
“Baiklah Revan, makan siang sudah selesai dan sekarang waktunya kita membincangkan masalah keluarga Phanthom.” ucap Tuan Nugroho membuka percakapan dengan anaknya itu.
“Aku kira Bagas yang memberi tahu papa soal ini, ternyata bukan!” jawab Revan yang awalnya sempat mengira bahwa Bagas yang memberikan informasi itu kepada orang tuanya.
Ya, selain bekerja sebagai sekretaris sekaligus orang kepercayaan Revan, Bagas juga merupakan orang kepercayaan Tuan Nugroho. Jadi wajar jika ada sesuatu yang terjadi, Bagas langsung memberikan informasi kepada Tuan Nugroho. Namun, kali ini Tuan Nugroho tidak mendengarnya dari Bagas.
“Tidak, Bagas belum memberitahuku apa pun. Aku melihatnya di berita.” jawab Tuan Nugroho.
“Oh iya benar, bisnis keluarga Phanthom memang sudah cukup terkenal apalagi sejak menjadi rekan bisnis perusahaan kita. Aku sedikit melupakan tentang itu.” jawab Revan santai, sangat santai.
“Pemberitaan di televisi cukup ramai membicarakan bisnis keluarga Phanthom yang tiba-tiba bangkrut dalam semalam, apalagi bukan hanya bisnisnya saja yang hancur. Tapi keluarga mereka juga hancur, karena Nyonya besar dari keluarga Phanthom memutuskan meninggalkan keluarga Phanthom dan kembali ke keluarganya.” jelas Tuan Nugroho panjang lebar.
“Baguslah! Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui!!” jawab Revan terlihat senang atas situasi yang dialami keluarga Phanthom.
“Apa yang membuatmu melakukan hal itu Revan? Kamu cukup menyeramkan karena telah membuat bisnis serta keluraga ternama hilang dalam sekejap. Keluarga Hazel, keluarga Richard, keluarga Duan, dan kali ini keluarga Phanthom.!” tanya Tuan Nugroho mengungkit beberapa keluarga yang telah dibuat Revan hancur dalam semalam.
“Bukannya papa tahu.. Bahwa aku tak suka orang serakah!” jawab Revan singkat.
“Alasan yang sama dengan keluarga lain yang telah kau hancurkan, kali ini apa yang dilakukan keluarga Phanthom hingga menyinggungmu?” tanya Tuan Nugroho lagi.
“Mereka dengan licik mengirimkan anak perempuannya kepadaku agar aku menikahinya, meminta saham dengan persentase yang cukup besar, bahkan mereka mendekati para dewan direksi agar berpihak pada mereka..”
“Dan jika aku menikahi putri mereka, saat itulah mereka akan membuat rumor buruk tentangku yang tidak kompeten agar aku segera digantikan dan ditendang dari perusahaan. Rencana mereka mengambil alih perusahaan kita sudah terstruktur dengan baik sejauh ini. Bahkan rumor yang akan mereka sebarkan pun sudah dipersiapkan. Maka dari itu, saat bukti-bukti cukup kuat, langsung saja kuhancurkan mereka!” jawab Revan panjang lebar.
“Trik murahan seperti itu, aku sudah menduganya.” ucap Tuan Nugroho tiba-tiba, membuat Revan tersentak kaget.
“Papa tahu?!” tanya Revan setelah mendengar jawaban yang dilontarkan papanya itu.
__ADS_1
“Ya, papa sudah sedikit curiga saat kita mengadakan makan malam bisnis, keluarga Phanthom tiba-tiba membawa putrinya dan memperkenalkannya kepada kita. Awalnya papa hanya mengira bahwa mereka hanya ingin kamu mengenal anak mereka saja seperti yang sudah-sudah. Tapi tidak tahu kalau itu merupakan bagian dari rencana mereka.” jelas Tuan Nugroho membuat Revan manggut-manggut mengerti.
“Lalu tindakan apa yang kau ambil Revan?” lanjut Tuan Nugroho melempar pertanyaan kepada Revan.
“Aku hanya menarik investasiku saja pada perusahaan itu, dan tak disangka mereka hancur dalam semalam.” jawab Revan santai.
“Hahaha tidak mungkin, aku tahu kau Revan!” ucap Tuan Nugroho seraya tertawa cukup keras karena jawaban Revan.
“Pasti kau menawarkan sahammu pada para investor yang mau menarik investasi mereka dari keluarga Phanthom sebagai imbalannya kan?!” lanjut Tuan Nugroho dengan seringaian khasnya.
“Hahh.. memang sulit menyembunyikan apapun darimu pa!” ucap Revan yang secara tidak langsung membenarkan perkataan Tuan Nugroho.
“Hahahaha.. Aku lebih berpengalaman darimu nak..!!” ucap Tuan Nugroho membanggakan diri.
“Tapi Revan, selanjutnya kamu harus lebih berhati-hati. Karena musuhmu pasti akan bertambah nantinya, tak menutup kemungkinan mereka yang kau hancurkan akan membalas dendam!” lanjut Tuan Nugroho yang tiba-tiba merubah raut wajahnya menjadi sangat serius.
“Papa tidak perlu khawatir, aku tidak akan lengah!” jawab Revan mantap.
