
Setelah menempuh perjalanan ±45 menit, akhirnya Reyna tiba didepan sebuah gedung pencakar langit dengan eksterior mewah yang tak lain ialah gedung perusahaan Z, tempat ia akan melakukan wawancara. Sejenak Reyna diam terpaku melihat keindahan gedung dihadapannya, dan mengamati hingga detail-detail terkecil dari eksterior perusahaan impiannya tersebut.
“Waahh.. ini beneran gedung perusahaan Z? Mewah banget!! Baru pertama kali rasanya aku melihat gedung sebagus ini.” puji Reyna dalam hati.
“Reyna, kamu pasti bisa jadi karyawan disini! Semangat Reyna! You can do it!” ucap Reyna pelan sembari mengepalkan tangannya didepan dada. Dengan semangat yang membara, Reyna melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung tersebut untuk memenuhi panggilan wawancara kerja yang diterimanya.
--Setelah berselang beberapa lama--
“Selamat saudari Reyna! anda memenuhi kualifikasi, yang berarti anda diterima di perusahaan ini, dan anda bisa bekerja mulai besok.” ucap pria berkacamata didepan Reyna sembari mengulurkan tangan ke hadapannya.
“Terimakasih pak Andrew, saya akan berusaha dengan baik demi kemajuan perusahaan.” ucap Reyna sambil tersenyum manis sembari membalas uluran tangan pria berkacamata didepannya yaitu pak Andrew Wibowo, Kepala Human Resource Development (HRD) yang mewawancarainya. Usianya terbilang muda, memiliki wajah yang tampan, ramah dan termasuk pria populer di perusahaan Z yang disukai banyak wanita.
“Ya ampuuunnnn.. nggak nyangka banget, akhirnya aku jadi karyawan juga di perusahaan impiankuuuu!!” ucap Reyna dengan bangga setelah keluar dari ruang wawancara yang terletak disebelah lobi.
“Aku harus segera pulang dan buru-buru kasih tahu bunda, bunda pasti seneng bangettt!” lanjutnya disertai senyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Reyna dengan cepat melangkahkan kakinya dengan lebar dan sedikit berlari dengan tergesa-gesa agar kabar baik ini bisa cepat ia sampaikan ke bundanya.
Sementara itu, disisi lain..
“Bagas, jadwal meeting hari ini jam berapa?” tanya seorang pria tampan yang baru saja masuk ke lobi bersama beberapa bodyguardnya.
“Selamat pagi pak.”
“Selamat pagi pak..”
“Selamat pagi pak!”
Terdengar suara sapaan tiada henti dari para karyawan yang dilaluinya, dan hanya dibalas dengan anggukan.
“Meeting hari ini dimulai pukul 12.00 siang tuan muda.” jawab pria yang dipanggil Bagas.
“Hmm.. berarti sebentar lagi. Bagas, bukannya aku sudah bilang berkali-kali padamu kalau di kantor jangan pernah panggil aku tuan muda, panggil ‘pak’ saja.” ucap pria tampan itu mengingatkan.
“Mohon maaf, saya tidak berani tuan muda. Tuan mudah sudah banyak membantu saya dan keluarga saya selama ini, biarkan saya tetap menghormati anda seperti ini.” tolak Bagas dengan alasan logis.
“Baiklah, terserah kamu saja.” balas pria itu menyerah. Ya, dua orang pria yang sedang bercakap-cakap itu ialah Revan Anggara Nugroho dan sekertaris sekaligus orang kepercayaannya yakni Bagas Pranowo.
Revan mempekerjakan Bagas sebagai sekertaris dan orang kepercayaannya bukan tanpa alasan. Mereka sudah berteman cukup lama, selain itu ibu Bagas merupakan asisten rumah tangga di kediaman Revan dan juga yang mengasuh Revan sedari kecil kala kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan. Tak jarang juga ibu Bagas yang bernama Bi Imah membawa Revan ke rumahnya untuk bermain dengan Bagas agar Revan tidak merasa kesepian. Walaupun hubungan mereka terbilang sangat dekat, Bagas selalu memanggil Revan dengan sebutan ‘Tuan muda’ karena ia menganggap Revan dan keluarganya sebagai penolong. Namun, alasan sebenarnya adalah karena ia sadar bahwa statusnya dan Revan sangat berbeda, walaupun sebenarnya Revan tidak pernah mempermasalahkan hal itu kepadanya.
