Aku, Kenangan, Angan Dan Masa Depan

Aku, Kenangan, Angan Dan Masa Depan
Keledai


__ADS_3

Pagi yang indah telah tiba. Terlihat seorang gadis dengan gaya rambut diikat setengah dan setengahnya dibiarkan terurai tengah berdiri didepan cermin sambil berkacak pinggang, memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri, siapa lagi kalau bukan Reyna. Make up natural yang terpoles diwajah kecilnya itu menambah kesan anggun dan segar, ditambah lagi perpaduan busana kerja yang simple dan elegan yakni kemeja biru muda dengan aksen pita berwarna hitam di padukan dengan rok selutut berwarna hitam, terlihat sempurna.


“Hmm.. sepertinya penampilanku di hari pertama bekerja ini sudah lumayan.”


“Bekas tamparan kemaren pun juga sudah tidak terlihat karena tertutup foundation.” gumamnya sambil mendekatkan wajahnya lebih dekat ke cermin untuk memastikan.


“Oke! Udah rapi, sekarang waktunya berangkat. Let’s go!” ucap Reyna penuh semangat.


Reyna pun berjalan keluar dari kamarnya, mencari sang bunda untuk berpamitan.


“Bundaaa..”


“Bunda dimana?” ucap Reyna sedikit berteriak.


Tak berselang lama terdengar jawaban dari bunda Mery.


“Bunda di belakang Rey.. lagi nyapu!”


Mendengar jawaban sang bunda, Reyna pun langsung berjalan ke halaman belakang untuk menemui bunda Mery dan segera berpamitan padanya.


“Bun, Rere mau berangkat kerja dulu ya. Doa’kan kerjanya lancar!” ucap Reyna dengan senyuman manisnya seraya mencium tangan sang bunda.


“Iya sayang.. bunda selalu mendoakan yang terbaik untuk Rere.” jawab bunda Mery dengan penuh perhatian.


“Yaudah, kalau gitu Rere berangkat ya bun. Bye-bye bundaaa..!!” ucap Reyna seraya melambaikan tangannya dan berlalu pergi.


“Bye-bye Rey. Hati-hati di jalaann..!!” ucap bunda Mery sedikit berteriak melihat punggung Reyna yang semakin menjauh.


“Iya bundaaa!!” balas Reyna dari kejauhan yang masih bisa didengar oleh bunda Mery, sebelum akhirnya sosok Reyna hilang dari pandangannya.


Sesampainya di perusahaan Z, Reyna langsung masuk dan melangkahkan kakinya menuju lift. Didalam lift, Reyna tak berhenti terkagum-kagum karena lift yang ia naiki memiliki design yang sangat mewah, ukiran berwarna emas dengan butiran-butiran bening seperti kristal sebagai penyempurnanya, terlihat seperti sungguhan.


“Waahh..!! Liftnya aja semewah ini, nggak nyangka ternyata CEO sombong itu baik juga ya. Lift karyawan dibuat seindah ini..” ujar Reyna tak percaya.


“Tapi.. perasaan ada yang aneh deh, padahal udah mau masuk jam kerja, kenapa nggak ada yang naik lift ini ya?!” lanjutnya.


Belum sempat Reyna memikirkan jawaban atas ucapannya sendiri, tiba2 lift berhenti sebelum lantai tujuannya. Selang beberapa detik lift terbuka, memperlihatkan dua sosok pria

__ADS_1


tampan tengah berdiri dihadapannya. Tapi yang menjadi perhatian Reyna ialah salah satu diantara dua pria itu merupakan seseorang yang sangat ingin dihindarinya dihari pertama ia bekerja, siapa lagi kalau bukan Revan.


“Ya ampuunn..!!” gumam Reyna panik dan reflek menggerakkan tasnya untuk menutupi wajahnya.


Dua sosok pria itu melangkahkan kakinya kedalam lift, lalu salah satu dari mereka menekan tombol menuju lantai 50. Lantai tertinggi di gedung perusahaan ini.


“Gas, kenapa bisa ada lalat kecil di lift pribadiku?” ucap Revan dingin.


“Apaa?? Lift pribadi? Dan barusan dia bilang seekor lalat? Dia mengenaliku?? Aduh.. mampuss kamu Reynaaa!” Ucap Reyna pelan, sangat pelan hingga mungkin hanya dia saja yang bisa mendengarnya.


“Ya ampuuunnn!! Bodoh, bodoh bodoh.!! Kenapa aku bisa sebodoh ini sihh.. dua hari berturut-turut selalu bertemu dengan CEO sombong ini?!”


“Reynaa.. Reynaa.. Bahkan keledai saja tidak akan jatuh dua kali ke lubang yang sama. bisa-bisanya kamu jatuh ke lubang yang sama sampai dua kali. Kenapa juga bisa salah lift sihhhh.! Dasar O’on..!!” gumam Reyna dalam hati sambil merutuki kesalahan yang ia buat.


“Maaf tuan muda, saya tidak tahu bahwa wanita ini menggunakan lift yang salah. Ini adalah kelalaian saya.” ucap Bagas sambil membungkukkan setengah badannya.


“Tiinggg..!!”