“Baiklah, masalah perusahaan sudah selesai kan..? sekarang mama mau tanya sama kamu Revan. Mama dengar dari Bagas, saat anak keluarga Phanthom beberapa kali membuat keributan di perusahaan, katanya kamu membela salah satu karyawanmu? Siapa dia?” tanya Nyonya Nugroho dengan antusias.
“Hanya karyawan biasa. Namanya Reyna.” jawab Revan dengan pandangan menelusuk ke depan.
“Apakah dia baik? Apakah dia cantik?” tanya Nyonya Nugroho lagi, yang anehnya langsung mendapatkan respon tak terduga dari Revan.
“Sangat baik, dia juga.. sangat cantik!” jawab Revan tanpa sadar, seperti sedang melamun karena tiba-tiba bayangan wajah Reyna muncul di kepalanya, dan yang lebih anehnya lagi saat membicarakan hal ini Revan tersenyum hangat, membuat Nyonya Nugroho tersenyum senang dan semakin membuatnya antusias untuk bertanya-tanya lebih jauh kepada Revan.
“Lalu, apa kamu menyukainya Revan?” tanya Nyonya Nugroho yang kali ini langsung membuyarkan lamunan Revan.
__ADS_1
“Mana mungkin aku menyukai gadis seperti itu!” bantah Revan cepat namun terlihat pipi dan telinganya memerah.
“Kenapa memangnya? Ada yang salah dengan ucapan mama? Lagian usiamu sudah 29 tahun, usia yang sudah matang untuk menikah!” ujar Nyonya Nugroho. Yap, tahun ini Revan baru saja berusia 29 tahun, tak heran Nyonya Nugroho menyuruh anaknya untuk segera menikah.
“Ma.. cukup. Aku lelah, aku ingin ke kamar.” ucap Revan menghindari pertanyaan Nyonya Nugroho sebelum akhirnya beranjak pergi dari ruangan itu.
“Sayang, kenapa kamu menanyakan hal itu kepada Revan?!” tanya Tuan Nugroho lembut kepada istrinya itu.
“Kenapa pa? Lagian Revan juga sudah cukup matang. Apa yang kurang dari anak kita? Tampan, mapan, masih muda, dan berprestasi. Wanita mana yang enggan dengan anak kita? Lagian aku juga ingin segera menimang cucu.” jelas Nyonya Nugroho tetap kekeh dengan pendapatnya.
“Tapi karena pertanyaanmu itu, Revan jadi terlihat tidak nyaman.” ucap Tuan Nugroho seolah mengerti apa yang dirasakan anaknya.
“Paa.. kamu ini sungguh tidak peka terhadap anakmu sendiri. Jelas-jelas dia sangat antusias membicarakan gadis bernama Reyna itu, sampai-sampai pipi dan telinganya memerah. Kau pasti tak melihat itu!” ucap Nyonya Nugroho yang merasa lebih mengerti tentang anaknya dibandingkan suaminya itu. Benar, saat Revan mengelak menjawab pertanyaan sang mama dan beranjak pergi, terlihat pipi dan telinganya memerah karena malu.
“Baiklah-baiklah.. kau memang paling mengerti tentang Revan. Tapi bersabarlah, jika memang benar seperti katamu Revan sedang jatuh cinta. Tunggulah dulu sampai dia mengenalkannya sendiri kepada kita. Jangan membombardirnya dengan pertanyaanmu yang segera ingin punya mantu dan menimang cucu itu..!” ucap Tuan Nugroho menasihati istrinya.
“Hmm.. Baiklah, lain kali aku tidak akan seperti itu lagi hehe!” jawab Nyonya Nugroho seraya tersenyum manis menyetujui permintaan suaminya itu.
“Yasudah, kalau gitu aku akan ke kamar untuk istirahat..” ucap Tuan Nugroho yang langsung mendapatkan anggukan tanda persetujuan dari istrinya.
“Karena suamiku melarangku untuk bertanya-tanya pada Revan, sebaiknya aku akan mencari tahu sendiri saja gadis cantik yang berhasil memikat hati anakku itu. Sungguh aku tak sabar ingin menemuinya!” gumam Nyonya Nugroho dalam hati penuh harap.
Didalam kamar, Revan langsung berdiri dihadapan cermin. Membuat ia menyadari bahwa pipi dan telinganya memerah karena pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan mamanya.
“Arghh!! Pantas saja mama semakin membombardirku dengan pertanyaan-pertanyaan tadi, pasti karna melihatku malu menjawab pertanyaan tentang gadis itu!”
“Lagian, kenapa juga Bagas memberitahukan tetang gadis itu kepada mama.. aku jadi tidak bisa menyangkalnya..”
__ADS_1
“Haaaaahhhh.!!”
“Reyna.. Reyna.. kenapa setiap orang menyebut namamu di hadapanku, aku jadi terbayang wajahmu?! Sebenarnya apa yang kamu inginkan hingga kamu terus terlintas di benak ku?!! Tidak bisakah kau keluar sebentar dari fikiranku?! Argghhhh!!” ucap Revan seraya berbaring di kasurnya dan mengacak-acak rambutnya frustasi.