“Gila!! Makin hari makin cakep aja pak Revan! ya ampuuunn.. Andai aja dia jodoh gue!” celetus salah seorang karyawan yang bernama Gita.
__ADS_1
“Yaelah, sadar git dia bos kita. Boro-boro jadi jodohnya, dilirik aja nggak pernah!” ucap karyawan lain disebelah Gita, Anya.
“Yeeee.. lu mah suka banget hancurin khayalan gue.” ucap Gita tak terima.
“Lagian lu suka banget khayalin orang yang jauh dari jangkauan. Seharusnya lu bersyukur punya temen kayak gue yang selalu ngingetin lu saat lu rada kumat gini hahaha!” jawab Anya diakhiri dengan tawa yang cukup keras.
“Haaah.. resek banget sih lu An!” ucap Gita dengan bibir mengerucut dan wajah masam.
Ditengah keseruan mereka tiba-tiba terdengar suara cukup keras hingga membuat para karyawan yang melintas dilobi terdiam.
“Bruukk!!”
“Aduhhh!!” ucap seorang wanita mungil sambil mengelus puncak kepalanya yang sakit akibat terbentur sesuatu didepannya.
Belum hilang rasa sakit yang dirasakan, tiba-tiba tangannya ditahan dengan kasar oleh orang-orang berbadan besar disampingnya.
“Eh.. eh.. apa-apaan ini. Lepasin! Tanganku sakit tau!!” ucap gadis itu kebingungan dan kesakitan.
“Tuan muda! Anda tidak apa-apa?” ucap seseorang dengan khawatir. Orang dengan wajah khawatir itu ialah Bagas, yang artinya insiden tersebut melibatkan bosnya yakni Revan.
“Hmm.. it’s okay gas!” ucap Revan sambil membersihkan bagian depan jasnya yang terkena benturan kepala gadis itu dengan tangannya.
“Hanya seekor lalat kecil!” lanjutnya dengan nada mengejek.
“Iya, siapa lagi kalau bukan kamu?!” ucap Revan dengan kejamnya.
“Hei tuan yang sombong! Aku tahu aku salah, dan aku minta maaf atas kejadian barusan. Tapi tidak seharusnya kamu merendahkan seseorang dengan menyebutnya seekor lalat seperti ini! Lalu, apa-apaan om-om berbadan besar yang menahanku ini! seperti aku telah menabrak presiden saja!” ucap gadis itu sinis.
“Kamuuu..!!” ucap Bagas yang langsung terhenti karena isyarat tangan Revan.
“Cukup, lepaskan dia. Tidak ada gunanya bermain-main dengan seekor lalat, kita ke ruang meeting sekarang!” ucap Revan yang langsung dipatuhi bodyguardnya dan melangkah pergi menuju lift.
“Ishh.. sakit bangett tanganku..” ucap gadis itu sambil melihat bekas merah di pergelangan tangannya.
“Kamu nggak papa?” tanya seseorang yang tiba-tiba mendekat.
“Ah, iya.. sakit sih, tapi sepertinya akan hilang kalau dikasih salep.” jawab gadis itu.
“Gila! Lu berani banget ngomong kayak gitu ke pak Revan didepan banyak orang kayak tadi. Lu siapa sih? dari mana? Lu beneran nggak tahu siapa yang lu tabrak tadi?” pertanyaan beruntun tiba-tiba dilontarkan oleh orang lain yang ikut mendekat.
“Ah.. saya Reyna, karyawan baru di perusahaan ini, tadi habis wawancara kerja dan besok baru bisa mulai bekerja. Kalau boleh tahu, memangnya siapa pria yang saya tabrak tadi? Kakak kenal?” jawab Reyna yang diakhiri dengan pertanyaan. Yap, gadis yang bertabrakan dengan Revan tadi adalah Reyna dan dua orang yang menghampiri Reyna ialah Gita dan Anya.
