalikan uang bapak secepatnya!” mohon Andrew dengan tatapan memelasnya.


“Oh, kau akan mengembalikan uang 200 milyar itu jika aku tidak melibatkan polisi dalam hal ini?!” tanya Revan dengan nada meremehkan.


“Iya pak Revan! saya akan mengembalikan uang perusahaan yang telah saya gelapkan dengan mengangsurnya dari gaji saya setiap bulan kepada bapak!” ucap Andrew masih memohon.


“Haha!! 200 Milyar dari gajimu yang sedikit itu?! Dan mengangsur katamu?!”


“Hahahaha kau ini sungguh bodoh! Kenapa kau bisa mengambil uang sebanyak itu secara cash tapi mengembalikannya dengan cara mengangsur?! Hahaha sungguh tikus got yang bodoh!” ejek Revan menanggapi permohonan Andrew.


“Tapi sepertinya aku bisa mengabulkan permohonan mu agar kita tidak melibatkan polisi, asal..” ucap Revan menggantungkan kalimatnya yang langsung membuat Andrew nampak semangat dan menyahutinya.


“Benarkah pak?! Bapak tidak akan memenjarakan saya?!” sergah Andrew dengan semangat.


“Ya, asal kau dapat mengembalikan seluruh uang perusahaan yang telah kau gelapkan dalam waktu satu minggu! Bagaimana?!” ucap Revan dengan seringaian liciknya.


“Apa?! 200 Milyar hanya dengan waktu satu minggu?!” kaget Andrew setelah mendengar persyaratan yang diberikan Revan.


“Kenapa?! Kamu tidak sanggupkan?!” tanya Revan menaikkan sebelah alisnya.


“Sa-saya ..s-saya..” Gagap Andrew tidak bisa menjawab pertanyaan Revan.


“Tok! Tok! Tok!”


Terdengar suara ketukan pintu dari balik ruangan Revan.


“Ah sepertinya para polisi itu sudah datang, biar aku yang membukanya!” ucap Bobby semangat dan langsung bergegas membukakan pintu ruangan Revan.

__ADS_1


“Silahkan masuk pak!” ucap Bobby mempersilahkan para polisi itu untuk masuk.


“Selamat siang pak Revan! Kami kesini membawa surat perintah penangkapan untuk saudara Andrew atas laporan yang telah anda buat dengan dugaan penggelapan dana perusahaan sejumlah 200 milyar!” ucap pak polisi dengan name tag Hendra itu.


“Selamat siang pak! Silahkan anda bawa orang ini pergi!” ucap Revan menyuruh agar polisi segera membawa Andrew pergi dari hadapannya.


“Baiklah, kalian.. segera ringkus orang itu!” perintah polisi Hendra kepada dua rekannya itu.


“Siap komandan!” hormat kedua polisi itu serempak dan langsung memborgol Andrew. Andrew terus meronta-ronta tak terima dengan apa yang dialaminya.


“Saya nggak salah pak! Saya hanya terpaksa melakukan ini! Saya nggak bersalaaaahh!!” teriak Andrew merasa tak bersalah.


“Diam kamu!!” Bentak salah satu polisi yang memborgolnya membuat Andrew seketika terdiam.


“Terimakasih atas kerjasamanya pak Revan, dan kami mohon kerjasamanya untuk penyelidikan lebih lanjut.” ucap polisi Hendra kepada Revan.


“Baik pak, dengan senang hati!” ucap Revan ramah.


“Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu.” ucap polisi Hendra berpamitan dan langsung beranjak keluar dari ruangan Revan diikuti oleh kedua anak buahnya dan Andrew dengan kondisi yang diborgol.


“Bagas! sebaiknya kamu ikut ke kantor polisi untuk menyerahkan bukti-bukti ini dan menjelaskannya kepada polisi!” perintah Revan tegas.


“Baik tuan muda, saya permisi dulu.” jawab Bagas patuh.


“Tunggu, aku juga akan ikut denganmu. Gini-gini aku juga turut andil dalam penyelidikan ini!” ucap Bobby dengan gaya songongnya.


“Baiklah! Kalian berdua pergilah. Segera urus masalah ini agar Andrew mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya!” perintah Revan bijak.


“Baik tuan muda.”


Di lobi, para karyawan berkumpul dengan heboh menyaksikan polisi memborgol Andrew dan membawanya keluar dari perusahaan diikuti Bagas dan Bobby dibelakangnya. Ya, pasalnya saat polisi membawa Andrew pergi adalah jam pulang kantor bagi para karyawan sehingga tak heran jika sebagian besar karyawan melihat hal itu tak terkecuali Reyna, Anya dan Gita.


“Waahhh!! Gilaaa!! Langsung diserahkan ke polisi!” ucap Gita pelan kepada dua sahabatnya itu.


“Iya! Nggak nyangka pak Revan langsung bertindak!” ucap Anya setuju dengan perkataan Gita.


“Ternyata aku salah sudah meragukan kekuatan pak Revan, ternyata benar kata pak Anthony bahwa pak Revan tidak akan tinggal diam atas masalah ini. Aku salut padanya!” gumam Reyna dalam hati seraya menyunggingkan senyuman kecil.


Perginya mobil polisi, Bagas dan Bobby dari halaman perusahaan Z turut membubarkan kerumunan karyawan walaupun kehebohan masih terdengar dari mulut mereka tapi keadaan di lobi sudah terlihat sepi dan hanya tersisa Reyna, Gita dan Anya.


“Gue bangga banget sama lu Rey!” ucap Gita sambil menepuk bahu Reyna pelan.