Tiba-tiba terdengar suara dentingan lift dan terlihat saat ini sudah berada di lantai 47, lantai tujuan Reyna. Lalu saat lift terbuka Reyna bergegas melangkah keluar, menekan tombol diluar lift agar pintu lift tidak langsung menutup.


“Maafkan saya pak! saya tidak tahu bahwa ini adalah lift pribadi bapak!” ucap Reyna lantang dengan mata terpejam lalu membungkukkan setengah badannya dihadapan Revan dengan cepat dan setelahnya Reyna langsung berlalu pergi dengan panik.


Charles adalah salah satu rekan bisnis Revan yang memiliki niat jahat, dia sudah beberapa kali memainkan trik licik untuk menjatuhkan Revan. Walaupun sebenarnya mudah bagi Revan untuk langsung menghancurkan perusahaan Charles, tapi Revan masih tidak ingin melakukannya. Karena bagi Revan, cara terbaik untuk menghukum seseorang yang berbuat jahat tidak hanya dengan menghancurkan bisnisnya. Tetapi juga menghancurkan keluarganya.


“Baik tuan muda.” jawab Bagas mengiyakan.


Setelah berlari menjauh dari lift, akhirnya Reyna sampai didepan ruang HRD.


“Tok tok!”


“Permisi pak!” ucap Reyna seraya masuk kedalam ruangan.


“Oh, silahkan masuk Reyna, Mari saya antarkan kamu menuju ruang kerjamu.” ucap kepala HRD itu kepada Reyna, pak Andrew.


“Baik pak, terimakasih!” balas Reyna ramah.


Setelah menaiki lift dari lantai 47 menuju lantai 49, akhirnya Reyna berdiri didepan pintu sebuah ruangan yang ia yakini adalah ruang kerjanya.

__ADS_1


“Baiklah, sudah siap Reyna?” tanya pak Andrew memastikan.


“Huuuhhhh..”


Terdengar tarikan nafas yang panjang dari Reyna sebelum akhirnya menjawab pertanyaan pak Andrew.


“Siap pak!” ucap Reyna yakin, lalu mereka berdua melangkahkan kakinya kedalam ruangan tersebut.


“Mohon perhatian semuanya, ada rekan baru yang akan bergabung bersama kalian mulai hari ini. Reyna silahkan..” ucap pak Andrew ramah.


“Selamat pagi semuanya.. perkenalkan, saya Reyna Handoko, karyawan baru disini. Saya harap kita semua dapat bekerjasama dengan baik kedepannya. Dan mohon bimbingannya!” Reyna memperkenalkan dirinya ramah dan diakhiri dengan membungkukkan badannya sedalam 30 derajat sebagai tanda hormat.


“Halo Reyna, perkenalkan.. saya Anthony, kepala divisi ini. Saya harap, kamu betah dan nyaman bekerja disini..” sapa pak Anthony ramah sambil mengulurkan tangannya.


“Ah, baik pak Anthony. Terimakasih banyak!” jawab Reyna sambil membalas uluran tangan pak Anthony.


“Baiklah, Reyna.. itu meja kerja kamu dan kamu bisa mulai bekerja sekarang. Kalau ada pertanyaan terkait pekerjaan, kamu bisa bertanya kepada pak Anthony yang merupakan kepala divisi, atau kamu juga bisa bertanya pada karyawan lainnya.” kata pak Andrew menjelaskan sebelum akhirnya berlalu pergi.


“Baik pak, terimakasih!” balas Reyna.


Saat Reyna hendak melangkahkan kaki menuju meja kerjanya, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil namanya.


“Reynaa..” panggil orang itu.


“Loh? Kak Anya? Kak Gita?” ucap Reyna kaget, karena baru menyadari bahwa Anya dan Gita juga berada diruangan ini.


“Sekarang kita jadi rekan kerja nihhhh!!” ucap Gita sambil tersenyum senang.


“Hehehe iya nih kak, aku seneng banget bisa ketemu kak Anya dan kak Gita disini. Mohon bimbingannya ya senior.. hehehe.” jawab Reyna ramah dengan kekehan khasnya.


“Ceilaahhh.. senior, kayak jaman ospek aja hahaha!” ucap Gita diakhiri tawa renyahnya.


“Tenang aja Rey, nanti kalau kamu ada yang kurang mengerti, langsung ke mejaku atau meja Gita aja ya.?” kata Anya menawarkan.


“Baik kak Anya, kak Gita. dengan senang hati!” balas Reyna dengan senyuman lebar, sebelum akhirnya mereka memulai pekerjaannya masing-masing.


Tidak ada satupun yang menyadari bahwa sedari tadi terdapat sepasang mata yang mengarah ke mereka, lebih tepatnya ke salah satu dari mereka. Tatapan seorang pria, dan tatapan itu tertuju kepada Reyna.

__ADS_1


“Semakin diperhatikan, karyawan baru itu terlihat semakin cantik. Dari sikapnya, tutur katanya, dan senyuman manisnya. Kalau kayak gini terus lama-lama aku bisa jatuh cinta kepadanya!” gumam pria tersebut pelan, sangat pelan, hingga seperti sedang berbicara didalam hati.


__ADS_2