__ADS_1
“Ya ampuunn!! Itu tuh..”
“Ishh.. diem dulu deh Git! Jangan bikin dia panik!” sahut Anya memotong ucapan Gita.
“Jadi kamu karyawan baru.. kenalin, namaku Anya dan yang bawel ini namanya Gita.” lanjut Anya sambil memperkenalkan dirinya dan Gita.
“Ah.. Halo kak Anya, halo kak Gita.. salam kenal ya kak.” ucap Reyna ramah sambil mengulurkan tangannya yang langsung di jabat bergantian oleh Anya dan Gita.
“iya salam kenal Reyna.” ucap Gita dan Anya bersamaan.
“Oh iya Rey, mengenai pria yang kamu tabrak tadi..” ucap Anya ragu-ragu yang langsung disambar oleh Gita.
“Pak Revan. Manusia paling tampan di bumi ini, disukai banyak wanita, setiap hari ada banyak wanita berdatangan untuk menemuinya, dan dia merupakan pemilik perusahaan ini Rey, CEO. You know CEO Rey?” sambar Gita dengan cepat tanpa jeda.
“Apa??!! Orang sombong tadi CEO perusahaan ini?” ucap Reyna dengan mata terbelalak tak percaya.
“Iya Rey, Pak Revan.” ucap Anya membenarkan.
“Hey, sombong-sombong gitu dia idaman semua wanita di bumi ini loh Rey. Aish pak Revan, marah aja cakepnya nggak main-main!” ucap Gita tersenyum genit sambil membayangkan raut wajah Revan tadi.
“Yaelah, kumat lagi nih orang.” ucap Anya malas sembari memutar bola matanya.
“Ya ampun!! Belum mulai bekerja, tapi aku udah nyinggung pemilik perusahaan ini. Aku harus gimana dong kak?” tanya Reyna cemas.
“Tenang aja Rey, karyawan di perusahaan ini sangat banyak. Lagian gedung ini nggak cuma satu lantai aja, jadi pak Revan nggak mungkin nginget wajah lu. Hehehe..” ucap Gita nyeletuk.
“Beneran kak?! Aku beneran nggak tahu kalau dia CEO disini!” Reyna menjelaskan dengan penuh kekhawatiran.
“Iya, betul yang dikatakan Gita. Jangan terlalu kamu pikirin, lagian kamu juga karyawan baru, pasti pak Revan juga ngerti.” ucap Anya menenangkan.
“Semoga..” ucap Reyna dengan wajah pasrahnya.
“Udah jam kerja nih, gue sama Anya masuk dulu ya Rey..” ucap Gita.
“Iya, kita masuk dulu ya Rey, sampai jumpa besok..!” pamit Anya.
“Ah, iya kak.. Reyna juga mau langsung pulang. Terimakasih kak Gita, kak Anya. Sampai jumpa.!” balas Reyna dengan hormat kepada dua senior ramah yang baru dikenalnya itu.
Sepanjang perjalanan pulang, Reyna membayangkan nasibnya kalau-kalau atasannya mengingat dirinya. Berkali-kali ia membuang nafas panjang dan mengutuk dirinya sendiri atas kejadian itu.
“Haahhh.. Bodoh banget sih kamu Reynaaa.. udah diterima bekerja malah bikin ulah, bahkan sebelum hari pertama bekerja. Ya Tuhaaaannn.. gimana nasibku besok.. Argghh!!”
__ADS_1
Reyna menggumam frustasi.
“Nggak tau ah, yang terpenting aku harus bilang kabar baik ini ke bunda biar bunda seneng. Kalau seandainya pak Revan mengingatku, aku akan minta maaf dan memohon padanya untuk tidak dikeluarkan dari perusahaan. Ya, begitu saja. Kamu pintar Reyna.” lanjutnya menghibur diri dan berusaha berfikir positif sebelum akhirnya bus yang ia tumpangi berhenti di halte tujuannya.