“Benar! Nggak nyangka kamu bisa mengungkapkan kebenaran ini!” timpal Anya bangga.


“Aku tidak menyangka bahwa hal ini akan langsung di tindak lanjuti oleh pak Revan. Karena saat tadi aku dan pak Anthony ke ruangannya untuk melapor dan menyerahkan bukti-bukti itu, beliau nampak terlihat santai-santai saja. Hingga membuatku jengkel karena responnya, namun sekarang aku salut padanya yang langsung melaporkan dan menyerahkan kasus ini pada pihak berwajib.” jawab Reyna disertai senyuman.


“Bersyukur banget kita punya bos yang tampan dan cerdas seperti pak Revan!!” ucap Gita membanggakan idolanya itu.


“Tapi, apa kalian tadi melihat orang yang bersama pak Bagas tadi?” lanjut Gita bertanya.


“Iya, lihat. Kenapa memangnya?!” jawab Anya seraya bertanya balik pada Gita.


“Iya, kak. Aku juga lihat. Ada apa emang?” ucap Reyna yang ikut melontarkan pertanyaan yang sama dengan Anya.

__ADS_1


“Apa kalian nggak merasa dia menakutkan?” tanya Gita lagi.


“Enggak tuh!” jawab Anya singkat.


“Enggak tuh kak, kenapa sih?” tanya Reyna penasaran.


“Itu.. dia memiliki goresan dipipinya! Kayak gangster yang biasanya aku lihat di film-film!” celoteh Gita jadi agak heboh.


“Ya elah, gw kira apaan! Bisa-bisanya ya lu sekali lihat orang bisa langsung sedetail itu!” ejek Anya menanggapi celotehan Gita.


“Tapi menurutku pria itu terlihat baik dan tampan walaupun ada goresan di wajahnya.” jawab Reyna jujur.


“Iya sih.. Dia memang tampan, tapi terlihat seram ih!” ucap Gita seraya bergidik ngeri.


"Ati-ati lu, bilang serem-serem gitu lama-lama jadi suka lu!" ucap Anya mengingatkan.


"Ih.. Apaan sih lu! Itu nggak bakalan terjadi!" jawab Gita tak terima dengan ucapan Anya.


“Tapi Rey, menurut lu tampanan mana pria tadi dengan pak Revan?” tanya Gita tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.


“Lah kok tiba-tiba bikin pertanyaan random gitu sih?!” ucap Reyna yang bingung atas pertanyaan Gita.


“Iya dasar gak jelas nih orang!” ucap Anya setuju dengan Reyna.


“Gue kan cuma penasaran aja, karena selama ini gue belum pernah lihat Reyna muji seseorang, tapi saat aku bilang pria tadi menyeramkan Reyna malah bilang dia tampan. Makanya aku jadi penasaran dan menanyakan hal itu padanya!” ucap Gita menjelaskan.


“Iya sih.. Padahal rata-rata alasan karyawan masuk perusahaan ini adalah karena ingin melihat ketampanan pak Revan setiap hari. Tapi lu kok enggak sih Rey? Aku juga jadi ikut penasaran, apa tipe pria tampan menurutmu seperti pria dengan goresan pipi itu?!” tanya Anya ikut penasaran.


“Ihh! Kak Gita, kak Anya kenapa sih?! Aku bilang dia tampan karena dia laki-laki. Karena semua laki-laki itu tampan, dan wanita itu cantik!” jawab Reyna jengkel pada kedua sahabatnya itu.


“Jadi secara nggak langsung lu juga ngakuin kalau pak Revan tampan dong?!” goda Gita dengan seringaiannya.


“Ya.. Kan pak Revan juga laki-laki!” jawab Reyna tak mau ambil pusing.


“Cieee Reynaaaa!!” ucap Gita dan Anya yang sengaja menggodanya.


“Ihh tau ah! Aku mau pulang aja!” ucap Reyna memanyunkan bibirnnya dan beranjak pergi. Namun buru-buru dihentikan oleh Gita.


“Hahaha jangan marah dong Rey, kita hanya bercanda kokk!!” ucap Gita seraya tertawa terbahak-bahak.


“Iya Rey, habis reaksimu lucu bangett sihhh.. jadi suka ngegodanya!” timpal Anya yang terlihat gemas pada Reyna.


“Ihh kak Gita, kak Anya mah gituu!! Suka jahil kayak bundakuu!” ucap Reyna masih memanyunkan bibirnya.


“ututututuu.. maafin kita yaaakk!!” ucap Gita meminta maaf dan mencubit pelan pipi Reyna dengan gemas.


“Huuhhh!! Kali ini aku maafin, kalau sampai jahil lagi, aku bakal jahilin kalian balik!” ancam Reyna dengan wajah cemberutnya yang langsung mengundang tawa dari dua sahabatnya itu.


“Yaudah yaudah. Kita balik yuk, udah sepi banget ini kantor” ajak Anya pada Reyna dan Gita.


“Yaudah yuk!” jawab Reyna dan Gita serempak.


Akhirnya mereka bertiga pun meninggalkan lobi dan bergegas pulang. Tanpa sadar ternyata sedari tadi Revan berdiri di balik dinding menyimak percakapan Reyna dan kedua sahabatnya

__ADS_1


itu hingga membuat Revan menyunggingkan senyuman.


“Haahh!! Kenapa aku jadi senang mendengarnya memuji tindakanku ini haha! Dan  Ya, aku tahu aku tampan, bahkan sangat tampan tak heran dia juga memuji ketampananku walaupun tidak secara langsung!” gumam Revan pelan sebelum akhirnya ia beranjak pulang.


__ADS_2